
"Hai Pa.... Selamat pagi...! "Gienka menyapa Ariel yang sedang menghubunginya.
" Pagi sayang... Kau sudah sampai kantor??? " Tanya Ariel.
"Belum... Tapi sebentar lagi, Gie masih ada di taksi...! "
"Naik taksi??? Kenapa tidak membawa mobil saja??? Apa Danist atau Elea tidak meminjamkan mobil mereka??? "
"Ih Papa... Bukan begitu, tadi Papa Dan sudah memintaku agar membawa mobil Mama tetapi aku menolak karena aku sudah pesan taksi, rasanya tidak enak saja masa hari pertama masuk aku sudah bawa mobil...! "
"Memangnya kenapa??? Tidak ada yang melarang kan??? Ya sudah hati-hati jika sudah sampai sana langsung hubungi Papa, nanti Papa akan menyusulmu, Papa sekarang ada meeting di kantor..!" Ucap Ariel.
"Menyusul???? Untuk apa Papa menyusulmu??? Tidak-tidak... Papa tidak perlu menyusulku... Please Pa biarkan aku melewati hari pertamaku kerja dengan baik, Papa jangan ikut campur, kan Papa sudah berjanji jika Papa tidak akan ikut campur tentang aku perihal pekerjaan...! "
"Ya kan Papa perlu memastikan kenyamananmu disana sayang...!"
"Aiiihhh Papa.. Sudahlah... Tidak perlu, aku tidak mau di anggap anak emas, pokoknya Papa stay saja di kantor Papa sendiri jangan mengusik Gie disini.."
Terdengar suara Ariel tertawa terbahak-bahak. "Oke Oke... Papa tidak akan kesana, buat dirimu senyaman mungkin disana, kalau begitu Papa akan tutup teleponnya, enjoy your day sayang...! "
"Oke Papa... Bye...! "
Gienka menutup panggilan dari Ariel dan dia tersenyum untuk.emghilangkan kegugupan nya dan juga untuk menyemangati dirinya sendiri. Hari pertama nya mulai bekerja, dan Gienka ingin semuanya berjalan dengan lancar dan dia bisa membuktikan kepada orang tua nya bahwa dia mampu untuk memenuhi tanggung jawab yang di berikan oleh orang tua nya, terutama Ariel yang sejak dulu ingin agar Gienka bisa mewarisi bakatnya dalam mengelola perusahaan miliknya.
Perusahaan yang dulu sebenarnya adalah milik dari orang tua Ariel, dan ketika mereka sudah meninggal, Ariel mengemban tanggung jawab yang luar biasa untuk mengembangkan begitu banyak aset yang di tinggalkan oleh orang tua nya. Dulu Danist sempat menolak untuk membantu, karena Danist merasa tidak memiliki hak apapun di perusahaan milik orang tua Ariel, karena dia hanyalah anak tiri, dan Danist sebenarnya juga di beri kepercayaan oleh mendiang pak Andi yaitu Ayah kandungnya dan juga Ayah kandung Ariel untuk mengelola beberapa aset pak Andi, tetapi dia sempat berkonflik dengan Ariel dan menolak hal itu. Tetapi pada akhirnya hubungannya dengan Ariel semakin membaik, dan Ariel juga sempat meminta Danist untuk membantunya, sayangnya saat itu Danist masih menolak. Tetapi beberapa tahun kemudian, Danist menyadari jika perusahaan berkembang semakin pesat dan Ariel terlihat kewalahan, itu membuat Danist merasa kasihan dan dia memilih untuk membantu Ariel mengurus perusahaan. Ariel sangat senang sekali pada akhirnya Danist mau membantu nya dan itu membuat hubungan mereka semakin akrab, dan berkomitmen untuk semakin membesarkan usaha peninggalan orang tua mereka.
Harapan Danist dan Ariel saat ini adalah anak-anak mereka yaitu Gienka dan Friddie untuk melanjutkan perusahaan itu. Friddie masih menempuh pendidikan nya, sementara Gienka sudah lulus, sehingga Gienka akan mulai belajar untuk mengenal dunia bisnis lebih jauh lagi. Gienka sejak kecil sudah sering di ajak Ariel ke kantor dan lambat laun Gienka mulai tertarik dengan pekerjaan Ariel, sehingga sangat terobsesi untuk mengenal mengenai bisnis, tentu saja Ariel sangat mendukung hal itu, merasa senang karena Gienka langsung memutuskan jalan yang akan di pilih nantinya.
