I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 27 (Hamil)



Gienka tersenyum, menatap Elea dan Danist bergantian. "Jadi itu adalah pertemuan kalian untuk pertama kalinya???"


Elea mengangguk. "Iya....! Kami bertemu dan tidak pernah menyangka akan berakhir menjadi seperti saat ini...! Jika bukan karena Cahya dan Aditya mungkin kisah kami berdua tidak akan seperti ini...!"


"Gie penasaran dengan awal dari kisah Mama serta Papa Dan, tetapi Gie memiliki satu pertanyaan pada Mama, tadi Mama memulai cerita ketika Mama datang menemui uncle Adit dan Auntie Cahya saat Mama dalam proses bercerai dengan Papa Iel, tetapi Mama tidak menceritakan mengenai apa yang terjadi malam itu di apartemen Papa Iel... Ya Gie sudah tahu dari Papa Iel apa yang dia lakukan saat pulang bersama wanita itu, tetapi Gie ingin tahu apa yang terjadi pada Mama saat itu???" Tanya Gienka penasaran.


"Gienka sayang...! Kenapa kau bertanya mengenai hal itu? Itu hanya akan membuka lagi luka lama Mamamu...!" Gumam Danist.


Gienka melirik ke arah Elea, dan dia merasa bersalah. "Ah maaf Ma, Gie tidak bermaksud seperti itu...!"


Elea menggeleng. "Tidak sayang, tidak apa-apa, jika kau ingin tahu, Mama akan menceritakannya tetapi ingatlah satu hal bahwa semua cerita mama ini tidak membuatmu menjadi membenci Papamu, tidak ada cinta untukmu yang lebih besar selain dari Papa Iel mu...!"


Dan cerita itu mulai mengalir lagi dari Elea. Dimulai dari Malam ketika tragedi itu terjadi. Malam itu, dia menunggu Ariel dengan sangat gelisah karena tidak pernah terjadi sebelumnya Ariel terlambat pulang, dan Ariel juga tidak mengabarinya. Ponselnya aktif tetapi tidak ada jawaban dari lelaki itu. Hingga tidak sadar, Elea ketiduran di sofa.


Elea terbangun ketika mendengar interkom berbunyi, dia lekas beranjak dari sofa setengah berlari dan membuka pintu. Matanya terbelalak ketika melihat Ariel di peluk oleh Viona, perempuan yang pernah di temuinya di pulau saat itu. Ariel terlihat seperti dalam keadaan mabuk, Elea tidak tahu sudah berapa botol minuman yang di konsumsi oleh Ariel, yang dia rasakan hanya bau alkohol yang menguar diari napas Ariel.


"Sayang.... Kau darimana kenapa baru pulang? Kau mabuk ya???" Tanya Elea panik.


Sedetik kemudian, Ariel mendorong Elea ke belakang hingga Elea jatuh ke lantai. Ariel melarang Elea untuk tidak menyentuhnya dengan suara yang begitu keras, membat Elea saat itu takut tetapi dia menahan diri.


Elea berusaha bangkit dan kembali mendekati Ariel untuk membawa suaminya itu masuk. Dengan lembut Elea mengaja Ariel untuk masuk dan beristirahat di dalam lalumeminta Elea pada Viona agar bisa pergi, dan Elea kembali menyentuh kedua bahu Ariel.


Sekali lagi, Ariel mendorong Elea hingga kembali terjatuh. Ariel melepaskan pegangan Viona dan mendekati Elea dengan mata terbelalak penuh dengan kemarahan. Ariel membungkukkan tubuhnya dan menatap Elea tajam.


"Aku bilang jangan menyentuhku, dasar perempuan tidak berguna.....! Apa hak mu juga untuk mengusir Viona dari apartemenku ini? Kau disini hanya menumpang, dan aku memiliki hak tertinggi pada tempat ini, Viona akan menginap disini, apa kau mengerti????" Teriak Ariel lagi.


