
"El...!!! Ku akui aku salah, tolong maafkan aku...?" Ucap Ariel sedih.
"Berhentilah mengatakan itu, selalu disaat seperti inilah kau baru mengatakan hal itu, aku bosan mendengarnya dan aku masih tidak tahu cara berpikirmu itu...! Kau begitu buruk dan sangat picik..!"
Elea menyeka air matanya dan meninggalkan Ariel. Elea kemudian meminta Aditya agar menunggu Danist, sementara dia ingin menenangkan dirinya sebentar. Karena jika tidak melakukannya mungkin dia akan membuat keributan disini. Hatinya saat ini tidak baik, kesedihan memikirkan keadaan Danist juga kemarahannya kepada Ariel semua bergulat menjadi satu di otaknya. Elea benar-benar butuh untuk menenangkan itu semua.
Aditya mempersilahkan Elea untuk pergi sebentar dan dia akan berjaga disini. Tetapi Aditya juga mengingatkan agar Elea jangan sampai melakukan hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri. Elea kemudian pergi meninggalkan Aditya dan Ariel dari ruang tunggu operasi.
Sekitar 30 menit Elea pergi dari depan ruang operasi dan memilih duduk menyendiri di ruang terbuka hijau yang ada di rumah sakit itu untuk menenangkan dirinya setelah bersitegang dengan Ariel. Ariel benar-benar selalu membuat masalah dan tidak pernah mau menyadari setiap kesalahannya padahal Danist sangatlah menyayanginya. Ariel tidak pernah mau mengerti hal itu dan selalu bersikap egois. Danist sudah rela mempertaruhkan nyawanya demi Ariel dan sungguh kejam jika Ariel masih meragukan kebaikan Danist. Inilah kenapa Elea sangat marah terhadap Ariel.
Cahya tiba-tiba datang, tersenyum dan melangkah mendekatinya kemudian duduk disamping sahabatnya itu.
"Semuanya akan baik-baik saja El, Danist adalah laki-laki kuat, dia akan melewatinya lalu membuka matanya dan tersenyum padamu sambil mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu"
Ucapan Cahya itu, membuat Elea menoleh dan langsung memeluk Cahya. Elea tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia menangis dipelukan Cahya, menumpahkan segala kesedihan yang sudah ditahannya sejak tadi. Elea mengungkapkan semua ketakutannya akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada Danist. Elea juga menceritakan semua kejadian itu bagaimana Danist mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkan Ariel. Meluapkan semua kemarahan yang ditahannya selama ini kepada Ariel yang tidak pernah mau meminta maaf atau bersikap baik kepada Danist padahal Danist selalu berharap bisa berhubungan baik dengan Ariel.
"Apa aku salah Ca? Jika aku meluapkan seluruh kemarahanku?" Elea memandang Cahya penuh dengan kesedihan.
"Jika itu membuatmu merasa lega tentu tidak akan salah El, tetapi jika kemudian semua itu masih tidak merubah cara berpikir Ariel? Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua cara sudah kita coba untuk menyadarkannya tetapi dia tetap bersikap sama, bahkan terkadang aku merasa bahwa semua itu hanyalah lelucon yang tidak berarti bagi Ariel, dia tidak pernah menghargai pengorbanan seseorang" Ujar Cahya.
Elea terisak lagi. "Itulah Ca, aku sendiri sangat menyesal kenapa tadi aku tidak ikut bersama Danist mencari Gienka, dan aku malah menuruti keinginannya agar aku di dalam mobil saja, andaikan saja aku pergi bersamanya tentu aku akan melarangnya untuk melakukan itu semua, karena percuma itu tidak akan pernah ada artinya untuk Ariel, lalu inilah yang terjadi sekarang, Danist kenapa tidak memikirkanku dan anak-anak sebelum melakukan itu???" Tanya Elea dengan suara bergetar dan air matanya tumpah tanpa mau berhenti mengalir di pipi halusnya.
