
KYros turun dari mobil, begitu juga dengan Gienka dan Kyra. Mereka sudah sampai di rumah Adri, dimana disana juga tinggal Ibunya Cahya dan Chika yaitu nenek Kyra dan Kyros. Tadi mereka sudah bertemu arsitek membahas rencana renovasi rumah mereka. Baik Kyra dan Kyros mereka berdua sudah memiliki gambaran dan keinginan sendiri tentang ruang apa saja yang mereka inginkan di rumah itu. Kyra menginginkan ada home theater di rumah mereka, juga rooftop luas dengan infinity pool. Dan di tengah infinity pool itu ada sebuah jalur terbuka mengarah turun ke sebuah area lingkaran untuk di letakkan sofa melingkar atau kursi yang melingkar untuk tempat bersantai di tengah kolam renang. Selain itu, Kyros juga menginginkan sebuah atap di rooftop yang otomatis, agar ketika cuaca panas atau hujan bisa di tutup dan di buka sekaligus melindungi apa yang ada di rooftop.
Sementara Aditya dan Cahya membiarkan mereka untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Sisa nya adalah keinginan Aditya dan Cahya juga kedua orang tua nya.
Setelah bertemu arsitek, mereka langsung berangkat kesini. Kyros berjalan di depan Gienka dan Kyra. Kyros menekan bel menunggu pintu di buka. Tak lama ternyata pintu di buka oleh Niall. "Kakak....!" Ucap bocah itu.
"Mana nenek???" Tanya Kyros.
"Ada di belakang... Masuk dulu...!"
Kyros menoleh ke belakang ke arah Gienka dan Kyra , kemudian mereka masuk. "Panggil nenek...!" Pinta Kyros kepada sepupu nya itu.
"Oke...!" Jawab Niall kemudian berlari ke bagian belakang rumah.
Niall menghampiri Nenek nya yang sedang memotong dan merapikan ranting bunga. "Nenek... Kakak Ra dan kakak Gie datang...!" Ucap Niall pada wanita paruh baya itu.
"Kyra dan Gienka datang??? Baiklah nenek akan kesana, nenek mencuci tangan dulu...!"
Gienka, Kyra dan Kyros duduk di ruang tamu. Rumah terlihat lengang, entah kemana semua orang. Tak lmaa Niall kembali lagi menghampiri mereka mengatakan jika nenek nya sedang mencuci tangan dan akan segera kesini. Kyra pun bertanya kemana kah Adri dan Chika, Niall menjawab jika kedua orang tua nya pergi sebentar keluar dan akan segera kembali.
"Ra.... Gie.... Kalian datang kenapa tidak memberitahu???"
Gienka dan Kyra menoleh dan mendapati nenek Kyra berjalan menghampiri mereka. Kyra dan Gienka langsung berdiri, Kyros pun melakukan hal yang sama. Dia menoleh dan tersenyum lebar, Kyros berjalan menghampiri Nenek nya kemudian langsung memeluk nya mengungkapkan kerinduannya.
"Ky... Kau pulang... Kapan???" Tanya sang nenek.
"Kemarin Nenek, aku rindu sekali dengan nenek...!"
"Kau pulang bersama Adri dan Chika??? Kenapa tidak memberitahu, mereka juga tidak mengatakan apapun..!"
"Bahkan Amam dan Apap juga tidak tahu aku pulang...!" Gumam Kyros sambil tersenyum.
Kyra menghampiri Nenek nya bersama Gienka kemudian menyalami neneknya. "Di perjalanan kesini, Ky membicarakan kue kacang, dia sangat menginginkannya, apakah nenek membuatnya??" Tanya Kyra.
"Bagaimana nenek akan membuatnya, kalau kalian tidak memintanya atau memberitahu...!"
"Bagaimana kalau nenek membuatkannya sekarang untukku..!" Sahut Kyros.
"Baiklah... Tetapi nenek masih sangat rindu denganmu...!"
Mereka kembali duduk di sofa dan mengobrol. Kyros tidak melepaskan pelukannya pada sang Nenek.
"Amam dan Apap mu tidak ikut kesini ??" Tanya Neneknya llagi.
"Sedang pergi, nenek datang saja ke rumah, Ky ingin seharian mengobrol dengan nenek, Apap dan Amam juga menyuruh Uncle dan Aunty agar datang..!"
"Besok nenek akan kesana... Kau sudah semakin dewasa dan sangat tampan, kenapa Ky kau tidak pernah pulang??? Apa pekerjaan sekolahmu begiti banyak sampai kau tidak pernah pulang sudah hampir dua tahun...???"
"Iya, Ky minta maaf...! Tetapi kalau boleh jujur Ky juga sangat merindukan kalian semua disini...!"
"Nenek sering mengajariku, dan Amam juga, tetapi setiap aku mencoba membuatnya, rasa tidak pernah selegit buatan Nenek, padahal selalu aku coba dengan takaran yang sama, tetapi selalu zonk.... Menyebalkan sekali...!" Gumam Kyra sambil menekan cetakan kue.
Saat ini dia, Gienka dan Kyros sedang berada di dapur untuk membantu nenek mereka membuat kue kacang kesukaan mereka. Gienka bertugas mengolesi kuning telur diatas kue yang sudah di cetak, sementara Kyros membantu neneknya menguleni adonan. Kue yang di buat cukup banyak sehingga bisa di bawa pulang oleh ketiga nya nanti.
"Kau membuatnya tidak penuh cinta, itulah kenapa tidak enak... Berbeda dengan nenek ataupun Amam...!" Kyros menimpali.
"Buatan Amam juga tidak seenak buatan nenek, enak sih tapi lebih enak buatan nenek...! Hahaha"
"Aku akan melaporkanmu pada Amam...!" Ujar Kyros.
"Kau jahat sekali Ky...!" Gumam Kyra yang langsung di tertawakan oleh Gienka dan Kyros.
