
"Begini Gie, Camilla datang meminta bantuanku mencari tempat tinggal karena dia di Terima bekerja di salah satu perusahaan di dekat sini, dan dia pasti butuh tempat tinggal kan??? Jadi dia meminta bantuanku untuk mencarikan nya, dan sudah dapat, dia akan tinggal di apartemen yang sama denganku...!" Ujar Kyros menjelaskan.
"Satu apartemen denganmu???" Tanya Gienka memastikan.
"Iya, dan tadi semua administrasinya langsung di urus jadi sebelum dia pulang, aku mengajaknya ke apartemen ku, untuk duduk dan beristirahat sebentar...!"
"Ya, dia tamu jadi kau harus memperlakukannya dengan baik..." Gumam Gienka.
"Kau menghubungiku ada apa??? " Tanya Kyros.
Gienka terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia ingin menceritakan harinya kepada Kyros, tetapi yang di dapat inya justru Kyros berduaan dengan perempuan lain. Tiba-tiba Gienka menjadi malas untuk berbicara dengan Kyros. Gienka berpura-pura menguap dan tersenyum tipis pada Kyros. "Aku hanya ingin berbicara denganmu saja, seharian ini aku bekerja danbelum menyapamu jadi aku ingin menyapamu saja..! Aku sudah mengantuk Ky, kita bicara besok lagi ya???"
"Ah iya, kau kan sudah di Terima bekerja, bagaimana harimu tadi??? Kau bilang kau akan menceritakan kepadaku tentang hari pertamamu bekerja... Ayo ceritakan dulu, jangan tidur..! Bagaimana bagaimana??? " Tanya Kyros.
Gienka menggeleng. "Besok saja, sudah ya aku mengantuk, bye Ky...! " Gienka langsung menutup panggilannya begitu saja membuat Kyros mengernyit dan juga bingung, tetapi mungkin saja Gienka memang mengantuk dan lelah setelah seharian bekerja.
Gienka kembali melempar ponselnya. Dia tengkurap dan mulai menangis, hatinya terasa begitu sakit mengetahui ada seorang perempuan sedang bersama Kyros. Gienka tahu dia bukan apa-apa bagi Kyros, tetapi dia mencintai lelaki itu dan cintanya tidak pernah berubah sejak dulu. Gienka merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri kenapa ini harus terjadi kepadanya, kenapa dia harus bernasib seperti ini mencintai orang dan orang itu tidak mengetahuinya, sehingga jika ada hal seperti ini, selalu saja dia merasa sakit hati seolah seperti di khianati, padahal tentu orang itu juga tidak sepenuhnya salah karena memang dia tidak mengetahui perasaan Gienka yang sebenarnya. Hanya saja Gienka tidak memiliki nyali sama sekali untuk mengatakan hal itu. Gienka bingung sampai kapan dia harus selalu bertahan dengan keadaan seperti ini, dan selalu menyimpan kecemburuan yang berlebihan pada Kyros.
Ponsel Gienka kembali berdering. Gienka mengangkat wajahnya dari bantal dan melirik ke arah ponselnya yang berdering itu. Dia mengabaikannya karena mengira itu adalah panggilan dari Kyros. Gienka kembali menyembunyikan wajahnya dari bantal dan menangis lagi. Sayangnya ponsel itu tidak mau berhenti berdering. Gienka semakin kesal dan meraih ponselnya untuk menonaktifkan nya tetapi kemudian dia melihat bukan nama Kyros yang muncul di layar ponselnya, melainkan nama Axel.
Gienka bangun dan duduk bersandar di tempat tidurnya. Dia menyeka kasar airmatanya dan mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
"Hai Gie.... Coba tebak aku sekarang ada dima.....na??" Axel berucap, tetapi kemudian terhenti ketika menyadari bahwa Gienka seperti sedang menangis. "Kau menangis ya??? Kenapa???" Axel pun terlihat panik mendapati Gienka dalam keadaan seperti itu dan tidak seperti biasanya.
Gienka menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya, tetapi tidak menjawab pertanyaan Axel.
"Gie.. Kenapa diam??? Apa terjadi sesuatu??? Kau ada dimana???" Tanya Axel lagi.
"Tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya kelilipan...!"
"Bohong... Kau menangis, hidungmu memerah dan matamu seperti sembab, kenapa??? Apa semua baik-baik saja??? Om Ariel, Tante May, atau Om Danist atau mungkin tante Elea, apa terjadi sesuatu dengan mereka??? Geffie atau Friddie??? Atau kau bermasalah di tempatmu bekerja??? Ada apa???"
"Tidak Xel, tidak terjadi apapun, semua baik-baik saja, kau berlebihan sekali...!"
"Lalu kenapa kau menangis??? Apa ada orang yang menyakitimu??? Siapa?? Dan kenapa dia menyakitimu???"