"Ca...! Danist sekarang ada di persimpangan antara hidup dan mati, aku tidak tahu mana yang akan dia pilih, dia memilih hidup untukku dan anak-anak yang setiap hari bersamanya atau dia memilih mati untuk Ariel, orang yang tidak pernah menganggapnya sebagai manusia dan dia selalu direndahkan oleh Ariel, kenapa Danist melakukan itu semua Ca? Kenapa?? Friddie masih membutuhkannya, bagaimana jika hal buruk terjadi padanya??? Aku takut sekali Ca!!" Elea mempererat pelukannya pada Cahya dan terisak pedih sekali.
Elea sangat ketakutan memikirkan hal buruk itu, ditambah lagi memikirkan bagaimana masa depan anaknya jika tanpa Danist. Semua ketakutan itu semakin menekan kepedihan yang dirasakannya saat ini.
Cahya ikut menangis dan seperti memahami ketakutan Elea, kemudian mengusap lembut punggung Elea dan berbisik kepada sahabatnya itu.
"Danist akan sembuh El, jangan pernah pikirkan hal yang buruk tentangnya, apa kau lupa bagaimana hancurnya aku dulu saat pencarian Adit dihentikan, aku menyerah dan kehilangan harapan tetapi kau selalu ada disampingku dan mengatakan padaku bahwa aku tidak boleh menyerah serta berpikir buruk karena Adit pasti akan kembali untuk berkumpul dengan kita semua, dan ucapanmu itu benar, kita semua mendapat kabar baik tentangnya, itu juga pasti akan terjadi pada Danist, dia akan sembuh dan akan kembali kepadamu dan anak-anak, yakinlah El, Tuhan selalu bersama kita jika kita selalu berdoa kepadanya, kau percaya itu kan??"
"Iya Ca...! Aku harus yakin bahwa suamiku akan baik-baik saja"
Elea kembali menyeka air matannya, mengangguk kemudian Cahya mengajaknya berdiri, meninggalkan taman rumah sakit itu dan kembali ke ruang tunggu operasi. Elea merasa bebannya sedikit berkurang setelah menceritakan semua kepada Cahya.
Ketika sampai disana, Elea memeluk Mama mertuanya sambil berurai air mata. Elea mencoba menenangkan Mama mertuanya itu dan mengajaknya untuk terus berdoa. Sementara Ariel masih duduk dalam diam, wajahnya terlihat sangat sedih. Aditya dan Randy saling berpandangan, ya sejak tadi Ariel memang tidak mengatakan apapun, padahal sseharusnya disaat seperti ini Ariel meminta maaf kepada Mamanya Danist tetapi itu tidak dilakukan oleh Ariel. Bahkan saat Mama Danist bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, Aditya yang menjawabnya tetapi Aditya berusaha menata ucapannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dari Mama Danist. Aditya sebenarnya sangat berharap Ariel sendiri yang menjelaskan sekaligus meminta maaf tetapi ternyata harapannya itu tidak terjadi.
★★★★★★
Sudah 5 jam berlalu tetapi dokter belum keluar dari ruang operasi. Kedua orangtua Elea juga sudah ada disini sejak tadi. Elea duduk menundukkan kepalanya dan tidak berhenti merapalkan doa. Sementara Cahya masih terus berkomunikasi dengan orang-orang dirumah menanyakan keadaan Gienka dan Friddie. Dibalik kesibukkan Cahya saat itu, ternyata Gienka mengalami trauma berat pasca kejadian yang menimpa Danist. Dimana Gienka melihat secara langsung di depan matanya ketika Danist tertimpa reruntuhan tembok itu. Memnuat bocah itu mengalami trauma berat dan tidak mau berada di dalam ruangan. Gienka terus menangis dan meminta pergi dari dari dalam rumah.
Mungkin karena tidak ingin membuat Elea dan yang lainnya semakin khawatir. Cahya, Aditya dan Randy memanggil psikolog anak untuk membantu pemulihan Gienka.