"Sudah sudah..... Kita membuat banyak jadi kalian bisa membawa nya pulang..." Ucap Nenek Kyros dan Kyra. Kedua cucu nya itj memang sering sekali saling ejek atau menggoda satu sama lain ketika bersama, tetapi selalu saling merindukan ketika berpisah. Itulah kenapa suasana seperti ini sangat dia rindukan ketika kedua cucu nya berada di dekatnya. Mereka sekarang sudah beranjak dewasa, waktu berlalu begitu cepatnya hingga semuanya tidak terasa dan berlalu begitu saja.
Kedua cucu nya yang dulu selalu memeluknya ketika datang, dan Kyra juga selalu melakukannya sampai saat ini ketika bertemu, dan tadi Kyros juga masih melakukannya.
Teng....
Bunyi oven membuat senyum Kyros mengembang. Nenek nya segera memakai sarung tangan tebal untuk mengeluarkan kue dari oven. Bau nya langsung menguar membuat yang ada di dapur itu menghirup aroma nya sambil menutup mata. "Aroma nya luar biasa dan rasa nya juga pasti enak...!" Gumam Kyros sambil mendekat ke nenek nya.
Vitto mencoba mencomot kue kacang yang masih panas itu dan dia memekik lalu mengibaskan tangannya dan meniup-niup nya. "Auuuwww panas...!"
"Ky... Hati-hati... Kau seperti anak kecil saja, ini baru keluar oven...!" Ucap Nenek nya.
"Tau nih Ky... Tidak sabaran...!" Sela Kyra.
Kyros masih meniup-niup jari nya, nenek nya pun meminta cucu nya itu agar menyiram jari nya yang panas ke air mengalir. Kyros pun melakukan nya. Kemudian dia teringat jika dia memiliki beberapa cokelat yang sengaja dia bawa, karena tujuan nya kesini selain menemui nenek nya adalah untuk meminta kue kacang dan kue itu sangat enak jika di cocol di cokelat leleh, itulah kenapa dia membawa cokelat yang di beli nya saat di swiss, selain cokelat, Kyros juga membawa sedikit keju. Kenapa hanya sedikit karena Aunty nya juga sudah membawa sendiri.
"Gie... Bisakah kau merebus air untuk melelehkan cokelat??? Kebetulan aku membawa cokelat untuk di cocol dengan kue kacang ini...!" Pinta Kyros.
"Iya Ky, kau ambil saja cokelat nya, aku akan merebus air dan mengambil mangkuk untuk cokelat nya...!" Jawab Gienka.
"Thanks Gie...!" Kyros kemudian pergi meninggalkan dapur untuk mengambil cokelat yang ada di dalam kantung jaket nya. Jaket itu ada di ruang tamu.
Tak lama Kyros kembali ke dapur membawa 3 bungkus cokelat. Dia mengambil pisau dan memotong cokelat itu menjadi beberapa bagian kecil kemudian meletakkan nya ke dalam mangkuk untuk di lelehkan di atas uap air yang sudah di rebus oleh Gienka.
Sampai akhirnya semua kue sudah matang, di biarkan dingin sebelum nanti di masukkan ke dalam toples. Gienka membawa piring berisi kue kacang yang baru saja mereka buat, membawanya ke halaman belakang. Sedangkan Kyra membawa nampan dengan 1 pitcher berisi jus serta beberapa gelas dan Kyros membawa semangkuk cokelat leleh. Mereka duduk di beranda yang ada di halaman belakang dekat kolam renang. Kyros memanggil Niall yang sedang bermain sendirian untuk bergabung dan memakan kue kacang buatan Nenek mereka.
Mereka duduk dan mengambil kue kacang itu kemudian mencocolkan ke dalam cokelat yang sudah di lelehkan.
"Btw, Sanne masih ada disini kan???" Tanya Kyros.
"Masih..!" Jawab Gienka.
"Dia masih disini beberapa minggu lagi baru kembali ke Paris..!" Sahut Kyra.
"Yah... Kalau begitu kenapa kalian tidak memanggilnya, Lou juga, dimana dia??? Apa kalian tidak memberi tahu nya jika aku pulang???".
"Lou dan Phobie sedang ada acara keluarga, aku sudah memberitahu nya tadi pagi, aku menyuruhnya datang ke rumah tetapi dia tidak bisa datang...!" Ucap Gienka.
"Owh....! Besok suruh Sanne ke rumah Ra, ajak Lou juga, dia pasti senang sekali ada Sanne.! Haha"
"Kau tahu juga kalau Lou menyukai Sanne..!" Sela Gienka.
Kyroa terkekeh. "Tentu saja, Lou sering menfatakannya padaku, apalagi sekrang Sanne ada disini, dia jadi senang sekali...!"
"Lou itu hanya berani ketika cerita bersama kita saja tetapi dia sama sekali tidak punya nyali Ky sebenarnya hahahaha, oke aku akan meminta Sanne datang, eh tetapi sebenarnya kami sudah pernah berjanji pada aunty Rana dan Uncle Vitto akan datang ke rumah mereka tetapi sampai sekarang belum kesana, apa lebih baik besok kita kesana saja???" Tanya Kyra.
"Ah iya, kita sudah berjanji, gegara ujian sekolah kita belum sempat...!" Sahut Gienka
Kyros mengangguk, dan dia mengusulkan agar kesana saat sore saja, karena Kyros masih ingin menghabiskan waktu dengan keluarga nya terutama Amam dan Apap nya. Rasanya tidak elok juga dia harus pergi meninggalkan mereka mengingat hari ini dan besok adalah weekend.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil memakan kue kacang. Obrolan membahas tentang sekolah masing-masing dan rencana melanjutkan kuliah. Selain itu mereka juga bercanda juga tertawa ketika membahas hal yang lucu. Sampai kemudian ponsel Gienka berdering, membuat mereka menghentikan candaan dan obrolan mereka. Gienka melihat ada nama seseorang disana, dia pun berdiri dan menjauh dari Kyros, Kyra serta Niall.
