I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 192



Kyros keluar dari kantornya dia tampak mengobrol dengan seorang temannya. Smith adalah teman dekat Kyros di kantor, dan kebetulan juga istri Smith adalah perempuan yang berasal dari Indonesia. Dan Smith juga sering datang ke apartemen Kyros untuk sekedar mengobrol atau minum dan membahas tentang pekerjaan. Kyros tadi memberitahu Smith jika dia kemarin pulang selain untuk menemui keluarganya juga melangsungkan pernikahan dan saat ini istrinya juga ikut dengannya kesini. Mendengar itu, Smith turut berbahagia dan meminta Kyros agar mengadakan pesta kecil di apartemennya sebagai perkenalan dengan istrinya. Kyros pun menyetujuinya dan meminta Smith agar datang bersama istrinya juga sehingga nanti Gienka juga bisa berkenalan dengannya. Smith pun nanti akan datang bersama istrinya. Mereka berdua pun berpisah dan mengucap sampai jumpa nanti malam.


Kyros kemudian masuk ke dalam mobilnya, dia baru saja selesai melakukan meeting penting bersama dengan teman-temanya, hari sudah gelap, dan tadi dia merasa bahwa ponselnya terus bergetar, tetapi dia tentu tidak bisa mengangkatnya. Kyros mengambil ponselnya dari saku celananya, dan menemukan Mama mertuanya sudah menghubunginya sembilan kali. "Mama??? Ada apa ya?? Kok tumben?" Gumamnya.


Kyros menyalakan mobilnya dan menyambungkan ponselnya ke mobilnya, kemudian menghubungi Elea, Mama mertuanya. Dalam deringan kedua, panggilan Kyros langsung diangkat oleh Elea. "Hallo Ma...! Sorry tadi Ky ada meeting dan baru selesai jadi tidak bisa mengangkat telepon Mama? Ada apa??? Apa semua baik-baik saja dirumah???" Tanya Kyros.


"Ky...! Kau ada di rumah kan bersama Gienka?" Elea bertanya balik pada menantunya itu.


"Tidak...! Ky tadi kan bilang kalau Ky baru selesai meeting, ini baru mau jalan pulang..! Kenapa Ma?"


"Sudah sekitar 2 jam Mama menghubungi istrimu tetapi tidak dijawab sama sekali....! Kemana dia pergi? Mungkin dia berpamitan padamu?" Tanya Elea.


"Tidak...! Gienka tidak mengatakan ingin pergi kemana-mana, dia bilang ingin dirumah saja karena harus menyelesaikan pekerjaannya! Emmm mungkin dia sedang tidur Ma jadi tidak menjawab telepon Mama, atau mungkin pergi ke supermarket tapi ponselnya tertinggal di rumah! Tapi sebenarnya ada apa Ma? Jika ada yang penting Mama bisa mengatakan padaku nanti aku sampaikan pada Gie...! Ada apa??"


"Tidak...! Tidak ada yang penting, Mama hanya khawatir saja karena Gienka tidak menjawab panggilan Mama, itu tidak pernah terjadi sebelumnya, kalaupun dia tidur dia tetap akan bangun jika mendengar ponselnya berbunyi!" Ucap Elea, tetapi kecemasannya masih belum mau pergi, hanya saja dia berusaha untuk menutupinya.


"Oh...! Iya Mama tenang saja, mungkin ponselnya dalam mode silent jadi dia tidak mendengarnya, oke begini saja, nanti kalau Ky sudah sampai rumah, Ky akan bilang pada Gie agar menghubungi Mama!" Ujar Kyros kemudian, berharap agar mertuanya itu tenang dan tidak khawatir.


"Kau cepat pulang ya, jangan mampir kemana-mana, segera hubungi Mama jika sudah bertemu Gienka!" Elea kemudian menutup teleponnya.


Elea memejamkan matanya berharap Gienka tidak sedang dalam masalah atau bahaya. Putrinya berada sangat jauh darinya, dan sekarang justru dia merasa gelisah luar biasa memikirkan Gienka.


Sementara itu, setelah menghubungi mertuanya, Kyros langsung menghubungi Gienka. Benar saja, beberapa kali dia menghubungi istrinya itu tetapi tidak dijawab sama sekali. Tapi Kyros tidak mau berpikir buruk, dan mungkin Gienka sedang tidur atau sedang pergi keluar. Kyros melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Kyros membatalkan niatnya untuk membeli minuman sebagai persiapannya nanti malam saat Smith dan istrinya datang, dia akan membeli di supermarket didepan apartemennya saja.


