I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 32 (Kemarahan Elea)



★★★★★★


Ariel dan Elea duduk disisi yang berbeda, menunggu dokter keluar. Mereka hanya saling diam, tetapi Elea tidak berhenti terisak, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dada Elea semakin sesak dan ketakutan-ketakutan mulai mengisi seluruh pikirannya hingga dia terus saja menangis memikirkan keadaan Danist.


Aditya kemudian datang dan menghampiri Ariel dan Elea. Aditya menanyakan keadaan Danist, tetapi Ariel menggelengkan kepalanya, karena dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi di dalam karena dokter belum juga keluar. Ariel juga bertanya kepada Aditya tentang Gienka dan Friddie. Aditya menjelaskan jika kedua anak itu sudah dibawa pulang oleh Cahya, dan Cahya juga akan mengabarkan ini kepada Mamanya Danist, kemudian nanti supir akan mengantarnya kesini.


Dokter akhirnya keluar, Ariel, Elea dan Aditya langsung berdiri dan menanyakan perkembangan keadaan Danist saat ini. Dokter telah berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi di luar, tetapi kondisi Danist sangatlah kritis karena terjadi pendarahan juga di dalam kepalanya dan harus segera dilakukan operasi. Akan tetapi operasi itu sangatlah beresiko, jika berhasil pun kondisi Danist bisa up and down dan tidak akan bisa langsung pulih, karena pasti membutuhkan waktu yang lama.


"Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan kakakku Dok, kumohon selamatkan dia, jika perlu kalian bisa memanggil dokter terbaik yang ada di kota ini atau dari kota lain, panggil saja dan berapapun biayanya aku akan membayarnya" Ujar Ariel.


"Silahkan urus administrasi dan tanda tangani surat persetujuan untuk operasi ini"


Ariel kemudian pergi bersama perawat untuk mengurus administrasi operasi Danist. Aditya mencoba menghibur Elea dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Setelah mengurus semua administrasi, Ariel kembali menemui Elea dan Aditya, mengatakan bahwa Danist akan dibawa ke ruang operasi sebentar lagi.


"Iel, apa kau sengaja melakukan semua ini untuk menyakiti suamiku???" Elea memandang Ariel dengan tatapan penuh kemarahan. Sejak tadi dia mencoba menahan serta menunggu penjelasan dari Ariel tetapi lelaki itu tidak mengatakan apapun kepadanya, membuatnya semakin marah dan berpikir bahwa semua kejadian ini pastilah sengaja dilakukan oleh Ariel, entah untuk tujuan apa. Dan saat ini mereka bertiga sedang berada di luar ruang operasi, menunggu Danist.


"Sengaja melakukan ini???? Apa maksudmu El??? Aku sendiri tidak tahu jika kalian ada disana" Ariel membalik pertanyaan Elea.


"Kau bohong Iel, kau pasti sengaja melakukan ini karena kau tidak mengijinkan kami untuk membawa Gienka pergi! Iya kan???"


"Apa...???? Kenapa juga aku harus melarang kalian membawa Gienka, bukankah setiap hari Gienka ada bersama kalian, bagaimana mungkin aku melakukan hal serendah ini dengan menyakiti Danist"


Aditya meminta agar Ariel dan Elea berhenti berdebat disaat seperti ini, dan menyuruh mereka untuk berdoa agar dokter bisa diberi kelancaran melakukan tugasnya menyelamatkan Danist. Aditya juga bertanya kepada Ariel tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi dan kenapa bisa Danist tertimpa bangunan sehingga kondisinya begitu parah.


Ariel menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghelanya, setelah itu dia mulai menceritakan tentang awal mula kejadian itu. Dimana saat itu memang sedang ada pembongkaran bangunan lama, alat berat melakukan pembongkaran itu, sayangnya memang ada bangunan yang masih berdiri dan tidak ikut roboh padahal yang lainnya sudah roboh. Dia sudah meminta agar itu juga nanti diselesaikan. Setelah itu dia kembali menemui Gienka yang ada di dalam mobil tetapi saat kembali, dia menemukan Gienka menangis dan memintanya untukengambil bolanya yang terpental dan berhenti tepat ditengah tembok yang masih belum roboh itu. Karena tidak tega melihat si kecil menangis, akhirnya dia pergi untuk mengambilnya. Tetapi Ariel berani bersumpah bahwa dia tidak mengerti kenapa bisa Danist bisa ada disana lalu berteriak memanggilnya kemudian mendorongnya ke depan dengan keras hingga sedetik kemudian dia mendengar teriakan dari Danist dan tembok itu runtuh menimpa Danist. Setelah kejadian itu, dia menyadari bahwa sepertinya Danist mengetahui jika tembok itu akan runtuh sehingga berlari dan menyelamatkannya.