Gienka menggelengkan kepala nya tetapi tiba-tiba saja airmatanya menetes dari mata cantiknya. Dengan cepat Gienka mengusapnya dan mencoba tersenyum pada Axel.
"Kan kau memang menangis... Kenapa Gie??? Cerita saja???" Ucap Axel lagi.
"I don't know Xel... I'm upset with myself... I hate it...!"
"Yes, I know, but why???" Tanya Axel lagi, tetapi kemudian dia mengingat sesuatu hal yang selalu membuat Gienka bersikap seperti ini. "Kyros??? Apa kau menangis karena dia???" Ucap Axel sambil menebak apa yang ada di pikiran Gienka saat ini.
Gienka terisak tetapi sekali lagi dia menyeka airmatanya dan tidak mau Axel terlalu mengkhawatirkannya. "Kau ada di rumah ya??? Kapan pulang???" Tanya Gienka mencoba mengalihkan perhatian Axel.
"Ya, aku pulang sore tadi, dan aku juga ke rumahmu untuk mengejutkan mulai tetapi kata Geffie kau sedang ada di rumah tante Elea, aku ingin kesana tetapi sudah malam dan Geffie juga bilang kalau hari ini adalah hari pertamamu bekerja, jadi kau pasti lelah... Besok aku jemput kau di kantor ya??? Aku ingin bertemu denganmu.."
"Baiklah... Aku tunggu besok di kantor...!" Ucap Gienka datar.
Axel tersenyum. Besok dia akan menjemput Gienka dan akan bertanya secara langsung apa yang membuat sahabatnya itu menangis. Entah apa yang membuat Gienka menangis tetapi Axel memiliki insting jika Gienka menangis pasti karena Kyros, lelaki yang selama ini disukai oleh Gienka. Dan penyebabnya kenapa Gienka menangis tentu Axel belum tahu, hanya saja bisa jadi berhubungan dengan Kyros.
"Baiklah, kirimkan alamat kantor tempatmu bekerja, aku akan menjemputmu, sekarang sudah malam, kau pergilah tidur dan jangan menangis lagi... Kau terlihat jelek jika seperti itu.."
Gienka terkekeh. "Iya...!"
*****
"Oke Ky, thanks kau sudah membantuku hari ini, aku harus kembali ke hotel, aku harus bersiap-siap untuk checkout dan juga kembali ke California, aku menggunakan penerbangan sore ini..." Camilla beranjak dari kursi.
Kyros juga ikut berdiri. "Aku akan mengantarmu ke hotel...!"
"Tidak perlu Ky, aku sudah memesan taksi, sekali lagi Terima kasih, dan aku harap kau tidak bosan jika aku merepotkan mulai lagi...!"
"Ah tentu saja tidak Mil, baiklah jika kau tidak mau ku antar sampai hotel, aku akan mengantarmu sampai depan..! "
Mereka berdua keluar dari apartemen Kyros. Camilla harus kembali ke hotel dan bersiap untuk ke bandara. Dia akan pulang sore ini, dan beberapa hari ke depan dia akan kembali membawa barang-barangnya untuk pindah kesini. Seharian ini dia merasa bahagia sekali bisa menghabiskan waktunya bersama Kyros. Mengobrol berbagai hal dengan lelaki itu, dan Kyros memang orang yang sangat menyenangkan. Camilla merasa semakin terobsesi dengan Kyros. dan cepat atau lambat dia harus bisa menaklukkan hati lelaki itu.
"Oke Ky, sekali lagi Terima kasih...!" Ucap Camilla sebelum masuk ke taksi.
Camilla melambaikan tangan dan masuk ke dalam taksi. Perlahan taksi meninggalkan area apartemen. Kyros pun kembali masuk dan menuju kamarnya. Dia berniat untuk membereskan semua barang miliknya yang masih ada di dalam box. Besok dia pasti tidak akan memiliki waktu lagi karena harus kembali bekerja. Jika bukan karena Camilla, sebenarnya hari ini Kyros sudah ingin membereskan serta menata barang-barangnya, salah satu yang paling banyak adalah buku-buku miliknya.
Sampai di apartemennya, Kyros mengangkat satu box ke kamarnya, dan dia meletakkannya diatas tempat tidurnya kemudian duduk untuk membongkar nya. Box itu berisi buku-buku miliknya. Satu persatu Kyros mengeluarkannya. Setelah semua dia keluarkan, Kyros turun dari tempat tidur, dan membawa beberapa buku di tangannya untuk dia pindahkan ke rak buku yang ada di kamarnya.
Bruuukkk.....
