
Melihat kemarahan Aditya, Axel tertunduk sedih tetapi tidak mengatakan apapun atau membantahnya seperti yang pernah dia lakukan dulu pada orangtua mantan kekasihnya. Dulu dia berusaha meyakinkan mereka bahkan memohon tetapi yang di dapat Axel hanyalah penghinaan yang sampai saat ini membekas dihatinya. Axel tidak ingin itu terulang lagi jadi lebih baik dia pergi saja sebelum mendengar hal-hal buruk lagi tentangnya. Axel mulai menyadari bahwa dia sangat salah sudah memiliki perasaan pada Kyra, harusnya dia menahannya saja seperti sebelumnya, tetapi ini sudah terlanjur.
Axel berdiri lalu menangkupkan kedua telapak tangannya dan meminta maaf kepada semua orang juga pada Kyra. Axel juga mengatakan permisi dan melangkah pelan untuk keluar dari rumah Kyra.
Gienka hanya menatap sedih kepergian temannya itu, Axel ternyata benar-benar menyukai Kyra sampai berani melakukan hal sebesar ini padahal belum tentu Kyra juga menyukainya. Bagi Gienka tentu ini adalah keputusan yang berani diambil oleh Axel sejauh ini, sayangnya mungkin Axel terlalu buru-buru sehingga keadaan menjadi seperti ini. Andai saja Axel bisa bersabar sebentar dan bisa memenangkan hati Kyra lebih dulu pasti akan mudah juga memenangkan hati Apap dan Amamnya, karena Gienka yakin bahwa calon mertuanya itu adalah orang yang sangat baik dan tidak pernah memandang orang lain rendah. Hanya saja saat ini waktunya belum tepat.
Axel sudah hampir sampai di depan pintu tetapi Aditya memanggilnya.
"Axel....!!!!" Teriak Aditya, Axel pun menoleh ke belakang lalu membalikkan tubuhnya dan memandang Aditya yang berdiri.
"Kau memang anak kurang ajar, berani sekali mengatakan hal itu kepada kami dan meminta putri kami begitu saja, apa kau tidak berpikir dulu sebelum mengatakan itu??!!! Ketika kau meminta seorang putri dari orang tuanya kau harusnya juga datang bersama dengan orang tuamu, bukan datang sendiri seperti ini. Sekarang pergi dari rumahku dan aku tunggu kedatanganmu besok dengan orang tuamu, jika kau benar-benar serius dengan putriku..! Pergilah....!" Teriak Aditya lagi.
Mendengar itu, senyum Axel langsung mengembang di wajahnya, dengan cepat dia berlari ke arah Aditya dan langsung memeluknya. "Thanks om thanks.....! Aku janji besok aku akan datang lagi kesini bersama kedua orang tua ku....! Thanks....!"
"Aku pegang janjimu, datang dan buktikan keseriusanmu pada kami, dan ingat jangan coba-coba mencari celah untuk melakukan sesuatu dengan niat yang buruk, sekecil apapun itu aku tidak akan mentolerirnya... Sekarang pergilah...!"
Dengan perasaan berbunga Axel pun berpamitan lagi untuk pulang dan memberitahu kedua orangtuanya tentang hal ini. Axel yakin mereka juga akan setuju. Dan mengenai keluarga Kyra, Axel sekarang benar-benar percaya jika memang mereka adalah orang yang sangat baik seperti apa yang pernah di ungkapkan Gienka padanya.
Berbeda dengan Axel yang bahagia, Kyra justru kesal dan memprotes apa yang dilakukan Apapnya pada Axel. "Bagaimana bisa Apap menyuruh Axel membawa orang tuanya kesini? Aku dan Axel hanya berteman dan tadi aku hanya bercanda, tetapi kenapa dia serius sekali dengan candaanku??"
