
Axel akhirnya sampai di rumahnya saat malam hari, dia tadi menunggu Celia di depan rumah perempuan itu tetapi setelah berjam-jam menunggu, Celia tidak kunjung pulang. Dia sudah bertanya pada Art yang bekerja di rumah Celia, tetapi Art itu mengatakan jika Celia belum pulang, dan terkejut ketika mendapati Axel hanya datang sendirian tanpa Celia. Axel merasa khawatir dan bingung kemana Celia pergi, sedangkan ponsel Celia sampai saat ini tidak aktif.
"Axel... Baru pulang???" Tanya Papa nya ketika melihat Axel masuk ke dalam rumah. Papa Axel sedang duduk meminum kopi bersama dengan Mama nya.
Axel melempar senyum, dan menghampiri kedua orang tua nya. "Iya Pa... Maaf tidak ikut makan malam...!" Ucap Axel.
"Tadi siang kenapa kau pergi begitu saja? Padahal makan siang sudah di siapkan padahal kau sendiri yang meminta makan siang agar cepat disiapkan tetapi kau pergi dan baru pulang sekarang? Darimana???" Tanya Mamanya.
Axel tersenyum. "Bertemu Celia...!" Jawab Axel.
Orang tua Axel saling berpandangan. "Kau ini pulang untuk menghabiskan waktu bersama Papa dan Mama, atau hanya sekedar pulang saja??? Sejak kemarin kau selalu pergi dan kembali saat malam, waktumu banyak kau gunakan bertemu dengan Celia, kau di Thailand juga sering bertemu dengannya kan, seharusnya di rumah kau lebih menghabiskan waktumu bersama Mama dan Papa... Kami tidak melarangmu bertemu Celia tetapi liat sikon dulu, tujuanmu pulang itu untuk apa??" Mama Axel mulai memprotes kebiasaan Axel yang sejak pulang kesini hanya ada sedikit waktu untuk bisa berkumpul dengannya dan suaminya. Axel selalu pergi dan pulang malam, membuat kerinduan mereka yang harusnya terobati menjadi sia-sia saja karena Axel tidak di rumah.
"Iya Xel, Papa pergi bekerja saat siang hari dan seharusnya malam bisa bertemu denganmu tetapi kau justru pulang selalu hampir larut, saat siang Mama mu ingin mengobrol denganmu juga kau pasti selalu pergi entah kemana, jika seperti ini harusnya kau tidak perlu pulang saja...!" Papa Axel menimpali lagi.
"Maaf Ma, Pa.... Tadi Celia marah jadi aku harus menemui nya, sebenarnya aku hari ini tidak ingin ke mana-mana, sekali lagi maafkan Axel...!"
"Setidaknya kau bilang pada Mama kalau kau ingin menemui Celia.. Kau sudah makan???" Tanya Mama Axel.
"Belum..!" Jawab Axel singkat.
"Gienka tadi datang bersama Maysa Mama nya, dia mengantarkan makanan untuk kita, tadi Gienka juga mencarimu tapi kau tidak ada, mandi dan berganti pakaian, lalu makan, Mama akan menyiapkan untukmu...!"
"Iya Ma...!" Axel berdiri dan meninggalkan orang tua nya untuk ke kamar, bersih-bersih badan dan nanti akan makan malam. Pikirannya semakin tidak karuan, dia bertengkar dengan Celia, dan sekarang di marahi oleh kedua orang tua nya karena pergi tidak pamit. Axel mengaku salah, dan wajar jika kedua orang tua nya memprotes nya, setelah beberapa hari pulang, dia lebih banyak pergi keluar bukannya di rumah dan quality time bersama dengan keluarga nya. Axel memaklumi kemarahan dan protes dari orang tua nya.
Sekitar 30 menit, Axel keluar kamarnya dan berjalan menuju ruang makan, dimana disana Mamanya sedang menyiapkan makan malam untuknya. Axel duduk dan menyantap makanan yang tadi di siapkan oleh Mama nya, dan di kirim oleh Gienka. "Tadi Gienka lama disini Ma??? Atau cuma mengantar makanan saja???" Tanya Axel pada sang Mama.
"Cukup lama, setelah maghrib sampai sekitar jam setengah 8 lalu mereka pulang...!" Jawab Mama Axel yang kemudian ikut duduk di sebelah Axel.
"Kenapa tidak memberitahu jika Gienka datang.. Atau Gienka sekedar mengirim pesan padaku...?"
