
Gienka membanting pintu ruang kerja papanya dengan keras hingga menimbulkan suara berdebam. Langkah Gienka terhenti ketika dia baru saja keluar dari pintu ruang kerja Ariel. Sebuah pegangan dari tangan lembut yang menahan pergelangan tangannya. Gienka menoleh dan menemukan Elea Mamanya ada di belakangnya bersama dengan Danist, Papa sambungnya. "Mama...???"
"Ssssttt...!" Elea menyuruh putrinya itu diam dan mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya Ariel menangis. Dia tidak mengejar Gienka dan ingin memberi ruang untuk putrinya itu agar bisa menenangkan diri lalu nanti akan mencoba berbucara lagi. Inilah yang selama ini ditakutkan oleh Ariel ketika harus menceritakan segalanya pada Gienka. Meskipun Elea dan Danist sebelumnya sudah melarangnya untuk mengatakan itu tetapi Ariel tidak bisa menyembunyikan semuanya, bagaimanapun Gienka tetap harus tahu kebenarannya. Ariel juga berharap Gienka bisa belajar dari masalalunya yang begitu buruk, agar hal yang sama juga tidak terjadi di masa depan.
Elea menarik Gienka membawa putrinya itu masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2. Wajah Elea terlihat kesal hingga dia menarik Gienka begitu kuat membuat Gienka sedikit memekik kesakitan. Melihat itu Danist meminta Elea agar tidak memperlakukan putri nya seperti itu. Sampai di dalam kamar Gienka, Elea pun menutup pintunya dan mendekati putrinya itu, menatapnya dengan tajam.
"Gie...! Kenapa kau membanting pintu ruang kerja Papamu??? Bukankah dia ada di dalam???" Tanya Elea.
Gienka terdiam, tetapi Elea tidak bisa lagi menahan kemarahannya pada putrinya itu. "Apa pernah Mama mengajarimu untuk bersikap tidak sopan pada orang tua??? Bukankah mama selalu mengajarimu agar kau bisa menjaga sikap ketika di depan orang tua? Lalu kenapa kau melakukan itu tadi???"
"Gie marah pada Papa... Papa jahat sekali...!"
"Memangnya kejahatan apa yang sudah Papamu lakukan padamu???" Tanya Elea lagi.
"Bukan pada Gie, tapi pada Mama juga Papa Dan...!"
Elea tersenyum. "Gienka sayang... Mama sudah mendengar segalanya tadi ketika kau dan Papamu berada disana, semuanya...!"
"Jadi Mama mendengarnya???"
Elea mengangguk, kemudian duduk di samping putri satu-satunya yang sangat dicintai itu.
"Gienka sayang, inilah alasan kenapa Mama ataupun Papa Dan tidak mau memberitahu hal ini padamu ketika dulu kau sering bertanya, kami tidak ingin kau bersikap seperti ini pada Papa Iel mu, itu sudah berlalu selama bertahun-tahun nak, Mama juga Papa Dan tidak pernah lagi memikirkannya, kita semua sudah baik-baik saja, kau tahu kenapa??? Karena kami semua memikirkanmu, memikirkan masa depanmu serta kebaikanmu karena kami mencintaimu dan ingin kau tumbuh bahagia...!"
Danist menarik kursi yang ada di depan meja belajar Gienka, kemudian duduk tepat di hadapan putri sambungnya itu dan mengusap lembut rambut panjangnya. "Gienka...! Manusia itu tempatnya salah, sayang...! Tidak ada manusia yang sempurna, Papa Iel pernah berbuat kesalahan, menyakiti hati banyak orang, termasuk Mamamu juga Papa Dan, tetapi kami sudah memaafkannya dengan hati yang ikhlas karena dia sudah menyesali perbuatannya...! Dia memenuhi segala janjinya, itulah kenapa kami ingin menutup semua masalalunya yang tidak baik itu....!"