Mata Elea berkaca-kaca dan takut sekali dengan kemarahan suaminya tetapi dia berusaha untuk menahan diri. Dan bau Alkohol langsung tercium dari mulut Ariel, entah berapa banyak laki-laki itu sudah meminumnya hingga baunya sangat menyengat.


Elea berusaha berdiri lagi dan menahan diri. Dengan suara lembut Elea mencoba bertanya pada Ariel jika Viona menginao disini lalu akan beristirahat dimana mengingat apartemen ini hanya memiliki 1 kamar saja.


"Bodoh...!!!" Teriak Ariel lagi.


Dengan marah Ariel kembali membentak Elea dengan mengatakaan bahwa Viona akan tidur dikamar bersama dengannya.


Mendengar itu tentu saja Elea sangat terkejut. Bagaimana bisa Viona tidur bersama Ariel, sedangkan dia adalah istri Ariel bukan Viona.


"Tentu saja bisa...! Ini apartemenku, ini kamarku, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dan kau tidak bisa melarangku.... Kau mengerti....???" Ariel terus bereriak


Elea mendekati Ariel dan mencoba menyadarkan suaminya yang sesang dalam pengaruh alkohol. "Bagaimana bisa kau akan melakukan itu? Aku istrimu, dan apa kau tidak berpikir bahwa ada aku disini dan kau malah akan mengajak perempuan lain menginap dikamar bersama denganmu....! Sadar Iel... Kau mabuk berat, kau tidak sadar ya dengan ucapanmu...!" Ujar Elea.


Dia kemudian mebalikkan badan dan memandangi Viona. Elea menangkupkan kedua telapak tangannya di depan Viona. Elea meminta Viona agar pulang saja karena ini sudah larut, dan Ariel butuh istirahat.


Tiba-tiba saja, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Elea. Ariel menatap Elea dengan pandangan penuh kemarahan. "Beraninya kau mengusir Viona???? Bukankah sudah ku bilang bahwa kau tidak memiliki hak apapun untuk mengusirnya dari sini... Dasar perempuan bodoh dan tidak berguna, sadar diri kau itu perempuan mandul dan tidak bisa memberiku anak, dasar tollol...!" Ucap Ariel dengan kasar.


Ariel meraih tangan Viona dan mengajak perempuan itu ke kamarnya meninggalkan Elea yang masih berdiri terpaku. Terdengar suara pintu di banting dengan keras. Elea menoleh dan Ariel benar-benar menutup dan mengunci pintu kamar mereka dan berada di dalam sana bersama dengan Viona.


Saat itu juga, hati Elea benar-benar hancur berkeping-keping. Elea terduduk di lantai dan mulai menangis menbayangkan apa yang terjadi di dalam kamar itu. Tidak ada yang bisa dibayangkan oleh seseorang jika melihat pria dan wanita dewasa berada di dalam satu kamar selain mereka melakukan hubungan badan.


★‡★


"Saat itu Mama tidak bisa lagi untuk mendeskrilsikan betapa hancurnya hati, perasaan serta hidup Mama, rasanya hilang dunia Mama" Ujar Elea.


"Semalaman Mama tidak bisa tidur, dan suara mereka berdua dikamar terdengar begitu jelas, seolah keduanya memang sengaja melakukannya untuk menyakiti Mama ketika itu, Mama merasa tidak kuat dan memutuskan pergi dari apartemen itu, dengan langkah gontai, Mama pergi ke lobi apartemen, Mama duduk sendirian di sebuah sofa yang ada disana, menahan diri untuk tidak menangis meskipun hati Mama hancur sekali!"


Gienka kembali berkaca-kaca. "Jadi Mama tidur di lobi???" Tanyanya penasaran.