"Gienka tidak membawa ponselnya tadi, dan juga Ponsel Mama ada di kamar, Mama pikir kau akan langsung pulang setelah hari gelap... Besok adikmu akan pulang, kau di rumah saja dan jangan ke mana-mana, hari ini Mama yang jadi sasaran kemarahan Papa mu karena kau terlambat pulang, dia sangat merindukanmu dan kau tidak pernah pulang disaat dia sedang tidak sibuk, setidaknya kau harus punya waktu untuk Papa mu Xel, selama ini kau selalu hidup jauh dari kami, dan waktumu habis untuk hal itu sehingga sangat minimal bersama kami.. Kami tahu kau sudah dewasa, tetapi alangkah lebih baiknya disaat seperti ini kau bisa menikmatinya bersama kami..."
Axel menoleh dan tersenyum pada Mama nya. "Iya Ma, maafkan Axel.... Ini tidak akan terulang lagi... Prioritas utama Axel adalah Mama, Papa dan Adik...!"
"Kau sudah lulus kuliah, sudah bebas tanggung jawab Mama dan Papa membiayai mu, sekarang kau sudah mulai bekerja untuk dirimu sendiri, Mama dan Papa juga tidak bisa melarangmu untuk tinggal disini karena kau ingin mengejar impianmu, memilih tetap tinggal jauh dari kami, itu tidak masalah asal kau tetap menyisihkan waktumu untuk kami disini, jadi Mama harap manfaatkan waktu seperti ini dengan baik, karena entah cepat atau lambat kau juga akan memiliki keluarga sendiri, jadi jangan sibuk dengan dunia mu sendiri..!"
"Tetapi bukan berarti Mama dan Papa membiarkan aku sendirian kan??? Axel juga tetap butuh dukungan kalian, sekali lagi Axel minta maaf untuk hari ini..." Ucap Axel sambil memegang jemari Mama nya. Axel menjelaskanji ka sejujurnya dia tentu ingin tinggal bersama keluarganya tetapi saat ini dia sudah mendapatkan kesempatan untuk membalas sebuah tim sepak bola, dan ingin memanfaatkan itu dengan baik agar nantinya punya nama dan karier yang bagus, karena hal itu tentu bisa membuatnya memiliki kesempatan lebih banyak lagi. Dan ketika dia sudah mendapat itu tentu jika ada tawaran atau di beri kesempatan untuk bermain disini, Axel tidak akan menolaknya, karena sebaik-baiknya bekerja adalah yang dekat dengan keluarga.
Dan meskipun saat ini hanya di bayar murah, tetapi Axel akan mencoba untuk tetap menikmatinya dan menjalani nya dengan baik. Serta terus berlatih untuk lebih mengasah kemampuannya. Karena Axel yakin bahwa segala sesuatu yang di kerjakan dengan sepenuh hati hasilnya akan selalu memuaskan meskipun harus tertatih lebih dulu. Axel saat ini ingin berfokus pada pekerjaannya dan jika bisa tentu dia ingin membantu orang tua nya untuk membiayai adiknya melanjutkan sekolah. Saat ini adik Axel sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan lulus tentu akan membutuhkan banyak biaya. Axel merasa bersyukur, dia mendapatkan beasiswa saat kuliah sehingga dia tidak terlalu membebani orang tua nya. Dan saat kuliah itu juga, Axel berusaha mencari pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya sehingga ketika dia membutuhkan uang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari tidak meminta kepada orang tua nya.
Axel tumbuh di keluarga yang tidak kaya raya. Papa nya bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan. Sehingga penghasilannya di peruntuhkan untuk membiayai sekolah dari anak-anak nya serta kehidupan sehari-hari, dan sisa nya di simpan. Gajinya tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak, karena bekerja di perusahaan orang lain dan bukan di perusahaan milik sendiri. Rumah Axel juga tidak terlalu mewah, rumah yang biasa saja seperti pada umumnya. Sementara Mama nya memiliki usaha konveksi. Dan sejak kecil Axel sudah di ajarkan untuk tidak hidup dalam kemewahan dan lebih ke arah hidup yang biasa dan standart saja seperti orang lain. Hal itu membuat Axel menjadi pribadi yang biasa-biasa saja.
Axel melanjutkan makan malamnya dengan lahap sambil menatap wajah sang Mama. Dia begitu mencintai keluarganya, Mama nya, Papa nya dan juga Adiknya dan ingin sekali membahagiakan mereka. Itulah kenapa dia akan mulai bekerja keras untuk bisa menggantikan tugas orang tua nya membiatmyai sekolah adiknya. Axel ingin adiknya juga bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik seperti dirinya. Sehingga adiknya bisa lebih bersemangat menempuh pendidikannya. Axel sangat membenci jika ada orang yang berani menghina dan merendahkan keluarganya. Bagi Axel kehormatan keluarganya adalah hal yang utama.