
"Hallo Gie... Kau sedang apa???" Tanya Kyros ketika dia mendapati wajah cantik Gienka di layar ponselnya. Kemarin dia hanya mengobrol sebentar dengan Gienka karena Gienka sudah mengantuk dan Kyros juga sedang bersama Camilla sehingga dia tidak terlalu fokus. Itulah kenapa dia sekarang ingin mengobrol dengan Gienka, walau sejam lagi dia harus berangkat ke kantor.
"Hai Ky....!" Gienka menyapa balik dan tersenyum.
"Kau sudah kembali dari kantor???" Tanya Kyros.
"Ya, baru saja aku mengganti pakaian ku, tetapi belum mandi..!"
"Kenapa belum mandi??? Biasanya kau selalu langsung mandi setelah bepergian??? Sedang sakit ya???"
Gienka menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja, temanku ada di bawah jadi aku ingin menemuinya, kasihan jika harus menunggu lama, jadi aku putuskan tidak mandi, nanti saja...!"
"Temanmu??? Kyra??? Dia ada di rumahmu???" Tanya Kyros lagi.
"Bukan Kyra, tetapi Axel, tadi dia menjemputku di kantor dan sekarang menunggu di bawah!"
Kyros langsung mengernyit ketika mendengar nama Axel. "Axel.?? Tetangga mu itu???"
Gienka tersenyum. "Iya... Dia kembali dan menjemputku di kantor, kebetulan dia baru kembali dari Thailand.. Sekarang ada di bawah dan aku ingin makan bersamanya, karena Axel sangat menyukai masakan Oma Sari...! Oma memasak makanan kesukaan Axel, tahu kalau Axel pulang!"
Kyros terdiam sesaat. Dia tahu sekali jika Gienka begitu dekat dengan laki-laki bernama Axel itu. Axel sendiri di keluarga Gienka juga di anggap seperti anggota keluarga mereka, layaknya Kyros dan Kyra. Sehingga hubungan Axel yang begitu dekat itu, terkadang membuat Kyros merasa khawatir jika tahu Gienka sedang bersama lelaki itu, apalagi Gienka juga sering menceritakan berbagai hal kepada Axel. Sayangnya sekian lama mengetahui hubungan Gienka dengan Axel yang begitu dekat, sekalipun Kyros tidak pernah bertemu dengan lelaki itu. Kyros juga di rundung keinginan untuk melihat bagaimana Axel sebenarnya. Hanya saja tidak pernah ada waktu untuk bertemu dengannya. Karena memang Kyros tinggal di luar negeri, sedangkan Axel sendiri juga bersekolah di luar kota. Jika Kyros pulang, belum tentu Axel juga berada disana, sehingga kecil kemungkinan bisa bertemu lelaki itu.
Kyros melemparkan senyum tipisnya. "Oh begitu... Senangnya bisa di buatkan makanan kesukaan oleh keluargamu...! Terutama Oma Sari...!"
Gienka mengernyit. Terdengar aneh apa yang baru saja di ucapkan oleh Kyros. "Kenapa berbicara seperti itu?? Bukankah kau juga setiap pulang selalu di buatkan makanan kesukaanmu oleh Oma, jika beliau kebetulan sedang ada disini??? Selain Oma, Mama juga selalu membiarkanmu puding cokelat yang menjadi kesukaanmu sejak kecil??? Lalu kenapa kau terlihat heran seperti itu ketika aku memberitahumu jika Axel di masakkan oleh Oma, kalian berdua sama saja seperti anak dan cucu mereka..!" Ujar Gienka.
Benar juga pikir Kyros. Setiap dia pulang, keluarga Gienka sering mengantarkan makanan untuknya atau bahkan dia sendiri yang terkadang datang kesana untuk menikmati masakan buatan mereka. Apalagi puding cokelat buatan Mama Gienka, adalah puding yang sangat Kyros sukai sejak dia masih kecil. Dan setiap Kyros pulang, tidak pernah terlewat sekalipun Mama Elea mengirimkan puding itu kepadanya, selalu dan selalu. "Ah iya.. Hehehe...!" Kyros terkekeh.
"Kau sedang apa???" Tanya Gienka.
"Aku sedang meminum kopi saja...!"
"Tidak berolahraga???" tanya Gienka.
"Sedang malas, oh iya kau belum bertemu Kyra ya???"
