I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 374



Garviil akhirnya muncul. Dia melihat semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Ia pun sembari menarik kopernya menghampiri mereka, masih ada ketakutan di matanya ketika Ariel mengarahkan pandangan ke dirinya akan tetapi Garviil mencoba tetap bersikap biasa saja supaya Geffie tidak curiga.


Melihat Garviil membawa koper, Geffie pun terperanjat dan dia langsung berdiri dari kursi, memberikan baby Lexia ke Gienka kemudianGeffie menghampiri Garviil. "Kau membawa koper, mau keluar??? Kau mau ke mana???" Tanya Geffie.


Garviil tersenyum. "Aku harus kembali ke Boston hari ini, ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus dan itu mendadak sekali,aku juga harus meeting dengan klien dari luar, aku minta maaf karena aku baru memberitahumu. Dan semalam aku mendapatkan pesan kalau aku harus segera kembali ke Boston pagi ini juga."


"Aduh kenapa harus secepat itu, besok kau kan sudah janji akan mengantarku ke kampus ku yang baru untuk mengurus semuanya."


"Ya aku minta maaf, karena memang ini mendadak sekali." Gumam Garviil. "Kan ada Papamu??? Kau bisa memintanya Untuk mengantarmu besok."


"Kok mendadak sekali sih???" Protes Geffie.


Garviil mencoba kembali tersenyum minta maaf gumamnya lagi.


"Ya besok kau pergi saja dengan Papa." Sahut Ariel.


Geffie menoleh ke belakang dan memandang tajam ke arah Papa nya, ia mencoba mencari sesuatu tapi kemudian dia beralih menatap lagi Garviil, lelaki itu hanya tersenyum kepadanya tersenyum meminta pemakluman karena tidak menepati janji untuk mengantarkan nya besok.


"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti aku balik sendirian dong ke Boston, aku kan juga harus mengemasi semua barang-barangku di sana, karena aku belum membawa semuanya."


"Jangan khawatir nanti aku akan menjemputmu di airport." Ucap Garviil.


"Papa juga bisa mengantarmu ke Boston kalau kau takut kembali sendirian. Papa bisa kembali ke Indonesia sesuka hati Papa dan akan mengantarmu ke Boston lalu mengantarmu kembali lagi kesini dan bau Papa akan pulang." sahut Ariel lagi.


Garviil terus mencoba tersenyum agar tidak menimbulkan kecurigaan Geffie, dia tahu bahwa sepertinya masalah yang dihadapinya dengan Ariel cukup besar dan Garviil masih belum tahu apa yang harus dia lakukan.


Sementara itu Kyros dan Gienka hanya diam, saling melempar pandangan satu sama lain. Gienka sendiri masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Kyros belum memberitahunya sedangkan Kyros juga belum memikirkan apa yang harus dia bantu untuk masalah yang sudah dihadapi oleh Garviil dan Geffie. Kyros merasa kasihan juga pada Garviil karena Garviil tampak ketakutan dengan Ariel tetapi Garviil mencoba untuk tenang agar Geffie tidak mengetahui kebohongannya tentang kepulangannya lelaki itu ke Boston hari ini.


"Ya sudah kalau begitu, tapi kau sarapan dulu ya??" Ucap Geffie.


Garviil menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan sarapan dulu." Kemudian keduanya pun menuju meja makan dan sarapan bersama dengan keluarga Geffie.


"Viil, kau sudah memesan taksi??" Tanya Kyros.


"Belum kak mungkin setelah ini aku baru akan memesan taksi."


"Tidak perlu memesan, aku akan mengantarmu ke airport. Kebetulan aku ada meeting di luar dan melewati Airport. Kau Pergilah saja denganku." Kyros menawarkan diri untuk menganta Gaviil.


"Tidak sama sekali Viil, kau pergi saja denganku."


"Baiklah kalau begitu Kak,terima kasih.."


"Sama-sama.. Ayo makan lagi dan habiskan sarapannya.."


Garviil memotong pancake dan menyuapkan ke mulutnya, dia sesekali melirik ke arah Ariel yang sedang menatapnya dalam diam tetapi Garviil berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun dia melihat masih ada kemarahan di mata Ariel kepada dirinya.


"Papa...!!!" Panggil Geffie.


"Iya.." Jawab Ariel kemudian tersenyum ke arah putrinya. "Kenapa sayang???" Tanya Ariel.


"Papa tidak mengatakan sesuatu yang buruk kan pada Garviil semalam dan membuat Garviil mau pergi dari sini??? Itu bukan karena Papa kan??? Bukan Papa yang menyuruhnya kan???" Tanya Geffie mencoba menyelidiki, entah kenapa dia merasa mungkin saja Garviil pergi dari sini adalah di akibatkan oleh Ariel.