Sebuah buku terjatuh dari pegangannya. Kyros tidak langsung mengambil buku yang jatuh itu tetapi menata terlebih dulu buku yang di pegangnya. Setelah rapi, Kyros mengambil buku yang terjatuh dan sebuah kertas tergeletak di bawah buku yang terjatuh itu. Kyros mengambilnya dan tersenyum. "Ini kan foto yang aku cari-cari??? Hahaha ternyata ada di dalam buku ya?? Astaga...!" Ucap Kyros.
Foto itu adalah foto Gienka yang tersenyum lebar dan terlihat sangat cantik. Kyros mengambilnya saat dia bertemu dengan Gienka beberapa bulan yang lalu, ketika Gienka mengunjunginya. Dan Kyros mengedit nya untuk menggabungkan dua foto Gienka kemudian mencetaknya. Dia benar-benar lupa dimana meletakkan foto itu, dia mencarinya dan tidak menemukannya tetapi ternyata foto itu ada di dalam buku.
Kyros sangat menyukai foto ini, karena Gienka terlihat sangat cantik sekali. Senyumnya manis, dan dia benar-benar menyukainya. Gienka sangat ceria, dan ketika itu dia dan Gienka menghabiskan waktu bersama dan tertawa bersama. Saat ini Kyros sangat merindukan Gienka, dan akan sulit untuk bisa bertemu gadis itu lagi. Kyros tidak tahu kapan dia punya nyali untuk mengutarakan perasaannya pada Gienka, saat ini dia sudah tidak lagi kuliah. Seperti janjinya sebumnya jika dia sudah menyelesaikan kuliahnya dia akan memulai untuk menyiapkan diri mengungkapkan perasaannya pada Gienka. Mulai saat ini dia akan menyiapkan diri agar berani mengatakan semua yang sudah di tahannya selama ini pada Gienka.
"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk pulang dan aku harus mengungkapkan perasaanku pada Gienka secara langsung, tidak jangan jika aku memintanya menjadi kekasihku tetapi by phone... " Gumam Kyros. "Aku harap kau masih mengingat janjiku padamu Gie, bahwa aku akan menikahimu suatu saat nanti, dan aku akan memenuhi segalanya...! " Ucapnya lagi sambil menatap foto Gienka dengan penuh keyakinan.
★★★★★
Keesokan harinya.....
Axel memasuki area parkir kantor tempat Gienka bekerja. Setelah memarkir mobilnya, Axel mengirim pesan pada Gienka jika dia sudah sampai. Gienka menjawab jika dia akan keluar dalam lima menit lagi. Axel pun menjawab akan menunggu.
Axel merasa senang bisa kembali pulang untuk liburan. Dia juga sudah menyelesaikan kuliahnya dengan baik, tetapi dia tidak bisa pulang untuk bekerja disini, karena saat ini dia sedang membela salah satu tim sepak bola yang ada di Thailand. Ya, Axel adalah seorang pemain sepak bola. Sejak dulu dia sangat menggilai olahraga raga itu, bahkan sejak kecil juga dia sudah mengikuti sekolah sepak bola. Dan saat berada di Thailand untuk menimba ilmu, dia masih mencari sekolah sepak bola untuk memenuhi hobi nya. Dan satu tahun ini, dia mendapatkan prestasi yang luar biasa karena dia di minta untuk masuk ke dalam sebuah tim sepak bola di negara itu.
Setelah lulus S2 disana, Axel tidak bisa langsung kembali pulang karena dia ada tanggung jawab untuk pekerjaannya di negara itu. Dan sekarang dia mendapat libur satu minggu, itu dia manfaatkan untuk pulang, bertemu keluarganya dan juga teman-temannya disini, salah satunya adalah Gienka yang menjadi sahabatnya sejak kecil dan dia juga bertetangga dengan Gienka. Axel sebenarnya tidak pulang sendirian melainkan bersama dengan kekasihnya yaitu Celia, dan rencana nya besok Celia ingin mengajaknya untuk bertemu dengan Papanya yang tinggal di luar kota. Selama ini Axel belum pernah sama sekali bertemu dengan Papa Celia, karena orang tua Celia sudah bercerai, dan Celia tinggal bersama Mamanya.
Beberapa saat kemudian, Axel tersenyum ketika melihat Gienka keluar dari dalam kantor. Dia menyalakan mobilnya dan langsung mendekati Gienka yang berdiri di depan pintu masuk. Ketika sampai di depan Gienka, Axel menurunkan kaca pintu mobilnya dan memanggilnya Gienka. Senyum gadis itu menghiasi wajahnya dan dia lekas menghampiri mobil Axel kemudian masuk.
"Lama ya??? Sorry...!" Gienka menangkup kan kedua telapak tangannya meminta maaf pada Axel.
"Tidak juga, jam keluar kantor kan jam 4, dan ini jam 4 lebih sedikit, aku datang lebih awal ssupaykau tidak lama menunggu...!"