Gienka membuka pintu kamarnya untuk turun tetapi masih gersambung dengan panggilan video dari Kyros. "Belum sempat Kyros, aku hanya mengirimi nya pesan tadi tetapi belum aku balas lagi, aku pun berniat ke rumah besok, niatnya hari ini, tetapi ternyata Axel datang jadi sepertinya besok saja...!"
Kyros pun mengatakan agar Gienka segera menemui Kyra karena Kyra pasti sangat merindukannya. Kyros juga memberitahu jika dia berniat pulang ketika libur akhir tahun nanti, dia sangat merindukan keluarganya dan juga suasana rumah. Mendengar itu, Gienka terlihat senang sekali. "Kau serius Ky??? " Tanya nya tidak percaya.
"Yupz... Aku kangen rumah, kangen kamarku, kangen semua orang, jadi sepertinya aku akan pulang saat libur Natal di mulai, aku juga tidak perlu mengurus cuti, itulah kenapa aku memilih hari itu... "
"iya benar, lebih baik kau pulang saja, semua orang pasti senang...!" Ujar Gienka.
"Ya, tapi aku belum membahas ini dengan Kyra ataupun Apapun dan Aman, mungkin nanti..."
"Aku akan memberitahu Kyra nanti jika kau berniat pulang, senangnya kau akan pulang hehehe! "
"Semoga saja sesuai rencana nanti. Oh iya sudah dulu ya Gie, aku harus membuat sarapan karena aku ke kantor satu jam lebih cepat dari biasanya karena ada meeting pagi ini, aku akan menghubungimu lagi nanti, bye...!" Kyros menutup panggilannya dan tersenyum. Dia bergumam dalam hati bahwa dia akan menyiapkan diri serta memantapkan hati ketika pulang nanti mengungkapkan perasaannya pada Gienka, dan berharap Gienka belum menjadi milik orang lain, apalagi di miliki oleh pria bernama Axel itu, Kyros tidak rela sama sekali. Gienka hanya akan menjadi miliknya.
Gienka sampai di lantai dia, dia melihat Oma nya sedang di dapur dan menghampiri nya. "Axel masih di ruang tamu atau sudah di belakang Oma??? " Tanya Gienka.
"Eh kebetulan kau sudah kesini, bawa ini ke bawah, Axel sedang di halam belakang, sepertinya tadi dia menelepon... Kalian akan makan sekarang kan???"
"Iya Oma, aku lapar hehehe, sini biar nasi dan ayamnya Gie bawa.." Gienka mengambil nampan berisi nasi, ayam dan juga kerupuk yang sudah di siapkan Oma nya. "Nanti Gie ambil minumnya di bawah saja Oma, kasihan Axel pasti sudah menunggu terlalu lama..!"
gienka mengangguk, dan membawa makanan yang di buat Oma nya ke bawah, tepatnya di area belakang dimana ada kolam renang, dan Axel juga sedang duduk disana, seperti sedang menghubungi seseorang.
Gienka menuruni tangga pelan-pelan dan menghampiri Axel yang sedang duduk di kursi di tepi kolam renang. Axel ternyata sedang melakukan panggilan video dengan Celia. Gienka pun muncul di belakang sambil melambaikan tangannya pada Celia sekaligus menyapa gadis itu. Gienka sebelumnya sudah beberapa kali bertemu dengan Celia, sehingga dia berhubungan cukup baik dengan gadis itu meskipun tidak terlalu dekat dan akrab. Tetapi Celia sangat mengerti perihal hubungannya dengan Axel yang terbilang sangat dekat bahkan seperti saudara kandung, sehingga selama ini Celia tidak pernah memiliki masalah yang berlebihan kepada Gienka. saat Axel bersama Gienka, Celia tidak pernah mempermasalahkannya.
"Hai Celia...!" Sapa Gienka.
"Hai kak Gie... Apa kabar???" Tanya Celia dengan suara lembutnya dan senyum manisnya.
"Baik, kau sendiri bagaimana??? Kenapa tidak ikut Axel menjemputku???"
"Aku baik kak.. Aku langsung di minta Mama untuk pulang kemarin, padahal aku sebenarnya ingin ke rumah orang tua nya Papa yg ada di Jakarta tetapi tidak di ijinkan Mama.."
Gienka tersenyum, dia tahu dari Axel jika hubungan kedua orang tua Celia tidak baik, dimana Keluarga Papa dan Mama Celia merenggang setelah mereka dulu berpisah. "Ya sudah kapan-kapan kalau kau ke Jakarta, hubungi aku, aku akan menjemputmu atau kita bisa bertemu dan makan bersama...!"
