
Axel mengemudikan mobilnya dalam keheningan. Orang tua nya diam, begitu juga dengan adiknya. Ada perasaan bersalah yang begitu besar di hati Axel kepada orang tua nya. Karena keegoisannya memaksa mereka untuk mendatangi rumah Celia, dan kejadiannya justru seperti ini. Penghinaan yang di lakukan Mama Celia dan Oma nya Celia begitu melukai hati nya terutama kedua orang tua nya yang juga sudah di permalukan serta di injak-injak harga dirinya. Bagi Axel tentu ini sudah cukup, sudah keterlaluan dan melewati batas. Dan dia harus ikhlas melepaskan apa yang selama ini di jalani nya. Meskipun berat tetapi Axel tidak akan mengganggu Celia dan mengejar cinta perempuan itu lagi. Axel tidak mau menerima lagi luka dan kesakitan atas penghinaan keluarga Celia terhadapnya.
"Ma... Pa... Maafkan Axel, jika saja Axel tidak memaksa kalian ke rumah Celia, pasti hal ini tidak akan terjadi... Axel benar-benar menyesal sudah melibatkan Mama dan Papa...!"
"Xel.. Sudahlah... Jangan menyalahkan dirimu, sudah terjadi juga... Tidak masalah jika ada yang menghina kita, itu tidak akan mempengaruhi kehidupan kita sama sekali... Papa hanya khawatir saja denganmu, kau sangat mencintai Celia selama ini, lalu kau mengambil keputusan yang begitu besar untuk berpisah dengannya, kau pasti sedih sekali.. Seharusnya kau berpikir dulu sebelum mengatakan itu.."
Adel menoleh dan tersenyum kepada Papa nya. "Sebesar apapun cintaku terhadap Celia, tidak akan pernah bisa mengalahkan cintaku terhadap Papa dan juga Mama.. Aku tidak akan pernah bisa nyaman menjalani toxic relationship dengan Celia, keluarga nya pasti akan terus menghina kita, kita tidak memiliki apapun seperti yang mereka inginkan, kita hanya memiliki harga diri yang harus kita jaga dengan baik.. Mama dan Papa jangan mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja..!"
"Kan aku bilang apa..? Kakak itu tidak cocok dengan kak Celia, dia terlalu lemah dan tidak bisa tegas, dia hanya diam saja ketika Mama nya dan juga neneknya menghina kita... Kalau dia cinta dengan kakak pasti tadi dia membela kita...!" Celetuk Lexy.
"Lexy... Kau ini... " Mama Axel memukul paaha putrinya yang duduk di sebelahnya.
"Lexy benar Ma, dari dulu aku sudah meragukan hubungan Kakak dengan kak Celia, aku juga sering mengingatkan kakak agar jangan terlalu bucin pada Celia, dan firasatku benar kan??? Hubungan ini tidak akan bertahan, sudahlah kak... Lupakan Kak Celia dan cari saja perempuan lain yang mau menerima segala kekurangan kakak, perbandingan laki-laki dan perempuan itu satu banding empat, hilang satu masih ada tiga..." Ucap Lexy.
Axel tersenyum tipis. Adiknya selama ini memang sering mengungkapkan ketidak setujuannya dengan Celia, tetapi sebagai kakak dan juga orang yang sangat mencintai Celia, tentu Axel selalu berusaha meyakinkan Lexy bahwa Celia adalah gadis yang baik dan juga sangat mencintainya.
"Kau yang harus membantu kakak mencarikan perempuan yang baik yang cocok denganmu??? Bagaimana???" Tanya Axel mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang dan orang tua nya juga bisa tersenyum.
"Oke... Aku akan cari perempuan cantik untuk kakak, bahkan lebih cantik dari kak Celia... Aku akan meminta bantuan kak Gienka juga agar mencarikan pasangan untuk kakak, teman kak Gienka juga cantik-cantik... Aku dulu beberapa kali pernah di ajak kak Gienka bertemu teman-temannya.."