Gienka memilih berdiri di ujung halaman belakang dan berbicara dengan si penelepon. "Ya... Kenapa???" Tanya Gienka kemudian diam beberapa saat untuk mendengarkan.
"Ya ampun.... Sorry sorry... Aku sedang tidak ada di rumah, besok aku baru akan pulang, aku masih menginap di rumah sahabatku.. Kau merindukanku ya??? Hahahaha Besok aku akan menghubungimu jika sudah pulang, pagi aku akan pulang tetapi sore nya aku akan pergi lagi, jadi jika kau mau ke rumah pagi saja... Sorry ya???" Ujar Gienka sambil tersenyum kemudian dia diam lagi mendengarkan.
"Iya... Aku akan menghubungimu, oke see you tomorrow...! Bye...!" Gienka menutup teleponnya kemudian berbalik badan untuk kembali bergabung dengan Kyros dan Kyra, tetapi dia terlonjak ketika mendapati Kyros berada di depannya. "Ky... Kau mengejutkanku saja....!" Gumam Gienka.
"Dari siapa Gie??? Kekasihmu ya??? Sampai kau harus menjauh dariku dan Kyra???" Tanya Kyros.
"Bukan Ky, itu tadi temanku yang menelepon..!"
"Laki-laki???" Tanya Kyros.
Gienka mengangguk. "Iya... Dia tetanggaku yang sering aku ceritakan padamu dulu, Axel... Ini weekend jadi dia pulang, dan dia datang ke rumah ku tetapi aku tidak ada disana jadi ya dia meneleponku...!"
"Owh Axel tetangga mu itu..! Kalian begitu akrab sejak kecil kenapa tidak jadi kekasih saja...!"
Gienka memukul bahu Kyros. "Pertanyaan mu selalu sama, sudah aku katakan bahwa kami hanya berteman saja, tidak pernah lebih dari itu, selalu akan jadi teman dan sahabat, lagipula Axel sudah memiliki pacar... Ayo kembali lagi kesana...!" Gienka menarik Kyros dan mengajak untuk bergabung bersama Kyra dan Niall.
Gienka memang sering bercerita tentang sahabat yang juga tetangga nya itu. Axel cukup dekat dengan Gienka tetapi Gienka selalu mengatakan jika Axel hanya sahabat saja dan hubungan mereka sebatas itu. Sejauh ini Kyros juga sama sekali tidak pernah bertemu dengan lelaki bernama Axel itu, meskipun sejak kecil Gienka sudah bersahabat dengan Axel. Belum ada kesempatan untuk Kyros bertemu Axel, Kyros berharap suatu hari dia bisa bertemu dengan Axel sehingga dia bisa melihat lelaki sahabat Gienka itu secara langsung.
Mereka berempat pun melanjutkan lagi mengobrol sambil menikmati kue kacang.
***
Tidak terasa hari sudah malam, Kyros menghabiskan waktu nya bermanja dengan nenek nya. Dia dan Kyra serta Gienka harus segera pulang karena sudah di tunggu oleh orang tua mereka di rumah. Besok Nenek nya juga akan datang ke rumah. Dan tidak lupa mereka membawa beberapa toples yang berisi kue kacang buatan mereka tadi siang. Karena membuat cukup banyak hingga bisa mereka makan dalam beberapa hari.
★★★★
Keesokan hari nya, seperti biasa Kyra membantu Cahya menyiapkan sarapan di dapur, Gienka juga ikut andil bersama Art keluarga Kyra. Cahya memang terbiasa mengurus sendiri untuk urusan menyiapkan sarapan, makan siang jika sedang libur dan tidak ke kantor, tentu nya untuk makan malam Cahya juga sering melakukannya. Art nya hanya bertugas membantu nya seperti memotong sayuran atau lainnya. Tugas utama Art nya adalah membersihkan rumah, untuk memasak Cahya biasa menangani nya sendiri.
Setelah siap, Kyra dan Gienka membawa ke meja makan dimana disana sudah di tunggu oleh Kyros yang tengah mengobrol dengan Aditya. Beberapa saat kemudian Oma dan Opa Kyros serta Kyra juga ikut bergabung.
Cahya kembali dari dapur dan langsung menuangkan jus untuk anggota keluarga nya. Kyra duduk dan membalik piring nya kemudian mengambil nasi goreng yang ada di bowl membuat Aditya mengernyit sambil tersenyum, karena itu adalah hal yang jarang dia lihat. "Ra...! Kau sarapan dengan nasi goreng???? Kau tidak membuat oatmeal atau memakan roti atau sandwich seperti biasanya???" Tanya Aditya karena memang sejak kecil putri nya itu jarang sekali sarapan dengan sesuatu yang berat seperti nasi. Kyra selalu sarapan dengan buah, sandwich atau oatmeal.
Kyra melempar senyum nya. "Sekali-kali bolehlah Pap, lagipula Amam membuat nasi goreng ini juga permintaan Ky, jadi ya aku juga ingin mencoba, bau nya tadi harum sekali...!"
"Tentu saja harum, nasi goreng buatan Amam selalu enak..!" Sahut Kyros.
"Thats right...!" Gumam Kyra. Semua orang tersenyum dan memulai sarapannya.
"Gie.. Kau mau pulang sekarang???" Tanya Aditya.
"Iya Uncel...!"
"Loh katanya kalian ingin ke rumah Sanne, kenapa pulang, bukan lebih baik nanti saja...!"
"Gienka ada janji dengan temannya Pap, jadi dia harus pulang...!" Sela Kyros.
"Oh ada janji, ya sudah kalau begitu, uncel akan meminta supir agar mengantarmu pulang Gie...!"
"Thanks Uncle...!"
Aditya tersenyum. "Sama-sama...!"
"Gie, kenapa tidak kau ajak saja sahabatmu itu nanti ke rumah Sanne...!" Ujar Kyros.
"Tidak bisa Ky, sore nanti dia harus kembali lagi karena besok dia harus sekolah...!"
"Owh begitu ya? Padahal aku ingin bertemu dengannya dan berkenalan...!" Gumam Kyros.
