
Adit...! Kenapa kau bersikap seperti itu??? Bukankah bagus jika Kyra ingin bekerja??? Biarkan saja... Dia ingin belajar me-manage waktunya, dia juga ingin belajar mandiri, lalu kenapa melarangnya???" Ucap Tuan Harry.
"Tapi Pa??? Dia ingin bekerja di sebuah toko, itu tidaklah cocok untuknya...! " Aditya kembali memprotes.
"Tidak cocok??? Kenapa tidak cocok??? Dia seorang mahasiswa, siapa yang mau memperkerjakan seorang mahasiswa aktif??? Apa kau lupa bahwa dulu kau juga pernah bekerja paruh waktu di sebuah toko perkakas saat disini??! Dulu Papa memberikanmu tantangan dengan tidak mengirimkan uang bulanan selama satu semester, dan kau pasti ingat apa yang kau lakukan dulu untuk bertahan hidup???"
Aditya terdiam. Dia tentu tidak akan pernah melupakan hal itu, dimana dia di tantang oleh Papanya dan menyuruhnya untuk berpikir bagaimana cara agar dia bisa bertahan hidup disini tanpa mengandalkan uang bulanan dari Papanya. Aditya saat itu berpikir keras mencari cara agar bisa bertahan hidup. Kemudian Aditya memutuskan untuk mencari pekerjaan agar bisa menghidupi dirinya sendiri. Dia bekerja di sebuah toko perkakas, bahkan dia bekerja disana selama berbulan-bulan, dan memutuskan keluar ketika akan bersiap untuk melakukan tugas akhir menjelang kelulusannya. Meskipun setelah setengah semester, Papa nya kembali mengirimkan uang bulanan lagi, tetapi Aditya sudah terlanjur senang dan nyaman dengan tempat bekerja nya.
Ketika itu, Aditya mulai banyak belajar tentang hidup. Dia tidak merasa berat saat Papanya mengatakan akan berhenti mengirim uang bulanan kepadanya, Aditya tahu bahwa itu adalah tantangan yang harus di hadapi nya. Dan Papa nya melakukan itu tentu memiliki maksud dan tujuan yang baik. Aditya belajar banyak hal saat itu dan selalu mensyukuri memiliki orang tua yang selalu mendidiknya dengan baik juga dengan cara yang berbeda. Saat itu Aditya akhirnya mengerti arti dari sebuah kata Perjuangan, karena dampak yang harus di laluinya ketika itu begitu berat, dia harus menahan berbagai keinginannya yang awalnya sangat mudah untuk dia dapatkan tetapi ketika itu sekedar membeli minuman bersoda saja dia harus menunggu gajinya. Di bulan pertama dan kedua dia masih belum begitu merasakan dampaknya karena masih memiliki uang sisa dari uang bulanannya di bulan sebelumnya tetapi di bulan ketiga sampai seterusnya dia mulai merasakan bagaimana harus belajar berhemat yang super sekali. Dia sudah sejak kecil di ajarkan untuk berhemat oleh orang tuanya, tetapi tidak separah ketika orang tuanya benar-benar menghentikan uang bulanannya.
Hal itu yang akhirnya membuat Aditya mengerti mengenai cara untuk mensyukuri hidup, bagaimana cara bekerja keras, dan bertanggung jawab. Dan karena itu juga Aditya sampai saat ini menjadi pribadi tegas, bertanggung jawab serta selalu mensyukuri hidup. Meskipun dia di kelilingi limpahan materi yang luar biasa banyaknya, itu tidak pernah membuatnya melupakan sekitarnya serta tetap menjadi orang yang rendah hati. Dan Aditya selalu bertekad untuk mengajarkan anak-anaknya agar bisa menjadi seperti dirinya. Mengeluh?? Aditya tidak pernah mengeluh sama sekali di masa sulit itu, meskipun harus tertatih untuk bertahan hidup. Hanya rasa syukur yang selalu jadi obat ketika dia merasa tidak kuat, dan selalu ingat jika di luaran sana masih banyak sekali orang yang lebih tidak beruntung daripada dirinya. Dia bisa membeli sekeping roti dan sebotol air minum saja adalah berkah dari Tuhan, sedangkan ada banyak orang lain yang hanya makan 1 sampai 2 hari sekali. Pelajaran hidup yang luar biasa yang tidak akan pernah Aditya lupakan sepanjang hidupnya.