"Aku masih tidak tahu kenapa kalian ada disana?" Ujar Ariel.


Aditya menoleh ke arah Elea untuk mendapat jawaban dari perempuan itu.


"Kami datang untuk menjemput Gienka, kami akan membawanya pulang ke Bandung karena Papa baru saja kembali dan ingin bertemu dengan kedua cucunya" Jawab Elea, tetapi dia kembali menatap Ariel dan melempar senyum dingin, seolah ingin sekali mencela Ariel. Elea memejamkan matanya lalu membukanya dan matanya mulai berkaca-kaca, tak lama setelah itu airmata Elea kembali jatuh.


"Untuk kesekian kalinya, suamiku menunjukkan padamu betapa dia sangat peduli dan menghormatimu, tetapi kali ini dia sudah menyelamatkanmu dari kematian tetapi di dalam sana dia berjuang sendiri untuk hidupnya, tetapi kau selalu saja memandang rendah dirinya dengan segala pemikiran burukmu kepadanya, sekalipun dia tidak pernah mengatakan hal buruk kepadamu, bahkan dia sangat menyayangimu selama ini, dia tidak pernah mau menuntut apapun darimu Iel..." Mata Elea menyala tetapi air mata tidak berhenti menetes di pipinya. Tubuhnyabterguncang dan ingin rasanya dia bisa meluapkan segala kemarahannya terhadap sikap buruk Ariel selama ini.


"Hatinya sangat hancur ketika kau menolak untuk datang menemui Ayah untuk terakhir kalinya di rumah sakit, lebih hancur lagi saat kau juga menolak datang ke pemakaman, kau tidak tahu kan bahwa dia menangis didepanku mengungkapkan kesedihannya itu, dia juga sudah menolak apapun yang ingin ayah berikan padanya dan juga Friddie, kau sudah mengetahui semua kejadian di masalalu antara Ayah, Mamamu dan Mama Sari tetapi semua informasi itu ternyata masih belum juga merubah cara berpikirmu kepada suamiku??? Sekalipun kau tidak pernah meminta maaf kepadanya! Sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu???" Seru Elea dengan suara bergetar.


Elea berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Ariel dengan masih menatap Ariel dengan tatapan kemarahan serta kekecewaan. Elea mengangkat tangannya kemudian melipat keempat jemarinya dengan hanya menyisahkan jari telunjuknya dan mengarahkannya tepat di wajah Ariel.


"Kau selalu saja meragukan kebaikan dan ketulusan hatinya, sekarang lihatlah untuk kesekian kalinya dia menunjukkan kasih sayangnya padamu??? Apa ini masih belum cukup bagimu??? Apa memang kau itu sebenarnya memiliki hobi menyakiti dan menghancurkan kehidupan orang lain?? Lalu bagaimana jika aku kehilangannya sekarang, akan bagaimana nasibku dan anak-anakku? Oke kau akan memberikan yang terbaik untuk Gienka karena dia darah dagingmu, lalu bagaimana dengan Friddie???" Tanya Elea diselingi isakan yang begitu memilukan.


"Dia masih sangat kecil dan membutuhkan Papanya! Sampai kapan Iel kau mau menutup mata, hati dan pikiranmu? Sampai kapan...!!?! Suamiku sudah mempertaruhkan nyawanya untukmu sekarang, dia hanya memikirkan keselamatanmu dengan mengabaikan keberadaanku dan anak-anakku padahal kami sangat membutuhkannya, itu hanya karenamu, tetapi jika kau masih meragukan kebaikan hatinya, aku terpaksa mengatakan bahwa kau adalah salah satu manusia terburuk yang ada didunia ini, kau sangat buruk...!" ucap Elea dengan suara bergetar dan airmatanya tidak berhenti mengalir di pipinya.