Elea mengangguk. "Ya, Mama tidur di lobi, Mama ingin pergi tetapi kunci mobil ada di dalam dan Mama tidak sanggup untuk masuk ke dalam apartemen, saat itu pihak keamanan juga sempat menghampiri Mama menanyakan apa yang Mama lakukan tengah malam di lobi, Mama hanya bilang jika malam ini apartemen tidak bisa untuk ditinggali karena satu hal dan mama meminta ijin agar bisa beristirahat di lobi, untungnya mereka mengijinkan....!"


"Apa pada akhirnya Mama kembali kesana lagi???"


"Mama terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul 4 subuh, tidak ada pilihan lain selain kembali, karena Mama juga kedinginan, berharap siksaan Mama sudah berakhir, dan memang sudah sepi, Mama kembali melanjutkan tidur di sofa dalam, tetapi paginya mereka melakukan itu lagi....!"


Elea kembali melanjutkan ceritanya, setelah pagi tiba, hal tak terduga lainnya terjadi lagi dimana Ariel kali ini meaksanya untuk menandatangani berkas percerian dengan cara memaksa. Sampai akhirnya dia menyerah dan menandatangani surat itu, usahanya sia-sia untuk membujuk Ariel. Lelaki itu semakin marah, dan ucapan Ariel mengenai kemandulan membuat Elea begitu terluka sehingga mau tanda tangan. Dan itu menjadi akhir dari pernikahannya dengan Ariel karena Ariel mengusirnya juga Ariel langsung menghilang sampai perceraian tiba.


"Apa saat itu Mama sudah tahu jika Mama hamil aku???" Tanya Gienka lagi.


Elea menggeleng. "Belum sayang, itu terjadi setelah Mama menghadiri sidang pertama...! Setelah itu Mama berusaha menghubungi Papamu tetapi tidak bisa, Mama bingung harus bagaimana, dan Mama akhirnya memutuskan untuk menemui Aditya dan Cahya...!"


"Ya, Mama menemui Aunti dan Uncle Adit, tetapi Mama sudah menceritakan kepada mereka atau belum jika Mama hamil...!"


Elea kembali menggeleng, lalu mulai melanjutkan ceritanya lagi apa yang terjadi setelah kedatangannya di villa Aditya dan Cahya.


#### Back 19 years ago #####


Cahya menekan tombol intercom apartment Elea, lama tidak ada jawaban dari dalam dan Cahya terus mencobanya. Akhirnya pintu dibuka oleh Elea, dan dia terlihat sangat kacau dengan rambut yang acak-acakan dan matanya sembab. Cahya langsung memeluk sahabatnya itu, dan tangisan Elea pecah dipelukannya.


"Semua sudah berakhir Ca, suamiku meninggalkanku, hidupku berakhir Ca"


"El, tenanglah, ayo kita masuk dulu" Cahya merangkul Elea dan membawanya masuk ke tempat tidurnya.


"Semua sudah berakhir, tidak ada yang tersisa lagi, kenapa Ariel melakukan ini padaku, suamiku yang aku cintai telah menghancurkan hidupku dan meninggalkanku"


"Tidak El, semua tidak berakhir, kau masih bisa melanjutkan hidupmu dengan baik, biarkan saja Ariel meninggalkanmu tapi tidak dengan kami semua yang menyayangimu"


"Bagaimana aku harus menjelaskan semuanya pada orangtuaku, aku yang dulu meyakinkan mereka agar menerima Ariel menjadi menantunya tetapi ternyata? Bagaimana Ca, aku telah mengecewakan mereka" Elea semakin terisak karena memikirkan orangtuanya.


"Aduuuhhh kepalaku pusing sekali" Teriak Elea memengang kepalanya sambil meringis kesakitan.


"Ya Tuhan, sebentar, apa ada obat El, dimana kau menaruhnya aku akan mengambilnya"


"Ada dilaci pertama Ca"


Saat Cahya beranjak dari tempat tidur, suara intercom berbunyi dan dia segera membuka pintunya, dan menyuruh Aditya untuk masuk. Cahya menyuruh Aditya mengambilkan air untuk Elea karena Elea sedang sakit kepala dan dia sendiri akan mengambilkan obat.


