
"Selamat datang di rumah kami... Uncle Vitto, Aunty Rana, Sanne dan Vineet..." Ucap Gienka sambil membuka pintu rumah nya. Dia kemudian mempersilahkan tamu nya masuk, sedangkan Kyros masih memarkir mobil di garasi.
"Kalian hanya berdua saja di rumah sebesar ini???" Tanya Vitto.
"Iya Uncle... Minggu depan baru ada ART yang datang untuk membersihkan rumah... Kalau masak sih, Gie sendiri yang akan melakukannya.." Jawab Gienka.
"Kalian dapat hadiah pernikahan yang bagus dari orang tua kalian... Harus di jaga dengan baik... "
Gienka tersenyum. "Hadiah yang cukup berlebihan sebenar nya... Karena kami tidak ingin rumah yang terluka besar seperti ini, ingin nya apartemen biasa saja, yang penting nyaman untuk di tinggalin berdua... Tapi kami tidak bisa menolak keputusan Papa dan Apap... "
Vitto terkekeh. "Mereka ingin yang terbaik untuk kalian.. Dan pasti nya kenyamanan kalian juga penting... "
"Iya Uncle... Hehehe.. Mari kita naik ke lantai dua, kami sudah siapkan kamar untuk kalian... Oh iya Neet... Kau ingin tidur di kamar sendiri atau bersama Sanne?" Tanya Gienka sambil mengajak mereka ke lift agar lebih cepat sampai ke lantai dua dan tidak perlu capek-caoek menaiki tangga.
"Ah tidak kak Gie, aku bersama kak Sanne saja.. Lebih enak kalau ada teman nya.. " Jawab Vineet.
"Oke baiklah kalau begitu.. " Mereka masuk ke lift dan tidak butuh waktu lama, mereka keluar. Gienka langsung menunjukkan kamar mereka, dan menyuruh mereka untuk bersih-bersih dan beristirahat.
"Oh iya, mau beristirahat dulu atau makan siang??? Biar Gienka siapkan...." Tanya Gienka.
"Tidak perlu sayang.... Kita nanti pesan saja makanan di luar, kita sudah banyak merepotkan mu... Mungkin sekarang lebih baik bersih-bersih dan istirahat sebentar, baru setelah itu makan... " Jawab Rana.
"Oke baiklah... Kalian bersih-bersih dan istirahat saja dulu... Gie harap jangan sungkan-sungkan, anggap ini rumah sendiri... " Gienka membuka pintu kamar tamu, dan mempersilahkan mereka untuk memilih ingin di kamar ini atau kamar tamu sebelah.
Vitto dan Rana memilih kamar pertama, sedangkan Sanne dan Vineet di kamar sebelah. Mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Gienka meninggalkan mereka agar beristirahat. Dan kembali turun ke lantai satu.
GIenka keluar dari lift dan langsung menuju dapur. Ternyata Kyros sudah masuk dan tampak sibuk di dapur. Gienka tersenyum dan menghampiri suami nya. "Apa yang kau lakukan???" Tanya Gienka.
"Membuat lemon jus.. Itu bisa mengurangi jetlag mereka... " Jawab Kyros.
"Aku baru membuat nya, tapi kau sudah sigap... Sini biar aku saja...." Gienka mengambil lemon yang di pegang suami nya dan menjepit nya untuk mengeluarkan jus nya. "Kau akan kembali jam berapa!??" Tanya Gienka.
Kyros melihat jam tangan nya. "Seperti nya sebentar lagi..."
"Kenapa masih disini??? Bersiaplah segera, aku akan menyiapkan makan siang untukmu, makan sebelum pergi ke kantor.. Biar aku yang mengurus ini... Aku sudah menyiapkan pakaianmu di atas etalase jam tanganmu... Seoetu dan kaos kaki nya juga ada di atas kursi.. Kau tinggal memakai nya... "
Kyros mencium kening Gienka. "Kau terbaik... Aku mencintaimu... Aku mandi dan bersiap dulu... " Kyros pun meninggalkan Gienka. Sedangkan Gienka melanjutkan membuat jus lemon untuk tamu-tamu nya. Dia juga sempat membuat kue kacang kemarin, resep dari nenek Kyros, karena Kyros sangat menyukai nya, jadi dia membuat nya untuk Kyros dan juga akan memberikan kue itu pada tamu nya.
****
Gienka mengetuk pintu kamar, dimana Rana dan Vitto ada di dalam. Tak lama pintu di buka oleh Rana. "Eh Gienka sayang.." Ucap Rana.
