
Cahya mengambil piringnya dan piring Aditya lalu membawanya ke wastafel dengan sedih. Dia menyuruh Elea untuk beristirahat saja dan dia yang akan membersihkanya bersama Aditya. Elea akhirnya menuruti keinginan Cahya dan kembali ke tempat tidurnya. Sambil mencuci piring Aditya dan Cahya bergumam sangat pelan mencoba mencari solusi yang terbaik untuk Elea.
Bukannya beristirahat, Elea mulai mengambil semua pakaiannya , dia benar-benar sudah mantap untuk meninggalkan semuanya dan memulai kehidupannya yang baru. Elea berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangisi semua yang sudah terjadi dihidupnya. Baginya semua sudah berakhir dan harus dikubur dalam-dalam.
Cahya yang sudah selesai membersihkan piring, menghampiri Elea yang sedang melipat pakaiannya. Cahya duduk didepan Elea dan membantunya sambil tersenyum kepada sahabatnya itu. "El, jika memang itu sudah menjadi keputusan terbaikmu, it's okay, kami akan mendukungmu, tapi apa kau sudah memutuskan kau akan pergi kemana??" Tanya Cahya.
Elea tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya, menandakan dia belum tahu dia kan pergi kemana bahkan dia pun masih belum memiliki keberanian menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya. Cahya menggenggam jemari Elea untuk memberinya kekuatan.
"El, jika kau masih belum memiliki tujuan tetapi hari ini sudah ingin pergi dari sini, bisakah aku dan Adit membantumu?"
"Membantu apa Ca? Aku sudah terlalu merepotkan kalian selama ini"
"Biarkan aku dan Adit membantumu mencari tempat baru untuk kau tinggali, aku hanya ingin memastikan sahabatku selalu dalam keadaan baik-baik saja terlebih kau juga sedang hamil, bolehkan kami membantumu?"
Elea menatap Cahya dan mengarahkan pandangannya ke Aditya yang duduk disofa meragu. Lalu kembali melirik ke Cahya tetapi hanya diam. Elea merasa ragu karena Aditya adalah sahabat Ariel, jika dia memutuskan pergi dengan menerima bantuan Cahya dan Aditya, dia takut jika Aditya akan mengatakan semuanya pada Ariel. Mungkin jika hanya Cahya yang tahu pasti tidak masalah untuknya tetapi ini melibatkan Aditya juga.
Aditya sepertinya mengerti kemana arah pemikiran Elea saat ini, dari pandangan Elea ke dirinya itu seolah mengatakan jika Elea ragu kepadanya.
"Kau bisa tenang El, aku tidak akan pernah mengatakan apapun pada Ariel tentangmu, jika itu yang kau takutkan, ya aku memang bersahabat dengannya tetapi jika sahabatku berbuat kesalahan tentu aku tidak akan melindunginya, aku akan memihak kepada yang benar, kau bisa memegang janjiku El, maka terimalah bantuanku dan Cahya, lihatlah dia sangat mengkhawatirkanmu" Sahut Aditya.
Cahya tersenyum dan mulai mengingatkan Elea jika sahabatnya itu sering sekali membantunya. Dan Elea juga selalu menawarkan diri untuk menjadi sahabatnya. Elea selalu jadi pelipur lara Cahya disaat dia benar-benar terpuruk ditinggalkan Theo mantan kekasihnya, Elea selalu datang menghiburnya. Kemudian disaat Cahya benar-benar terdesak karena ibunya sakit dan bersamaan dengan itu dia juga harus membayar uang semester Chika adiknya, lagi-lagi Elea datang menawarkan bantuan.
Elea juga sering membawakan makanan kesukaan Ibu Cahya, sering memberi Chika hadiah, bahkan saat disaat Erica mantan kekasib Aditya meneror Cahya, Elea justru memutuskan menjadi tameng Cahya dengan menerima semua paket-paket yang dikirim Erica. Cahya tidak tahu bagaimana cara agar bisa membalas semua kebaikan Elea selama ini pada keluarganya, itulah sebabnya kali ini Cahya meminta ijin Elea agar bisa membantu sahabatnya itu.
Elea menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, lalu menyetujui permintaan Cahya. Selama ini mereka memang selalu bersama dan saling membantu satu sama lain ketika mengalami permasalahan. Persahabatnnya dengan Cahya, membuat Elea selalu bersyukur karena Cahya orang yang baik.
Mendengar Elea menetujui untuk bantuan yang akan diberikan olehnya, Cahya langsung memeluk Elea. Cahya pun meminta Elea untuk sementara tinggal bersamanya dirumah agar Elea tidak merasa kesepian dan bisa menenangkan hatinya untuk sementara waktu, karena suasana rumah yang ramai dan banyak orang pasti akan membuat sahabatnya itu merasa lebih baik. Aditya juga mengijinkan Cahya untuk stay bersama Elea dirumah, karena urusan diperkebunan juga akan segera dia selesaikan. Saat ini Aditya tinggal membantu Danist untuk mempelajari semua yang ada lalu menyerahkannya.
Aditya dan Cahya membawa Elea pulang ke rumah mereka sementara waktu sambil menunggu dia mendapatkan tempat tinggal baru untuk Elea. Cahya menyuruh Elea untuk mengemasi beberapa pakaiannya saja, jika sudah mendapatkan tempat, dia akan membantunya mengemasi semua barangnya yang ada di apartment. Sebelumnya Aditya juga sudah menghubungi Mamanya agar menyiapkan kamar untuk Elea.