Gienka menoleh ke arah Elea. "Ariel menceritakan semuanya kepadamu pasti karena dia ingin kau mengetahui dan tidak terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, dia mungkin berpikir bahwa kau berhak tahu segalanya, meskipun dia juga tahu konsekuensi apa yang akan didapatkannya, kau pasti akan marah mendengarnya....! Dia sangat menyayangimu, bahkan rasa sayangnya melebihi dari rasa sayang untuk dirinya sendiri, jadi berhentilah marah kepadanya, ini hari ulang tahunmu kan???" Ujar Elea.
Gienka menitihkan airmatanya. "Gie tahu Papa Iel sangat menyayangi Gie, tetapi Gie kecewa saja dengan sikapnya...!"
"Semua sudah lama berakhir sayang! Papap Iel mu sudah berubah....!" Gumam Danist.
"Ma.... Pa...! Bersediakah kalian menceritakan lagi dari sisi kalian tentang apa yang terjadi dulu? Dan aku juga penasaran dengan pertemuan pertama kalian hingga kalian bisa menikah...! Mungkin dengan itu, aku juga bisa tahu dan bisa menghilangkan kemarahanku dan kekecewaanku pada Papa Iel..."
Elea dan Danist saling berpandangan. Danist tersenyum tipis dan mengangguk, memberi isyarat pada Elea agar mau menceritakannya.
"Baiklah.. Mama akan ceritakan, tetapi berjanjilah bahwa kau nanti tidak akan lagi marah pada Papamu...!"
Gienka mengangguk dan berjanji. Dia hanya ingin tahu yang sebenarnya dari sisi Mamanya. Juga sebenarnya ingin mencocokkan apa benar yang diceritakan oleh Papa Iel nya tadi padanya.
Elea pun memulai ceritanya ketika dia datang ke villa Aditya untuk bertemu dengan Aditya juga Cahya dannitu menjadi awal mula dia bertemu Danist juga.
★‡★‡★ Back to 19 years Ago★‡★‡★‡
Elea sedang berada di mobil, kemarin dia mendatangi rumah Aditya dan Cahya tetapi kata asisten rumah tangganya, mereka berdua sedang tidak berada di rumah melainkan sedang pergi berlibur ke Villa mereka yang ada di puncak. Elea pun hari ini memutuskan harus tetap menemui mereka karena ada hal penting yang harus dia tanyakan dan dia bahas saat ini juga. Karena tidak tahu dimana Alamat villa itu, Elea pun menghubungi Cahya. Di deringan kedua, panggilannya langsung diangkat.
"Hai El, apa kabar? Ya Tuhan kenapa kau jarang sekali membalas pesanku" Jawab Cahya.
"Aku baik, maafkan aku Ca aku sangat sibuk, btw aku hari minggu kemarin datang kerumahmu dan security mu bilang bahwa kau dan Adit baru saja pergi ke Puncak dan kalian akan tinggal disana beberapa waktu, apa itu benar?" Suara Elea terdengar pelan.
"Iya El, Adit ada pekerjaan yang harus diselesaikan disini, jika selesai kami akan segera kembali"
"Hari ini aku ingin bertemu kalian, bisakah kau mengirim alamat kalian disana? Aku akan datang"
"Benarkah kau akan datang? Kebetulan sekali aku sangat merindukanmu, baiklah aku akan share lokasi kami, aku menunggumu El"
****
Hari sudah menjelang siang, Elea sampai di villa besar milik Aditya. Elea menekan bel dan menunggu pintu dibuka dari dalam. Cahya membuka pintu, tersenyum memeluk Elea lalu menyuruh Elea untuk masuk ke dalam.
"Kau datang sendiri El? Kemana Ariel?" Tanya Cahya.
"Aku datang sendiri Ca, Ariel sedang sibuk, apa kau sendirian sekarang?" Jawab Elea datar, membuat Cahya menggerutkan keningnya karena tidak biasanya Elea bersikap seperti ini, dia selalu terlihat ceria setiap bertemu dengannya.
"Iya, Adit sedang di kantor perkebunan tetapi sebentar lagi akan pulang untuk makan siang, ini aku sedang mau memasak untuknya, sebentar ya aku akan mengambilkan minum untukmu"
"Tidak perlu Ca, aku akan membantumu memasak, bolehkan?"