"Menurutmu itu memang sebuah candaan Ra, tetapi sudah jelas bahwa dia tidak menganggapnya candaan, dia langsung berani mengatakannya, itulah yang namanya laki-laki gentle, Apap dulu juga pernah melakukan itu pada Amammu bahkan itu kemarin juga dilakukan oleh Kakakmu pada Gienka"
"Tapi kan berbeda cerita Pap? Apap menikahi Amam karena ingin menyelamatkan harga dirinya sedangkan Ky menikahi Gienka karena mereka saling mencintai dan sudah bersahabat sejak kecil sudah mengenal satu dengan yang lainnya, tetapi aku dan Axel baru mengenal dan bertemu hanya beberapa kali saja..! Bagaimana bisa Apap meminta seperti itu padanya??"
Aditya tersenyum. "Tidak ada yang salah dengan niat Axel, dia menyukaimu lalu mengatakannya bukan padamu tetapi kepada seluruh anggota keluargamu, Apap memintanya seperti itu karena Apap ingin melihat seberapa besar dia memiliki keseriusan padamu. Bertahun-tahun kau berhubungan dengan Zayan tetapi sekalipun dia tidak pernah melakukan apa yang dilakukan Axel tadi padahal Apap sudah lama menunggu hal itu! Sekarang tenanglah dan kita lihat saja besok!"
Aditya kemudian bertanya pada Gienka tentang Axel dan keluarganya mengingat Axel adalah teman Gienka sudah tentu sedikit banyak Gienka mengetahuinya. Gienka pun menjelaskan sejauh yang dia tahu Axel memanglah baik begitu juga keluarganya, hanya saja jika Aditya ingin mengetahui lebih detailnya maka harus bertanya kepada Papanya yaitu Ariel karena Ariel mengenal baik kedua orangtua Axel.
Mendengar itu, Aditya pun nanti akan menghubungi Ariel dan menanyakan semuanya. Aditya sendiri pernah mendengar jika Axel memang memiliki kepribadian baik dan tidak pernah terjerat permasalahan yang serius, dia sangat profesional dalam pekerjaannya, dan selalu sepenuh hati melakukannya, itu juga yang membuat Axel menjadi idola banyak orang. Dan itu juga menjadi alasan Aditya kenapa membeli Axel untuk masuk ke klub sepak bola miliknya. Untuk lebih tahu detail tentang Axel ataupun keluarganya memang Aditya harus menghubungi calon besannya. Aditya kemudian meninggalkan ruang tamu untuk ke kamarnya.
Kyra duduk di sofa dengan wajah sedih, bingung, dan kesal dengan apa yang terjadi. Ini pertama kalinya dia melihat Apapnya bersikap seperti ini padahal sebelum-sebelumnya Apapnya itu selalu mengajaknya berdiskusi lebih dulu. Bukan karena apa, tetapi Kyra merasa bahwa ini terlalu cepat dan dia juga baru mengenal Axel, lalu hal sebesar ini justru dilakukan Apapnya.
Cahya yang melihat kebingungan putrinya pun langsung duduk disebelahnya dan mencoba menenangkannya. Cahya juga tidak menyangka Aditya bisa mengambil keputusan seperti itu tetapi dia yakin suaminya itu sudah memikirkan sesuatu yang baik untuk Kyra. "Kyra sayang....! Tenanglah....! Apapmu pasti tahu apa yang sedang dilakukannya, dia tidak mungkin menjerumuskanmu ke hal yang akan menyakitimu, percaya saja pada Apapmu? Oke???"
Kyros berdiri dan duduk disebelah adiknya kemudian memeluknya.
"Iya Ra...! Apap pasti sudah berpikir dulu sebelum memutuskan itu, lagipula kenapa kau takut sekali? Kau tidak akan dipaksa untuk menikah, tidak mungkin Apap akan melakukan hal itu padamu, kau kesayangannya pasti dia akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaanmu, aku tahu bagaimana Apap, dia punya caranya sendiri, lagipula semua keputusan nanti tetap ada padamu! Tidak ada yang salah dengan niat Axel, dia menyukaimu dan itu bagus ketika dia mengatakannya langsung di depanmu dan kita semua, kalau kau tidak atau belum menyukainya kau bisa mengambil keputusannya nanti, kita lihat saja apa yang akan dilakukan Apap besok!" Ujar Kyros sambil mengusap bahu Kyra lembut.
