
★★★★★
Sampailah Kyros dan Gienka dirumah Danist dan Elea. Mereka turun dari mobil dan langsung naik atas. Gienka mengetuk pintu dan mengajak Kyros untuk masuk, tak lama setelah itu Elea keluar dan merasa terkejut melihat kedatangan Kyros. Sudah beberapa hari ini dia ingin sekali melihat Kyros sampai menghubungi Cahya meminta Kyros agar bisa datang kesini, tetapi Cahya bilang jika Kyros setiap siang selalu tidur karena malam harinya dia harus tetap bekerja. Tetapi pada akhirnya dia melihat Kyros juga datang ke rumahnya. Elea langsung memanggil Danist juga Friddie agar lekas turun dan menyambut Kyros.
Kyros menyalami Elea dan memeluk sahabat dari Amamnya itu. Bagi Kyros tentu Elea seperti ibu keduanya karena sejak kecil dia sering sekali diberikan berbagai makanan atau mainan oleh Elea layaknya anak sendiri, begitu juga sebaliknya dimana Amamnya juga melakukan hal yang sama pada Gienka.
Danist dan Friddie turun bersamaan dan tersenyum senang melihat Kyros. Sementara itu, Gienka naik ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Dan membiarkan Kyros mengobrol dengan keluarganya. Setelah melepas rindu dengan keluarga Gienka, Kyros dipersilahkan duduk oleh Elea. Dan mereka pun mengobrol sambil menunggu Gienka selesai.
Ditengah obrolan itu tentu saja Kyros teringat dengan perdebatannya dengan Gienka tadi di mobil. Permintaan Gienka padanya yang tidak bisa lagi ditolak membuat Kyros berpikir bahwa mungkin ini kesempatan yang bagus untuk mengatakan semuanya pada orangtua Gienka, dan baru nanti berdiskusi dengan orangtuanya sendiri. Permintaan Gienka yang super kilat itu membuat Kyros harus segera memulai semuanya dari sekarang, karena sisa waktunya berada disini juga tidak lama. Juga Kyros bisa sedikit memberi ruang pada keluarga Gienka untuk memikirkan tentang keputusannya dan Gienka untuk menikah.
Kyros tersenyum melihat bergantian ke arah Elea dan Danist. "Aunty El, Uncle Dan....! Bolehkah My membicarakan sesuatu yang penting dengan kalian?" Tanya Kyros.
"Tentu saja Ky, apa yang ingin kau bicarakan???" Sahut Elea.
"Begini...! Sebenarnya aku dan Gienka sudah memutuskan bahwa kami akan menikah!"
"Apa....!!???!!!" Danist dan Elea berseru secara bersamaan. Wajah keduanya terperangah begitu juga dengan Friddie.
Elea terperanjat bukan main dengan apa yang baru saja di dengarnya dari mulut Kyros. "Menikah??? Bukankah kalian tidak memiliki hubungan sebelumnya? Lalu bagaimana bisa kalian akan menikah???"
Kyros pun menceritakan semuanya kepada orangtua Gienka tentang bagaimana kisah cinta mereka dimulai. Dimana sebenarnya mereka sudah saling menyukai satu sama lain sejak lama dan hanya saling memendam perasaan. Tetapi pada akhirnya mereka berdua saling mengakui dan hubungan itu menyatu baru tadi pagi. Dan Gienka memintanya untuk menikahinya dalam waktu dekat ini sebelum dia kembali lagi ke Amerika.
Mendengar itu tentu saja Elea dan Danist hanya saling berpandangan. Hubungan baru beberapa jam dan bisa-bisanya mereka memutuskan hal sebesar itu, tentu bagi Elea itu tidak masuk di akal.
"Maafkan Ky sebelumnya! Ky sendiri juga terkejut ketika Gienka meminta Ky untuk menikahinya, Ky sudah berusaha memberi penjelasan panjang lebar agar Gienka tidak buru-buru mengambil keputusan besar seperti itu, dan bisa memberi Ky waktu untuk berpikir tetapi Gienka sama sekali tidak mau mendengarkan Ky, dia tidak mau Ky meninggalkannya lagi untuk waktu lama dan ingin menemani serta mengurus Ky disana, itulah alasannya kenapa dia ingin Ky segera menikahinya!"
Elea dan Danist saling berpandangan. "Lalu apa keputusanmu atas permintaan Gienka itu Ky??" Tanya Danist.