"Tidak Geff, aku memang benar-benar ada urusan pekerjaan di kantor jadi aku harus segera kembali ke Boston." sahur Garviil dengan cepat untuk mengalikan kecurigaan Geffie pada Ariel.


"Bohong...!!!!" Geffie tidak bisa percaya begitu saja.


"Siapa yang bohong??? Aku tidak bohong kok, lagi pula tidak ada apa-apa antara aku dan Om Ariel, tadi malam kami baik-baik saja, mengobrol biasa kok." Sela Garviil.


Ariel hanya diam saja, dia tahu Garviil berbohong untuk mengalihkan Geffie, dan dia tidak ingin menyahut apapun karena bisa saja nanti putrinya itu justru akan marah kepadanya. Jika dia salah berucap, maka bisa menimbulkan kemarahan dari Geffie, dan Ariel sendiri akan mencoba Memikirkan sesuatu untuk membuat Geffie bisa menjauh dari Garviil. Dan tidak menjalin hubungan lagi dengan lelaki itu. Ariel tidak ingin Geffie nanti menikah dengan laki-laki yang tinggal di negara ini. Dan setelah lulus kuliah nanti, Geffie bisa tinggal bersama nya di Indonesia saja untuk bisa membantu nya di perusahaan.


"Sudah sudah, sarapannya dihabiskan dulu" Sahut Gienka kemudian. "Dan mungkin Garviil memang Benar dek. Kau juga jangan curiga kepadanya ataupun kepada Papa lel. Kenapa juga sih sejak semalam kau itu bawaannya curiga melulu, tidak baik loh apalagi pada Papa??? Sekarang lebih baik sarapan segera di habiskan, Ky juga harus segera pergi ke tempat meeting dan dia juga harus mengantar Garviil kan jadi ayo cepat selesaikan sarapan ya..??"


Geffie pun akhirnya menunduk dan kembali memotong pancakenya, meski ada yang mengganjal tetapi Geffie mencoba untuk percaya pada ucapan Garviil dan juga Papanya. Mungkin memang benar bahwa Garviil ada pekerjaan yang mendadak karena memang Garviil sendiri punya tanggung jawab yang besar di perusahaannya dan Garviil harus pengurusnya dengan baik. Geffie uga sebenarnya kecewa sih karena Garviil tidak jadi pengantarnya ke kampusnya ya baru tapi Geffie lagi-lagi Mencoba memahami posisi kekasih nya itu.


Semenytara itu di tempat lain.


Kyra sedang mengajak Athan berbelanja di supermarket. Kyra mendorong troli belanjaannya sedangkan Athan berjalan di sampingnya. Athan tidak mau naik ke dalam troli karena bocah itu bilang jika dia sudah besar dan ingin berjalan saja di sebelah Kyra sehingga Kyra pun membiarkan putranya untuk berjalan beriringan dengannya.


Dengan langkah pelan Kyra menyusuri supermarket dan mengambil barang yang diperlukannya terutama sayuran buah hingga minuman seperti susu dan juga sirup. Kyra berhenti di depan rak berisikan susu dan juga minuman-minuman kemasan lainnya. Dan karena terlalu fokus memilih, Kyra tidak sadar jika Athan menjauh darinya, bocah itu berlari ke arah rak berisikan sirup yang ada di dalam botol kaca. Athan memang sangat menyukai sirup itu sehingga dia bersemangat untuk mengambilnya sendiri. Kemudian setelah mengambilnya, Athan pun kembali berlari ke arah Kyra, tetapi bocah itu tidak melihat ke depan dan akhirnya menabrak seseorang, membuat botol yang dipegangnya jatuh ke lantai dan isinya pun berceceran bahkan mengenai orang yang ditabraknya.


Sontak orang itu terkejut dan menunduk melihat celana putihnya terkena sirup berwarna merah yang sepertinya di jatuhkan oleh anak kecil yang telah menabraknya itu. Dengan sangat marah wanita itu pun berjongkok dan memegang bahu Athan, kemudian berteriak dengan keras tepat di wajah Athan sambil memegang kedua bahu Athan dan menggoyang-goyangkan tubuh Athan dengan kasar. "Hei kau ...... Dasar anak kecil tidak tahu diri....!!! Di mana matamu hah????? Apakah kau buta, sampai kau tidak melihat bahwa ada orang di depanmu.....!!! Lihatlah sekarang sepatuku dan celana ku kotor gara-gara kau.... Dasar anak tidak berguna..." Terlihat wanita itu  benar-benar marah besar, teriakannya yang keras itu seketika langsung membuat Athan menangis kejer dan orang-orang juga mengarahkan pandangan meeka ke Athan dan wanita itu yang terus berteriak membuat Athan semakin ketakutan.