
"Kenapa kalian sedih???" Tanya Aditya pada Kyra dan Cahya istrinya. "Ini salah satu impian Ky, biarkan dia mengejar apa yang selama ini ingin di capai nya, doa terbaik adalah doa dari kita semua, dia sudah bekerja keras selama ini jadi biarkan saja, jika dia tidak pulang, kita bisa mengunjungi nya lagi, jangan sampai kesedihan kita membuat dia gagal mendapatkan kesempatan yang bagus ini...!" Lanjut Aditya lagi.
Cahya berusaha untuk tersenyum kepada Aditya. "Doa ku selalu untuk anak-anak ku, aku hanya sedih karena dia tidak jadi pulang saja, tetapi tentu aku bahagia dengan berita yang di sampaikan Ky jika dia akan mengikuti seleksi pemilihan astronot!" Gumam Cahya.
"Jangan sampai kesedihan kita menghalanginya meraih cita-cita nya, kita harus selalu terbiasa jauh darinya tetapi tentu doa kita lah yang akan mengantarnya untuk mendapatkan yang dia inginkan, dia sedang berusaha membanggakan kita semua disini..! Always support him...!" Aditya memeluk Cahya dan Kyra.
"Kita semua sedih karena dia tidak jadi pulang, dan Mama juga yakin Ky disana juga sedih karena tidak bisa pulang, tetapi apa yang lebih membahagiakan mampu mereda kesedihannya, dia sudah lama berusaha keras dan sekarang usaha nya tinggal beberapa langkah lagi... Kita harus mendoakannya..!" Nyonya Harry menimpali, berharap anak, menanti serta cucu nya menghilangkan kesedihan mereka tentang batalnya rencana Kyros pulang.
Sementara itu, Kyros meletakkan ponselnya di atas meja, menyandarkan punggung nya di kursi, menatap lurus ke depan. Dia tadi bisa melihat kekecewaan Kyra dan Amamnya, mereka pasti sedih karena dia tidak jadi pulang. Kyros juga sebenarnya sedih karena sedang kangen rumah tetapi dia mendapatkan kesempatan yang sangat bagus dan sangat diinginkan olehnya selama ini.
Selain sedih tidak bisa pulang dan bertemu dengan keluarganya, Kyros juga sedih, niatnya pulang untuk menemui Gienka dan mengungkapkan perasaannya juga akan tertunda. Padahal dia juga sedang menyiapkan diri untuk mengungkapkan segala perasaan yang di pendam nya saat ini pada Gienka. Bagi nya saat ini memang sudah sangat tepat mengungkapkan segala nya, secara mental dan juga kondisi nya sudah nyaman. Kyros sudah tidak lagi di sibukkan dengan belajar dan kuliah, melainkan sudah bekerja dan karirnya juga cukup bagus untuk membuat Gienka bisa menjadi pujaan hatinya dan juga jika sudah merasa cocok, tentu Kyros ingin menikahi Gienka seperti janji nya dulu saat masih kecil. Hanya saja sepertinya waktu yang sekarang justru tidak berpihak kepada Kyros, karena dia sekarang di sibukkan untuk persiapan mengikuti seleksi menjadi astronot.
"Oh God.. Please jaga hati Gienka hanya untukku sampai nanti aku bisa pulang dan menemui dia kemudian mengungkapkan segala perasaan dan cintaku yang sudah aku simpan didalam hati selama ini, aku hanya menginginkan dia untuk bisa bersamaku dan menjadi pasanganku, please God jaga Gienka hanya untukku..!" Gumam Kyros dalam hati.
Yang di iinginkan Kyros saat ini berharap Gienka tetap seperti kemarin, tidak memiliki kekasih. Juga Kyros berharap dia bisa lolos seleksi, sehingga cita-cita nya sejak kecil bisa terwujud. Selama ini dia sudah berjuang untuk bisa meraih semua itu, dengan perjuangan yang sangat keras dan penuh kesabaran. Kyros sudah banyak menahan diri dari berbagai hal, karena ingin berfokus pada impiannya. Lalu pada akhirnya kesempatan itu datang juga, dan dia harus memanfaatkannya dengan baik, serta kembali menahan diri dari hal lain, untuk berfokus pada satu hal yang ini. Di kampus hidup Kyros tidak ada yang namanya bermain-main dalam melakukan sesuatu, semua harus di lakukan sepenuh hati dan fokus.
★★★★
Setelah mengantar Celia pulang, Axel pun memilih untuk pulang juga, tetapi tadi dia membaca pesan dari Gienka, bahwa saat ini Gienka ada di rumah Ariel. Axel pun memilih untuk mampir ke rumah Papa Gienka dan bertemu dengan sahabatnya itu. Saat ini Axel butuh untuk saran dari Gienka mengenai usulan dari Celia tadi. Setidaknya pendapat Gienka bisa membuatnya untuk mempertimbangkan usulan Celia. Axel pun mengarahkan mobilnya menuju kediaman Ariel, dimana saat ini Gienka ada disana.
