I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 198



"Kau ikut kesini, lalu bagaimana dengan latihanmu Xel??" Tanya Kyros.


Axel, Kyros dan Friddie saat ini sedang berada di balkon, sedang menikmati sore sambil menikmati makanan ringan dan minuman soda.


"Om Adit yang mengajakku, sepertinya beliau sendiri yang mengurus cutiku beberapa hari ke depan..! Mengingat sepertinya kita baru akan kembali setelah kau dan Gienka pindah, itulah yang ku dengar dari obrolan, om Adit, Om Ariel serta Om Dan...!"


"Sebenarnya aku sempat berpikir untuk mencari apartemen baru yang sedikit lebih luas daripada ini, tetapi sepertinya bapak-bapak itu punya keinginannya sendiri, entah tempat tinggal seperti apa yang mereka cari saat ini, susah kalau sudah berurusan dengan para sultan itu, aku hanya berharap itu tidak terlalu berlebihan!" Gumam Kyros.


Axel dan Friddie langsung tertawa mendengar Kyros menggerutu dengan konyolnya. Kyros sepertinya sudah hafal betul bagaimana orangtuanya akan bersikap ketika menghadapi permasalahan dari anak-anaknya. Kyros juga sangat mengerti bahwa keinginan orangtuanya tidak akan pernah bisa diganggu gugat meskipun kadang sebagai anak dia ingin diperlakukan biasa saja dan tidak berlebihan tetapi Kyros juga memahami bahwa itu adalah ungkapan kasih sayang mereka kepadanya. Cara terbaik yang harus di ambilnya ya hanya mengikuti saja jika itu benar-benar dirasa perlu, tetapi tidak selalu dia harus menuruti mereka, Kyros tetap mempertimbangkan baik buruknya, juga situasi serta kondisinya.


"Oh iya, kata Kyra, si Camilla juga tinggal disini, dimana?" Tanya Axel.


Kyros langsung menunjukkan apartemen Camilla. "Disana, sejak tadi sepi sepertinya dia bekerja!" Ujar Kyros.


"Bekerja? Ini hari minggu?" Tanya Axel lagi.


"Tidak pasti, dia kadang libur dihari biasa, tergantung dari schedule di kantornya, kadang dia menggantikan temannya juga...!"


"Owh....! Lalu apa yang terjadi setelah hari dimana Kyra datang kesini, apakah dia tidak datang lagi untuk meminta maaf???" Tanya Axel lagi.


Kyros menggelengkan kepalanya. "Dia pergi dengan tatapan penuh kebencian lalu bagaimana dia mau meminta maaf? Itu sebabnya aku khawatir dia akan melakukan hal yang lebih berbahaya lagi, kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran oranglain, dan itu juga alasanku kenapa aku memberitahu hal ini pada yang lainnya, aku butuh saran dari para orangtua untuk kebaikanku dan Gienka nantinya, kau tahu kan bahwa aku tidak bisa 24 jam bersama Gienka, aku juga tidak mungkin menjadikannya tawanan di dalam rumah saja!"


Ditengah obrolan itu, ternyata camilan sudah habis. Axel pun berdiri untuk masuk ke dapur dan mengambil camilan yang ada disana. Saat masuk ternyata suara interkom berbunyi, Axel langsung berjalan untuk membuka pintu, disaat bersamaan Elea juga keluar dari kamar dan hendak membuka pintu, tetapi Axel memintanya agar kembali saja karena dia yang akan membuka nya.


Axel membuka pintu dan menemukan Kyra berdiri disana sedang tertawa bersama seorang laki-laki. Sementara Kyra juga langsung di buat terkejut oleh keberadaan Axel di depannya.


"Sayang... Kau ada disini???" Gumam Kyra yang masih tidak percaya.


Axel hanya diam dan memandangi Kyra serta laki-laki itu secara bergantian. Kyra yang langsung menyadari perubahan Axel, dia pun langsung tersenyum.


