
Keesokan harinya, ketika Elea baru saja keluar dari kamar mandi, seseorang menfetuk pintu kamar yang sedang ditempatinya di rumah Aditya. Elea berpikir itu adalah Cahya atau mungkin Mama Aditya, tetapi ketika pintu itu dibuka, bukanlah anggota keluarga Aditya yang mengetuknya, melainkan sang Mama yang sedang membawa nampan berisi jus serta buah-buahan dan dibelakangnya adalah sang Papa.
"Mama... Papa...Kalian ada disini???" Ucap Elea dengan suara terbata, tidak menyangka jika kedua orang tuanya ada disini, padahal kemarin belum ada. Elea menyuruh keduanya untuk masuk dan menutup lagi pintu kamarnya.
Mama Elea meletakkan nampan yanv di pegang nya di atas tempat tidur. Detik itu juga Elea memeluknya dengan erat, dan tangis Elea pecah, begitu juga dengan sang Mama. "Mama... Maafkan Elea... Elea tidak bisa menjadi istri yang baik, tidak bisa mewujudkan keinginan Mama dan Papa untuk menjaga rumah tangga Elea dengan baik...!" Gumam Elea diselingi isakan yang begitu pedih.
Mama Elea melepaskan pelukannya dan menyeka airmata putrinya, lalu memeriksa wajah dan tangan Elea. Airmatanya juga menetes kemudian menatap Elea penuh kasih sayang. "Kenapa berkata seperti itu? Kau tidak bersalah, kau adalah istri yang baik, kau menunjukkan sikap yang luar biasa lalu kenapa kau berkata seperti itu.... Bagaimana keadaanmu??? Bagaimana keadaan bayimu???..."
"Aku baik Ma, cucu Mama dan Papa juga dalam keadaan baik-baik saja....!"
"Kenapa sayang??? Kenapa kau ttidak memberitahu kami tentang apa yang terjadi? Hah kenapa??? Kenapa kau menaggung semuanya sendiri? Kau pasti kesepian dan butuh teman, kau juga kenapa tidak lekas memberi tahu kami sebelumnya dan malah menyimpan penderitaan ini sendirian?? Kau bisa menghubungi kami, dan Papa akan menjemputmu...? Kenapa????" Tanya Papa Elea.
"Elea takut, Elea tidak mau membuat kalian sedih dan Elea juga belum siap untuk mengatakan segalanya...!" Elea memeluk Papanya dan meminta maaf.
Pelukan seorang Ayah yang lembut dan penuh kasih sayang membuat Elea merasa tenang. "Sekarang jangan khawatirkan apapun, kami akan selalu bersamamu, kita akan membesarkan bayimu bersama-sama dan Papa pastikan dia tidak akan kekurangan apapun...!"
"Sekarang Elea hanya memiliki kalian...! Ariel sudah jauh berubah dari Ariel yang kita kenal, aku tidak tahu kenapa dia bisa bersikap seperti itu... Dia tidak bisa sedikit saja memberiku waktu....!"
Papa Elea mengusap lembut punggung putri tunggalnya itu. "Ssshhh.... Jangan lagi sebut-sebut namanya di depan Papa... Biarkan saja dia dengan sikapnya sekarang, percayalah bahwa dia akan menyesal seumur hidupnya sudah membuang permata yang berharga sepertimu dan memilih perempuan lain yang tidak memiliki harga diri, semua itu tidak akan bertahan lama, Allah tidak tidur El, dia pasti akan memberimu kebahagiaan nantinya....!!"
Elea melepaskan pelukan Papanya dan menatap Papanya dalam dengan airmata yang masih menetes di pipinya. Elea mengangguk dan mengatakan Amin. Berharap doa Papanya dikabulkan oleh Tuhan, dan dia bisa mendapatkan kebahagiaannya lagi. Elea bahagia karena dia masih memiliki orang-orang yang sangat mencintainya, ada orang tuanya, bayinya juga para sahabat yang luar biasa seperti Cahya, Aditya, Chitra dan Randy yang selalu mendukungnya. Mereka adalah kebahagiaannya saat ini, dan Elea juga tidak akan melupakan semua kebaikan mereka.