Rumah Gienka tidak jauh dari rumahnya, hanya butuh beberapa menit saja sampai akhirnya Axel menghentikan mobilnya di depan rumah mewah berpagar tinggi berwarna abu-abu. Axel pun menekan klakson, tak lama security yang berjaga di rumah itu membuka gerbang. Mobil Axel di persilahkan untuk masuk.
Axel keluar dari mobil dan sedikit berlari menuju pintu rumah Gienka. Dia menekan bel dan tak lama asisten rumah tangga Gienka membuka pintu dari dalam. "Eh mas Axel... Silakan masuk...!"
Axel tersenyum. "Gienka ada Mbak???"
"Ada, Bapak dan Ibu juga baru saja pulang, dan sekarang sedang di ruang makan untuk makan malam..!"
"Owh...!" Axel pun masuk ke dalam rumah itu.
"Hai Xel..." Gienka muncul dari ruang makan yang ada di sebelah kanan. Gienka setengah berlari menghampiri Axel. "Kau pasti belum makan, kita makan dulu, Mamay dan Papa Iel juga baru pulang..!" Ujar Gienka.
"Tidak Gie.. Aku menunggu disini saja..!" Axel mencoba menolak karena tidak enak dengan orang tua Gienka.
Gienka memegang dan menyeret Axel, mengajak lelaki itu ke ruang makan. "Ayolah... Jangan merasa sungkan, kau juga pasti belum bertemu Mamay dan Papa Iel, Geffie juga, ayo..!"
Axel tidak bisa menolak. dan ikut Gienka ke ruang makan.
"Hai Xel.... Ayo duduk dan makan malam bersama... " Ujar Masa mempersilahkan Axel untuk bergabung bersama Keluarga nya.
"Malam Om, Tante, Geff...! " Ucap Axel kemudian dengan sopan dia menyalami Masa dan juga Ariel. Setelah itu Axel duduk dan dengan gesit Gienka membalik piring yang tertelungkup di atas meja. Mengambilkan Axel nasi serta menanyakan ingin lauk apa. Axel pun meminta Gienka agar duduk lagi, dan dia akan mengambil makanannya sendiri.
"Kau dari rumah Xel???" Tanya Ariel.
Axel menggeleng. "Dari Bandung om, langsung mampir kesini..!"
Ariel mengernyit. "Dari Bandung???" Tanya nya lagi.
"Iya Pa, dia baru saja mengantar Celia menemui Papanya..!" Sahut Gienka.
"Oh... Berarti kau menemui calon mertua dong... Wah hebat juga kau Xel...! "
"Biasalah Pa, Axel kan harus mulai mepet dari sekarang hahahaha...!"
"Ah tidak deh Pa, Axel itu terlalu bucin, ribet kalau laki-laki bucin sekali, bawaannya ingin selalu nemplok Celia, hahahahaha...!" Gienka tertawa menggoda Axel.
"Dih rese lu Gie..!" Protes Axel kemudian terkekeh.
Maysa, Ariel dan Gieffie juga ikut tertawa. Ini sudah biasa jika Axel bertemu Gienka maka mereka berdua akan saling melempar candaan yang mencairkan suasana. Axel sudah di anggap seperti keluarga sendiri oleh orang tua Gienka. Sejak kecil Axel sering bermain di rumah ini bersama Gienka. Bahkan Ariel sempat mengira kedekatan Axel dan Gienka tidak hanya sekedar teman atau sahabat, tetapi mereka memiliki hubungan khusus yang lebih dari itu, tetapi kenyataannya mereka memang hanya bersahabat saja. Gienka juga sering bercerita tentang Axel kepada Ariel, Maysa, Elea ataupun Danist, memberitahu mereka bahwa Axel hanya sahabat dan juga Axel sudah memililiki kekasih. Dari cerita Gienka itulah, Ariel tahu bahwa memang hubungan Gienka dan Axel hanyalah persahabatan bahkan seperti saudara sendiri.
Mereka melanjutkan makan malam dan mengobrol berbagai hal. Ariel banyak bertanya mengenai kesibukan Axel saat ini. Merasa senang karena Axel bisa masuk ke dalam club sepak bola di luar negeri. Meskipun kata Axel itu hanya club kecil biasa, tetapi bagi Ariel itu adalah awal karir yang baik untuk Axel. Karena ke depannya Axel bisa menggali lebih jauh lagi potensi nya. Ariel juga merasa bangga karena Axel bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik meskipun juga sibuk mengejar minatnya terhadap dunia sepak bola.