Ya, ucapan Kyros dan Amamnya memang ada benarnya, tidak mungkin Apapnya akan membuatnya terjebak. Kyra saat ini hanya merasa bingung saja, dan masih tidak menyangka jika Axel seberani itu. Kyra sendiri sebenarnya juga menyukai Axel karena baik dan menyenangkan ketika diajak mengobrol, hanya saja Kyra tentu butuh waktu mengenal Axel lebih jauh lagi. Kyra bingung dan takut jika besok tiba-tiba Apapnya atai Axel memintanya agar segera menikah juga seperti Kyros dan Gienka, hanya itu ketakutan Kyra sebenarnya. Dan Kyra yakin bahwa Apapnya pasti akan melakukan yang terbaik untuknya. Kyra akhirnya menjadi sedikit lebih tenang.
★★★★★★
Axel mengemudikan mobilnya dengan perasaan penuh kebahagiaan. Lampu hijau sudah dia dapatkan dari keluarga Kyra, dan entah kenapa Axel kali ini yakin bahwa dia tidak akan lagi mendapatkan perlakuan yang sama seperti dulu ketika menghadapai keluarga Celia. Keluarga Kyra terlihat berbeda dan mereka semuanya seperti orang yang baik. Dan Gienka juga beberapa kali mengatakan bahwa keluarga Kyros dan Kyra sangat baik, dan tidak pernah memandang seseorang dari status dan jabatan. Dan sekarang Axel hanya perlua meyakinkan kedua orang tua nya agar besok mau ikut bersama nya mendatangi keluarga Kyra.
Mobil Axel memasuki halaman rumahnya. Axel bergegas keluar dari dalam mobilnya dan berlari masuk ke rumahnya. Dia mengarahkan seluruh pandangannya ke berbagai arah mencari keberadaan kedua orang tua nya. Dan menemukan mereka sedang berada di taman belakang. Axel pun berlari menghampiri mereka berdua.
"Ma Pa.... " Panggil Axel dan menarik kursi duduk melingkar berhadapan dengan kedua orang tua nya.
"Kau sudah pulang??? Darimana saja???" Tanya Mama Axel.
"Aku dari kantor polisi..."
"Kantor polisi??? Untuk apa???" Tanya Papa nya.
"Membantu temannya Gienka, dia ada masalah kemarin saat di pesta ku, ada sebuah insiden dan Gienka memintaku membantu nya untuk menjadi saksi jadi aku kesana... " Axel menjelaskan.
"Masalah apa??? Kenapa kau tidak menceritakan kepada kami???" Mama Axel terlihat khawatir.
Axel tersenyum. "Biasalah Ma, perempuan jaman sekarang berantem karena berebut laki-laki...! Oh iya, Axel ingin mengatakan sesuatu dan Axel harap Mama dan juga Papa mau membantu Axel, karena ini sangat penting sekali... "
"Membantu apa????" Tanya kedua orang tua Axel bersamaan.
"Ehhh sebenarnya tadi aku baru saja mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis di depan keluarga nya.. "
"Apa....?????" Seru kedua orang tua nya bersamaan.
Axel mengangguk. "Dia sangat cantik, manis, baik dan juga luar biasa, aku sangat menyukai nya, dan tadi aku mengantarnya pulang, bertemulah aku dengan keluarga nya dan aku mengungkapkan perasaan ku padanya di depan mereka... Dan Papa nya memintaku agar besok membawa kalian berdua untuk bertemu mereka jika aku benar-benar mencintai putri nya... Jadi aku harap Mama dan Papa mau datang bersamaku ke rumah gadis itu dan menemui keluarga nya... "
"Tidak Ma.... Ini berbeda... Mereka sangatlah baik... Dia adalah sahabat Gienka, sahabat baiknya, Gienka juga sangat mengenal keluarga mereka... Bahkan Gienka sebentar mau jadi menantu dari keluarga itu.. Gienka kan pacarnya kakak gadis itu Ma, mereka akan menikah sebentar lagi, Mama dan Papa pasti sudah mendengar dari keluarga Gienka kan mengenai pernikahan mereka???"
"Jadi menantu keluarga itu??? Maksudmu keluarga Sahasya??? Kau menyukai anak dari keluarga itu????" Tanya Papa Axel
Axel tersenyum dan mengangguk.