"Max... He is my boyfriend, Axel...!" Ucap Kyra memperkenalkan Axel.


"Owh... Hay... I'm Maxime...! Nice to meet you" Laki-laki bernama Maxime itu menyalami Axel.


"Axel..!" Jawab Axel singkat dan membalas uluran tangan Maxime.


Tak lama setelah itu, Kyros datang dan langsung menyapa Maxime. Laki-laki itu adalah teman baik Kyra disini, dan sebenarnya dulu Kyros bisa merasakan jika Maxime menyukai Kyra, hanya saja dulu Kyra sudah menjadi milik dari Zayan, tetapi itu tetap tidak mengurangi pertemanan mereka yang sudah terjalin. Kyros melirik ke arah Axel yang diam di sebelahnya lalu dia tersenyum menyadari bahwa sepertinya Axel jealous melihat Kyra datang bersama Maxime.


Kyros meminta Maxime untuk masuk, sayangnya Maxime menolak karena dia harus segera pergi. Kyros dan Kyra mengucapkan terima kasih kepada Maxime karena sudah mengantar Kyra pulang. Kyros kembali ke dalam, sementara Kyra langsung melingkarkan lengan kanannya di lengan kiri Axel dan menyandarkan kepalanya dengan manja di dada lelaki itu.


"Kau datang kapan? Kenapa tidak memberitahuku, jahat sekali....!" Gumam Kyra.


Axel hanya diam, tetapi kemudian Kyra melepaskan lengannya karena melihat ada Amamnya di dalam kamar Kyros. Bergegas dia kesana untuk menyapanya, meninggalkan Axel begitu saja. Axel memilih untuk kembali ke balkon menyusul Kyros dan Friddie.


Kyra masuk dan langsung memeluk Amamnya kemudian berganti memeluk Elea dan Maysa. "Kalian kesini dan tidak memberitahuku? Jahat sekali!" Ucap Kyra yang langsung mendapatkan jeweran di telinga nya oleh Cahya.


"Kau yang jahat dan tidak memberitahuku atau Apapmu, kenapa bisa kau ada disini? Bukankah kau bilang mau ke paris tapi kau melenceng jauh sekali kesini, apa pesawat yang kau naiki berbelok arah???" Ujar Cahya.


"Hehe sorry Mam, ketika Ky bilang kalau Gie sakit, aku panik jadi aku langsung memutuskan untuk datang, sorry sorry.. Tapi Apap, om Dan, serta om Iel kemana?"


"Mereka pergi keluar sebentar Ra...! Mereka akan segera kembali!" Sahut Maysa.


Kyra tersenyum dan langsung duduk di sebelah Axel yang sedang mengobrol dengan Kyros dan Friddie. Kyra bergelayut di lengan Axel tetapi Axel masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Geffie tidak ikut ya Fridd??" Tanya Kyra.


"Tidak kak, besok dia ada ujian semester!"


"Owh... Iya ya waktunya semester sekarang...!" Kyra menoleh ke arah Axel dan menatapnya lembut. "Bagaimana dengan latihanmu? Kenapa kau juga bisa ada disini???" Tanya Kyra pada Axel.


"Jika aku tidak ada disini, pasti kau akan bisa bersenang-senang dengan temanmu itu, harusnya kemarin aku menolak ajakan Om Adit kesini, jadi mungkin kau bisa bebas pergi dengan Maxime...!"


Mendengar itu, Kyros langsung menoleh ke Friddie. "Fridd, hawa nya menjadi panas disini, saat ini sepertinya sedang terjadi Perihelion, yaitu posisi matahari sedang terlalu dekat dengan bumi, kita masuk saja, setidaknya Ac membuat kita bisa lebih baik...!" Ujar Kyros sambil menahan tawanya, lalu beranjak dari kursi, begitu juga dengan Friddie yang langsung mengikutinya.