Sementara itu, Camilla duduk di balkon apartemennya sambil menikmati wine. Senyum Camilla terus mengembang diwajahnya ketika melihat lampu balkon apartemen Kyros belum menyala yang artinya Kyros juga belum sampai disana, dan sudah pasti saat ini obat yang dia masukkan di minuman Gienka sudah bereaksi. Camilla sangat penasaran apakah Gienka sudah tidak sadarkan diri atau sedang mengejang kesakitan karena efek obat itu. Camilla tidak peduli lagi, yang terpenting adalah dia bisa melihat Gienka menderita, kalaupun Gienka harus meregang nyawa, tentu itu adalah bonus untuknya.


Gienka membuka matanya sekitar satu jam yang lalu setelah dia tidak sadarkan diri, hanya matanya melotot dan tubuhnya mengejang. Gienka tidak bisa mengeluarkan suaranya, dan seluruh otot tubuhnya tidak berfungsi sehingga dia tidak bisa bergerak. Gienka merasa ini seperti akhir dari hidupnya, tidak ada orang yang menolongnya. Kyros juga tidak kunjung pulang. Gienka hanya bisa menangis dalam hati. Dia tidak tahu kenapa hal seperti ini terjadi pada dirinya. Gienka menangis mengingat semua keluarganya dan takut bahwa dia akan meninggal dalam keadaan seperti ini. Sekujur tubuhnya terasa sakit sekali, dan napasnya perlahan mulai tersenggal.


"Mama....! Papa....! Ky....! Tolong Gie....!" Gumamnya dalam hati seraya matanya berkaca-kaca. Gienka sudah benar-benar pasrah bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi.


Kyros akhirnya sampai, dia keluar dari lift dan berjalan menuju apartemennya. Gienka masih belum menjawab teleponnya, entah apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu. Kyros membuka pintu apartemennya dan mengernyit menemukan kondisi gelap, saklar belum dinyalakan dan suasana juga hening. "Sayang....!!! Aku pulang....!" Panggil Kyros, kemudian menyalakan saklar dan lampu ruang depan menyala.


Kyros melihat laptop dan ponsel istrinya ada di atas meja. Laptop itu juga dalam keadaan terbuka. Kyros kemudian melangkah ke kamar dan lagi-lagi lampu kamar mati lalu ketika dinyalakan dia tidak menemukan istrinya berada disana. Kyros melangkah ke kamar mandi dan hal sama juga terjadi dimana Gienka tidak ada. "Gienka pergi kemana?? Lampu dibiarkan mati semua!!!" Gumam Kyros yang sedikit kesal.


Kyros melepaskan mantelnya serta jasnya juga kemudian membuka kancing lengan kemejanya dan melipatnya sampai siku. Kyros kemudian keluar lagi dengan wajah masam karena dia pulang tidak disambut oleh Gienka, bahkan keadaan apartemennya sangat sepi sekali. Ingin sekali rasanya Kyros memarahi istrinya itu jika nanti dia sudah pulang. Kyros melangkah menuju dapur untuk mengambil minum.


Dapur itu berada disisi kanan apartemennya tepatnya di belakang kamarnya, terhubung langsung dengan meja makan. Dapur juga dalam keadaan gelap, Kyros kembali menyalakan saklar lampu ruangan itu yang ada di dekat meja makan. Dan saat dia melangkah menuju dapur, mata Kyros langsung terbelalak ketika menemukan Gienka terkapar dengan keadaan yang menakutkan. Gienka mengejang, dan matanya melotot, mulutnya juga mengeluarkan darah.


Kyros langsung duduk. "Sayang...! Kau kenapa...??? Sayang.....!!!" Kyros panik dan dia menepuk-nepuk pipi istrinya itu.


Napas Gienka tersenggal, dan tubuhnya kaku sekali. Kyros benar-benar takut dan airmatanya keluar, dia terus memanggil nama Gienka. Tetapi kemudian tersadar bahwa dia harus segera menghubungi ambulance. Kyros mengambil ponselnya dan langsung menghubungi rumah sakit terdekat. Kyros bisa saja langsung membawa istrinya ke rumah sakit, hanya saja melihat napas Gienka yang tersenggal, dia tidak.mau mengambil resiko, setidaknya jika dibawa oleh ambulance, Gienka bisa mendapat pertolongan pertama.


Kyros memeluk Gienka dan menangis. "Sayang...! Apa yang sebenarnya terjadi??? Kenapa kau bisa begini.....! Bertahanlah oke.... Ambulance akan tiba beberapa menit lagi...!"


Kyros menciumi kening Gienka dan dia benar-benar ketakutan sekali. Gienka tidak mengatakan apapun dan hmterus saja mengejang. "Please ..... Kau harus bertahan oke.....! Sebut juga nama Tuhan dalam hati, minta pertolongannya....!!" Ujar Kyros pada Gienka.