Kyros mengarahkan pandangannya ke kedua orangtua dari perempuan yang dicintainya itu. "Ky sangat mencintai Gienka dan Ky tidak bisa menolak keinginan perempuan yang Ky cintai, jadi Ky menyanggupinya, itu sebabnya Ky menyampaikan ini kepada kalian sebagai langkah awal yang Ky ambil, selanjutnya Ky akan berdiskusi dengan Amam dan Apap juga!"
Danist tersenyum, dia bisa melihat dengan jelas ketulusan dan keberanian dari Kyros, dan entah kenapa hatinya mengatakan bahwa Kyros akan bisa menjaga Gienka dengan baik. Bagi Danist laki-laki seperti Kyros lah yang cocok mendampingi Gienka. Laki-laki yang punya keberanian besar untuk langsung mengatakan keputusan yang begitu besar kepada orangtua seorang gadis.
"Uncle suka dengan keberanianmu Ky, kau menunjukkan sikap gentle, tetapi yang lebih memiliki hak terbesar atas Gienka adalah Ariel, dia Ayah Gienka dan tentu kau tahu akan hal itu, kau harus menemuinya dan mengatakan ini padanya!" Ujar Danist dengan bijaksana.
Kyros tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, aku saat ini berada disini jadi aku mengutarakannya pada kalian saja lebih dulu, tetapi tentu saja aku juga berniat untuk menemui uncle Ariel, besok aku akan menemuinya"
Elea masih tidak percaya jika Gienka mengambil keputusan sebesar itu hanya karena tidak ingin berpisah dari Kyros. Sebagai seorang ibu tentu Elea sangat khawatir jika keputusan diambil sangat cepat hanya karena sebuah alasan yang menurutnya cukup konyol, karena jalannya sebuah pernikahan tentu saja tidak semudah itu, bahkan ketika sudah berada dalam pernikahan pun berbagai ujian pun bisa datang. Elea tentu tidak pernah melupakan betapa kacaunya pernikahannya dulu dengan Ariel, tentu dia tidak ingin anak-anaknya mengalami apa yang pernah dia alami dulu.
"Lalu apa kau benar-benar yakin Ky?? Uncle tidak mau kalau kau menyanggupi keinginan Gienka itu hanya karena dia memaksamu atau apa, tetapi tentu sebagai orangtua, kami ingin putri kami mendapatkan kebahagiaan! Jika kau melakukannya hanya karena Gienka mengancam atau memaksamu lebih baik tidak perlu..!" Ujar Danist kemudian.
"Insha Allah aku yakin dengan keputusanku! Aku sudah menyukai Gienka sejak lama, keinginan memilikinya dan menjadikannya istri tentu ada di pikiranku saat itu, tetapi situasi dan kondisi membuatku tidak bisa menjadikannya kekasihku tetapi akhirnya kami benar-benar bersama, Gienka memintaku melakukannya itu membuatku terkejut saja karena dia tidak mau menunggu lama padahal aku sudah mengatakan bahwa nanti kami pasti menikah, tetapi jika dia meminta seperti itu aku menyanggupinya sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya, kami sudah dewasa tentu kami juga menghindari hal yang tidak diinginkan yang bisa saja terjadi, jadi Ky bisa katakan bahwa Ky benar-benar siap dan menyanggupinya sesuai yang Gienka mau!"
Ditengah obrolan itu, datanglah Gienka yang sudah terlihat rapi setelah mandi dan berganti pakaian. Gienka menggerutjan dahinya ketika semua orang memperhatikan kedatangannya dengan pandangan tidak seperti biasanya. Gienka melirik ke arah Kyros dan menemukan lelaki itu tersenyum kepadanya.
Danist kemudian memanggil Gienka dan memintanya untuk duduk bersama. Gienka kemudian duduk dengan perasaan aneh sekaligus bingung dengan apa uang sebenarnya terjadi.
"Kalian kenapa??? Aneh sekali??? Aku dan Ky sedang buru-buru untuk bertemu dengan temanku!" Ujar Gienka.
Danist tersenyum dan membelai rambut panjang Gienka. "Kami sudah mendengar semuanya dari Ky bahwa kau memintanya untuk menikahimu!"
Gienka memejamkan matanya, tidak menyangka jika Kyros akan langsung mengatakan semuanya kepada orangtuanya, padahal seharusnya besok-besok saja karena dia juga harus menjelaskan lebih dulu. Gienka membuka matanya menoleh ke arah Danist dan Elea secara bergantian dan tersenyum malu. "Hehehe..! Iya, aku meminta Ky menikahiku, karena dulu dia selalu berjanji padaku bahwa jika kami sudah dewasa dia akan menikahiku!"