Elea mengikuti Cahya menuju dapur, dan membantunya memasak. Sesekali Cahya melirik Elea, entah apa yang terjadi dengan sahabatnya itu, dia banyak diam dan hanya menjawab ketika ditanya. Saat Cahya bertanya apakah dia sedang sakit, tetapi Elea menjawab bahwa dia baik-baik saja.
Masakan sudah siap, Cahya mengucapkan terima kasih kepada Elea karena membantunya. Kini Cahya tinggal menunggu kedatangan Aditya, bahkan Elea juga sama tidak sabar untuk bertemu dengan Aditya dan ingin menanyakan sesuatu padanya. Tak berselang lama, benar saja Aditya sepertinya sudah pulang. Cahya membuka pintu dan menyambut Aditya dengan senyuman.
Cahya masuk kedapur untuk mengambilkan suaminya minum dan juga memberitahu Elea jika Aditya sudah pulang. Cahya keluar dari dapur bersama Elea dan Aditya terkejut melihat ada Elea disini. Aditya menanyakan kabar Elea karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan Elea.
"Adit!" Suara Elea tertelan tapi kemudian menarik napasnya dalam-dalam. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, aku harap kau mau menjawab semua pertanyaanku".
Aditya lalu melirik ke arah Cahya dan mereka berdua bingung dengan sikap Elea, dan penasaran apa yang sebenarnya ingin Elea tanyakan padanya kenapa dia begitu ketakutan dan sikapnya tampak aneh. Cahya lalu menyuruh mereka untuk duduk agar bisa berbicara dengan nyaman.
Cukup lama Elea diam, dan Aditya juga Cahya hanya saling berpandangan karena bingung. Cahya mengambilkan gelas berisi jus dan memberikannya pada Aditya.
"Adit, apa kau mengenal Viona?" Tanya Elea, yang seketika membuat Aditya tersedak dan batuk-batuk saat minum karena pertanyaan Elea padanya.
"Viona?? Viona siapa El?"
"Adit jawablah pertanyaanku itu, kau jangan pura-pura tidak tahu, dari ekspresimu terlihat jelas jika kau sepertinya mengenalnya, ini fotonya" Elea kemberikan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto perempuan cantik, berambut panjang.
Aditya terkejut melihat foto itu dan dia bingung harus menjawab apa. "Kenapa kau memiliki fotonya El, ada apa sebenarnya?"
"Ada hubungan apa Viona dengan Ariel? Jawablah dengan jujur Adit, aku mohon padamu, aku yakin kau pasti tahu sesuatu tentang mereka"
Aditya mengarahkan pandangannya pada Cahya, lelaki itu terlihat bingung.
"Sebelumnya aku minta maaf El, kumohon jangan tersinggung, Viona itu adalah mantan kekasih Ariel entahlah bagaimana aku harus menyebutnya, mereka dulu tidak berpacaran ya hanya saja mereka selalu bersama tanpa ikatan apapun karena memang Viona yang tidak mau menjalin hubungan"
"Lalu hubungan macam apa yang dulu mereka jalani Dit?"
Aditya menarik napasnya "Apa yang bisa ku katakan El, kami para lelaki memang tidak bisa memungkiri kebusukan kami, kau pasti tahu hubungan seperti apa yang biasa kami jalani, jika lelaki dan perempuan saling membutuhkan itu yang kami jalani dulu, berbeda jauh dengan hubungan yang kau dan Ariel jalani, hubungan yang bisa kukatakan sangat sehat, tetapi sebenarnya ada apa sih El? Kurasa kita tidak harus mengulik masalalu pasangan kita, disaat kita sudah terikat pernikahan dengan orang lain, masalalu ya biarkan saja berlalu"
Elea hanya terdiam, tetapi tiba-tiba airmatanya mengalir lalu menangis terisak. Seketika Cahya dan Aditya terkejut, Cahya pun langsung pindah duduk disebelah Elea dan menenangkannya. "El, kenapa? Kenapa kau menangis, ada apa?" Cahya bertanya dengan suara panik.