Kyros terus memeluk Gienka dan tidak berhenti merapalkan doa untuk keselamatan istrinya itu. "Ya Allah.... Kenapa dengan istriku??? Aku mohon selamatkan dia....! Please....! Please....!" Kyros semakin terisak.


Hingga akhirnya dia mendengar suara ketukan pintu apartemennya, bergegas dia berdiri dan membukanya. Kyros langsung menyuruh petugas ambulance itu untuk membawa istrinya segera.


Di dalam ambulance, Gienka langsung mendapatkan pertolongan pertama, masker oksigen juga dipasang di mulut dan hidungnya. Ketika petugas menanyakan pada Kyros tentang riwayat penyakit Gienka, Kyros hanya menggelengkan kepalanya, karena dia sama sekali tidak tahu apakah istrinya itu punya penyakit bawaan atau pernah sakit lain.


Akhirnya sampai juga di rumah sakit, karena memang jarak rumah sakit dan apartemen Kyros tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit saja. Tetapi karena dibawa oleh ambulance, maka mereka sampai lebih cepat. Gienka langsung dibawa untuk mendapatkan perawatan dan di cek apa yang sebenarnya terjadi dengannya.


Kyros duduk dan menunduk dengan sedih dan airmatanya tidak berhenti mengalir. Semua ketakutan itu bergumul menjadi satu di kepalanya. Ini pertama kali baginya melihat Gienka dalam keadaan yang menakutkan seperti itu. Tubuh istrinya itu sangat kaku sekali, wajah Gienka juga sangat jauh berbeda dari biasanya. Gienka benar-benar seperti mayat tetapi masih memiliki napas.


Kyros mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Elea tetapi tidak jadi. Kyros berpikir jika hal seperti ini diberitahukan oleh orang yang ada di rumah pasti mereka semua akan panik. Lagipula dia juga masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gienka sebenarnya. Tetapi tidak ada salahnya jika dia menghubungi Kyra, adiknya itu pasti sangat tahu tentang Gienka. Kyros juga yakin Kyra akan bisa menjaga ini semua dari yang lainnya.


"Halo Ky...! Bagaimana kabarmu dan Gie???" Tanya Kyra langsung ketika menerima panggilan dari kakaknya.


"Aku baik...!" Jawab Kyros dengan suara pelan. "Kau sekarang ada dimana Ra??"


"Aku ada diruanganku, baru saja sampai, kenapa Ky? Suaramu terdengar sedih, apa semua baik-baik saja? Kau tidak bertengkar dengan Gienka kan???" Tanya Kyra yang mulai curiga.


"Tidak...!" Jawab Kyros singkat, dia kemudian mengangkat tubuhnya dan bersandar di kursi tunggu. "Ra...! Kau sendirian kan sekarang? Tidak ada siapapun didekatmu??"


Kyra mengernyit dan masih heran dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Ini tidak seperti Kyros yang biasanya. "Tidak...! Aku tidak bersama siapapun sekarang, kenapa si Ky? Ada apa?? Jangan membuatku panik...!"


Kyros menarik napasnya dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Kemudian dia meminta agar Kyra tenang dan tidak mengatakan apapun pada orang lain tentang hal yang ingin dikatakannya sekarang. Kyra pun menyanggupinya dan Kyros mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Gienka. Sontak Kyra langsung panik dan menayakan kondisi Gienka saat ini.


"Aku tidak tahu Ra, dokter masih berusaha menyelamatkannya, aku hanya ingin tanya padamu, apa Gienka punya riwayat penyakit kejang atau semacamnya? Apa sebelumnya dia pernah mengalami hal yang seperti ini disana???" Tanya Kyros dengan suara bergetar dan diselingi isakan.


"Tidak Ky... Setahuku Gienka tidak pernah mengalami hal mengerikan seperti itu, dia hanya punya satu penyakit yang membuatnya sering mengeluh yaitu migrain, itu saja, tidak ada yang separah itu! Kau tenang ya, dan terus berdoa, Gienka pasti akan baik-baik saja...! Aku sekarang akan pulang dan akan mencari penerbangan kesana sekarang juga!"


"Jangan...! Tidak perlu kau melakukan itu, yang ada nanti semua orang curiga, bantu doa saja! Aku akan terus mengabarimu, sudah dulu!" Kyros kemudian menutup teleponnya.


