
"Jadi Papa memperk0sa Mama??? Disaat keadaan sedang seperti itu????" Tanya Gienka seraya kembali membuang muka dengan jengkel sekaligus sedih. Membayangkan betapa tidak bermoralnya Papanya yang memperlakukan Mamanya dengan begitu buruk.
Ariel menggeleng, tersenyum pedih melihat kemarahan putri yang sangat dia cintai. "Tidak sayang....! Hal buruk itu tidak sempat terjadi...!"
"Lalu??? Apa yang Papa lakukan???" Tanya Gienka lagi.
"Danist datang tepat waktu, dia menyelamatkan Mamamu dari kejahatan yang Papa lakukan saat itu, dia menghajarku hingga babak belur, mengumpatku dan mengusirku, Papa pergi dengan langkah gontai, setelah itu Papa tidak pernah lagi muncul dihadapan kalian semua....!"
Ariel menitihkan airmatanya. Ya, setelah kejadian itu, dia memilih pergi dan menjauhi semua orang yang dikenalnya. Dia bersembunyi setelah apa yang sudah dilakukannya pada Elea. Dia menghilang begitu saja seperti di telan bumi, bahkan Ariel juga tidak memberitahu Aditya ataupun Randy yang menjadi sahabatnya. Mereka berdua juga bingung karena tidak menemukan Ariel.
Awalnya Ariel pergi karena takut dan malu kepada orang-orang terdekatnya. Berpikir bahwa pasti Elea dan Danist Mengatakan semuanya pada yang lain, juga sebenarnya takut Elea membawa permasalahan itu ke jalur hukum. Ketika itu hanya rasa takut, dan belum ada rasa penyesalan. Sampai akhirnya suatu malam Ariel bermimpi bertemu dengan mendiang Mamanya. Dimana dalam mimpi itu, Ariel seolah diingatkan atas semua kesalahannya.
"Malam itu Papa terbangun dengan keringat dingin, Papa langsung mengingatmu, Papa ketakutan dengan masa depanmu nanti jika Papa terus berulah dengan menyakiti Mamau, Papa tersadar saat itu juga bahwa Papa todak boleb seperti itu terus dan berusaha untuk mengikhlaskan apa yang terjadi, karena semua itu adalah kesalahan Papa sehingga Papa kehilangan Mamamu dan juga tidak bisa bersamamu setiap hari....!" Gumam Ariel sedih.
"Lalu Papa meminta maaf pada Mama serta Papa Dan???" Tanya Elea.
Ariel menggeleng. Dia kemudian menceriakan lagi bahwa dia tidak meminta maaf pada Elea ataupun Danist. Ariel masih memilih untuk menghilang dari mereka semua. Tetapi tak lama setelah bermimpi itu, Ariel memutuskan untuk pergi ke suati tempat dimana dia bisa merenungi segala kesalahannya kemarin dan meminta ampun kepada Tuhan. Ariel memilih pergi ke tanah suci dan melakukan ibadah disana. Ariel fokus beribadah dan memohon kepada Tuhan agar mengampuni segala dosanya, terutama dosa pada Elea serta bayinya dan juga pada Ayahnya yang selama bertahun-tahun tidak dia ajak bicara karena sebuah permasalahan yang besar yang sulit untuk Ariel maafkan.
Setelah melakukan ibadah itu, Ariel masih belum memutuskan untuk pulang dan kembali menemui orang-orang terdekatnya. Ariel memilih untuk sendiri sementara waktu dengan tinggal di beberapa negara selama beberapa bulan. Ariel membutuhkan ketenangan dan kesiapan diri untuk nanti menemui Elea dan meminta maaf padanya atas apa yang dilakukannya. Hingga suatu hari saat berada di Swiss, Ariel tidak sengaja melihat Cahya, Aditya beserta kedua bayi mereka Kyra dan Kyros, juga Elea, Danist dan Gienka. Mereka sedang berada di dekat sebuah danau yang terkenal sedang berjalan-jalan. Saat itu Ariel sedang jogging karena dia tinggal di dekat danau itu juga. Melihat mereka semua, Ariel memilih menjauh dan tidak menemui mereka. Dirinya belum siap juga hatinya sendiri masih ketakutan, meskipun dia sangat merindukan Gienka kecilnya yang cantik dan menggemaskan itu.