Cahya membuka laci yang tadi ditunjukkan Elea lalu menemukan obat-obatan disana. Cahya terlihat tidak asing dnegan obat-obatan itu sampai beberapa saat kemudian dia tersadar bahwa dia pernah mengkonsumsi obat itu beberapa waktu yang lalu. Cahya membawa obat-obat itu ke Elea dan matanya menatap tajam kearah Elea.


"El, obat-obat ini, aku sangat mengenalnya, aku pernah mengkonsumsinya beberapa bulan yang lalu, katakan padaku El apa kau sekarang...??? Jangan katakan jika saat ini kau sedang hamil"


Sontak Aditya yang sedang berdiri membawa gelas berisi air terkejut mendengar ucapan istrinya dan hampir saja menjatuhkan gelas yang dibawanya. Elea terdiam menatap Cahya, dan matanya mulai berkaca-kaca.


Elea mulai menangis lagi saat Cahya membahas kehamilan. Elea memeluk Cahya dan mengatakan bahwa memang dia sedang hamil saat ini dan usia kehamilannya masuk minggu ke sembilan. Cahya melepaskan pelukan Elea dan sekali lagi dia mentap tajam kearah sahabatnya itu.


"Apa Ariel tahu tentang ini?" Suara Cahya terdengar lugas dan tatapannya menajam.


Elea hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak. Cahya menundukkan kepalanya tidak percaya, sedangkan Aditya hanya diam menatap kedua perempuan itu. "Bagaimana bisa El kau tidak mengatakannya, Astagfirullah El ini tidak benar El ini sangar tidak benar, seorang lelaki tidak bisa menceraikan istrinya yang sedang hamil, ya Tuhan Elea" Cahya mengguncang kedua bahu sahabatnya itu.


"Bagaimana bisa aku memberitahunya, sedangkan dia menutup semua akses komunikasi denganku dan katakan padaku kenapa kalian berdua datang menemuiku, apa kalian tahu sesuatu tentang Ariel? Katakan apa yang kalian ketahui?"


Cahya terdiam dan mengarahkan pandanganna ke Aditya, dia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya Ariel lakukan saat ini dan dimana dia, itu pasti akan menambah kesedihan Elea.


"Ti...daakkk El, kami datang.... Hanya karena mengkhawatirkanmu saja, ya kan sayang" Cahya menjawab dengan terbata.


Elea melirik kearah Aditya lalu menatap Cahya menuduh. "Kau bohong Ca, aku sudah bersahabat lama denganmu, kau tidak pernah berbohong dan jika kau berbohong aku sangat mudah menebaknya, katakan apa yang terjadi, ayo katakan!!!" Elea setengah berteriak membuat Cahya sedikit terlonjak.


Cahya berdiri menghampiri Aditya dan menyuruh suaminya itu saja yang menceritakan semuanya. Elea mengarahkan pandangannya ke arah mereka berdua lalu terisak "Katakan padaku apa yang kalian ketahui, ku mohon" pinta Elea sambil menggabungkan kedua telapak tangannya dihadapan Cahya dan Aditya. Mau tidak mau akhirnya dengan terpaksa Aditya menceritakan semuanya tentang keberadaan Ariel sekarang dimana dan bagaimana dia mendapatkan informasi tentang itu.


Elea yang tadinya menangis tersedu-sedu tiba-tiba tangisannya itu berganti menjadi tertawa. Dia mengusap kasar airmatanya yang menetes dipipinya.


