
★★ BACK TO 17 YEARS AGO ★★★
Setelah meeting dengan kliennya di restorannya, Ariel mengemudikan mobilnya menuju kantor Aditya. Dia sudah ada janji bertemu dengan sahabatnya itu untuk membahas proyek besar yang akan mereka tangani. Selain bertemu dengan Aditya, Randy juga akan disana, ini adalah kesekian kalinya mereka bertiga berkolaborasi menjalin kerjasama, menyatukan bisnis mereka yang berbeda-beda menjadi satu kesatuan.
Ariel mengemudikan mobilnya dengan santai dan tidak mengebut karena masih banyak waktu. Entah kenapa saat ini dia merasa hidupnya lebih ringan, seolah semua beban dan berbagai hal buruk yang sering dia pikirkan kini hilang begitu saja. Hidupnya semakin bahagia walau dia dalam keadaan sendiri, terlebih lagi jika mengingat Gienka, putri kecilnya itu telah membuatnya menyadari semua kesalahannya. Gienka tumbuh dengan sangat baik, dan semakin cantik dan lucu. Ariel sangat tidak sabar saat putrinya memanggil dirinya dengan sebutan Papa, itu pasti akan jadi moment yang membahagiakan, terlebih lagi kemarin Aditya sempat bercerita kepadanya bahwa Kyros dan Kyra sudah bisa memanggilnya bahkan kedua bayi itu memiliki panggilan khusus untuk Aditya dan Cahya. Mendengar itu, dia sangat tidak sabar menunggu Gienka bisa melakukannya padanya suatu hari nanti.
Ariel juga masih mencoba untuk menerima keadaannya saat ini, mencoba menghargai Danist sebagai Ayah sambung dari putrinya. Walaupun suasana selalu canggung saat bertemu denga lelaki itu, tetapi Ariel tetap berusaha menghormati Danist mengingat lelaki itu juga sangat menyayangi Gienka.
Ariel juga masih berusaha untuk melupakan semua kenangan indahnya bersama Elea, bukan melupakan tetapi merubah itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, mengambil baiknya dan membuang buruknya. Elea hanya bagian dari masalalu indahnya, dan perempuan itu sudah cukup menderita karenanya, membiarkan dia bahagia dengan kehidupannya yang sekarang adalah kewajibannya agar tidak menimbulkan dampak buruk untuk Gienka nantinya.
Sambil mengemudi Ariel menikmati lagu-lagu yang dia putar dan sesekali bersenandung dengan merdu.
"Hello, it's me, your ex, I called to say not sorry, but I wish you the best, and I don't hold no grudges, promise this ain't a test, we okay, we okay...!!"
Ariel bernyanyi sambil tersenyum, karena sepertinya lagu yang berputar saat ini sangat cocok untuk suasana hatinya sekarang. Dimana lagu itu menceritakan tentang kisah patah hati yang biasanya cenderung emosional berubah menjadi lebih bahagia dan berevolusi. Tidak ingin berkutat pada sakit hati yang mendalam, lagu ini seakan mengajak yang mendengar untuk lebih fokus dan berdamai pada kegagalan hubungan, menjadi diri yang lebih baik dan tidak menyimpan dendam. Bahkan juga mendoakan agar bisa sama-sama mendapatkan kebahagiaannya sekarang.
Ditengah senandungnya, tiba-tiba Ariel melihat seorang perempuan sibuk dengan ponselnya bersandar di sebelah mobil. Ariel melewatinya tetapi kemudian menghentikan mobilnya saat dari kaca spionnya dia melihat bagian depan mobil perempuan itu terbuka yang mengisyaratkan jika sepertinya mobil itu mengalami kerusakan.
Ariel memundurkan mobilnya dan berhenti di depan mobil yang mogok itu. Ariel keluar dan berjalan menghampiri perempuan itu. Melihat kedatangan Ariel, perempuan itu menutup ponselnya dan tersenyum.
"Pak Ariel, selamat siang pak"
"Siang May, ini mobilmu? Kenapa May?"
"Iya pak ini mobil saya, tidak tahu kenapa tiba-tiba mogok padahal saya sedang buru-buru untuk kembali ke kantor" Ujar Maysa.
"Jam segini kamu baru mau ke kantor??"