Berbagai pertanyaan kembali menggelayuti pikirannya. Tetapi Kyros tidak berhenti berdoa, dia terus mengharapkan keselamatan istrinya. Dia dan Gienka baru saja berbahagia, lalu kenapa hal ini bisa terjadi. Ponselnya berdering dan ada nama Elea disana, Kyros langsung mengernyit. Mau tidak mau dia harus berbohong pada mertuanya itu tentang kondisi Gienka saat ini yang masig belum dikatahui penyebabnya. Kyros mengatur napasnya bahkan mengetes suaranya agar tidak dicurigai oleh Elea. Kyros mencoba tersenyum sebelum mengangkatnya. Dan benar saja, Elea menanyakan tentang Gienka, Kyros memejamkan matanya dan memohon ampun pada Tuhan karena terpakasa harus membohongi mertuanya sendiri atas nama kebaikan. Kyros langsung menjelaskan jika Gienka saat ini sedang tidur dan tidurnya nyenyak sekali hingga membuatnya tidak tega untuk membangunkannya lalu meminta mertuanya agar tidak khawatir.


Percaya dengan apa yang diucapkan Kyros, Elea pun menutup teleponnya dengan perasaan sedikit lega. Dan dia juga tidak boleh mengganggu waktu istirahat Gienka dan Kyros. Walauoun masih belum merasa tenang, tetapi mungkin malam nanti dia akan menghubungi Gienka lagi.


Tak lama, ponsel Kyros berdering lagi, dan ternyata itu adalah telepon dari Smith. Kyros mengangkatnya dan langsung meminta maaf pada temannya itu, karena saat ini dia ada dirumah sakit. Kyros juga menjelaskan keadaan Gienka pada Smith. Ternyata Smith dan istrinya sudah berada di apartemen Kyros, mendengar itu, Smith pun akan menyusul Kyros di rumah sakit.


*****


Dokter masih belum keluar, dan Kyros yang ditemani oleh Smith juga istrinya juga masih menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya seorang perawat keluar dan meminta agar Kyros ikut bersamanya untuk menemui dokter yang akan menjelaskan tentang keadaan Gienka.


Kyros masuk dan kesedihannya kembali bertambah ketika melihat Gienka terbaring dengan berbagai peralatan yang menempel ditubuhnya. Hanya saja kondisi Gienka sudah tidak menakutkan seperti tadi lagi. Kyros kemudian menyimak dengan baik penjelasan dokter tentang kondisi istrinya. Dan Kyros sangat terkejut ketika dokter mengatakan bahwa Gienka sepertinya sudah mengkonsumsi sebuah obat yang membuatnya jadi seperti itu. Dan jika telat sedikit lagi, sudah pasti nyawanya bisa tidak akan tertolong. Gienka termasuk kuat bisa bertahan dalam kondisi seperti itu.


Mengenai obat yang disebutkan oleh dokter, Kyros langsung membantahnya karena Gienka sama sekali tidak mengkonsumsi obat apapun. Dia bisa memastikan itu, karena istrinya tidak membawa obat apapun dari rumah, bahkan untuk vitamin Gienka juga belum sempat membelinya disini dan Kyros juga tidak menyimpan obat semacam itu di apartemennya. Juga tidak mungkin Istrinya sengaja mengkonsumsi itu, karena untuk apa, mereka pun tidak sedang dalam masalah sehingga membuat Gienka berniat mengakhiri hidupnya dengan obat itu.


Dokter pun bisa mengerti penjelasan dari Kyros, kemudian dia kembali menjelaskan bahwa itulah fakta yang didapat dari pemeriksaannya tadi. Dia juga tidak tahu bagaimana bisa ada kandungan obat itu di dalam tubuh Gienka, bisa jadi dari makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Mungkin nanti setelah Gienka sadar, barulah bisa mereka menanyakannya, dan saat ini kondisi Gienka belum begitu stabil, masih butuh waktu untuk mengeluarkan semua kandungan dari obat itu.


Kyros keluar dari ruangan itu dengan wajah dan ekspresi yang semakin bingung. Obat itu, bagaimana bisa Gienka mengkonsumsinya. Darimana istrinya mendapatkan itu, dan untuk apa mengkonsumsinya. Kyros benar-benar semakin pusing saja. Tetapi benar, yang bisa menjawab semua itu hanyalah Gienka sendiri.


Kyros kembali menemui Smith dan istrinya diluar. Dia juga menjelaskan apa yang dokter baru saja ungkapkan padanya. Smith menenangkan Kyros dan meminta Kyros untuk bersabar. Kyros kembali teringat sesuatu, dimana besok dia dan Smith harus kembali meeting. Itu sangat penting serta tidak mungkin dia harus ijin, tetapi sekarang kondisi Gienka seperti ini. Kyros semakin bingung, tidak mungkin dia meninggalkan Gienka dalam keadaan seperti ini, tidak mungkkn juga dia tidak hadir dalam pertemuan itu.


Kyros terdiam sambil menunduk, dia bingung siapa yang akan menjaga Gienka besok. "Apa aku menghubungi Camilla saja ya untuk meminta bantuannya agar menjaga Gienka???" Gumam Kyros dalam hati.