****
Setelah makan malam dengan keluarga Gienka, Axel pun memilih duduk di balkon depan rumah bersama dengan Gienka, karena sudah malam. Biasanya dia dan Gienka lebih senang mengobrol di taman belakang rumah, hanya saja Gienka tidak mau jadi sasaran hisapan nyamuk, maka dia mengajak Axel mengobrol di balkon depan.
"Bagaimana pertemuannya dengan Papa Celia???" Tanya Gienka pada Axel.
"Baik... Dia memang orang yang menyenangkan...!" Jawab Axel.
Gienka melempar senyumnya. "Itu terlihat dari wajahmu yang merekah... Hehehe...!"
Axel terkekeh. "Dia menyukaiku.." Ujar Axel pelan.
"Cieeee.... Sudah dapat restu dong...!??"
Axel menggelengkan kepala nya dengan sedih. "Meskipun sudah dapat dari Papa nya, Celia tinggal bersama Mama nya, dan aku butuh restu juga darinya.."
Gienka mengernyit. "Aissshhhh.... Itu tidaklah penting Xel, yang terpenting dari Papa kandungnya, wali seorang perempuan bukan ibunya tapi Ayahnya, jadi abaikan saja Mama Celia..." Ucap Gienka dengan kesal.
"Itu benar, tetapi selama ini Celia kan tinggal bersama Mama nya, aku juga tidak boleh melupakan itu Gie..! Aku harus mendapatkan restu kedua nya..!"
"Itu benar, tetapi sejauh ini mereka tidak memiliki sikap yang baik padamu, aku hanya kesal saja, kau sudah banyak berjuang untuk Celia tetapi sedikitpun tidak pernah di hargai..!"
"Gie...!???" Axel memanggil nama Gienka pelan. "Aku bingung sekali... "
"Kau bingung??? Sudahlah jangan terlalu di pikirkan masalah itu, sekarang fokus saja dengan dirimu sendiri...!"
"Bukan Gie... Sebenarnya aku bingung karena tadi Celia mengusulkan sesuatu yang menurutnya baik tetapi aku meragu untuk melakukannya...!"
"Mengusulkan sesuatu??? Mengusulkan apa??? " Tanya Gienka.
Axel pun menjelaskan kepada Gienka tentang obrolannya dengan Celia tadi ketika dalam perjalanan pulang. Dimana Celia mengusulkan agar Axel datang ke rumahnya bersama dengan kedua orang tua nya. Kedatangan itu di maksudkan untuk meminta ijin kepada Mama Celia, jika Axel ingin menjalin hubungan yang serius.
Mendengar itu, tentu saja membuat Gienka terkejut karena menurut Gienka hal itu belum perlu di lakukan. Karena pertemuan orang tua itu biasanya di lakukan ketika sudah ada pembicaraan yang serius dan mengarahkan ke hubungan yang lebih jauh seperti ke arah pertunangan ataupun pernikahan. Jika Axel hanya ingin mengajak Celia menjalin hubungan yang serius tetapi belum menunjukkan niatan untuk menikah atau bertunangan, lebih baik Axel tdak dulu melibatkan orang tua nya. Entah kenapa Gienka merasa bahwa ide membawa orang tua Axel menemui Mama Celia untuk saat ini belumlah tepat. "Banyak hal yang bisa kau lakukan Xel untuk mendapatkan hati Mama Celia lebih dulu, jika dia akhirnya mau menerima mu sudah pasti nanti hubunganmu dengan Celia lebih baik, baru setelah kalian berdua merasa yakin untuk melangkah ke jenjang lebih serius, barulah Axel bisa mengajak orang tua mu bertemu keluarga Celia...!" Ujar Gienka
"Aku juga berpikir seperti itu sebenarnya Gie, tapi???? Celia memintaku melakukan itu...!"
"Lebih baik kau tolak saja Xel, sumpah feeling ku tidak enak, terlalu buru-buru jika kau mengajak orang tuamu menemui keluarga Celia sekarang...!"
"Bagaimana jika Celia marah saat aku menolak permintaannya ini???" Tanya Axel.
"Ya kau harus memberi Celia penjelasan dan alasan yang bagus, aku berbicara seperti ini bukan karena ingin menghalangi hubunganmu dengan Celia, tetapi aku takut keluarga Celia menolak mu dan keluargamu atau bahkan mengabaikan kalian, kan kasihan om Alex dan tante Erina jika mereka nanti justru mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari keluarga Celia...! Kau juga pasti malu dan marah jika melihat orang tua mu di perlakukan tidak baik mengingat berapa dingin dan angkuh nya keluarga Celia...! Kau harus bisa menjelaskan dengan baik alasan kau menolak usulan Celia.."