"Ah tidak pak, saya baru saja meeting dengan klien diluar karena pak Aditya sedang ada kesibukan di kantor jadi menyuruh saya untuk pergi"
"Oke, kalau kau buru-buru ikut saja denganku, kebetulan aku akan menemui Adit dikantornya, masalah mobilmu tinggalkan saja, aku akan menghubungi bengkel kenalanku untuk mengurusnya"
Ariel kemudian mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang yang sepertinya orang bengkel lalu menyebutkan lokasinya saat ini agar segera bisa datang dan membetulkan mobil Maysa.
"Ayo May, tinggalkan saja disini, mereka sedang dalam perjalanan kesini, ambil barang-barangmu di mobil"
Maysa kemudian mengambil tas dan dokumen-dokumen yang akan di bawanya ke kantor. "Maaf saya merepotkan bapak" Gumamnya sambil menundukkan kepala.
"Tidak merepotkan May, kita kan satu tujuan, ayo silakan" Ariel membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Maysa untuk masuk.
Ariel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Maysa duduk dan hanya diam, merasa sedikit canggung karena ini pertama kalinya dia semobil dengan Ariel yang notabennya adalah rekan bisnis serta sahabat dekat atasannya. Selama ini mereka sering bertemu tetapi hanya sekedar menyapa saat Ariel datang untuk menemui Aditya.
Ariel menoleh ke arah Maysa yang duduk di sampingnya, perempuan itu terlihat tegang dan hanya diam, membuat Ariel tersenyum. Maysa ternyata sangat cantik saat dilihat lebih dekat, siluet perempuan itu begitu sempurna. Tetapi dengan buru-buru Ariel menampik pemikiran spontanitasnya kepada Maysa.
"Bagaimana rasanya memiliki atasan seperti Aditya? Apa dia sering menyulitkanmu May??" Tanya Ariel mencoba membuka obrolan agar suasana di mobil tidak tegang.
"Tidak pak, anda tahu sendiri bahwa pak Aditya sangat baik dan sering membimbing saya jika saya mengalami kesulitan"
"Adit sering memuji hasil kerjamu, kau bekerja dengan sangat baik, kau sudah cukup lama ya menjadi sekretaris Adit, lebih tepatnya sudah berapa tahun May?"
"Sudah hampir 4 tahun pak!"
"Wow....!!! Cukup lama juga ya, kau benar-benar luar biasa"
Agar suasana tidak menjadi canggung, Ariel mengajak Maysa mengobrol berbagai hal mulai dari pekerjaan hingga obrolan ringan lainnya. Dan akhirnya Maysa sudah mulai terlihat tidak canggung lagi kepadanya. Ariel mencoba memakluminya kaarena Maysa mungkin merasa tidak enak atau yang lainnya jadi dia tadi dia terlihat canggung.
"Kau tinggal dimana May??" Tanya Ariel lagi.
"Saya tinggal di Golden apartemen pak"
"Golden apartemen??? Aku juga memiliki unit disana, sempat tinggal disana sebelumnya, lalu kau berasal dari mana?"
"Aku berasal dari Surabaya"
"Wow jauh juga ya....?"
"Iya pak, saya anak perempuan satu-satunya, Mama saya awalnya tidak menyetujui saya bekerja di Jakarta tetapi lama-kelamaan saya bisa meyakinkannya"
"Itu hal wajar, tetapi kau memiliki karir yang bagus, pertahankan dan orangtuamu pasti bangga denganmu"
Maysa tersenyum mendengar perkataan Ariel, ya tentu saja tujuannya memang hanya satu yaitu membahagiakan sang Mama yang sangat dia sayangi yang kini tinggal jauh darinya. Dan dia sangat merindukannya karena sudah lama tidak pulang.
******
Dan sampailah mereka di kantor Aditya, Ariel menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk, kemudian turun dan seorang petugas menghampirinya menyapa dengan sopan lalu Ariel memberikan kunci mobilnya agar petugas itu memarkirkan mobilnya. Maysa juga turun dari mobil Ariel, dan tidak di duga bersamaan dengan itu mobil Aditya juga baru tiba.
Aditya di buat terkejut saat melihat sekretarisnya turun dari mobil Ariel. "Kau baru tiba Iel??? Well, kenapa Maysa datang bersamamu??? Apa kalian.....????" Gumam Aditya sambil menahan senyumnya dan menaruh kecurigaan dengan kedua orang itu.
"Ah tidak pak! Tadi mobil saya mogok di jalan dan kebetulan pak Ariel lewat jadi beliau menawari saya untuk pergi bersama" Jawab Maysa dengan cepat agar tidak menimbulkan prasangka yang tidak-tidak dari bosnya.