"Gie..! Jangan pernah bercanda tentang hal sebesar ini. Pondasi sebuah pernikahan itu tidak hanya membutuhkan cinta dan ingin saling memiliki saja atau karena sebuah janji dimasa kecil yang tidak berarti apapun karena kalian dulu hanya anak-anak polos yang belum mengerti segalanya!" Suara Elea meninggi membuat Gienka beringsut karena dia tidak pernah mendengar atau melihat Mamanya marah seperti ini.
Danist lekas memegang tangan istrinya untuk menenangkannya agar tidak terbawa dengan kemarahan yang disebabkan oleh rasa terkejutnya dengan hal ini.
"Gie....! Kenapa kau tidak berpikir lebih dulu sebelum.memutuskan hal ini, bagaimana bisa kau memaksa Ky untuk menuruti keinginanmu? Memangnya persiapan apa yang sudah kau miliki??"
Gienka memandang Elea kemudian memegang tangan Mamanya itu. "Ma...! Bukan begitu....! Gie pasti sudah memikirkannya dengan baik..!"
Danist memegang punggung Elea dan menenangkan istrinya itu. Kemarahan dan emosi tidak akan membuat keadaan baik, yang ada hanya akan memperkeruhnya. "Tenang dulu...! Sebagai orang tua kita harus memberikan petuah yang baik, anak-anak sudah dewasa El, mereka pasti sudah bisa menentukan kehidupannya...!"
Gienka hanya bisa terdiam, begitu juga dengan Kyros. Inilah yang ditakutkannya sejak tadi bahwa keputusan ini pasti akan mengejutkan semua orang terutama orang tua Gienka, tetapi Gienka tadi tidak mau mendengarkannya sama sekali. Kyros merasa saat ini sedang dalam keadaan yang serba salah, dan takut jika akan ada pemikiran buruk dari orang lain kepadanya nanti.
Danist menyuruh Elea untuk menengkan emosinya dengan menarik napasnya dalam-dalam juga mencoba memberi pengertian bahwa sebenarnya hal yang sudah diambil oleh Gienka juga bagaimana cara Kyros menyampaikan pada mereka itu menandakan bahwa keduanya sudah bersikap dewasa. Dan tidak ada yang salah diantara keduanya, Gienka meminta dan Kyros menyanggupinya secara gentle.
Gienka juga menjelaskan kepada Mamanya itu bahwa dia sudah sangat yakin dengan keputusan yang diambilnya. Mereka saling menyukai sudah sejak lama lalu untuk apa menunggu lagi, terlebih sama-sama sudah dewasa. Gienka melakukan ini karena dia ingin bersama laki-laki yang dicintainya, mengurusnya dengan baik dan ingin berbahagia bersama-sama. Gienka memiliki keyakinan bahwa Kyros adalah laki-laki yang akan memberinya kebahagiaan, itu sebabnya dia mengambil keputusan ini.
Atas pengertian itu, Elea pun mulai melunak tetapi tangisnya pecah dan memeluk Gienka. Putri kecilnya yang dulu sudah tumbuh dewasa seperti yang diinginkannya, menjadi cerdas juga bijaksana tetapi tentu ada ketakutan yang dirasakan Elea saat ini.
Elea terisak lalu mengusap airmatanya menatap Gienka dalam-dalam lalu beralih ke Kyros. "Baiklah jika itu adalah keputusan yang sudah kalian ambil, aku tidak bisa menghalanginya" Gumam Elea kemudian.
"Tetapi ingatlah, sebuah pernikahan itu dibangun untuk bisa saling melengkapi, suami menutupi kekurangan istri begitu juga sebaliknya, sementara kelebihannya harus bisa disatukan dengan baik jangan dibiarkan tercecer hingga orang lain bisa memungutnya lalu memiliki dan memanfaatkannya. Aku yakin kalian berdua tahu sekali bagaimana dulu pernikahanku dengan Papanya Gienka, semua berakhir karena salah satu diantara kami tidak mau menutupi kekurangan yang dimiliki pasangannya, begitu kelebihannya tercecer satu, datang orang lain yang kemudian membuat kami akhirnya berakhir buruk. Aku tidak ingin hal buruk seperti itu dialami oleh anak-anakku karena itu sangat menyakitkan. Jika bisa berpikirlah lagi, tidak akan ada yang bisa menghalangi hubungan kalian tetapi pesanku jangan buru-buru dalam mengambil keputusan yang besar ini!"
Gienka tersenyum pada Elea, menyeka airmata yang masih menetes di pipi Mamanya itu. Gienka kemudian meyakinkan bahwa niat baik itu tidak boleh ditunda terlalu lama, dan kelutusan yang diambilnya itu sudah bulat bahwa dia ingin segera menikah dengan Kyros. Dan meminta agar Mamanya tidak khawatir dengan hal itu.
