
"Papa...!!!" Panggil Celia di depan pintu rumah Theo Papa nya.
Axel berdiri di belakang Celia, menunggu pintu rumah itu di buka. Sejak sampai disini, Axel terfokus pada rumah ini. Rumah yang sangat sederhana tetapi terlihat rapi. Axel berpikir bahwa mungkin rumah Papa Celia juga seperti rumah Celia yang di tinggali oleh Mama nya yang luas dan mewah, tetapi bmternyata tidak sesuai bayangannya. Papa Celia tinggal di rumah yang sederhana.
Pintu di buka dari dalam, seorang laki-laki berdiri dan tersenyum ketika melihat Celia dan Axel. Laki-laki itu terlihat tampan meskipun usia nya tidak lagi muda, dan di wajahnya ada bekas luka, seperti luka sayatan yang sudah di jahit, tetapi luka itu sepertinya sudah cukup lama.
"Papa...!!" Ucap Celia lagi kemudian dia langsung memeluk Theo dengan sangat erat, muapkan kebahagiaannya setelah lama tidak bertemu dengan Papa nya dan hanya berkomunikasi by phone saja.
"Celia sayang....! Papa senang sekali kau akhirnya bisa datang, sejak tadi Papa menunggumu, bagaimana kabarmu???" Tanya Theo.
"Celia sangat baik Pa..! Papa sendiri bagaimana??"
"Papa baik juga...!" Theo mengusap punggung Celia lembut.
Celia melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Papanya. "Pa, Celia datang bersama teman, kenalkan ini Axel yang sering juga Papa mengobrol dengannya..!"
Theo mengarahkan pandangannya pada Axel dan Axel menundukkan kepala nya memberi hormat pada Theo. Axel kemudian menyalami Theo dengan sopan. "Apa kabar Om???" Tanya Axel.
"Baik, kau sendiri bagaimana??? Senang rasanya bisa bertemu denganmu secara langsung...!"
"Saya baik Om, saya juga merasa senang bisa bertemu dengan Om Theo, Celia banyak cerita tentang Om kepada saya...!" Ucap Axel.
"Ayo masuk, kita mengobrol di dalam, di luar panas...!" Theo mempersilahkan Axel dan Celia masuk ke dalam rumahnya, mempersilahkan mereka duduk dan dia akan mengambilkan minum untuk mereka berdua. Akan tetapi Celia melarang Theo melakukan itu dan dia yang akan membuat minum, sehingga Papanya bisa mengobrol dengan Axel. Celia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dapur membuat minum.
"Kata Celia kau baru saja lulus, sekarang kau akan bekerja dimana??? Disini saja atau melanjutkan karirmu disana???" Tanya Theo.
"Saya masih tetap akan tinggal di Thailand om, saya ada pekerjaan disana, kesini juga karena ingin bertemu Mama, Papa sekaligus mengantar Celia pulang...!" Jawab Axel.
"Sebenarnya saya sudah mengusulkan pada Celia agar kesini hari sabtu atau minggu saja, tetapi Celia menolak dengan alasan dia sudah sangat merindukan Om dan juga sudah mendapat ijin dari tante Cyntia, katanya itu harus di manfaatkan dengan baik, takut tante Cyntia berubah pikiran dan justru akan melarangnya lagi...!"
Theo terkekeh. "Celia benar, akan sulit lagi meyakinkan Mamanya jika sampai Mamanya berubah pikiran... Hal yg sangat bagus, jika Celia mendapatkan ijin darinya untuk datang kesini...!"
Axel hanya tersenyum dan mengangguk. Dia sangat tahu bagaimana tabiat dari Mama Celia, yaitu Cyntia. Dan dari cerita Celia, Axel bisa mengambil kesimpulan jika Cyntia sangatlah membenci mantan suaminya yaitu Theo. Mereka berdua sudah berpisah sejak Celia masih kecil, bahkan Celia bilang selama beberapa tahun dia tidak pernah mengenal siapa Papa kandungnya karena Mama nya menyembunyikan semua darinya. Hingga saat dia berusia 14 tahun, dia mencoba mengorek mencari tahu sendiri siapa Papa nya, dan menemukan bahwa Papanya bernama Theo. Saat itu diam-diam Celia mencari tahu alamat dari Theo dengan berbagai cara, sampai akhirnya ketika mendapatkannya, Celia pergi mendatangi rumah itu, benar saja keluarga Theo tinggal disana tetapi Theo ada di luar kota untuk bekerja.