Ariel masuk ke ruangan Aditya dan duduk di mini bar yang ada disana, sementara Aditya mengambil 2 botol softdrink dari lemari pendingin dan memberikannya pada Ariel. Randy masih dalam perjalanan menuju kantor ini jadi mereka harus menunggunya sebelum memulai diskusi tentang rencana kerjasama mereka.
Tak berapa lama Maysa datang membawa berkas-berkas hasil pertemuannya tadi dengan klien, untuk menyerahkannya pada Aditya. "Permisi pak Aditya" Ucap Maysa sambil mengetuk pintu besar ruangan itu.
"Masuk May!" Jawab Aditya lalu berjalan menuju meja kerjanya.
Maysa menyodorkan nerkas-berkas itu pada Aditya. "Ini laporan hasil pertemuan tadi pagi pak, dan ini berkas-berkas dari perusahaan subkontraktor kita yang bisa bapak pelajari sebelum besok siang melakukan pertemuan dengan mereka, ini juga schedule bapak selama sepekan nanti yang sudah saya atur"
Aditya memeriksa berkas-berkas itu, tetapi kemudian lirikan matanya mengarah ke Ariel yang duduk sambil meminum softdrink, tetapi anehnya pandangan Ariel justru terfokus ke sekretarisnya. Aditya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau sudah atur pertemuanku dengan para GM yang ku kirim ke Swiss kemarin?"
"Sudah pak, hari jumat nanti, saya juga sudah menghubungi mereka agar datang tepat waktu"
"Bagus, segera atur semua yang akan kita berikan untuk mereka, sekarang kau bisa pergi dari ruangan ini, karena jika tidak, sudah ada ular besar disini yang siap memangsamu" Gumam Aditya yang langsung membuat Ariel tersedak dan batuk-batuk.
Ariel ternyata langsung sadar dengan sindiran Aditya dan langsung mengarahkan pandangannya ke depan tidak lagi ke Maysa. Sedangkan Maysa bingung dengan apa yang dikatakan oleh bosnya, bagaimana bisa di ruangan seperti ini ada ular, mungkin bosnya hanya bercanda. Maysa mengucap permisi dan meninggalkan ruangan Aditya, ternyata disaat yang bersamaan Randy sudah datang.
Ariel masih batuk-batuk karena tersedak tadi dan memutuskan berdiri untuk mengambil air putih.
"Kenapa si brengs*k ini batuk-batuk Dit? Apa kau memberinya racun tikus di minumannya" Gumam Randy mengejek.
"Bukan racun, dialah yang sebentar lagi akan menebarkan racun di kantorku, kau tahu Ran, bahwa tadi dia datang kesini bersama dengan sekretarisku, aku tidak percaya dengan alasan Maysa bahwa mobilnya mogok, karena kurasa Ariel sengaja menjemputnya tadi hahaha"
"Maksudmu si Maysa???"
"Ya tentu saja, memang sekretarisku yang mana lagi"
" Wooowww" Ujar Randy kemudian melangkah mendekati Ariel dan bertepuk tangan.
Sedangkan Ariel terlihat bingung dan bergumam kesal karena ejekan Aditya. "Shiiit... Aku hanya memberinya tumpangan karena mobilnya mogok kenapa sejak tadi kau mempermasalahkannya, sialan kau Dit" Gumamnya jengkel.
Randy mengambil paksa botol air mineral dari tangan Ariel dan langsung meminumnya. "Bagus kawan, kau harus mulai move on dan memulai hubungan yang baru, aku setuju jika kau dengan Maysa, dia perempuan yang baik dan sangat cerdas, jangan sampai kau terjerat lagi dengan ratu sihir seperti Viona itu, aku mendukungmu, kau sendiri bagaimana Dit?"
"Why not??? Aku oke oke saja jika memang si brengs*k ini menjalin hubungan dengannya, dan Randy benar, Maysa memang perempuan yang baik dan polos tetapi sangat cerdas"
Ariel mendengus kesal sambil melangkah menuju sofa lalu melemparkan tubuhnya di sofa. Bagaimana bisa kedua sahabatnya itu bergumam tidak jelas tentangnya dan Maysa. Hubungan apa yang mereka bahas, dia hanya memberi tumpangan kepada Maysa karena perempuan itu mobilnya mogok, hanya itu tetapi Aditya malah terlalu berlebihan menanggapinya.