Di tempat lain, Sanne juga sedang sarapan dengan kedua orang tua nya. Kemarin dia sangat senang sekali ketika di hubungi oleh Kyra bahwa hari ini Kyra, Kyros, Gienka, dan Louis akan datang. Mereka menepati janji nya untuk datang dan itu membuat Sanne sangat senang begitu juga dengan kedua orang tua nya yaitu Vitto dan Rana. Bahkan semalam Rana langsung menghubungi Bakery miliknya agar hari ini mengirim beberapa kue untuk di hidangkan kepada sahabat-sahabat Sanne itu. Selain kue, Rana juga akan memasak makanan siang nanti, semalam dia dan Sanne juga langsung berbelanja di supermarket.
"Jadi, Ky pulang kapan Ne???" Tanya Vitto kepada putrinya yang tengah melahap sandwich.
"Kemarin lusa Pa, Kak Ky tidak memberitahu siapapun di keluarga nya malau dia akan pulang, dan di hari itu juga dia tiba-tiba mengatakan kepada Om Adri bahwa dia ikut pulang..."
Vitto tertawa. "Ky melakukan itu..? Hahaha anak itu sejak masih kecil sangat sulit di tebak dan sampai sekarang itu masih menjadi sikapnya...!"
"Ah iya, aku jadi teringat betapa menggemaskannya Kyros dulu, dia pernah menggunakan cokelat yang ada di biskuit stik sebagai masker di wajah nya, dan itu menggemaskan sekali...!" Ujar Rana.
"Cokelat dari biskuit stik????" Tanya Sanne bingung. "Bagaimana bisa???"
Rana tertawa. Ingatan itu masih melekat di otaknya dimana saat itu dia sedang berada di rumah Cahya dan sedang bermain bersama Kyra dan Kyros. " Jadi saat itu mereka berdua sedang asyik memakan cokelat dan saat itu hari sudah sore, jadi waktu nya mereka mandi. Cahya memberitahu kedua nya jika waktu nya mandi, saat itu Kyros yang sedang memakan biskuit stik dan mencelupkannya ke cokelat, tiba-tiba saja Kyros mencelupkan semua jari nya ke cokelat itu, lalu mengusapkannya ke keningnya dan ke seluruh wajahnya membuat wajah gemasnya cemong oenuh dengan cokelat, mungkin dia sering melihat Cahya ketika memakai skin care dan dia mengikuti nya.. Itu sangat lucu sekali Ne... Hahaha..!"
Sanne dan Vitto tertawa. "Serius Ma..???" Tanya Sanne tidak percaya.
Rana mengangguk sambil menahan tawa nya ketika mengingat moment itu. "Iya Ne, bahkan saat itu, Mama juga memotret nya, seperti nya masih Mama simpan di memori card atau flash disk bersama dengan foto jaman dulu sewaktu kau belum lahir, karena saat itu Mama juga belum menikah dengan Papa mu, kami baru dekat...!"
Senyum Sanne melebar. "Wah berarti ada foto-foto Mama dan Papa waktu pacaran juga donk, Sanne mau lihat dong nanti, penasaran juga sama foto Mama Papa waktu dulu juga foto kak Kyros yang cemong... Hahaha"
"Wah.... Pasti lucu sekali... Hehehe...!"
Setelah sarapan, Sanne dan kedua orang tua nya memilih duduk di halaman belakang rumah mereka. Tempat paling nyaman untuk bersantai. Hari ini Sanne tidak pergi kemana-mana karena sahabat-sahabat nya akan datang kesini. Biasa nya dia akan pergi ke rumah sepupu nya Vineet. Beberapa waktu yang lalu, Sanne juga pergi untuk menikmati liburan bersama kedua orang tua nya di salah satu pulau yang ada di kepulauan seribu.
Liburan Sanne dan keluarga nya kesini selain untuk melihat kondisi usaha dari kedua orang tua nya, juga untuk berziarah ke makam orang tua Rana, serta mengunjungi adik dari Vitto. Sejak kecil Sanne sudah di ajak tinggal di Perancis oleh kedua orang tua nya karena Opa nya harus menjalani perawatan disana, itulah yang di ketahui oleh Sanne. Tetapi Opa nya sekarang sudah sembuh, hanya saja ketika Sanne meminta untuk tinggal disini kepada orang tua nya. Papa nya mengatakan bahwa mereka akan tinggal lagi disini setelah Sanne menyelesaikan kuliah nya, dan itu masih beberapa tahun lagi karena saat ini Rana masih duduk di bangku Junior High School atau Sekolah Menengah Pertama.
Seperti janji Rana sebelumnya bahwa dia akan menunjukkan beberapa foto saat berpacaran dengan Vitto dulu, juga beberapa foto yang dulu Rana ambil saat sedang bersama Kyra dan Kyros yang masih balita. Rana menancapkan flash disk ke dalam laptop, dan mulai membuka file yang ada di dalamnya.
Satu persatu foto mulai bermunculan. Senyum Sanne langsung mengembang di wajah nya melihat kedua orang tua nya saat masih muda. Sanne sebenarnya sudah sering melihat foto kedua orang tua nya dulu, tetapi seperti nya yang ini dia belum melihatnya. Kedua orang tua nya dulu sangat suka travelling ke berbagai tempat hingga memiliki begitu banyak foto kenangan. Mereka bercerita jika itu di lakukan setelah mereka menikah karena banyak hal yang terjadi sebelum mereka menikah hingga belum ada waktu untuk melakukannya.
"Ini beberapa foto saat kami liburan naik yacht di salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal..! Juga ada di beberapa tempat lainnya..!" Ucap Rana.


"Always sweet...!" Gumam Sanne.
"Sampai saat ini Papa juga selalu sweet Ne...!" Vitto menimpali.