Kyra langsung menyadari jika ternyata Axel sedang kesal kepadanya karena pulang bersama Maxime. "Ouwhhhh kau cemburu ya karena aku pulang dengan Max? Oh cmon, we are just friend...! Tadi aku bertemu dengan yang lain juga, hanya saja karena tempat tinggal Max searah dengan apartemen ini jadi dia memberiku tumpangan! Dia juga ingin menyapa Ky, itu sebabnya dia ikut aku naik kesini!" Kyra kembali menyandarkan kepalanya di dada Axel.


"Jangan marah...! Aku tahu kau pasti merindukanku, itu sebabnya kau menyetujui ajakan Apap kesini, kita minum kopi yuk??? Di bawah ada coffee shop faforit kita, sekalian kita bisa membelikan yang lainnya!" Kyra mencubit pipi Axel lalu menciumnya untuk menghentikan kemarahan lelaki itu.


Kyra berdiri dan langsung menarik Axel agar berdiri juga. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam dan berpamitan pada Kyros serta yang lainnya jika mereka akan pergi membeli kopi.


Ketika baru keluar dari apartemen, ternyata Aditya, Ariel dan Danist baru sampai. Kyra langsung memeluk Apapnya dan bersalaman denga Ariel dan Danist. "Kalian mau kemana??" Tanya Aditya.


"Ah kami mau ke Starb*cks, eh apa Apap, Om Iel, om Dan mau kopi juga??" Tanya Kyra.


"Ya, belilah untuk semua orang, hati-hati...!" Ujar Aditya.


Kyra dan Axel pun melangkah ke lift untuk turun ke bawah dan membeli kopi untuk semua orang. Sementara ketiga bapak-bapak itu masuk ke dalam apartemen Kyros. Sebelum Kyros bertanya tentang apa yang dilakukan mereka saat keluar tadi, Ariel pun langsung mengatakan pada menantu nya itu jika dia sudah menemukan tiga tempat yang nanti bisa di pilih oleh Kyros dan Gienka. Ya, Ariel pun tadi baru saja mendapat kabar dari temannya yang dia perintahkan untuk mencari rumah yang di jual, jadi Ariel juga tidak sepenuhnya berbohong pada Kyros. Ariel juga mengatakan jika besok atau lusa, Kyros bisa melihat ketiga tempat itu, dan dia akan menemaninya nanti. Kyros tersenyum dan setuju-setuju saja.


Maysa berjalan menuju ke ruang depan dan bertanya pada Kyros apakah ada swalayan terdekat disini karena dia ingin berbelanja untuk makan malam. Kyros merasa malu, karena dia memang belum sempat berbelanja lagi dan sebenarnya malam nanti baru akan pergi. Di kulkas memang hanya tersedia beberap butir telur dan sayuran serta protein seperti daging juga sudah habis. "Ah sorry Ma, Ky belum sempat berbelanja lagi!"


Maysa tersenyum dan memaklumi jika menantunya itu pasti sibuk bekerja dan Kyra merawat Gienka di rumah, sehingga mereka pasti tidak memiliki waktu untuk berbelanja.


"Tapi kita bisa pesan makanan saja atau pergi ke restoran terdekat, Mama pasti capek setelah perjalanan jauh, jadi tidak perlu memasak..!" Ucap Kyros lagi.


"Tidak Ky, tidak apa...! Kalau kita pergi keluar kasihan Gienka, kalau pesan juga nanti Gienka makan apa? Dia kan harus mengkonsumsi makanan yang sehat agar lekas pulih, Mama bisa kok pergi berbelanja sebentar saja!"


"Di depan ada sih supermarket, Ky antar ya???"


Maysa tersenyum dan mengangguk. Tetapi Ariel melarangnya, dan dia yang akan mengantar istrinya. Supaya Kyros bisa di rumah saja bersama yang lainnya. Tidak etis jika merepotkan sang pemilik rumah. Akhirnya Ariel dan Maysa pergi untuk berbelanja.