"Iya kak...!" Jawab Celia.
"Sayang sudah dulu ya??? Nanti aku akan menghubungimu lagi, aku mau makan dulu dengan Gienka, bye...! " Axel kemudian mengakhiri panggilan videonya dengan Celia.
Gienka kemudian mengajak Axel untuk makan karena dia juga sangat lapar sekali. Axel memandangi wajah Gienka, dan dia terlihat bingung karena tadi Gienka berkata ingin mandi, tetapi wajahnya masih di penuhi oleh make up yang sama seperti tadi, artinya Gienka belum mandi dan hanya mengganti pakaiannya. "Kau katanya mau mandi??? Kok cuma ganti baju saja??? Tetapi kenapa lama sekali tadi jika hanya ganti baju??? " Protes Axel.
Gienka tertawa. "Hahahaha iya, aku tidak jadi mandi, aku lapar soalnya, dan maaf tadi Ky menelepon jadi aku mengobrol bersama dengannya..."
"Dihhh... Pantas saja lama, tahu nya si oujaan hati menelepon..!" Ejek Axel pada Gienka.
"Apa kau tahu, bahwa dia bilang dia akan pulang saat libur akhir tahun nanti... Aku sangat merindukannya, dan tidak sabar untuk bertemu dengannya...!"
"Emmmm... Senang sekali... Jadikan itu sebagai waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanmu padanya...! Setidaknya supaya hatimu itu tenang Gie, percaya deh setelah kau mengungkapkannya, hatimu akan lega dan tenang...! " Ungkap Axel.
"Aku tidak yakin... Ah sudahlah jangan bahas itu, kita makan saja, ini terlihat begitu enak sekali...!"
Mereka pun makan berdua dan Axel terlihat sangat lahap, ini benar-benar enak, dan dia sangat menyukai sekali masakan Oma nya Gienka. Axel dan Gienka juga sedang asyik mengobrol berbagai hal menarik. Baik Axel atau Gienka sama-sama curhat mengenai masalah dan juga apa yang mereka alami selama mereka di luar negeri.
★★★★★
Keesokan harinya.....
Axel tadi menjemput Celia di rumahnya, dan ketika dia sampai disana, Axel tentu saja bertemu dan meminta ijin pada Mama Celia. Di ijinkan tetapi sikap mereka tetap bersikap sama seperti biasanya yaitu mengabaikan Axel, dan menganggap Axel seolah tidak ada. Axel sebenarnya merasa sedih dengan hal itu, dan sangat berharap dia bisa di Terima dengan baik oleh keluarga Celia, sayangnya keinginannya itu belum terwujud untuk saat ini.
Axel menoleh ke arah Celia yang duduk di sebelahnya. Dia sangat mencintai Celia, sangat mencintainya. Celia adalah gadis yang cantik, sedikit manja dan menyenangkan, meskipun terkadang bersikap seperti anak-anak di saatenghadapi hal tertentu. Hal itulah yang membuat Axel menyukai Celia, dan cintanya begitu besar untuk gadis itu. Axel ingin kelak Celia akan menjadi strinya dan mereka hidup berbahagia.
"Papa mengirim pesan...!" Gumam Celia.
"Pesan??? Pesan apa???" Tanya Axel.
"Papa sudah menunggu kita, aku hilang kita akan sampai sebentar lagi... Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Papa setelah sekian lama... Setelah bujukan luar biasa Mama dan Oma akhirnya mau mengijinkan ku untuk pergi bertemu Papa... Kau pasti tahu begitu sulitnya aku jika ingin bertemu Papa..!"
Axel melempar senyum. "Aku bisa melihat kau bahagia sekali saat ini... Aku juga senang bisa mengantarmu bertemu Papa mu..!"
"Papa juga pasti senang bertemu denganmu, aku sering menceritakan tentangmu kepadanya..." Ucap Celia.
Axel tersenyum. Dia sebenarnya cukup nervous bertemu dengan Papa Celia, mengingat ini perjuangan pertamanya dengan lelaki itu. Axel berharap dia bisa memberi kesan yang baik nantinya, sehingga Papa Celia bisa memeberikan restu untuknya dan Celia. Dan Axel hanya tinggal mendapatkan hati Mama Celia saja nantinya.