
Cyntia dan Mama nya serta Celia akhirnya sampai di rumah mereka. Cyntia tidak membawa Celia ke rumah sakit, meski tahu kepala Celia berdarah dan dia menempatkan anaknya itu di bagasi mobil. Selama perjalanan Celia terdengar merintih kesakitan tetapi Cyntia mengabaikannya. Cyntia membawa Celia masuk ke dalam rumah, tetapi tidak membawa nya ke kamar Celia, takut Celia akan kabur lagi. Cyntia pun menempatkan Celia ke sebuah kamar tamu yang tidak memiliki jendela sehingga Celia tidak bisa kabur dari jendela kecuali pintu, dan Cyntia nanti akan mengunci pintu nya sehingga Celia tidak akan bisa keluar dari dalam sana.
Mama Cyntia mengambil kotak P3K dan memberikannya pada Cyntia, untuk di gunakan mengobati luka Celia. Celia merasa pusing sekali dan dia juga menahan rasa sakit akibat tendangan dari Mama nya tadi, hingga membuatnya tidak bisa banyak bergerak saat ini. Mama nya sangat keterlaluan dan tega melakukan hal sekejam itu kepada nya. Celia mengerang kesakitan ketika Cyntia mengobati luka di kepala nya. Celia juga menitih kan airmata nya, dia benar-benar ingin tinggal saja dengan Papa nya yang selalu memperlakukannya dengan baik, dan juga menyayangi nya. Berbeda jauh dengan Mama nya yang selalu memaksakan kehendaknya juga selalu bersikap seenaknya. Celia tidak pernah bisa menolak keinginan Mama nya karena dia tahu sejak kecil Mama nya yang sudah merawatnya, Celia tidak ingin menjadi orang yang durhaka, tetapi semakin dia menahan kekejaman Mama nya, ada rasa sakit hati begitu dalam yang Celia rasakan. Dan dia mulai mengerti bahwa ibu yang baik adalah ibu yang memberikan kasih sayang kepadanya dan tidak selalu memaksakan kehendaknya kepada anaknya dengan alasan apapun yang sekira nya tidak baik dan tidak masuk akal. Tetapi Mama nya tidak pernah mengerti sama sekali hal itu. Celia benar-benar seperti hidup di neraka.
"Cyntia.... Apa kau yakin Celia tidak apa-apa jika tidak kita bawa ke rumah sakit??? Luka nya cukup dalam..." Ucap Mama Cyntia.
"Tidak apa Ma, hanya luka biasa..." Sahut Cyntia.
"Kau kenapa harus melempar nya dengan batu??? bagaimana jika kepala nya mengalami cidera... Kau tidak berpikir kalau itu bisa membahayakan Celia...???"
"Dia lari sangat cepat, bisa bahaya jika dia berhasil kabur lagi... Aku tidak punya pilihan lain selain harus melempaenya dengan batu... Sudahlah tidak akan terjadi apapun... Setelah aku beri obat pereda nyeri, dia akan baik-baik saja... Mama tenang saja.... " Ucap Cyntia dan dia mulai membaIut luka Celia dengan perban. Setelah itu Cyntia memaksa Celia mengkonsumsi obat pereda nyeri agar Celia tidak merasa kesakitan lagi. Setelah itu, Cyntia dan Mama nya keluar dan menutup pintu kamar lalu mengunci nya sehingga Celia tidak bisa ke mana-mana.
★★★
Beberapa jam kemudian... Di tempat lain......
Gienka sedang menikmati sore nya dengan berenang sambil menunggu Kyros pulang. Berada di rumah yang begitu besar dan sendirian saat Kyros bekerja, membuat Gienka berusaha mencari kegiatan yang menyenangkan agar tidak merasa bosan. Kyros juga sudah mencarikan asisten rumah tangga, untuk bekerja membersihkan rumah, karena rumah yang besar membuat Kyros tidak tega jika Gienka membersihkannya sendiri setiap hari. Dan asisten rumah tangga itu, akan bekerja mulai minggu depan. Bertugas hanya bersih-bersih rumah saja, datang pagi dan pulang siang hingga sore hari, libur saat weekend. Sedangkan untuk memasak, Gienka ingin melakukannya sendiri.
"Sayaaang......!!!! Aku pulang......!!!" Teriak Kyros.
Lelaki itu sudah pulang, dan dia memanggil Gienka. "Sayang....!!!"
Karena tidak ada jawaban, Kyros pun hendak naik ke lantai dua, mungkin Gienka ada di kamar dan tidak mendengarnya. Tetapi saat hendak menaiki tangga, langka nya terhenti ketika mendapati ada pergerakan di kolam renang yang ada di bagian belakang rumah. Kyros tersenyum, karena tahu itu pasti adalah istrinya. Kyros pun membatalkan niatnya pergi ke kamar. Dan menghampiri Gienka.
Kyros berdiri di tepi kolam renang, dan memperhatikan istrinya sedang berenang. Gienka tidak sadar jika Kyros sudah datang. Sampai akhirnya Gienka pun terkejut ketika mendapati Kyros tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangannya.