★★★★★★


Akhirnya Maysa dan Ariel sudah selesai berbelanja, mereka hanya membeli daging untuk dimasak steak karena itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya tinggal membuat sayur dan salad saja sebagai pelengkapnya. Selain daging, Maysa juga membeli sayur serta buah-buahan termasuk Pisang, yang nanti akan dia buat smoothies untuk Gienka karena Gienka sangat menyukai itu.


Disisi lain, Camilla keluar dari mobilnya dengan raut wajah sedih. Dia masih tidak percaya jika akan di pindah tugaskan ke Los Angeles California secepat ini dan tanpa pemberitahuan sebelumnya serta hanya diberi waktu 3 hari untuk bersiap. California tentu sangatlah jauh sekali dari Washington, bahkan untuk naik kereta saja butuh waktu 2,5 hari. Camilla benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Dan kacau nya, dia bukanlah bekerja di kantor melainkan menjadi front office di hotel baru milik perusahaannya, yang sudah tentu hal itu sangat jauh dari keahliannya. Camilla sudah berusaha meyakinkan GM nya bahwa dia tidak menguasai hal itu, tetapi mereka beralasan bahwa semua itu bisa di pelajari karena disana membutuhkan orang untuk mengurus front office dan Camilla di nilai sangat cocok. Tetapi bagi Camilla itu hal yang terlalu dipaksakan, tetapi dia tidak bisa begitu saja menolak tugas yang di berikan atasannya, mengingat dia punya kontrak di perusahaan itu dan tidak bisa untuk keluar begitu saja hanya karena alasan tidak mau di pindah tugaskan.


Camilla benar-benar merasa kacau sekali saat ini, rasanya dia ingin sekali menangis dan berteriak untuk meluapkan kekesalannya. Dia bekerja disini karena ingin dekat dengan Kyros, tetapi hal tak terduga ini terjadi, dan dia tidak bisa menolaknya. Dengan langkah gontai Camilla masuk ke lobi apartemennya, terlalu kalut hingga dia juga lupa memasukkan ID cardnya di dalam tas miliknya yang biasanya dia lakukan ketika baru sjaa keluar dari kantornya. Camilla mempercepat langkahnya ketika melihat pintu lift terbuka, dan di depannya ada seorang laki-laki dan perempuan yang membawa kantong belanjaan. Ketika kedua orang itu masuk ke dalam lift, Camilla juga mengikutinya.


Tidak sengaja, Ariel membaca Id Card dari perempuan muda itu. "Camilla R Alexia?" Gumam Ariel dalam hati, kemudian menyadari jika nama itu yang tadi sempat disebut oleh Aditya saat Mr. Thomas menanyakan siapa nama panjang dari Camilla. Tidak salah lagi, bahwa perempuan inilah yang sudah melakukan hal kejam itu pada Gienka, mengingat Kyros mengatakan bahwa Camilla juga tinggal di apartemen yang sama.


Ariel langsung memberi kode pada Maysa, dan Maysa juga melirik ke nama yang ada di Id Card perempuan itu. Ariel bergeser dan bersandar di sisi kanan lift, menatap Camilla dari ujung kepala hingga kakinya dengan tatapan yang sangat tajam sekali seolah ingin sekali menghabisinya dan menghancurkannya detik ini juga. Ariel terus saja memandangi Camilla sambil terus bergumam penuh kekesalan dalam hatinya. Sementara Camilla juga menyadari tatapan Ariel, membuat Camilla merasa tidak nyaman karenanya. Ariel benar-benar tidak mau berkedip saat melihat Camilla, dan juga akhirnya keinginannya melihat wajah Camilla akhirnya terwujud. Kepala Ariel sudah dipenuhi oleh kemarahan terhadap Camilla yang sudah berani sekali ingin melenyapkan putrinya.