Di pertemuan dengan orang tua Theo, Celia mendapatkan banyak cerita dari mereka tentang perjuangan Theo untuk bisa menemui Celia. Sayangnya sikap keras kepala dari Cyntia dan juga Mama nya, membuat Theo tidak pernah bisa sekalipun bertemu dengan Celia. Cyntia dan Mama nya juga selalu menolak uang pemberian Theo untuk nafkah Celia. Menurut mereka uang itu terlalu kecil nominalnya sehingga tidak cukup untuk membiayai kebutuhan bulanan Celia. Sekalipun mereka tidak mau menerima uang pemberian Theo. Bagi Theo walaupun nominalnya tidak besar, sebagai seorang Ayah, Theo memiliki tanggung jawab untuk menafkahi anaknya. Meskipun di tolak, tetapi Theo selalu menyimpan dengan baik uang itu di tabungan yang dia khususkan untuk Celia, selama bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai saat ini. Uang itu masih di simpan untuk keperluan yang mungkin di perlukan oleh Celia.
Setelah mendengar cerita itu, Celia saat itu hanya bisa menangis karena mengetahui berapa Papa nya selama ini sangat mencintai nya. Papa nya tidak seburuk yang dia pikirkan selama ini, dan semua yang di ceritakan oleh Oma nya tentang Theo tidaklah benar. Dimana Oma Celia yaitu Mama Cyntia sering bercerita hal buruk tentang Theo kepada Celia cucu nya. Celia bukannya terpengaruh tetapi justru rasa keingintahuan yang tinggi membuatnya bersemangat untuk mencari tahu siapa Papa kandungnya, dan dia akhirnya menemukannya. Celia pun meminta kepada orang tua Theo agar dia bisa untuk bertemu Theo. Mereka dengan senang hati mau membantu Celia yaitu meminta Celia menunggu weekend, dan mereka akan mengantar Celia menemui Theo. Celia menyanggupi nya ketika itu, dan dia pulang dengan perasaan bahagia sambil berpikir mencari cara bagaimana agar dia bisa pergi dari rumah dan menemui Theo. Celia pun memilih untuk membohongi Cyntia dengan mengatakan dia ada kegiatan di sekolahnya selama dua hari yaitu hari sabtu dan Minggu. Mama nya percaya, lalu pergilah Celia menemui Theo di antar oleh Oma Opa nya yaitu orang tua Theo. Lalu bertemulah Theo dengan Celia untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Keduanya sangat bahagia sekali dan bahkan Celia memilih menginap di rumah ini selama satu malam sebelum besoknya harus kembali pulang. Waktu dua hari satu malam di manfaatkan Celia untuk mengetahui banyak hal tentang Theo Papa nya serta berbagai hal yang membuat mereka harus berpisah.
Theo menceritakan semua nya alasannya berpisah dengan Cyntia, dan rasa berat hati ketika harus berpisah juga dengan Celia yang saat itu masih kecil. Keadaan membuat Theo harus melepaskan istri dan anaknya yang sangat dia cintai. Sampai saat ini Theo tidak pernah ingin kembali menikah lagi, dia merasa nyaman dengan kesendiriannya dan ingin mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk bisa memberikan sesuatu pada Celia. Theo ingin Celia juga merasakan hasil keringatnya. Dan ketakutan Theo selama ini tentang Celia yang mungkin akan membenci nya ternyata tidak terbukti. Putrinya sangat baik, cantik dan bijaksana, meskipun hidup di tengah sikap kolot serta kerasnya Cyntia dan Mama nya. Celia ternyata masih bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Theo selalu berpesan pada Celia agar tidak membenci Cyntia ataupun Oma nya, dan tetap menghargai mereka. Yang baik harus di contoh, sedangkan jika ada yang buruk, Celia tidak meniru nya.
"Lalu bagaimana denganmu Xel??? Apakah sikap Cyntia masih buruk kepadamu???" Tanya Theo.
Axel terperangah tetapi dia lekas sadar mungkin Celia sudah menceritakan kepada Theo. Axel melempar senyum pada Theo. "Saya sedang berusaha meyakinkan tante Cyntia..!"
Theo juga tersenyum. "Apa kau benar-benar mencintai Celia???"
"Iya Om, jika saya tidak mencintainya, tentu saya tidak akan memberanikan diri datang kesini serta berusaha meyakinkan tante Cyntia agar saya bisa menjalin hubungan lebih serius dengan Celia..!" Jawab Axel.
"Om senang melihatmu sangat mencintai Celia, Om berharap kau bisa selalu mendukungnya dan mengarahkannya pada hal m yang baik, Om sangat tahu kau adalah anak yang baik, dan Celia juga sangat mencintaimu, itu yang selalu dia katakan pada Om jika kami membahas mulai...! Mengenai Cyntia, kau memang harus bersabar Xel, Cyntia memang orang yang keras kepala dan dia juga mudah terhasut oleh Mamanya, Kau harus sedikit bersabar dan jika ada ucapan yang kurang berkenan, jangan masukkan ke hati... Fokus saja pada Celia, dan Om merestui hubungan kalian...!"
"Terima kasih Om..." Ucap Axel.
"Sama-sama.... Kau harus berusaha keras, dan bimbing Celia dengan baik..!"