"Benar sekali....! Sanne sangat mengakui nya... Btw Pa kenapa Papa dulu meninggalkan karir Papa begitu saja dan memilih tinggal di Perancis sampai saat ini, bukankah dulu karir Papa sedang berada di puncak...! Walaupun sudah menikah tetapi kan banyak sekali yang bisa Papa lakukan, karena Papa bercerita jika Opa sebelumnya sudah tinggal di Perancis untuk pengobatan nya, Opa tinggal bersama Eyang dan Oma Anne adiknya Opa??? Opa sudah terbiasa dengan mereka kan???" Tanya Sanne.
Vitto melempar senyumnya. "Papa adalah anak pertama Opa mu, jadi Papa memiliki tanggung jawab besar untuk merawat nya saat dia sakit, sementara bisnis di atur oleh Om Vino mu disini, Papa tidak masalah harus meninggalkan karir Papa, karena apa yang Papa kerjakan dulu tidak akan selalu berada di puncak, sebelum Papa berada di bawah Papa lebih dulu memilih untuk meninggalkannya dan memulai kehidupan baru bersamamu dan juga Mama mu serta Opa mu disana" Jawab Vitto dengan bijak. Sebenarnya selain hal di atas ada alasan lain yang tidak bisa Vitto ceritakan kepada putri nya itu mengenai hubungan nya dengan Vino dulu. Vino adalah adik Vitto.
Vitto memilih untuk memboyong istri dan putri nya pergi menjauh dari segala permasalahan yang terjadi antara diri nya dan Vino. Vitto tidak ingin semakin memperkeruh keadaan dengan terus bersitegang dengan Vino. Kenapa dia memilih tidak menceritakan mengenai Vino kepada Sanne adalah tidak mau jika putrinya itu jadi membenci Om nya sendiri.
Vino adalah adik Vitto, yang dulu pernah menikah dengan Rana tetapi pernikahan itu berakhir dengan perceraian setelah Vino menjebak Rana. Vino menikahi Rana hanya untuk balas dendam yang sebenarnya pembalasan dendam yang salah sasaran. Selama menikah dengan Vino, Rana selalu mendapatkan siksaan dari lelaki itu. Tangan Rana di setrika, Rana juga pernah di jatuhkan dari atas balkon ke kolam renang dan Rana hampir tenggelam. Selain itu juga, Rana mendapatkan siksaan fisik tiada henti hingga siksaan bathin dimana Vino berhubungan badan dengan perempuan lain tepat di depan Rana. Saat itu Vino mengikat Rana di sebuah kursi dan di paksa menonton adegan tidak senonoh itu. Rana mendapatkan siksaan yang tidak bisa di bayangkan bagaimana kesakitannya saat itu.
Rana yang sebelumnya terpenjara di villa miliki keluarga Vino akhirnya berhasil kabur dengan penuh perjuangan sampai akhirnya Rana di temukan oleh Vitto. Setelah itu, segala yang di lakukan Vino di ceritakan keoada Vitto. Saat itu Vitto langsung menghubungi Papa nya yang sedang berada di Perancis. Mendengar itu Papa nya langsung pulang dan menemui Rana.
Rana menceritakan segala nya hingga akhirnya sebuah fakta terungkap bahwa Vino melakukan itu untuk balas dendam tetapi ternyata Rana sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan hingga Vino memyimpan dendam kesumat kepada nya. Setelah iti, Rana berpisah dengan Vino, Vitto menyembunyikan Rana selama berbulan-bulan. Dan yang mengejutkan adalah fakta bahwa Rana hamil anak Vino. Dimana kejadian itu adalah kejadian yang tidak di inginkan oleh Rana, dimana Vino memaksa nya melakukan hubungan intiim. Rana menolak dan Vino akhirnya memperkoosa nya. Saat sudah bercerai dari Vino, Rana justru hamil. Rana tidak mau Vino mengetahui nya sehingga Vitto harus kembali menyembunyikan Rana dari Vino.
Kebersamaan itulah yang akhirnya membuat Rana dan Vitto saling jatuh cinta kemudian memutuskan untuk menikah. Bukan perkara mudah juga sampai ke hal itu, karena banyak sekali hal yang terjadi. Vino masih tidak terima ketika Rana menikah dengan Vitto. Tetapi kemudian Vino menikah dengan sahabat Vitto bernama Arindah. Setelah pernikahan itu hubungan semakin membaik. Hingga moment dimana Vitto memutuskan untuk membawa Rana dan Sanne pergi ke luar negeri dan tinggal disana. Sebuah masalah besar terjadi, ada kesalahpahaman yang terjadi, dimana Vino dan Arindah kehilangan anak mereka. Vino marah dan menyalahkan Vitto atas kejadian itu. Dan selama bertahun-tahun hubungan persaudaraan itu memburuk.
Vitto dan Rana masih menyimpan cerita itu dari Sanne, tidak ingin putrinya mengetahui apa yang dulu terjadi di antara Papa nya dengan Papa nya Vineet yaitu Vino.
"Mama... Mana foto nya Ky yang cemong cokelat???" Tanya Sanne pada Rana yang membuat Vitto juga terbuyarkan dari lamunannya.
"Sebentar Sanne.... Mama coba cari...!" Ucap Rana kemudian terlihat diam mencari dimana letak foldernya.
Rana menemukannya dan membuka nya. Sontak tawa Sanne lun terdengar. Vitto juga ikut tertawa begitu juga Rana ketika melihat betapa lucu nya Kyros yang di penuhi oleh cokelat. Benar-benar sangat menggemaskan sekali juga sangat lucu.
###Back to 16 Years Ago###
Rana saat itu berada di rumah Cahya dan Aditya, dia tinggal disana selama beberapa hari karena Vitto saat itu meminta nya agar tinggal disana selama dia pergi untuk mengurus kepindahan Rana ke rumah baru. Karena Rumah masih belum siap dan furniture baru di pasang jadi Rana harus menunggu beberapa hari dulu di rumah Aditya sebelum nanti menempati nya.