Danist kemudian meminta agar Gienka dan Kyra pergi karena tadi mereka bilang akan memiliki urusan. Dan mengenai hal ini Danist mengatakan bahwa semua harus di diskusikan oleh keluarga mereka, yang terpenting tentu ijin dari Ariel karena Ariel memiliki hak tertinggi dalam memutuskan langkah apa yang akan diambilnya untuk Gienka.
Kyros dan Gienka kemudian berpamitan untuk pergi, dan Kyros berjanji dia akan menemui Ariel juga untuk membicarakan dan menjelaskan perihal ini.
★★★★★★
Dalam perjalanan, Kyros membatalkan niatnya pergi untuk menemui teman Gienka yang menjadi saksi atas perlakuan buruk yang diterima Kyra. Dimana tadi memang Gienka sudah menghubungi Axel dan mengatakan akan datang menemuinya. Tetapi Kyros membatalkannya dan akan mengajak Gienka untuk datang ke rumah Ariel. Kyros tidak ingin ada pemikiran yang buruk dengan keadaan saat ini dan lebih baik semua diselesaikan hari ini juga.
Dalam perjalanan itu juga Kyros mencoba meminta Gienka agar berpikir lagi untuk memberi waktu kepada semua orang dan tidak buru-buru seperti ini, tetapi sayangnya usaha Kyros tidak berhasil. Gienka masih dalam keputusan awalnya meminta segera menikah. Gienka berpikir ini adalah keputusan final yang tidak bisa lagi dihentikan.
Hingga akhirnya sampailah mereka dikediaman Ariel. Gienka mengajak Kyros masuk dan kebetulan Ariel beserta keluarganya baru saja selesai menikmati makan malam mereka. Gienka mengajak Papanya juga Maysa untuk ke ruang tamu dan membicarakan sesuatu yang penting. Disanalah Ariel dikejutkan dengan kehadiran Kyros.
Mereka saling bersalaman juga berpelukan. Tidak lupa Ariel memuji keberhasilan Kyros dan merasa bangga atas apa yang dicapai oleh putra sahabatnya itu.
"Gie...! Ada apa? Kau bilang ingin berbicara penting? Tentang apa???" Tanya Ariel.
Gienka tersenyum pada Papanya itu yang duduk disebalahnya. "Gie datang kesini dengan Ky ingin memberitahu Papa Iel dan Mama May bahwa kami ingin menikah dalam waktu dekat ini, dan ingin meminta ijin kalian...!"
"Apa...!!!??? Menikah???"
Gienka mengangguk lalu mengatakan bahwa keputusan ini adalah idenya karena dia ingin bersama Kyros, dan Kyros juga menyanggupinya.
"Sejak kapan kalian memiliki hubungan???"
Dan kali ini cerita itupun mengalir dari mulut Gienka. Semuanya diceritakan oleh Gienka dari awal sampai akhir. Gienka menjelaskan bahwa mengenai pernikahan ini adalah murni keinginanya sendiri dan Kyros menyanggupinya.
Wajah Ariel berubah seketika saat Gienka mengatakan bahwa dia nanti akan ikut bersama Kyros tinggal di Amerika. Ariel terlihat marah dan langsung menilak mentah-mentah keinginan putrinya itu. Jika Gienka pergi tentu tidak akan ada yang membantunya mengurus perusahaan. Selama ini dia memiliki banyak harapan besar pada Gienka tetapi putrinya itu justru memilih keputusan tanpa membicarakannya lebih dulu.
"Tidak Gie.....! Papa tidak akan membiarkanmu melakukannya...! Kenapa kau mengambil keputusan sebesar ini tanpa memberitahuku lebih dulu....!"
"Papa, ini Gienka sedang memberitahu Papa...!"
"Bagaimana bisa kau mengambil keputusan secepat itu...! Tidak....!!! Papa tidak akan mengijinkanmu menikahi Kyros lalu kau ikut bersamanya pergi.... Tidak akan pernah...! Aku tidak mengijinkanmu...!" Ariel menatap tajam Gienka dan berucap dengan nada keras, hingga membuat semua yang ada diruangan itu terkejut.
"Papa....!!! Dengarkan Gie dulu....!"
"Tidak....!!! Aku tidak mau mendengar apapun darimu....!" Ariel berdiri dari tempat duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Gienka, Maysa dan Kyros yang hanya bisa terdiam melihat kemarahan dari Ariel itu.
"Papa.....!!!" Gienka mencoba menghentika Papanya tetapi Ariel memilih naik ke atas dan tetap meninggalkannya.