
Axel mengemudikan mobilnya untuk mengantar Kyra ke kantor, sebelum dia kembali ke luar kota tempat dimana dia berlatih. Axel menoleh mencuri pandang dan tersenyum, memandangi Kyra tampak cantik dengan make up sederhana dan pakaian formalnya. Rambut Kyra juga tergerai dengan indah.
"Fokus... Kau sedang mengemudi, dan dalam mode biasa, bukan mode autopilot... Malah senyum-senyum... " Ucap Kyra.
Axel terkekeh. "Karena kau terlalu cantik... Aku jadi ingin terus memandangimu... "
"Dihhhh gombal....!"
"Memang kenyataannya seperti itu...."
"Kau tahu kan tadi aku deg-degan sekali, takut Apap marah... Tetapi ternyata tidak... Dan dia justru mengajak Om Theo makan bersama...." Ucap Kyra.
"Aku juga tidak menyangka... " Gumam Axel.
"Aku hanya takut Apap marah padaku karena aku membiarkan om Theo masuk begitu saja tanpa ijin dari Apap, akan tetapi aku sangat tahu bahwa Apap adalah orang yang pemaaf, dan Apap pernah bercerita jika saja du Om Theo tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada Ky, kalaupun Ky tidak di lempar oleh Mama Celia, bisa jadi Ky akan meninggal karena kehabisan cairan..."
"Kehabisan banyak cairan???" Tanya Axel.
"Ya, itu karena Ky menelan banyak obat batuk orang dewasa, dan tidak mendapatkan asupan makanan ataupun minuman selama seharian, hingga dia juga sudah lelah menangis.... Kondisi nya sangat lemah sekali, tetapi Om Theo datang tepat waktu, menghentikan kegilaan Cyntia, dan mengambil Ky dari Cyntia, dan Ky langsung mendapatkan pertolongan.. Kekurangan cairan, kencing hingga pup nya berdarah, dan juga sekujur tubuh nya memiliki banyak lebam.. Cyntia sangat tidak manusiawi..."
"Membayangkannya saja membuatku merasa ngeri... " Timpal Axel.
"Dunia Amam dan Apap saat itu seperti berakhir, menyaksikan anak yang begitu mereka cintai ada di ujung kematian, apalagi mereka sudah pernah mengalami kehilangan sebelumnya... Apap yang sebelumnya terlihat berkuasa dan bisa melakukan berbagai cara untuk melindungi keluarga nya, sangat tidak berdaya, dia bahkan melarang polisi dan pemadam kebakaran untuk melakukan hal yang bisa membahayakan Ky, tidak ada yang bisa mereka lakukan saat itu, selain menunggu Cyntia lengah, tetapi selama lebih dari dua jam, Cyntia masih tidak menyerah dan terus mengancam..." Ujar Kyra.
"Peran Aunty El serta Uncle Dan juga begitu penting, Aunty El menghubungi Uncle Dan, agar mencari Om Theo lalu membawa nya, negosisasi tidak butuh waktu lama, Cyntia akhirnya mereda dan menyerahkan Ky kepada Om Theo, berakhirlah drama menyesakkan dada itu... Siapapun tidak menyangka jika Aunty Elea bisa terpikir ide untuk memanggil Om Theo.. Dan sekarang Om Theo sudah menjadi orang yang aik. meninggalkan segala keburukan di masa lalu nya, wajar jika Apap dan Amam mau memaafkannya walaupun jika di ingat appa yang di lakukan Om Theo bukan hal yang mudah untuk di lakukan..." Imbuhnya lagi.
"Ya, karena tugas manusia adalah harus saling memaafkan jika dia benar-benar tulus..." Gumam Axel.
"Dan apa menurutmu Celia memang ada dalam lingkungan yang salah???" Tanya Kyra.
Axel menoleh memandangi Kyra dengan pandangan datar, tetapi Axel kemudian berfokus lagi ke depan. "Ya... Aku sejak awal menyimpulkan hal itu... Karena aku pernah bertemu Om Theo sebelumnya, Celia mengajakku... Kesan pertama ku bertemu Om Theo, bahwa dia adalah laki-laki yang baik dan sangat mencintai Celia, aku juga berkesempatan mengobrol lama dengannya, dan aku menyimpulkan andai Celia hidup bersama Papa nya, Celia akan merasa bebas melakukan hal yangv dia inginkan, karena Om Theo terlihat tidak menuntut banyak hal dari Celia... Sangat berbeda dengan Mama nya.."
"Jika saja Celia hidup bersama Papa nya, kau pasti masih bersama nya... Iya kan???"
Axel kembali menoleh dan memandangi Kyra. "Jalan manusia sudah di gariskan oleh Tuhan, begitu juga dengan takdir dan jodoh... Jika aku memang tidak di takdirkan berjodoh dengan Celia, pasti ada jalan lain yang membuatku dengannya berpisah, kemudian aku di pertemukan denganmu... Jalan dan takdir Tuhan siapa yang tahu... Kau jangan coba memancing ku yang bisa menimbulkan pertengkaran di antara kita..." Ujar Axel.