"Sayang... Kau sudah pulang...????" Ucap Gienka dan bergegas dia ke tepian dan naik. Gienka mengambil handuk kimono nya, memakainya dan menghampiri suami nya. "Kok tumben pulang cepat????" Tanya Gienka seraya mencium tangan Kyros dan mengecup bibir lelaki itu.
"Iya, aku pulang satu jam lebih cepat, kepala ku sedikit pusing... Asyik sekali berenangnya sampai tidak sadar aku pulang dan tidak mendengar ketika aku memanggilmu..."
"Sorry sorry...!! Kepala mu pusing??? Aku siapkan makan ya??? Lalu minumlah obat dan istirahat..."
Kyros tersenyum. "Iya, tapi nanti saja... Aku sangat merindukanmu.... Biarkan aku memelukmu..." kyros menghela Gienka ke pelukannya. Memeluk istrinya dengan sangat erat sambil mengecup pucuk kepala Gienka. Dan Gienka juga membalas pelukan suami nya.
"Aku juga sangat merindukanmu, dan sangat bosan di rumah sendirian.... Duduklah, kau pasti capek, aku akan mengambilkan mu minum dulu... "
"Kau ini... Dasar... " Gienka melepaskan pelukannya dan mengambilkan jus yang ada di gelas, jus itu baru sedikit dia minum dan ternyata Kyros juga ingin meminumnya. Gienka memberikan gelas itu pada Kyros, dan mereka duduk kursi santai yang ada di tepi kolam renang.
"Aku tadi berbicara dengan Kyra, dan aku bertanya mengenai masalah yang Mamay ceritakan tadi pagi... Kyra menceritakan semua nya padaku... " Gumam Gienka dan kembali memeluk Kyros.
"Apa yang terjadi???" tanya lelaki itu.
"Ya, seperti Mamay bilang, jika Cyntia datang ke rumah Axel dan mengacau, tetapi Apap sudah mengatasi nya... Cyntia sangat takut dengan Apap, jadi dia memilih menyerah... "
Kyros menghela napasnya panjang. "Ahhh syukurlah....!" Ucapnya.
"Tetapi ada hal lain yang terjadi pada Kyra.. "
Kyros mengernyit "Hal lain apa???" Tanya Kyros.
"Celia kabur dari rumahnya sehingga Mama nya mencari nya, dan ternyata Celia datang ke tempat latihan Axel, dan Celia meminta Axel agar maau kembali dengannya, dan disana selain ada Axel juga ada Kyra, Amam juga Apap... Celia tidak mempedulikan mereka sama sekali, bahkan dia semakin marah ketika Axel menolaknya, Celia menyalahkan Kyra dan memaki serta menyerang Kyra, menjambak hingga menendang perut Kyra, padahal disana ada Amam dan Apap juga..."
"Celia menjambak dan menendang Kyra??? Kok bisa???"
Gienka menggelengkan kepala nya. "Celia marah pada Kyra karena Kyr sudah merebut Axel darinya, beruntungnya Apap, Axel dan juga Papa Celia bisa melerai dan menghentikan kemarahan Celia.... Selain marah pada Kyra, Celia juga sempat menyebut namaku, karena aku adalah otak di balik kedekatan Axel dan Kyra, mengingat aku adalah sahabat kedua nya... "
"Shhiiitthhhh... Berani sekali dia melakukan semua itu??? Sikapnya sama saja dengan Ibunya.... Tapi Kyra tidak apa-apa kan???" Tanya Kyros.
"Tidak.. Dia tidak apa-apa, bahkan memaklumi sikap Celia, karena tahu bahwa Celia memang memiliki perasaan yang tulus pada Axel... "
"Tetapi tidak bisa seperti itu dong...."
"Aku juga kesal karena Kyra menaruh simpati pada Celia... Tapi jangan heran, kita kan sudah hafal bagaimana watak Celia...!"
****
Theo turun dari bus di terminal. Dia sengaja menyusul Celia ke Jakarta karena memiliki perasaan yang tidak enak terhadap putrinya itu. Cyntia membawa nya dengan sangat buruk, sehingga Theo merasa sangat khawatir dan langsung memutuskan untuk menyusul. Dia pergi ke terminal dan cukup lamaenunghu sspai akhirnya ada bus yang menuju ke Jakarta. Sampailah dia disini. Selain untuk memastikan kondisi Celia baik-baik saja, Theo juga ingin bertemu dengan Aditya. Dan tujuan pertama nya adalah bertemu Aditya, sebelum nanti dia akan kesulitan untuk menemui Aditya jika datang ke rumah lelaki itu, dan Theo memutuskan akan ke rumahnya saja pagi ini sebelum Aditya berangkat ke kantor
Theo ingin meminta maaf atas namanya sendiri dan juga atas nama Celia. Theo sangat takut jika Aditya melaporkan apa yang erjadi kemarin pada polisi atau bodyguard nya yang cukup banyak itu. Sehingga meminta maaf adalah jalan pertama yang akan Theo lakukan.