"Diamlah kalian berdua dan berhenti mengejekku, aku tidak ada waktu untuk memikirkan sebuah hubungan, aku hanya sekali menolongnya dan kalian malah mengejekku" Gerutu Ariel.
Aditya dan Randy tidak menanggapi dan malah terus menertawakan Ariel. Aditya benar-benar merasa senang jika Ariel memang memiliki kedekatan dengan Maysa sekretarisnya. Sepertinya sudah saatnya Ariel mai move on dari Elea juga melupakankepahitan hidupnya akibat ulah Viona dan Ariel harus memulai hubungan baru lagi agar bisa berbahagia.
★★★
Setelah dari kantor polisi dan umah Aditya mengurus mengenai masalah kebakaran di rumah mertua Aditya,, ternyata Ariel tidak langsung kembali pulang melainkan kembali lagi ke kantor Aditya. Tadi dia sudah menghubungi Maysa bahwa dia akan mengantar perempuan itu untuk mengambil mobilnya di bengkel. Dia sudah dihubungi pihak bengkel bahwa mobil sudah di derek kesana dan juga sudah selesai diperbaiki. Maysa menolak untuk di jemput oleh Ariel dan berniat mengambil mobilnya sendiri karena tidak ingin merepotkan Ariel, tetapi Ariel memaksa dan tetap mau menjemputnya.
Ariel menunggu Maysa di parkiran sambil melihat ke arah pintu keluar kantor Aditya, sebentar lagi jam pulang kerja. Tidak lama karyawan mulai keluar, termasuk Maysa, Ariel bergegas menyalakan mobilnya dan menghampiri Maysa.
Ariel keluar dari mobil dan melangkah mendekati Maysa. "Sore May, ayo masuk" Ariel membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan masuk.
"Pak Ariel, saya kan sudah mengatakan tidak perlu menjemput saya"
"Tidak apa-apa, ayo sebelum bengkelnya tutup"
Maysa terlihat meragu tetapi kemudian dia masuk ke mobil Ariel karena merasa tidak enak dan Ariel sudah menjemputnya. Ariel juga masuk ke mobilnya dan mulai mengemudikannya.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini May??" Tanya Ariel membuka obrolannya lagi.
"Lancar pak" Jawab Maysa singkat.
"Kau sepertinya sangat menyukai pekerjaanmu sebagai seorang sekretaris, apa karena itu sudah menjadi keinginanmu sejak dulu???"
Maysa tersenyum. "Iya Pak, dulu ibu saya juga seorang sekretaris dan aku melihatnya sangat keren, jadi aku juga ingin seperti dia"
"Wow....!!! Lalu profesi Papamu?"
"Papaku meninggal saat aku masih kecil, dan Mama harus bekerja keras sendiri untuk menghidupiku, Mama pergi ke Jakarta sementara aku tinggal bersama nenekku di Surabaya tetapi suatu hari Mama memilih untuk berhenti menjadi sekretaris lalu memilih pulang"
"Apa Mamamu tidak menikah lagi?"
"Pernah tetapi hanya sebentar lalu berpisah bahkan aku juga belum tahu seperti apa wajah suami keduanya, setelah itu Mama pulang dan membuat usaha di rumah, setelah lulus aku yang bergantian datang kesini dan menjadi sekretaris juga seperti Mama"
Ariel menoleh ke arah Maysa dan diam-diam melempar senyum ke arah perempuan itu. Sepertinya Maysa adalah perempuan yang mandiri dan mencintai Mamanya, terlihat dari perawakan Maysa yang lembut. Mamanya pasti merasa bangga memiliki seorang putri seperti Maysa. Dan pasti mereka Mama Maysa adalah perempuan hebat sehingga bisa memiliki anak seperti Maysa yang sangat mengerti keadaanya.
Sampailah mereka di bengkel, Ariel dan Maysa turun dan masuk ke bengkel. Ariel menemui pemilik bengkel dan menanyakan tentang kerusakan mobil Maysa.
Tak diduga Ariel menanggung semua biaya kerusakan mobil Maysa. Terjadi perdebatan antara dirinya dan Maysa karena sudah tentu Maysa menolaknya, karena merasa terlalu berlebihan dan Ariel juga sudah membantunya. Tetapi tentu saja bukan Ariel jika tidak bisa menangani permasalahan seperti ini. Akhirnya mau tidak mau Maysa pun menuruti dan membiarkan Ariel membayar tagihan bengkel itu.