Ruang operasi akhirnya terbuka dari dalam, dokter keluar bersama seorang perawat. Aditya, Randy dan Cahya juga bergegas ikut menghampirinya. Semua orang berdiri menatap dokter dan menanyakan tentang operasi Danist.
.Operasi telah berhasil dilakukan dengan baik, akan tetapi segala kemungkinan masih bisa terjadi karena kondisi Danist masih kritis. Untuk perawatan lebih intensif Danist harus berada di ruang ICU dan harus di awasi dengan ketat dan baik, mengingat sewaktu-waktu kondisinya bisa turun. Benturan begitu keras sehingga luka dalamnya cukup parah bahkan ada beberapa tulang dibagian punggung dan kakinya juga mengalami keretakan. Tetapi yang lebih penting adalah bagian kepalanya yang memang harus jadi prioritas utama.
"Jika masa kritisnya sudah terlewati, tentunya keluarga harus siap untuk merawatnya dengan baik karena kondisinya butuh waktu yang cukup lama untuk pulih seperti sedia kala, kami juga masih butuh beberapa kantung darah lagi, jika ada yang memiliki golongan darah yang sama, kami harap bisa segera melakukan donor, tuan Danist sedang berada di ruang recovery sebelum nanti dipindahkan ke ruang ICU, kami permisi dulu!"
Elea kembali memeluk Mamanya dengan sedih, dia masih belum bisa bernapas lega, karena kondisi Danist masih belum stabil dan segala kemungkinan masih bisa terjadi. Ariel memundurkan langkahnya dan hendak pergi tetapi Aditya menahannya dan menanyakan mau kemanakah dia. Ariel menjawab jika dia akan pergi lagi untuk mendonorkan darahnya.
"Kau tidak bisa melakukannya lagi Iel?? Tadi darahmu sudah diambil, dan tidak bisa diulangi lagi, ada jeda waktu untuk bisa melakukannya lagi, aku akan menghubungi Adri, dia memiliki golongan darah yang sama dengan Danist, dulu Danist pernah melakukan itu untuk Adri, maka kali ini Adri juga harus melakukan hal yang sama" Ucap Aditya.
"Ku mohon berhentilah mengkhawatirkan suamiku, kami semua tidak membutuhkanmu disini, jadi pergilah, kehadiranmu disini tidak akan merubah apapun, suamiku masih terbaring lemah didalam sana karena dirimu, jadi lebih baik cepat pergi dari sini" Kali ini Elea menyahut dengan suara penuh kemarahan.
Semua orang yang mendengar ucapan Elea itu pun terkejut dibuatnya, terlebih Ariel. "Tapi El, aku harus memastikan kondisi Danist baik-baik saja, kau tidak bisa mengusirku, aku harus bertanggung jawab, dia kakakku!" Ujar Ariel.
"Kakakmu??? Kau menyebutnya sebagai kakakmu? Suamiku tidak pernah memiliki adik seperti dirimu, yang bahkan kau selalu merendahkan dirinya tetapi kali ini kau memanggilnya kakak? Ciiihhh.... Menjijikkan sekali" Elea menangkupkan kedua telapak tangannya dan menatap tajam Ariel.
"Aku mohon padamu, pergilah dari sini, kau tidak dibutuhkan disini, lebih baik cepat pergi sebelum emosiku kembali memuncak, pergilah.....!!!" Kali ini Elea kembali berteriak pada Ariel dengan penuh kemarahan.
Ariel masih memohon dengan wajah memelas kepada Elea, tetapi Elea mengabaikannya dan tetap menyuruhnya untuk pergi. Karena tidak ingin suasana lebih panas, Aditya dan Randy memegang bahu Ariel dan mengajaknya untuk pergi dari temapat ini. Ariel menuruti keinginan Elea, dan tangisnya pecah saat Aditya dan Randy mengajaknya menjauhi lorong ruangan operasi itu.