
"Baik pak Andi, kami sudah menyiapkan seluruh sajian Teh produksi kami dan bapak bisa langsung mencoba rasanya" Ucap Danist.
Ariel tersenyum mendengar Danist memanggil nya Andi, tetapi itu tidak masalah bagi Ariel karena memang nama depannya adalah nama dari Ayahnya dan itu biasa terjadi, dimana kliennya juga sering memanggilnya dengan Andi. Ariel menganggukkan kepalanya dan dia juga tidak sabar mencoba berbagai teh yang ada di tempat ini.
Seorang pegawai membawa nampan berisi beberapa cangkir berisi teh dan di Cangkir itu juga ada tulisan nama Teh yang diseduh. Danist mempersilahkan Ariel untuk mencoba satu persatu rasa dari teh itu.
Ariel dengan seksama memperhatikan satu persatu teh yang disajikan, lalu mengangkat satu cangkir, mencium aroma nya baru kemudian menyesap dan merasakannya.
Ariel sudah menikmati semua teh yang disajikan, dia tersenyum merasa sangat senang dan puas karena keseluruhan memiliki rasa, aroma serta karakter yang berbeda-beda.
"Saya sangat menyukai ini semua, produk kalian memang sangat luar biasa, aku menginginkan semuanya, selain untuk cafe terbaruku aku juga berniat untuk menambah menu di restoran restoranku serta hotelku, jadi aku harap perusahaan ini bisa menyediakan semuanya dengan baik" Ucap Ariel.
"Tentu saja pak, dengan senang hati kami akan menyediakan semuanya, saya sangat berterima kasih atas kunjungan anda dan kerja sama kita, baiklah, kami akan menyiapkan surat perjanjian kerja sama kita, sambil menunggu disiapkan, jika bapak berkenan, saya akan mengajak bapak berkekeliling diperkebunan kami"
Tentu saja Ariel dengan senang hati menerima ajakan Danist untuk berkeliling. Disana Ariel bisa memastikan bahwa memang semuanya dikerjakan dengan sangat baik.
****
Berkelilinglah mereka, Danist menunjukkan semua proses pemetikan daun teh, sekaligus menjelaskan daun teh yang bagaimana saja yang digunakan untuk setiap olahan teh, baik yang white tea, black tea atau yang lainnya. Dan Ariel tampak serius mendengarkannya. Perkebunan itu begitu luas membuat Ariel takjub, bisnis keluarga Aditya memang sudah tidak diragukan lagi.
Ponsel Danist berbunyi dan dia langsung mengangkatnya, ternyata seluruh berkas kerja sama dengan perusahaan Ariel sudah selesai dikerjakan. Danist pun mengajak Ariel untuk kembali ke kantor dan menandatangi perjanjian kerja sama mereka.
"Maaf pak Andi, saya permisi keluar sebentar untuk mengambil stempel di ruangan bagian administrasi, kebetulan dia sudah tidak masuk 3 hari ini jadi saya harus mencarinya sendiri diruangannya, mohon tunggu sebentar"
Danist keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Elea. Dia langsung mencari stempel perusahaan disana, Danist membuka laci meja kerja Elea dan mencari-cari tetapi dia tidak menemukannya. Danist mengambil ponselnya dan akan menghubungi Elea untuk menanyakannya.
Beberapa saat kemudian, Danist kembali ke ruangannya.
"Maaf pak, ternyata stempelnya terbawa oleh staff ku yang sedang sakit, tetapi dia akan mengantarnya kesini sekarang juga, mungkin akan tiba kurang dari 5 menit karena tempat tinggalnya tidak jauh dari sini" Danist menundukkan kepala nya memohon maklum kepada Ariel. Ariel pun mengangguk memakluminya dan akan menunggu.
Hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat Danist yang sedang mengobrol dengan Ariel, teralihkan.
"Masuk!" Sahut Danist dari dalam dan seseorang langsung masuk ke ruangan itu.
"Permisi, ini stempel nya pak, maaf kemarin saya benar-benar lupa".
"Its okay El, thanks ya" Ucap Danist
Mendengar suara perempuan itu, Ariel yang sedang duduk berhadapan dengan Danist langsung memutar kursinya dan terkejutlah Ariel melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang. Hal yang sama mungkin juga dirasakan Elea, mulutnya ternganga dan refleks langsung memundurkan langkahnya.