Sore itu Rana keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tengah dimana ada Cahya dan si kembar. Cahya duduk berjongkok di lantai menemani kedua anaknya bermain sambil memunguti mainan si kembar yang tercecer dilantai. Kyra sedang asyik memainkan piano mainannya sambil pura-pura bernyanyi dan entah lagu apa yang dinyanyikan olehnya. Sedangkan Rana di kejutkan oleh wajah Kyros yang penuh dengan cokelat. Ternyata bocah itu sedang asyik memakan biskuit stick dengan cokelat, tetapi tangan dan wajahnya begitu belepotan.
"Astaga Ky.... Apa yang kau lakukan pada wajahmu itu???" Seru Rana kemudian tertawa.
Cahya menoleh. "Kau sudah selesai mandi???"
Rana mengangguk. "Iya, ini kenapa Ky jadi cemong seperti ini???"
"Itu sudah biasa, ketika aku bilang sebentar lagi waktunya mandi, dia selalu mencari cara untuk membuat wajahnya kotor, entah itu dengan cokelat seperti ini atau terkadang dengan spidol.... Begitulah dia... Hahaha! Lalu aku akan kerepotan untuk memandikannya...!"
"Ya ampun....! Ada ada saja...!"
"Titip sebentar ya Ran, aku akan mengambil tisu basah di kamar, tolong temani mereka dan nanti bantu aku memandikan mereka juga...!" Ucap Cahya.
"Oke...!"
Rana tidak bisa berhenti tertawa melihat tingkah lucu Kyros. Dia mengambil ponselnya dan tidak melewatkan kesempatan untuk memotret Kyros yang menggemaskan itu. Kyros menjadikan cokelat itu seperti sebuah skincare dan mengusapkannya ke dahi, membuat wajahnya menjadi penuh cokelat. Benar-benar polos dan begitu menggemaskan.
"Ky.... Itu bukan krim wajah, berhentilah mengoleskannya pada wajahmu....!!! Hahahha....!" Ucap Rana sambil tertawa hingga dia mau menangis.
Sayangnya Kyros masih terus melanjutkan aksinya tanpa peduli dengan peringatan Rana. Anak kecil memang selalu bisa mengundang gelak tawa dengan kepolosan dan sikap tidak peduli mereka. Tetapi itulah istimewanya ketika memiliki mereka. Ran tersenyum membayangkan betapa akan bahagianya dia nanti ketika bayinya sudah lahir dan tumbuh dengan sangat lucu, menggemaskan seperti Kyros, Kyra, Gienka dan Louis. Mereka tampan dan juga cantik dan itu mereka warisi dari kedua orangtuanya. Rana menjadi terbayang-bayang bahwa bayinya nanti juga pasti akan cantik atau tampan, apalagi jika bayinya mewarisi ketampanan dari Vino. Itu pasti akan sangat menggemaskan. Hanya saja Rana tidak ingin bayinya terlalu mirip dengan Vino sepenuhnya karena Rana takut dia justru akan terus mengingat Vino jika melihat anaknya. Lebih baik mirip dengannya saja, setidaknya Rana bisa melihat tumbuh kembang bayinya versi dirinya kecil.
Mengingat Vino, wajah Rana berubah menjadi sedih. Vino sebentar lagi akan menikah dengan Angel. Kemudian mereka pasti akan memiliki anak, dan sudah pasti Vino akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada anaknya dengan Angel, dan tidak akan pernah tahu jika dia memiliki anak dari Rana. Airmata Rana menetes, hidupnya selalu tidak beruntung tetapi dia juga tidak menginginkan bayinya nanti mengalami hal yang sama seperti dirinya. Rana akan bekerja keras agar anaknya mendapatkan segala seuatunya dengan baik dan layak. Dia akan mengajarinya agar menjadi seseorang yang baik, penyayang dan menghormati orang lain.
Akhir-akhir ini, Rana sudah mulai melupakan tentang Vino, menghilangkan perasaan cintanya secara perlahan. Dia yakin bisa melakukannya, tetapi ketika mengingat bayinya, ingatan Vino selalu muncul. Bagaimanapun bayinya adalah hasil hubungannya dengan Vino meskipun itu dilakukan dengan paksaan dan Rana kesakitan oleh hal itu. Air mata Rana kembali menetes, dan dia terisak, entah kenapa itu terjadi begitu saja setiap dia mengingat masalalunya dengan Vino. Menyakitkan, dan rasa sakit itu masih bisa Rana rasakan hingga saat ini.
Pundak Rana disentuh oleh tangan lembut yang mungil. Rana menoleh ke belakang, dan dia tersenyum menemukan Kyra berdiri di belakangnya.
"Auntie menangis ya??? Kenapa menangis? Ky tidak mau membagi biskuitnya ya???" Tanya Kyra polos.
Rana tersenyum dan menggeleng. Tiba-tiba saja Kyra mendekati Kyros. "Ky...! Jangan pelit...!!!" Teriak Kyra, Kyros yang sedang sibuk makan pun mendongakkan kepalanya menatap Kyra.
Beberapa detik kemudian Kyros menyodorkan biskuit sticknya pada Rana. Kyros menyuapi Rana dengan biskuit itu. Kyros sepertinya mendengar saat Kyra bertanya pada Rana tentang kenapa Rana menangis.
"Auntie... Don't Cry... Haaaakkk!" Ucap Kyros menyuruh Rana membuka mulutnya.
Rana tersenyum lagi dan membuka mulutnya menerima suapan Kyros. Sedangkan Kyra menyeka air mata Rana yang menetes di pipinya. Rana tidak menyangka jika kedua bocah ini begitu pintar dan perhatian. Sangat manis sekali.
Thank You Ky... Thank you Kyra sayang....!" Ucap Rana.
"Heii.... Ada apa ini? kenapa kalian melingkar? Apa yang sedang kalian bicarakan... Ayo Amam ikut bergabung dengan kalian...!" Cahya datang membawa tisu dan menghampiri mereka bertiga.
"Ky pelit...! Dia tidak mau membagi sticknya pada Auntie, dan auntie menangis...!"
Cahya duduk berjongkok memgang pundak Rana menatapnya. "Rana...? Kau menangis??? Kenapa?? Apa kau baik-baik saja???"