Elea semakin terisak "Sayangnya masalalu itu menghancurkan semuanya Dit, Ariel membawa perempuan itu ke Apartemen dan mengabaikanku, bahkan mereka tidur bersama dikamar kami, membiarkanku tidur disofa semalaman, saat pagi dia memberikanku surat perceraian dan memaksaku menandatanganinya"
"Apa....????" Aditya dan Cahya berteriak secara bersamaan, keduanya sama-sama terkejut tidak percaya.
Elea semakin terisak dan Cahya mencoba tetap menenangkannya walau dia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.
"Setelah aku menandatanginya dengan terpaksa, Ariel pergi dan tidak pernah pulang lagi, setiap hari aku menunggunya pulang tapi dia tidak pernah kembali, aku mengirim ribuan pesan dan panggilan tetapi justru nomorku dia blokir, sampai akhirnya surat dari pengadilan tiba, sidang pertamanya diminggu lalu, aku hadir karena ingin mempertahankan rumah tanggaku, tapi tidak dengannya, dia hanya mengirim pengacaranya aku tidak tahu dia dimana sekarang, bahkan dia juga menutup akses untukku dikantornya, beberapa hari yang lalu aku mengemasi seluruh barangku dan kembali ke apartementku yang dulu" Suara Elea terdengar bergetar saat berbicaa dan airmatanya terus mengalir.
Cahya ikut menangis memeluk sahabatnya itu, sednagkan Aditya memandang Elea dengan perasaan campur aduk tidak percaya jika Ariel tega melakukan itu semua. "Semalam aku berbicara dengannya, kami hanya mengobrol sebentar membahas pekerjaan, sebenarnya aku juga merasa sedikit aneh karena memang sudah cukup lama dia tidak datang ke kantorku, kupikir ya memang dia sibuk, tapi kenapa dia bisa memperlakukanmu seperti itu, dia sangat mencintaimu El, kalian juga terlihat bahagia, apa yang sebenarnya terjadi dengannya, astaga"
"Besok sidang kedua kami, jika dia tidak hadir lagi maka berakhirlah semuanya" Elea melanjutkan.
"Ya Tuhan Elea, kenapa kau menceritakannya pada kami sekarang, jika sebelumnya kau bercerita tentu aku bisa sedikit membantumu mengatasi kekacauan ini dan berbicara pada Ariel" Aditya mengacak-acak rambutnya, frustasi dengan apa yang sedang dialami oleh rumah tangga sahabatnya.
"Sayang, sekarang coba kau hubungi Ariel dan bicara padanya, ini tidak boleh terjadi" Sahut Cahya.
Aditya mengambil ponsel dari sakunya dan langsung menghubungi Ariel. Dia mencoba beberapa kali tetapi hasilnya nihil karena ponsel Ariel dimatikan. Sementara Cahya masih mencoba menenangkan Elea yang masih menangis dipelukannya. Tidak mau menyerah Aditya menghubungi kantor Ariel.
Cukup lama Aditya berbicara ditelepon kemudian menutupnya dan menggelengkan kepalanya kearah Cahya. "Ariel tidak ada dikantor sudah 1 minggu lebih dan mereka tidak tahu dimana Ariel berada, aku akan mencoba menghubungi teman yang lain mungkin saja mereka tahu"
Dan hasilnya tetap sama, tidak ada satupun yang tahu keberadaan Ariel saat ini dimana. Aditya merasa sangat kesal, kenapa bisa Ariel berbuat seperti itu, menyakiti Elea dengan begitu kejamnya. Dia juga penasaran bagaimana ini semua bisa terjadi dan menanyakannya pada Elea.
Sambil terbata Elea mulai menceritakan bahwa semua terlihat baik-baik saja. Pertama kali Elea melihat Viona adalah saat mereka akan pulang dari liburan bersama beberapa bulan yang lalu dimana liburan itu juga ada Aditya dan keluarganya. Saat akan pulang, Elea melihat Ariel berbicara dengan seorang perempuan lalu mengenalkan padanya bahwa namanya Viona dan dia adalah teman lama Ariel. Elea menganggap pertemuan itu biasa saja, tetapi tidak menduga jika ternyata pertemuan itu menjadi awal dari konfliknya bersama Ariel.