Tuan Harry menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menjelaskan jika Aditya memang pernah tidak mendapatkan uang bulanan selama beberapa bulan. Itu bukan karena Aditya melakukan kesalahan yang membuatnya marah sehingga menghukum Aditya, tetapi itu di lakukannya untuk mencoba melatih Aditya agar bisa hidup mandiri dan juga bisa memaknai apa itu kehidupan yang sebenarnya. Aditya melewati itu tanpa pernah mengeluh dan pada akhirnya bisa melewatinya dengan baik meski butuh perjuangan yang berat. Hal yang sama juga pernah di lakukan oleh Adri tetapi itu terjadi di tahun kedua saat kuliah, sedangkan Aditya terjadi setelah satu tahun kuliah S2 nya. Dan Adri juga bisa melewati masalah itu dengan bekerja, beda nya Adri memilih untuk menjadi pengantar makanan di salah satu restoran.
Sebenarnya Tuan Harry juga pernah membahas itu dengan Aditya, bagaimana jika Kyros ataupun Kyra juga di latih untuk itu. Tetapi Aditya menolaknya, karena tidak mau anak-anaknya mengalami kesulitan kemudian mengganggu belajar mereka, terlebih Kyra adalah anak perempuan, Aditya takut berdampak pada psikis dan juga takut Kyra justru melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan masa depannya, sedangkan Kyros juga sangat berambisi untuk mewujudkan impiannya, waktunya di habiskan untuk belajar dan juga melakukan penelitian. Jika hal yang sama juga di terapkan pada Kyra dan Kyros, fokus mereka akan terganggu. Dan Aditya tidak mau hal itu terjadi dan berdampak pada rencana yang sudah kedua anaknya siapkan dengan baik selama ini.
"Kau menolak usulan Papa, lalu kenapa sekarang kau melarang anakmu untuk bekerja??? Padahal itu adalah keinginan dari mereka sendiri??? Setidaknya mereka punya inisiatif sendiri, lalu kenapa kau meragukan niat mereka??? Papa tahu Dit, ketakutan apa yang sedang kau rasakan sekarang tetapi berilah Kyra ataupun Kyros kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa mandiri dengan kehidupannya...!" Ujar Tuan Harry.
Mendengar itu, Aditya hanya bisa terdiam tetapi dia memikirkan segala nya. Kyra dan Kyros juga saling melempar pandangan. Apa yang baru saja mereka dengar dari Opa nya adalah hal yang sama sekali tidak mereka ketahui selama ini. Cahya juga sama, ini adalah hal yang selama ini tidak pernah Aditya ceritakan padanya. Aditya hanya selalu mengatakan bahwa orang tua nya punya cara mendidik anak-anaknya itu berbeda dengan yang lain tetapi apa dan bagaimana, itu tidak pernah Aditya katakan. Yang jelas Aditya hanya akan memilah mana yang akan dia terapkan ke kedua anaknya nanti. Tetapi Cahya sama sekali tidak menyangka jika ada perjuangan yang cukup berat yang harus di hadapi oleh suaminya dulu.
Tuan Harry menatap Cahya, menantu nya yang juga sejak tadi diam, kemudian beralih memandangi Aditya. "Adit... Istri mu dulu juga pekerja keras, dia bisa berkuliah sambil membantu ibu nya, dan karena kalian berdua orang yang hebat dan juga memulai semuanya dengan kerja keras serta semangat yang tinggi, maka inilah hasil yang kalian dapat, yaitu dia anak-anaknya yang luar biasa hebat dan juga cerdas seperti hal nya kalian berdua dulu, kalian harus bangga dengan hal itu.."