Rana menggeleng melempar senyumnya pada Cahya. "Tidak...! Aku hanya kelilipan...!"
"Don't Lie Auntie... Nanti Tuhan marah...!" ujar Kyra yang langsung membuat Rana terkekeh.
"Oke oke... Sekarang kalian harus bersiap untuk mandi, sebentar lagi Apap pulang, nanti dia marah jika melihat kalian belum mandi...!" Ujar Cahya.
Cahya mengambil beberapa tisu basah dan mengelap wajah dan tangan Kyros yang belepotan dengan cokelat. Sedangkan Rana melepaskan ikatan rambut Kyra yang berwarna-warni di kepala bocah cantik itu. Setelah itu Cahya dan Rana membawa keduanya ke kamar mandi yang ada di kamar Cahya.
"Kau benar-benar tidak apa-apa Ran??? Kenapa menangis? Apa anak-anak melakukan sesuatu padamu???" Tanya Cahya lagi seraya menyiramkan air ke tubuh Kyros.
"Tidak apa-apa Ca, aku hanya ingat saja dengan Vino...!"
"Kau pasti mengingat Vino karena melihat anak-anak dan kau jadi memikirkan kehamilanmu kan??? Memikirkan masa depan bayimu nanti...??"
Rana tidak menjawab, dia hanya tersipu karena ternyata Cahya bisa menebak apa yang tadi di pikirkan olehnya. Selalu ada kesedihan dihatinya jika harus membayangkan atau memikirkan nasib anaknya nanti.
"Rana....! Kita boleh memikirkan sesuatu dimasa mendatang tetapi harus yang baik-baik saja agar kita tidak sedih, kau adalah perempuan hebat, aku yakin anakmu kelak akan sangat bangga memiliki ibu hebat sepertimu...!"
"Amin....!!!"
Mereka berdua kemudian melanjutkan memandikan si kembar lagi. Setelah selesai Rana membantu Cahya memakaikan pakaian juga, mengikat rambut Kyra dengan karet warna-warni membuat Kyra menjadi lebih menggemaskan.
"Tadi Vitto menghubungiku, dia bilang besok siang rumahnya sudah bisa ditempati...!" Gumam Rana pada Cahya.
"Oh ya??? Hmmm sedihnya kau akan pergi... Padahal aku senang sekali kau ada disini hehehe...!"
"Kau bilang begitu, tetapi aku dan Vitto sudah banyak merepotkan kalian... Tidak tahu harus membalas semua kebaikan kalian dengan apa...!"
"Kebaikan itu tidak perlu dibalas, biar Tuhan saja... Hahaha bolehkah aku mengantarmu sekaligus membantumu? Sudah seminggu yang lalu juga terakhir aku mengajak anak-anak berkunjung ke rumah ibuku, besok sekalian mengunjunginya lagi... Bagaimana???" Tanya Cahya.
"Aku merepotkanmu lagi nanti??"
"Sudahlah Ran merepotkan apa, aku juga akan mengunjungi ibu besok kau pergi bersamaku saja ya, tenang deh, aman, ada bodyguardku juga yang akan mengawal kita....!"
Rana mengangguk. "Iya deh...!"
###Back Now##
Setelah mengobrol dan bercerita tentang kisah cinta orang tua nya dulu, Sanne kemudian di ajak oleh Rana untuk mulai menyiapkan makanan. Karena semalam sudah belanja jadi sekarang tinggal memasaknya saja. Vitto juga turut membantu. Vitto sudah terlular oleh Rana, dia sering membantu Rana memasak ketika sedang tidak ada kesibukkan. Memiliki istri yang lulusan sekolah masak dan sangat hobi memasak membuat Vitto juga cukup pandai mengolah sesuatu.
Sanne membantu Mama nya memasak, sednagkan Vitto sibuk memotong sayuran. Mereka sering sekali melakukan hal seperti ini bersama-sama. Kebersamaan ini tentu membuat hubungan mereka menjadi semakin dekat dan harmonis. Sanne menjadi anak tunggal dari kedua orang tua nya, itulah kenapa dia menjadi kesayangan di keluarga nya. Dulu Mama nya memang sempat hamil dengan mantan suami nya tetapi bayi yang masih berada di dalam kandungan itu meninggal setelah tidak sengaja Mama Sanne mengkonsumsi makanan yang terjanyata sudah di bubuhi oleh obat yang sangat keras hingga obat itu bisa membuat seseorang lumpuh. Dan yang jadi korban akhirnya adalah bayi yang ada di dalam kandungan Rana. Sampai akhirnya setelah kehilangan bayi itu, Rana dan Vitto menikah dan setahun kemudian Rana hamil Sanne. Setelah itu, mereka memutuskan untuk tidak memiliki bayi lagi sehingga mereka berfokus untuk membesarkan Sanne.
Sanne pernah bertanya tentang siapa yang memberikan obat itu di makanan yang di makan oleh Mama nya dulu, juga apa alasan oramg itu melakukannya. Rana dan Vitto menjelaskan jika itu di lakukan oleh seorang perempuan yang memiliki sikap dan sifat buruk, karena yang ada di pikiran perempuan itu dulu di penuhi dengan sifat iri dan dengki hingga tega melakukan itu. Sekedar itu saja yang di beri tahu oleh kedua orang tua nya. Siapa dan bagaiamana perempuan itu, sampai saat ini Sanne tidak tahu karena kedua orang tua nya tidak ingin mengingat masalah itu, karena selalu membuat hati Rana sesak dan Vitto menjadi penuh amarah.
Sementara itu, Gienka sedang berada di rumah Axel. Mereka saat ini sedang berada di ruang bersantai yang terletak di belakang rumah Axel. Tidak begitu luas tetapi sangat nyaman karena asri dengan suara gemricik air dari kolam ikan koi milik keluarga Axel. Di hadapan mereka berdua juga ada gelas berisi jus dan camilan. Tadi Gienka mampir sebentar ke rumahnya setelah dari rumah Kyra baru kemudian dia menuju rumah Axel yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Axel dan Gienka tengah asyik mengobrol berbagai hal. Inilah yang sering mereka lakukan ketika Axel pulang ke rumahnya di weekend seperti ini.