Setelah liburan itu semua masih tampak biasa saja, tetapi lambat laun Ariel menjadi sedikit temprament, jika Elea melakukan sedikit kesalahan dia akan langsung meneriakinya. Hingga suatu hari Elea menemukan pesan-pesan romantis diponsel Ariel dan mulai curiga, kecurigaan itu membuat hubungan mereka berdua semakin hari semakin jauh sampai akhirnya tragedi malam itu terjadi, dimana Ariel membawa pulang Viona.
Mendengar cerita Elea, Aditya dan Cahya hanya bisa terdiam, tidak menyangka jika ada kejadian seperti itu. "Lalu kenapa bisa kau menandatangani surat itu El, jika kau masih ingin memperbaiki hubungan kalian" Kali ini Cahya mencoba bertanya.
"Bagaimana aku bisa? Ariel terus memaksa dan membentakku saat itu tetapi aku tetap kekeh tidak mau melakukannya, sampai akhirnya dia mengatakan satu hal yang akhirnya membuatku menyerah padanya" Elea kembali meneteskan airmatanya dan menarik napasnya dalam dalam lalu melanjutkan perkataannya.
"Ariel bilang padaku bahwa aku mandul karena pernikahan kami sudah beberapa bulan dan aku belum juga hamil, mendengar itu aku langsung menandatanganinya tetapi hatiku mulai hancur saat itu juga" Ujar Elea, dia memilih tidak menceritakan jika Ariel juga sempat melakukan kekerasan kepadanya.
Cahya dan Aditya sekali lagi dibuat terkejut dengan semua cerita Elea. Aditya bahkan terus mengeluarkan umpatan-umpatan untuk Ariel. "Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu, pernikahan kalian baru beberapa bulan, pendek sekali pemikirannya" Gumam Aditya kesal.
****
Elea sudah merasa lebih tenang dan berpamitan untuk kembali ke Jakarta, Cahya sangat mengkhawatirkannya jika dia harus pulang sendirian. Aditya pun menelepon seseorang yang ada di kantor perkebunan agar bisa mengantar Elea pulang. Elea sempat menolak dan mengatakan dia bisa pulang sendiri, tetapi Cahya menolaknya, bagaimanapun harus ada seseorang yang mengantarnya pulang.
Tidak butuh waktu lama, ada mobil yang datang dan ada 1 laki-laki yang keluar lalu menghampiri Aditya. "Pak Mizan, tolong antar sahabat istri saya ini ke Jakarta, bawa saja mobilnya, nanti saya akan hubungi supir saya agar bisa mengantar bapak kembali kesini lagi"
"Baik pak Aditya" Lelaki bernama Mizan itu menganggukkan kepalanya.
"El, pulanglah dan berhati-hatilah, jangan pikirkan apapun semua akan baik-baik saja, semoga besok Ariel datang dan kalian bisa memperbaiki semuanya" Cahya memeluk Elea dan mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.
Elea juga berpamitan dengan Aditya, lalu berjalan di belakang pak Mizan. Ternyata didalam mobil masih ada 1 laki-laki lagi seumuran dengan Aditya dan dia keluar dari dalam mobil ingin menyapa Aditya. Tetapi tiba-tiba Elea memekik karena terpeleset dan hampir jatuh, untunglah lelaki itu segera menangkap Elea.
Mereka berdua saling berpandangan dan Elea langsung bangun. "Terima kasih sudah menolongku" Ucap Elea.
"Sama-sama, lain kali berhati-hatilah"
Cahya dan Aditya langsung menghampiri Elea dan menanyakan keadaannya. "Tenanglah Ca, aku tidak apa-apa, aku pulang dulu ya, jangan khawatirkan aku, sampai jumpa" Elea melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.
Itulah awal pertemuan Elea dengan Danist, dan kisah mereka berdua dimulai dari pertemuan itu.