"Astaga Axel....??? Apa kau tidak berpikir sebelum melakukan sesuatu??? Kau baru mengungkapkan perasaanmu pada gadis itu, dan sekarang kau kembali melibatkan kami??? Kau lupa dengan apa yang dulu terjadi pada keluarga kita??? Kau sudah tidak waras, apa kau tidak tahu siapa keluarga Sahasya itu???? Mereka keluarga terpandang dan sangat kaya raya.. lagi dan lagi kau ingin mempermalukan kami... tidak Xel, masih banyak gadis yang bisa kau cintai dari keluarga yang biasa saja seperti keluarga kita, bukan anak dari milyader keluarga Sahasya...??" Ujar Papa Axel.
"Benar apa yang di katakan oleh Papa mu sayang, kita jangan lagi berurusan dengan keluarga seperti mereka, kau baru mengungkapkan perasaanmu dan belum di Terima kan?? Jadi kau masih memiliki kesempatan untuk berpikir dan tidak melanjutkan semua ini... " Mama Axel menimpali.
"Tapi Ma??? Ini berbeda, keluarga Kyra berbeda dengan keluarga Celia, Papa nya sendiri yang memintaku agar mengajak kalian berdua menemui mereka jika aku ingin serius menjalin hubungan dengan Kyra... Axel yakin kok tidak akan ada hal yang seperti dulu lagi...! Please temani Axel besok ya???"
"Tidak...!!! Papa tidak mau... Carilah perempuan lain. yang seorang dengan kita, banyak bukan, kenapa harus anak dari keluarga Sahasya... Ya, Papa tahu mereka terkenal dengan kebaikannya selama ini, tetapi kita harus sadar diri Xel, kita ini siapa, kau berhubungan dengannya lalu apa kata orang??? Kau senang jika ada yang mengatakan kalau kau hanya menumpang hidup pada mereka...?? Sudahlah... Lupakan saja dia..." Ujar Papa Axel lagi.
Wajah Axel tertunduk dan tampak sedih. Pengalaman buruk membuat keluarga nya menolak keinginannya untuk kedua kali nya. Tetapi Axel sangat yakin bahwa keluarga Kyra tidak akan pernah memandang keluarga nya rendah seperti apa yang pernah di lakukan keluarga Celia. Axel bingung harus bagaimana, mengingat dia sudah berjanji pada Awalnya Kyra bahwa besok dia akan datang bersama kedua orang tua nya. "Oh God.... Bagaimana ini???? Kalau Mama dan Papa menolak, itu artinya Kyra dan keluarga nya pasti akan kecewa sekali... " Gumam Axel dalam hati. "Please help me God... " Axel memejamkan matanya berharap Tuhan memberinya petunjuk atau kemudahan untuk menghadapi masalah ini.
Axel memilih diam dan terus menundukkan kepala nya. Begitu juga dengan kedua orang tua nya yang diam dan saling melempar pandangan. Mereka benar-benar tidak bisa menuruti keinginan Axel, bukan lantaran takut di hina, tetapi takut Axel akan mengalami patah hati lagi untuk kedua kali nya. Uh ntuk saat ini cinta Axel belum terlalu dalam pada gadis bernama Kyra itu, jadi Axel masih bisa bangkit dan mencari perempuan lain lagi untuk di cintai. Berbeda dengan Celia yang dulu sangat di cintai oleh Axel serta kebersamaan mereka yang sudah berjalan selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba ponsel Papa Axel berdering. Dan mendapati Ariel ternyata yang menghubungi nya. "Pak Ariel... " Gumam Papa Axel.
"Angkat saja, mungkin penting... " Mama Axel menimpali.
Papa Axel berdiri dan menjauh dari istri dan putra nya untuk berbicara dengan Ariel.
"Sudahlah Nak, kau bilang saja kalau kau tidak bisa datang bersama kami, perasaanmu belum terlalu jauh jadi kau bisa mudah untuk melupakannya.... Mama tidak suka jika ada orang yang mengatakan hal buruk padamu... Carilah perempuan lain... " Ucap Mama Axel mencoba menasehati lagi putranya.