"Aku mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri... " Ujar Axel.
"Bagus dong...!" Gienka menimpali.
"Iya, itu juga yang di katakan oleh Mama dan Papa! "
"Lalu??? Kenapa kau terlihat meragu Xel??? " Tanya Gienka.
"Itu artinya kan aku harus meninggalkan semuanya disini..! "
Gienka terkekeh. "Tentu saja...! Dan apa yang kau khawatirkan?? Hmmmm pasti hobi sepak bola mu ya??? Hahaha kenapa kau harus khawatir tentang itu??? Dimana pun kau tinggal pasti selalu ada tempat untuk berlatih sepak bola, kau bisa masuk kesana kan??? "
"Aku sudah nyaman di tempat yang sekarang...?" Gumam Axel yang justru membuat Gienka tertawa.
"Astaga Axel.... Kau lucu sekali... Kau bilang kau nyaman??? Jadi semisal kau lulus dari sekolahmu tetapi kau merasa nyaman jadi kau akan memutuskan untuk tinggal kelas gitu??? Kan tidak mungkin Xel... Nyaman itu tidak selalu menjamin kita akan terus bertahan di tempat yang sama, jika tempat itu rusak dan hampir roboh apa kau tetap akan bertahan disana?? padahal ada tempat lain yang lebih bagus, kau pasti akan memilih menyelamatkan dirimu dengan tinggal di tempat yang bagus kan?? Kau sudah mendapat beasiswa itu harus kau manfaatkan dengan baik, kau masih bisa mengembabgkan hobimu dengan baik, please jangan lewatkan kesempatan ini...! Oke???"
"Benar juga sih...!" Gumam Axel.
"Ya sudah kau menunggu apalagi, sebenarnya itu juga kesempatan untukmu mengenai hobi bermain sepak bola mu, kau bisa mencari tempat latihan baru dan memperdalam permainanmu lagi...!"
Axel mengangguk dan membenarkan ucapan Gienka. Kesempatan ini memang tidak akan datang lagi dan dia harus memanfaatkannya dengan baik. "Kau memang benar Gie...! Aku pasti akan mengambilnya... Btw kau menginap dimana kemarin??" Tanya Axel.
"Biasa di rumah sahabatku...!"
"Owh... Sahabatmu yang punya saudara kembar itu ya??? Yang kakaknya kau sukai???"
Gienka tersenyum malu. Dia memang pernah bercerita tentang Kyros kepada Axel beberapa waktu yang lalu. "Dia pulang..! "
"Pulang??? Siapa yang pulang???" Tanya Axel bingung.
"Kyros pulang... Dia kembali dari Swiss kemarin lusa...!" Ujar Gienka.
"Dia pulang??? Wah kau pasti bahagia sekali...! Bagaimana dia?? Maksudku bagaimana apa kau sudah mengutarakan perasaanmu padanya??? "
"Aku mengungkapkan perasaanku padanya lebih dulu padanya??? Tentu saja tidak, bagaimana bisa seorang perempuan menyatakan itu lebih dulu...! Itu tidak ada dalam kamusku..!"
Axel kembali terkekeh. "Lalu apa kau akan diam saja? Bisa jadi dia tidak akan pernah tahu perasaanmu Gie, yang ada dia akan dicuri orang lain, katakan saja suapaya dia tahu dan bisa berpikir untuk bersamamu, apalagi dia dulu pernah mengajakmu menikah! Ingatkan itu padanya.!"
"Hahaha dan aku akan menanggung malu seumur hiduoku jika ternyata dia tidak menyukai ku lalu menolakku, tidak akan pernah aku melakukan itu!"
"Ciiihhh... Lalu sampai kapan kau akan menunggunya menyatakan cinta padamu jika kau tidak mulai menunjukkan sesuatu padanya...!"
Gienka kembali tersnyum dan menatap nyalang ke langit yang cerah. "Entah kenapa aku selalu memiliki keyakinan bahwa suatu saat Kyros akan tahu tentang oerasaanku kepadanya dan dia akan memenuhi janji nya, keyakinan itu muncul begitu saja, aku tidak tahu kenapa...!" Ujar Gienka.
"Boleh saja kau berkeyakinan seperti itu tetapi segala sesuatu butuh usaha Gie...! Bagaimana pun kau juga harus berusaha memberi nya sesuatu yang bisa membuat dia menyadari bahwa kau memiliki perasaan kepada nya, kalau kau tidak ada usaha untuk melakukannya, selamanya perasaanmu itu tidak akan terbalas, dan pasti akan menyisahkan kesakitan di hatimu, jangan sampai kau terluka dengan perasaanmu!"
Gienka tersenyum menganggukkan kepala nya. Dia sangat mengerti apa yang di maksud oleh Axel. Bahwa di butuhkan usaha jika ingin mendapatkan sesuatu. Selain usaha, yang terpenting juga adalah do'a. Keduanya harus berimbang dan tidak boleh berat sebelah. Gienka sangat berharap suatu saat Kyros bisa mengetahui perasaannya dan juga mewujudkan janji nya dulu untuk menikah dengannya. Berat sebenarnya bagi Gienka harus melihat Kyros dekat dengan banyak perempuan di luar sana meskipun selama ini Kyros tidak pernah benar-benar dekat dan menjalin hubungan dengan teman perempuan nya.
"Bantu aku do'a ya Xel??? Aku benar-benar sangat mencintai nya, aku tidak mau kehilangan dia!"
Axel tersenyum dan mengangguk kemudian memegang jemari Gienka. "Do'a terbaik untuk sahabatku, kau harus selalu bahagia Gie, aku sangat menyayangimu...!"
"Thanks ya Xel... Kau juga sahabat terbaikku dan selalu mendukungku...!" Gienka memeluk Axel.