"Kau memang pengertian..." Ucap Gienka.
"Hanya aku yang selalu mengertimu Gie... Hehe.. Oh iya kau ingin makan??? Aku akan mentraktir mu..!"
Gienka menggelengkan kepala nya. "Kita ke Supernova, aku ingin pulang saja, oma Sari ada di rumah dan dia memasak Ayam bumbu kuning karena aku mengatakan padanya jika kau pulang dan dia tahu kalau kau menyukainya..!"
"Ayam bumbu kuning?? Astaga.... Itu enak sekali apalagi Oma Sari yang membuatnya, oke-oke kita ke cluster supernova, ya ampun aku sudah sangat merindukan masakan itu, bahkan aku berniat untuk mengajakmu pergi ke Bandung dan menemui Oma Sari, tetapi senangnya dia justru ada disini...!"
"Bersyukurlah untuk hal itu hahaha...!" Gienka tertawa.
"Kalau tertawa seperti itu kau kan terlihat cantik Gie, daripada tadi malam.. Kau menangis, jelek sekali..! Sebenarnya ada apa?? Coba ceritakan padaku... Setidaknya itu mungkin bisa membuatmu lebih baik...!"
Gienka tersenyum. Tetapi tidak menjawab pertanyaan Axel.
"Ayolah Gie... Sejak kemarin kau tidak menjawab pertanyaan ku, apa kau sudah tidak menganggapku sahabatmu lagi???"
Gienka mencubit kengan Axel tidak tertawa. "Sembarangan... Sampai kapanpun aku sahabatmu Xel..."
"Jika memang begitu, lalu kenapa kau tidak mau bercerita padaku??? "
"Kau semalam sudah menebaknya lalu kenapa kau bertanya lagi padaku...! "
Axel menoleh ke Gienka, dahi nya berkerut. "Menebak??? Menebak apa???" Axel terlihat bingung dan dia diam sesaat untuk mengingat apa yang tadi malam di katakan nya pada Gienka tentang tebakan. "Kyros??? Kau menangis karena dia???" Tanya Axel lagi dan Gienka menganggukkan kepala nya.
"Kenapa lagi sih Gie??? Tidak ada hal lain apa?? Kau sering sekali menangis karena dia??? Apa memangnya yang dia lakukan??? Dia berkata buruk padamu???"
Gienka kembali menggelengkan kepalanya kemudian menceritakan pada Axel jika kemarin dia menghubungi Kyros dan mendapati ada seorang perempuan yang datang ke apartemen Kyros. Melihat itu tiba-tiba hati Gienka merasa sakit dan entah kenapa dia malah menangis. Rasanya sakit sekali melihat hal itu, karena Gienka sangat mencintai Kyros begitu dalam.
Mendengar cerita Gienka, Axel justru tertawa terbahak-bahak menertawakan Gienka yang ada di sebelahnya. Raut wajah Gienka pun berubah kesal, dia bercerita dan Axel malah menertawakannya. "Kau jahat sekali...! Malah tertawa..!" Protes Gienka.
"Aku tertawa karena kau lucu sekali Gie... Kau selalu bersikap seperti itu ketika melihatnya bersama perempuan lain??? Apa kau tidak berpikir siapalah dirimu baginya??? Kau hanya sahabatnya, dan kau mencintainya selama ini tetapi dia tidak mengetahui hal itu, bukan salahnya jika dia mendekati atau dekat dengan perempuan lain??? Yang salah adalah dirimu, kau selalu menunggunya berharap dia juga mencintaimu, tetapi tidak ada jaminan dia juga menyimpan perasaan yang sama kepadamu, dan juga kau berharap dia menepati janjinya disaat kalian kecil dulu, hello Gie, itu janji konyol yang di ucapkan anak berusia 4 tahun, tetapi kenapa kau sangat meyakini bahwa dia akan menepatinya???" Ucap Axel.
Axel mengaktifkan mode auto pilot mobilnya dan menghadap Gienka yang ada di sampingnya. Axel tersenyum pada Gienka dan memegang bahu Gienka. "Kurasa semua orang juga mengalami masa itu ketika masih kecil, mengatakan akan menikah dengan temannya tetapi faktanya ketika mereka dewasa itu tidak terjadi, karena itu hanya perkataan yang tidak memiliki makna apapun Gie... Seharusnya kau menyadari itu, tetapi tidak ada salahnya kau mencintainya tetapi masalahnya kau selalu menolak mengungkapkan perasaanmu dengan alasan kau perempuan tidak mungkin mengatakan lebih dulu, padahal cinta itu harus di ungkapkan tanpa perlu gengsi mengenai kau perempuan atau laki-laki, semua cinta itu harus di ungkapkan kecuali oleh orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri...!"