Sarapan sudah siap dan semua orang turun untuk sarapan termasuk Elea dan kedua orangtuanya. Cahya melihat mata Elea sedikit bengkak seperti habis menangis. Cahya berharap semoga dengan kehadiran orangtuanya, Elea bisa merasa lebih baik lagi.
Saat semua sudah menyelesaikan sarapannya. Elea hanya mengupas jeruk dan Apel sebagai sarapannya karena perutnya masih terasa mual. Hingga tiba-tiba Aditya berbicara kepadanya.
"Oh iya El, dikantor perkebunan sedang ada reshuffle besar-besaran, dan sedang membutuhkan orang-orang baru untuk mengurusnya, kalau kau mau kau bisa bergabung disana, kebetulan aku sedang mencari kandidat untuk bagian administrasi, kata Cahya saat di Direct Publisher kau menjadi staff administrasi, bagaimana El?" Ucap Aditya.
Elea hanya diam menatap Aditya, tetapi kemudian Cahya menyahut. "El, terima saja ya, kau bilang kau ingin memulai semuanya dari awal, lagipula Chika juga akan bekerja disana, kau bisa tinggal dirumah yang sudah disiapkan perusahaan bersama Chika, rumah itu cukup luas dan pasti Chika akan senang karena ada teman disana"
Sekali lagi Elea hanya diam tidak mengatakan apapun. Dia memiliki keraguan atas usul Aditya, karena jika dia bekerja diperusahaan milik Aditya tentu Ariel akan mudah menemukannya. Elea sangat tahu jika Ariel mengetahui semua bisnis dan cabang dari perusahaan Aditya, tentang tawaran ini Elea sedikit meragu. Seolah mengerti kebimbangannya, Aditya melanjutkan perkataannya.
"El, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, sebenarnya perkebunan itu adalah milik keluarga Mama hanya saja sejak Mama sakit bertahun-tahun yang lalu beliau menyerahkan semua urusan itu pada Papa, sampai kemudian terjadi masalah disana dan Papa menyuruhku untuk menyelesaikannya, perkebunan itu tidak ada urusan sama sekali dengan HS Enterprise" Ujar Aditya kemudian dia juga menjelaskan jika dia tidak pernah membahas sama sekali mengenai perkebunan itu dengan Ariel karena itu diluar jalur dari HS Enterprise, perusahaan milik Aditya. Dankarena jika itu yang ditakutkan oleh Elea sekarang, Aditya bisa menjaminnya bahwa Elea akan aman jika disana. Dan kemarin Aditya hanya mengambil satu staff dari Hs Enterprise untuk menjadi GM disana itupun bukan dari kantor pusat Aditya sehingga Ariel tidak mengenalnya atau tidak tahu. Karena memang sangat membutuhkannya untuk memimpin disana, maka Aditya dan Papanya memutuskan untuk mencari dari kantor cabang di luar Jakarta. Sehingga semua akan aman dan Ariel tidak mengetahui hal itu sama sekali, sehingga Elea tidak perlu khawatir. Tetapi kemudian Aditya mengatakan juga pada Elea bahwa Elea tidak perlu menjawabnya sekarang. Elea bisa memikirkannya terlebih dulu, jika sudah merasa yakin atau tidak, Elea bisa memberitahu Aditya atau Cahya.
"Iya El, kau bisa memikirkannya lebih dulu...!" Gumam Cahya.
"Kau sedang hamil sekarang, dan sebagai seorang sahabat tentu aku dan Aditya ingin membantumu agar kau jika tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di tempat lain, dan Adit bisa menjamin bahwa Ariel tidak akan bisa menemukanmu disana... Ada Chika juga disana, bahkan Adit juga tidak masalah jika Om dan Tante juga ikut bersamamu kesana...!" Cahya menambahi lagi untuk membuat Elea benar-benar yakin dan mau menerima tawarannya dan Adit.
Aditya mengangguk. "Rumahnya terlalu luas untuk ditinggali Chika sendirian, dia akan senang jika kau mau bersamanya... Rumahnya agak terpisah dari mess karyawan lainnya..." Ucap Aditya lagi.
Elea masih terdiam kemudian meminta waktu untuk memikirkannya. Aditya dan Cahya tersenyum, kemudian mengatakan jika mereka akan menunggu jawaban dari Elea.