"Siapa yang memancing??? Aku juga tidak sedang membawa kail dan umpan... Kau saja yang selalu curiga dengan setiap pertanyaanku.. "
"Aku sedang bosan, weekend kita pergi jalan-jalan atau liburan ya??? Sebelum aku di sibukkan dengan laga.. Kau mau kan???" Tanya Axel.
"Kemana???" Tanya Kyra balik.
"Kemana kek... Ke pantai bagaimana??? Gienka bilang keluargamu punya resort di kepulauan seribu, bagaimana jika kita kesana??? Nanti kita bilang Apap... "
Axel melempar senyumnya. "Ya sudah kalau begitu kita kesana saja... Aku akan meminta ijin Apapmu... "
Kyra mengerti tentang. "Kalau begitu kenapa tidak tadi saja... Kau kan bertemu Apap dan Amam... "
"Ya aku tidak mau meminta ijin kalau aku belum bertanya kesanggupan mu... Nanti aku sudah minta ijin, tapi kau tidak mau, kan malah tidak enak pada Amam dan Apap mu... "
"Iya deh... Kita berangkat sabtu berarti???" tanya Kyra memastikan.
Axel menggelengkan kepala nya. "Kita pergi jum'at sore saja, aku akan pulang selesai latihan, dan kita berangkat setelah kau selesai bekerja..."
"Oke.... Hanya kita berdua???"
"Iya... Just you and me... Kenapa??? Kau ingin mengajak geng mu??? Mereka tidak disini kan???"
Kyra tersenyum. "Ya, mereka sedang sibuk semua.... Eh bagaimana kalau kita ajak Lexy???"
"Lexy ada kesibukan di kampus, sudahlah berdua saja... Aku juga tidak berniat buruk padamu... Hahaha... "
Kyra mencubit pinggang Axel. "Kau ini... Oke baiklah kita pergi ke resort milik Apap. ...."
★★★
Theo akhirnya sampai di rumah Cyntia. Rumah yang sama seperti saat dulu dia masih bersama Cyntia. Dan di rumah ini juga dulu Cyntia hampir menghabisi nyawa Kyros. Rumah yang sama dan tidak banyak yang berubah, karena memang sudah lama tidak di tinggalin oleh Cyntia dan hanya di kunjungi sesekali saja. Cyntia memiliki rumah lain pemberian suaminya yang sekarang. Karena Cyntia bukan istri pertama,l dan bisnisnya di Singalura, maka suami Cyntia juga jarang datang kesini dan hanya beberapa bulan sekali menengok Cyntia. Itulah kenapa Cyntia selalu bersikap seenaknya dan tidak takut dengan siapapun. Yang Theo tahu, suami Cyntia adalah orang yang cukup baik, begitulah yang sering di katakan Celia padanya., karena pria itu juga menyayangi Celia meskipun bukan anak kandungnya.
Ada mobil Cyntia terpakir di halaman rumah, menandakan jika Cyntia memang ada di rumah ini, dan pasti Celia juga ada di dalam. Theo menekan bel yang ada di luar gerbang sekaligus mencoba memanggil Cyntia dari luar. Cukup lama Theo menunggu hingga akhirnya pintu di buka dari dalam dan Mama Cyntia ternyata yang keluar.
Melihat kedatangan Theo, raut wajah marah tampak jelas di wajah Mama Cyntia. Dia mempercepat langkahnya menghampiri Theo. "Kau... berani sekali datang... Ada perlu apa???" Tanya Mama Celia dengan ketus.
"Ma... Boleh aku masuk??? Aku ingin bertemu Celia... "
"Tidak ada Celia disini... Pergilah... "
"Tapi Ma, kalian membawa Celia semalam, aku hanya ingin bertemu dan memastikan dia baik-baik saja, karena perasaanku tidak enak sejak semalam... "
"Persetan dengan perasaanmu... Kau tidak berguna, jadi pergilah....!!!" Mama Cyntia setengah berteriak pada Theo.
"Ma.... Aku sangat khawatir dengan Celia, aku tahu dia ada disini, karena mobil Cyntia juga ada disini.. Tolong Ma.. Ijinkan aku bertemu Celia, sebentar saja.. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.. "
Sementara itu, di dalam rumah, Celia sejak tadi menangis dan mengeluh sakit di bagian kepala nya. Tetapi tangisan Celia di abaikan oleh Cyntia, dan justru Cyntia terus memarahi Celia. Bahkan menendang tubuh Celia yang terbaring dan tidak berdaya karena kesakitan. Cyntia juga tidak memanggil dokter padahal luka Celia di kepala nya cukup dalam. Celia terus berteriak kesakitan tetapi Cyntia benar-benar tidak peduli dan justru mengunci Celia di kamar. Celia merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya, bukan lagi pusing tetapi kepala nya sangat sakit sekali. Celia terisak dengan sedih meskipun tahu bahwa tangisannya tidak akan di pedulikan oleh Mama nya. Kamar juga di kunci dari luar, bahkan untuk bangun, Celia juga tidak mampu. "Papa....!!! Tolong Celia Pa.... Sakit..... Papa....!!!" Ucap Celia dengan suara lirih, dan kepala nya berdenyut hebat seperti sedang di pukul oleh benda keras. Karena tidak kuat, Celia akhirnya pingsan.