Gienka masih ingat, dulu saat masih kecil dia selalu di jemput oleh Ariel di sekolahnya dan Ariel selalu membawanya ke kantor. Gienka merasa betah disana karena selain dia sering mendapatkan hadiah dari para staff kantor Papanya, di ruangan Papa nya juga di letakkan berbagai mainan di salah satu sudutnya yang sengaja di fungsikan untuk mini playground untuk dirinya. Hal itu membuat Gienka tidak pernah rewel atau mengganggu kesibukan Ariel, karena Gienka memiliki kesibukan sendiri di tempat bermainnya. Hampir setiap hari Gienka mendapat berbagai hadiah berupa mainan atau sekedar kue dari para staff, seolah mereka selalu bergantian memberikan hal itu. Gienka menjadi idola tersendiri saat itu, bahkan ketika dia sudah memasuki sekolah dasar pun masih sering mendapatkan hadiah. Saat itu Danist dan Elea bekerja di tempat yang sama tetapi di luar kota dansetiap hari ketika pagi, mereka yang akan mengantar Gienka ke sekolah, sehingga untuk urusan menjemput adalah tanggung jawab Ariel sehingga otomatis Ariel akan membawanya ke kantor, dan sore baru mengajak Gienka pulang. Tetapi terkadang Gienka juga sering ikut Kyra dan Kyros pulang saat kedua sahabatnya itu di jemput oleh Cahya.
"Mbak... Sudah sampai....! " Ucap Supir taksi yang membuat lamunan Gienka terbuyarkan.
"Eh iya... Sorry pak..!" Gienka mengambil uang di dompetnya dan membayar taksi kemudian keluar.
Gienka berdiri tepat di depan kantor tempatnya akan bekerja. Dia menatap bangunan itu dalam diam, kemudian memejamkan matanya dan menghela napasnya panjang. "Bismillahirrahmanirrahim" Gumamnya pelan. "Let's Go Gie... Semangat...!" Ucap Gienka dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
Gienka mulai melangkah menaiki beberapa anak tangga untuk masuk ke kantor itu. Karena ini kantor anak cabang, tentu tidaklah sebesar kantor utama yang di pimpin oleh Papa nya. Gienka mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa nervous nya.
Setelah masuk, Gienka berjalan menuju meja resepsionist untuk menanyakan ruangan yang akan menjadi tempatnya untuk bekerja. Gienka mendapatkan bagian untuk menjadi staff di Divisi riset dan pengembangan. Itu adalah pekerjaan awalnya, dan dia juga sudah mendapat informasi harus menghubungi siapa ketika nanti disana.
Sampai di depan meja resepsionist, Gienka bertanya dimana letak ruang Divisi riset dan pengembangan. Gienka pun di beri petunjuk jika ruangan itu ada di lantai 6. Gienka mengucapkan Terima kasih dan langsung berjalan menuju lift untuk sampai di ruangan yang ingin dia tuju.
Di dalam lift, keguguoan Gienka semakin bertambah, tetapi dia terus merapalkan doa agar hari ini berjalan lancar. Satu persatu lantai terlewati, dan lift berhenti di lantai 6. Gienka kembali menutup matanya dan menarik napasnya dalam-dalam, lalu melangkah keluar.
Bruuukkkkk........
Gienka menabrak seseorang, dan Gienka terdorong ke belakang. Saat itu juga Gienka membuka matanya, dan dia berhadapan dengan dua orang perempuan yang satunya menatapnya tajam. "Woeeee..... Kalau jalan pakai mata dong...! Ceroboh sekali...." Perempuan itu setengah berteriak.
"Sorry sorry.. Saya minta maaf..." Ucap Gienka sambil membungkukkan tubuhnya.
Perempuan itu menatap Gienka sinis kemudian memandang dari kaki Gienka hingga ke kepala Gienka. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?? Anak baru ya???"
Gienka mencoba tersenyum dan mengangguk. "Iya, ini hari pertama saya masuk...!"
"Pantas saja...! Kau anak baru tapi style mu sudah mengalahkan kami yang sudah senior, tas dan sepatu mu dari brand mahal, begitu juga pakaianmu, pasti itu KW ya??? Hahahaha... Lain kali jangan sok pakai brand mahal jika itu Kw, memalukan sekali....! " Ejek perempuan itu, sementara perempuan yang satu nya terlihat diam saja seperti ketakutan saat melihat Gienka.