"Ma... Tadi aku sudah bilang, keluarga mereka baik, seperti hal nya keluarga Gienka pada kita... Kalian bisa tanya pada om Ariel... Aku sangat menyukai Kyra, bukan karena dia kaya, tetapi karena dia baik dan pribadi nya sangat menyenangkan..."
"Tidak Xel.... Untuk kali ini kami harus menolak keinginanmu..."
Axel menatap Mama nya dengan wajah memelas, berharap Mama nya mau mengerti tetapi sayangnya Axel tidak mendapatkan itu. Mama nya justru memalingkan wajah. Karena di tolak, Axel pun berdiri dan pergi meninggalkan Mama nya. Axel naik ke kamarnya dengan perasaan penuh kekecewaan.
★★★★★★
Kyros menjemput Gienka di kantornya dan membawanya ke rumah. Gienka sebenarnya merasa khawatir dengan Kyra sejak kemarin, takut jika sahabatnya itu berpikir terlalu berlebihan menghadapi masalahnya. Dan semalam Gienka juga sudah berbicara dengan Axel, meminta agar Axel bisa memberi ruang pada Kyra dan tidak memaksanya, mengingat saat ini Kyra sedang dalam posisi yang bimbang dan takut. Gienka juga menjelaskan pada Axel bahwa dia sepenuhnya mendukung niat baik Axel untuk bersama Kyra tetapi dengan catatan Axel tidak boleh terlalu memaksakan kehendaknya pada Kyra. Bersyukurnya Gienka karena Axel memahami semua yang diucapkannya dan sangat mengerti keadaan Kyra.
Sampai di rumah Kyros, ternyata mobil Kyra sudah berada di rumah. Gienka langsung masuk dan menemui Kyra yang ada di kamarnya. Gienka melempar senyumnya ketika menemukan Kyra sedang duduk di kursi kerjanya dan ada laptop didepannya.
"Hai Ra....!" Sapa Gienka.
"Hai Gie....! Masuklah...!"
Gienka duduk di sofa dan Kyra beranjak dari kursi kerjanya menghampiri Gienka. Tidak ada lagi ketegangan di wajah Kyra, membuat Gienka senang melihatnya.
"Aku masih tidak menyangka Axel bisa seberani itu Gie...! Kau pasti sangat mengenalnya....! Seperti apa dia? Aku harap kau mengatakan dengan jujur jangan ditambah atau dikurangi, karena itu yang akan menentukan jawabanku nanti hehehe...!"
Gienka terkekeh. "Aku akan mengatakan semuanya apa adanya padamu tentang Axel karena aku juga ingin yang terbaik untukmu, adik iparku, juga untuk Axel sahabat baikku! Well Axel mengatakan semuanya dengan benar jika dia mulai menyukaimu sejak pesta itu Ra, hanya saja dia sempat sedikit parno karena tahu siapa dirimu dan siapa keluargamu, dia punya pengalaman buruk dengan penolakan dari keluarga seperti keluargamu!"
Kyra mengernyit tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Gienka. Mendapatkan ekspresi bingung Kyra Gienka pun menjelaskan semuanya pada Kyra tentang permasalahan yang pernah menimpa Axel. Kyra mendengarkan dengan baik semua cerita dari Gienka. Dan tidak menyangka jika hal seperti itu ternyata masih ada, dimana masih ada orang-orang yang menyepelekan suatu pekerjaan orang lain hanya karena tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.
****
Malam tiba....