Gienka tersenyum. "Gie membuat jus lemon untuk Aunty dan Uncle, ini cukup ampuh menghilangkan jetlag... " Gienka menyodorkan nampan berisi dua gelas jus lemon, satu toples kecil kue kacang dan juga semangkuk aneka buah-buahan seperti anggu, jeruk, apel, pisang dan stroberi.
"Kau ini... Harus nya tidak perlu repot-repot.. "
"Tidak apa-apa aunty, hanya jus, kue dan buah saja kok..."
"Terima kasih ya... Kau manis sekali... "
Gienka tersenyum. "Sama-sama Aunty... Selamat beristirahat, semoga betah disini... Gie permisi dulu, mau mengantar ini untuk Sanne dan Vineet... "
"Ya... Sekali lagi Terima kasih ya..."
Gienka mengangguk dan mengucapkan permisi, kemudian berjalan menuju kamar Sanne dan Vineet yang ada di sebelah. Rana membawa masuk nampan yang di berikan Gienka dan menutup lagi pintu nya.
Vineet, membongkar koper nya, dan mengeluarkan pakaian nya dari dalam. Tetapi dia tiba-tiba terdiam menatap sesuatu yang ada di koper nya. Vineet mengambil nya lalu memegang dan menatap sebuah kertas yang ternyata berisi sebuah foto. Mata Vineet berkaca-kaca, dan dia mulai menangis. Itu selalu terjadi ketika dia melihat foto itu. Foto yang selalu dia bawa di mana-mana, sebuah foto yang sangat berarti sskali untuk nya.
Suara ketukan pintu, membuat Vineet terlonjak dari lamunan nya. Dia lekas berdiri dan membuka nya. Gienka tersenyum kepada nya. "Ini untukmu... " Ucap Gienka menyodorkan nampan berisi minuman dan makanan.
Vineet. membalas senyum Gienka. "Thanks ya kak... jadi merepotkan mu... " Ucap Vineet dan mengambil nampan yang di pegang Rana. Detik itu juga foto yang di 9egang Vineet terjatuh. Gienka yang melihat itu langsung membungkuk mengambilnya
Gienka membungkuk dan menatap foto itu. Foto seorang anak kecil laki-laki, seumuran dengan nya. Gienka tahu siapa anak laki-laki itu. Dia tahu itu dari orang tua nya. Dan anak laki-laki itu adalah juga teman masa kecilnya dulu.
"Kau membawa Foto ini???" tanya Gienka.
Vineet tersenyum. "Iya kak, aku selalu membawa nya bersama ku... "
"Kau pasti sangat merindukan nya...???" Tanya Gienka lagi.
"Bukan merindukan lagi, aku belum sempat bertemu dengan nya, bahkan aku dulu sering membayangkan betapa seru nya memiliki seorang kakak... Tetapi aku tidak bisa dan tidak akan pernah memiliki seorang kakak lagi... "
Gienka tersenyum. "Kau banyak memiliki kakak Neet, ada Sanne, ada aku, ada Ky, Kyra, ada juga Louis.... Kami semua adalah kakak mu... Dimana pun Naufal berada saat ini, semoga dia di beri kebahagiaan oleh Tuhan... Entah dia masih ada di dunia ini ataupun jika sudah tiada, Tuhan akan selalu menjaga nya.... Apapun kondisi nya, dia pasti sangat menyayangi mu dan bangga, karena kau adalah adik terbaik yang dia miliki... " Ujar Gienka sambil menyeka airmata Vineet yang menetes di pipi nya. Dia sangat memahami kesedihan Vineet dan orang tua nya, selama ini mereka hidup dalam kesedihan. Hidup bertahun-tahun tanpa anak mereka, yang tidak pernah di ketahui bagaimana nasib nya. Gienka sendiri tidak terlalu ingat bagaimana dulu ketika berteman dengan kakak Vineet, karena mereka masih terlalu kecil saat itu. Sehingga ingatan itu juga tidak begitu jelas. Dia hanya pernah mendengar dari orang tua nya tentang kakak Vineet.
Trauma yang di alami keluarga Vineet begitu mendalam, hingga kedua orang tua nya bersikap cukup protektif pada Vineet, tidak mau kehilangan untuk kedua kali nya. Bahkan Vineet harus memupus mimpi nya untuk berkuliah di luar negeri, karena tidak di ijinkan oleh orang tua nya.