"Hahaha ini sangat lucu, dan sekali lagi aku seperti orang bodoh disini menyaksikan semua drama ini, astaga...! Sekali lagi aku menangisi seseorang yang sedangkan orang itu berbahagia diatas penderitaanku, kenapa bisa aku jatuh cinta dengannya, astaga"


Elea kembali terisak dan mengacak-acak rambutnya, Cahya langsung memeluk sahabatnya itu lagi menenangkannya. "Aku bodoh sekali Ca, Ariel sudah menghancurkan hidupku, aku sangat bodoh, aku harus pergi meninggalkan semua kekacauan ini" Ucap Elea dan langsung berlari menuju lemarinya, mengambil koper dan mengeluarkan semua pakaiannya.


Cahya menyusul dan mencoba menghentikannya dan menenangkan sahabatnya itu agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Elea kembali mengeluhkan kepalanya pusing dan berlari ke kamar mandi lalu muntah disana. Cahya menyusulnya sambil terus menenangkannya, dan setelahnya Elea merasakan kram diperutnya. Cahya bergegas membawa Elea kembali ke tempat tidurnya dan menyuruhnya untuk meminum obatnya agar kondisinya tidak semakin buruk. Aditya hanya bisa terdiam melihat betapa buruknya kondisi Elea saat ini dan rasanya dia ingin sekali menghajar Ariel jika nanti bertemu dengannya sudah membiarkan seorang perempuan mengalami hal semacam ini, dia tidak berhenti mengutuk Ariel.


"Sayang, kau harus segera memberitahu Ariel tentang ini, bagaimanapun caranya, dia tidak bisa membiarkan sahabatku seperti ini" Suara Cahya mengalihkan lamunan Aditya yang sedang duduk disofa.


"Tidaaakkk..... Adit! Kau tidak perlu melakukannya" Seru Elea.


"Tapi El?" Cahya mencoba membantah.


"Kalian berdua jangan melakukan apapun, atau aku akan marah pada kalian"


"Baiklah kami tidak akan melakukan apapun, sekarang kau beristirahatlah tenangkan pikiranmu agar tidak mempengaruhi bayimu, ayo berbaringlah" Cahya membantu Elea berbaring dan menyelimutinya.


Kurang dari 30 menit Elea sudah tertidur efek dari obatnya langsung bereaksi, semoga saat bangun nanti kondisi Elea bisa lebih baik lagi.


***


Elea terbangun dan duduk bersandar di ranjangnya, ada suara dikamar mandi sepertinya Cahya masih ada disini, pikirnya. Lama Elea diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak sadar Cahya sudah berdiri disisi ranjangnya dan menegurnya menanyakan keadaanya. Elea merasa sudah lebih baik dari sebelumnya dan meminta maaf pada Cahya atas sikapnya tadi dan karena sudah merepotkannya.


Saat Elea keluar dari kamar mandi dia mencium aroma makanan yang sangat dikenalnya.


"El, duduklah ayo kita makan, Adit sudah membelikan makanan kesukaan kita dari Adore Seafoods, kau pasti belum makan kan?" Cahya menghampiri Elea dan mengajaknya ke meja makan.


Cahya mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Elea dan juga Aditya. Elea pun memakan makanan itu, tidak bisa memungkiri jika memang dia sangat lapar bahkan sejak pagi perutnya belum terisi oleh apapun hanya 1 buah apel yang dia makan tadi. Cahya tersenyum melihat sahabatnya itu mau makan.


Setelah menghabiskan makanannya, Elea mengarahkan pandangannya ke Cahya dan Aditya.


"Ca, bisakah kau membantuku berkemas setelah ini" Ucapnya pelan.


"Berkemas? Memangnya kau mau kemana El?" Tanya Cahya bingung.


"Aku ingin pergi jauh dari sini dan memulai kehidupanku yang baru lagi, aku tidak mau masalaluku terus membayangiku dibelakang jika aku terus berada disini, aku juga akan resign dari Direct Publisher"


"Lalu kau akan pergi kemana El??"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin segera pergi dari sini dan menjauh dari semuanya, aku ingin hidup tenang bersama bayiku dan membesarkannya sendiri"