Mobil Axel memasuki halaman rumah Kyra. Axel memenuhi janjinya untuk datang bersama kedua orang tua nya. Walaupun kemarin permintaannya di tolak kedua orang tua nya tetapi akhirnya mereka mau menemani Axel datang kesini setelah Ariel menghubungi Papa Axel. Ariel menjelaskan semua nya tentang keluarga Kyra dan meyakinkan Papa Axel bahwa keluarga Sahasya adalah orang yang sangat baik dan juga tidak pernah menghina orang yang memiliki status di bawah mereka. Ariel menjelaskan segala nya tentang keluarga Kyra serta sikap Aditya dan tantangan yang Aditya berikan pada Axel. Dimana Aditya ingin menguji keseriusan Axel. Aditya ingin anaknya memiliki seorang pasangan yang bertanggung jawab dan mencintai putri nya dengan tulus. Dan jika Axel bisa memenuhi semua itu, tentu keluarga Aditya akan menerima Axel dengan baik. Dan Ariel juga memberitahu Papa Axel bahwa dia di minta oleh Gienka untuk meyakinkannya karena Gienka tahu bahwa mungkin permintaan Axel kepada kedua orang tuanya untuk menemui keluarga Kyra akan mengalami kesulitan karena mungkin mereka akan berpikir bahwa hal yang seperti dulu akan terjadi. Benar saja apa yang di takutkan oleh Gienka itu bahwa orang tua Axel menolak permintaan Axel. Beruntungnya Ariel bersedia untuk membantu Axel menjelaskan tentang siapa keluarga Kyra atau keluarga Sahasya itu. Setelah mendengar itu, Papa Axel pun setuju dan akan menemani Axel untuk datang hari ini ke rumah Kyra.
Akhirnya tamu yang ditunggu-tunggu datang juga. Axel benar-benar datang dengan kedua orang tuanya. Mereka langsung disambut oleh keramahan dari keluarga Kyra. Aditya sendiri sudah mendapatkan informasi dari beberapa orang selain Ariel tentang keluarga Axel, dan informasi itu sangat baik tentang mereka. Bagi Aditya itu cukup membuatnya tenang jika nanti Kyra menerima Axel dan semua keputusan tetap berada di tangan Kyra.
Mereka akhirnya mengobrol, Aditya juga menjelaskan kenapa dia meminta Axel agar datang membawa orangtua nya yaitu dia benar-benar ingin melihat keseriusan Axel pada Kyra. Aditya tidak mau jika putri nya dijadikan mainan oleh laki-laki, juga dimanfaatkan. Aditya ingin yang terbaik untuk Kyra putri satu-satunya yang begitu dia cintai. Apa yang sudah dilakukan oleh Zayan pada Kyra tidak boleh lagi terulang.
"Kyra sayang...! Axel sudah memenuhi janjinya datang kesini bersama dengan orang tuanya yang artinya Axel menyanggupi syarat yang Apap berikan, tetapi semua keputusan tetap berada di tanganmu, kau menerima Axel atau tidak terserah, atau mungkin kau ingin memberi kesempatan padanya untuk saling mengenal lebih dulu, semua terserah padamu, Axel juga siap menerima semua keputusanmu! Satu yang pasti, Apap cukup menyukai Axel...!" Ujar Aditya.
Kyra menoleh ke arah Aditya dan Cahya juga ke arah Oma dan Opa nya yang duduk di sofa sebelah kanan. Dia harus mengambil keputusan yang terbaik menurutnya karena ini juga untuk kebahagiaannya. Dengan sekali tarikan napas yang panjang Kyra akhirnya menerima Axel dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi tetapi dengan syarat bahwa hubungan ini tidak boleh dijalankan dengan main-main karena Kyra berpikir mereka sudah dewasa dan tidak perlu lagi bermain-main dengan sebuah hubungan. Jika hubungan ini berhasil dalam satu bulan atau kurang dari itu, Kyra tidak akan menolak jika Axel berniat untuk mengajaknya menikah, karena Kyra tahu bahwa menikah adalah salah satu ibadah yang baik yang harus di segerakan jika memang satu sama lain sudah siap.
Kyra mengambil keputusan ini setelah semalam dan seharian ini berpikir keras. Banyak pergolakan bathin juga Kyra sendiri menimbang semua baik buruknya dan juga ingat dengan pengalaman yang pernah dilalui kedua orangtuanya. Kyra berharap bisa seperti Amamnya yang dulu pernah berjuang dan bangkit dari keterpurukan setelah mengalami penolakan. Amamnya bisa mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki yang tepat. Dan Axel semoga bisa seperti Apapnya yang bertanggung jawab dan memiliki cinta yang luar biasa untuk Amamnya. Kyra benar-benar akan mencoba mengenal Axel lebih dalam sebelum nanti dia memutuskan apakah hubungan ini akan berlanjut atau tidak. Setidaknya saat ini dia mencoba menghargai keberanian dari Axel.