Ariel ingat jika Aditya memiliki rumah di Swiss dan sedang memiliki proyek disana. Sudah pasti Aditya saat itu berada disana untuk mengurus proyeknya bersama dengan Danist yang menjadi bawahannya. Setelah pertemuan itu, Ariel kembali lagi di hadapkan dengan hal yang tidak terduga dimana dia melihat Danist dan Elea sedang berjalan sambil bercanda dan terlihat romantis sekali. Ariel menyadari bahwa kedua orang itu sangatlah bahagia dengan kehidupan pernikahan mereka. Untuk menghindari sakit hati yang lebih mendalam, Ariel.memutuskan untuk pergi saja dari Swiss.
Ariel mengangguk. Dia memang tidak menemui Gienka saat itu, walaupun sudah berbulan-bulan tidak melihat putrinya. Sontak mendengar itu Gienka terlihat semakin marah kepada Ariel.
"Papa jahat sekali... Papa tidak menyayangi Gie... Tega sekali Papa tidak menemuiku ..!"
"Papa sangat merindukanmu saat itu sayang, tetapi Papa sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menemui kalian, bukan tidak memiliki tetapi belum memiliki keberanian...! Sebelum Papa pergi meninggalkan Swiss, Papa datang ke rumah Aditya, bertemu dengannya dan menitipkan sebuah hadiah kecil untukmu, Papa meminta Aditya memberikannya padamu, Papa juga mengatakan padanya bahwa Papa akan kembali suatu saat nanti ketika Papa sudah siap...! Ketika itu Papa pergi dengan airmata yang membanjiri wajah Papa, Papa sangat merindukanmu, sangat tetapi apalah daya Papa, kesalahan Papa begitu besar hingga untuk menemuimu dan menggendongmu saja Papa merasa malu sekali...!"
"Oh ya Ampun........!!! Lalu kaoan Papa akhirnya berani melakukan itu? Meminta maaf pada Mama juga Papa Dan???" Tahya Gienka.
Ariel akhirnya berani untuk menemui Elea serat Danist dan Gienka setelah pergi dan menghilang selama berbulan-bulan. Ariel datang ke apartemen Elea, datang dengan penuh tekad untuk meminta maaf, mengakui kesalahannya djuga meminta ijin oada mereka berdua agar dia bisa meminta waktu untuk bertemu dengan Gienka. Serta diijinkan untuk memberikan apapun yang ingin diberikannya pada Gienka. Ariel sangat menyesali semua perbuatannya. Dengan melihat ketulusan dan oenyesalan Ariel, Elea dan Danist pun memaafkannya dan mengijinkan Ariel untuk bebas menemui Gienka hanya saja tetap dalam pengawasan Elea ataupun Danist.
Setelah itu, Ariel melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang Ayah dan mencintai Gienka. Seluruh hidupnya hanya dia dedikasikan untuk Gienka. "Ayah benar-benar berubah menjadi lebih baik, menjadi ayah yang bertanggung jawab untukmu, seluruh cinta Ayah hanya untuk Gienka Papa...! Papa tidak pernah lagi memikirkan untuk berbuat jahat pada Mamamu ataupun Danist...! Ya, tidak untuk berusaha memisahkan mereka, hanya saja Papa punya masalah lain saja dengan Danist, ya ini ada hubungannya dengan almarhum Opa mu, tetapi Papa tidak ingin membahas hal itu sekarang, Papa tdak mau mengungkit aib dari Opa mu, dia sudah meninggal dan tidak baik membahasnya..!"
Ariel mendekat ke Gienka, dan memegang jedua jemari putri cantiknya iti yang saat ini sedang berulang tahun. Ariel tersenyum dan mencium punggung tangan Gienka. "Tolong jangan benci masalalu buruk Papa, itu memang menyesakkan dada tetapi percayalah Papa berubah itu hanya karenamu, karena kehadiranmu, kau merubah seluruh hidup Papa sayang, Papa mohon maafkan semua kesalahan masalalu Papa, Papa dibutakan oleh cinta pada Mamamu hingga papa melupakan sisi kemanusiaan, tetapi Tuhan sudah menyadarkan Papa, dan Papa ingin putri Papa menjadi perempuan baik, hebat dan penuh kasih sayang seperti Mama kalian... Gie mau kan memaafkan Papa???" Tanya Ariel dengan suara serak dan terdengar menyedihkan.
Gienka melepaskan pegangan Ariel pada jemarinya, dan dia beranjak dari sofa lalu meninggalkan Ariel dengan penuh kemarahan dan kekecewaan.
"Gie... Tunggu sayang... Gienka...!" Teriak Ariel etappi putrinnya iitu tidak menghiraukannya dan tetap pergi.