"Adit, Bolehkah aku meminta sesuatu padamu" Tanya Elea.
"Iya El katakan saja" Jawab Aditya sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Persahabatan kalian sudah sangat lama, aku tidak ingin merusaknya dengan permasalahan kami, Dit, bisakah kau bersikap biasa saja saat dengannya? Berpura-pura lah kau tidak tahu permasalahan kami, aku tahu kau pasti sangat marah kepadanya tapi tahanlah dan bersikaplah acuh, aku sudah menerima bantuan kalian maka saat ini turuti juga permintaanku"
Aditya mengalihkan pandangannya kearah Cahya yang duduk disampinya. Istrinya itu memberikan isyarat memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya agar dia menuruti keinginan Elea. "Baiklah El, jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan membahas masalah ini dengannya"
****
****
Keesokan harinya...
Cahya masuk ke kamar Elea dan ternyata Elea sedang mual dan muntah dikamar mandi. Dia menyusul Elea dan membantu memijat tungkaknya agar merasa lebih baik, Cahya membawa Elea kembali ke tempat tidurnya, sebelum berbaring, Elea menangis sambil memeluk Cahya. Dia terisak karena sebelumnya selalu sendirian saat menghadapi morning sickness dan saat ini ada sahabatnya yang menemaninya.
Setelah Elea cukup tenang, Cahya mengupaskan apel untuknya agar perutnya terisi. "El, apa kau meminum susu hamil? Jika iya biar aku menyuruh seseorang untuk membelinya, aku tidak memilikinya karena aku selalu bertambah mual jika meminumnya"
"Kau lucu sekali Ca, iya aku meminumnya, kemarin aku lupa tidak membawanya"
"Baiklah, aku akan menyuruh seseorang untuk membelikannya, ya sudah minum obat dan vitaminmu lalu beristirahatlah"
"Ca, aku sudah membuat surat resign, setelah kondisiku cukup membaik, aku akan mengantarkannya ke kantor dan berpamitan dengan teman-teman disana"
Cahya mengangguk. "Iya El, nanti aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu, ini ambillah obat dan vitaminmu" Cahya menyodorkan air dan obat serta vitamin pada Elea.
Elea mengucapkan terima kasih. Dia merasa bersyukur sekali memiliki sahabat yang luar biasa seprti Cahya yang selalu jadi garda terdeoan untuk membantunya. Persahabatan mereka begitu tulus hingga kasih sayang mereka lebih dari sekedar persahabatan melainkan sudah seperti saudara kandung. Elea merasa kondisinya lebih baik Daripada kemarin.
****
Chitra datang ke rumah Aditya, tadi Cahya menghubunginya dan memintanya membeli susu hamil untuk Elea. Selain itu Chitra juga membawa rujak buah untuk 2 sahabatnya yang sedang hamil itu. Sesampainya disana Chitra langsung diantar Art Cahya ke kamar Tamu dimana Elea ada disana bersama Cahya, dan memintanya untuk membuatkan susu itu untuk Elea.
"Halo para bumil, aku datang membawa sesuatu untuk kalian, aku yakin kalian pasti menyukainya"
Cahya yang sedang mengobrol dengan Elea langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Chitra. Cahya dan Elea tersenyum melihat kedatangan Chitra. "Memangnya apa yang kau bawa Chit?" Tanya Cahya.
"Lihatlah.... Tadi Mama membuatkannya saat aku bilang jika aku akan datang kesini, ayo makanlah, tadi aku sudah meminta Mbak Tina agar membuatkan susu hamil untuk Elea dan jus untuk kita" Chitra membuka papper bag yang dibawa dimana berisi Rujak buah.
"Rujak??? Ini pasti enak sekali" Ujar Elea bahagia.
Benar saja, Cahya dan Elea sangat lahap menikmati rujak yang dibawa Chitra untuk mereka. Buah yang segar dan bumbunya yang begitu enak, tidak terlalu pedas, rasa manis dan rasa asamnya sangat pas. Mereka bertiga mengobrol banyak hal hingga akhirnya waktu makan siang tiba.
Saat makan siang, Cahya meminta bantuan Chitra agar bisa menemani Elea ke kantornya untuk memberikan surat resignnya. Dan Chitra pun menyanggupinya. Setelah bersiap Elea dan Chitra pun pergi diantar oleh supir Cahya.
Resign dari kantor tempatnya bekerja adalah hal utama yang memang harus dilakukan oleh Elea. Meskipun berat rasanya, mengingat sudah bertahun-tahun dia bekerja disana. Dan banyak hal yang sudah Elea dapatkan, seperti bisa membeli mobil, juga apartemen yang setiap bulan di angsurnya hingga saat ini sudah menjadi miliknya, juga hal lainnya. Elea sudah sangat mencintai kantor tempatnya bekerja. Tetapi tidak ada pilihan lain selain resign karena jika dia tidak keluar akan sama saja Ariel bisa saja dengan mudah menemukannya.
Sampai disana, Elea menemui atasannya kemudian memberikan surat resignya. Ada sedikit perbincangan dengan atasannya mengenai alasan kenapa Elea resign. Elea tentu saja memberikan alasan yang menurutnya pas karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Setelah itu Elea keluar dan mengajak Chitra untuk berjalan-jalan sebentar karena dia butuh merefresh otaknya agar merasa lebih baik juga.