"Jangan meminta bantuan Gienka... Carikan saja sendiri.." Sela Axel.
"Ingin yang seperti apa???" Tanya Lexy.
"Gadis berambut pirang, mata yang cantik, hidungnya mancung, bibirnya tipis... Aku suka dengan perempuan yang seperti itu.... Dia terlihat manis saat tersenyum..!"
"Hmmmm bIonde ya??? Gampang, nanti jika aku dapat yang sesuai dengan kriteria kakak, aku akan suruh dia mengecat rambutnya agar terlihat bIonde... Hahaha"
★★★
Dan hari ini libur, sehingga Cahya ingin menghabiskan waktu bersama Kyra, berdua saja. Sehingga dia bisa benar-benar kembali menikmati berbelanja bersama putrinya yang sudah lama tidak di lakukan. Cahya senang sekali Kyra sudah pulang dan tidak akan lagi jauh darinya, sehingga dia bisa berdiskusi saat sedang bingung memilih barang mana yang bagus. Dulu ketika Kyra belum lahir dan ketika Kyra masih kecil, Cahya selalu menemani Mama mertuanya berbelanja dan selalu di mintai saran ketika mertua nya bingung ingin membeli barang warna apa atau yang lainnya. Dan sekarang itu menurun ke Cahya dan Kyra.
Kyra sibuk melihat-lihat bermacam-macam warna lipstik yang ingin di beli nya. Sedangkan Cahya sibuk memilih eye shadow.
Sampai akhirnya Kyra dan Cahya sudah selesai memilih parfum hingga peralatan make up. Mereka akan mencari cafe untuk minum kopi sebelum pulang. Karena mereka sudah pergi sejak jam 10 tadi, dan sekarang sudah jam 2. Aditya sedang ada mengurus sesuatu di luar sehingga Cahya dan Kyra di antar oleh supir. Sedangkan Zayan juga sedang berada di luar kota untuk beberapa hari ke depan, sehingga Kyra juga tidak bisa bertemu lelaki itu. Kyra tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena saat ini dia bisa bertemu Zayan hampir setiap hari, sementara dulu mereka harus pintar mencari waktu untuk bertemu. Apalagi jarak tempat tinggal mereka sangatlah jauh, butuh berjam-jam naik pesawat. Sedangkan sekarang tidak jauh, paling lama satu jam untuk bisa menemui satu sama lain.
"Mam... Kira-kira Apap suka tidak ya dengan rambut baru ku ini???" tanya Kyra.
Cahya terkekeh. "Apa selama ini Apap mu pernah memprotes mu untk penampilanmu??? Selagi itu tidak berlebihan dan tidak terlihat norak, Apap mu pasti menyukai nya... Kau putri yang sangat di sayanginya.. Dan Amam pikir rambut ini juga sangat cocok dengan wajahmu yang cantik itu.."
"Sebenarnya Amam yang lebih cantik daripada aku...!" Gumam Kyra. "Aku ingin sekali secantik Amam...!"
"Putri Amam sangat cantik, dan cantiknya melebihi Amam dulu saat seusia mu..."
Kyra menatap Amam nya dengan lembut. "Amam yang paling cantik, Apap saja sampai tergila-gila pada Amam hehehe..!"
"Berbicara mengenai Apap mu, bagaimana kalau Amam memotret mu dan menunjukkan rambut barumu pada Apap mu??"
Kyra tersenyum, menganggukkan kepala nya setuju. Cahya lekas mengambil ponselnya dan memotret putrinya untuk di kirim ke Aditya. Cahya senang, Kyra tumbuh menjadi perempuan yang cantik, menjadi pribadi yang baik, dan cerdas. Kyra selalu menjadi putri kesayangannya yang luar biasa.
Cahya menyuruh Kyra tersenyum supaya terlihat semakin cantik.
"satu... dua... tiga..." Cahya memotret Kyra dan langsung mengirim foto itu ke Aditya.