
Adri, Chika, dan Kyros sampai di rumah sakit yang ada di Surabaya. Aditya tidak bisa ikut karena besok ada pekejaan penting yang harus di kerjakan dan meminta Kyros untuk menemani Adri dan Chika. Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan pesawat. Tadi saat menuju bandara sebelum tebang, Chika menghubungi Pamela yang kebetulan sedang berada di Surabaya untuk mengunjungi Neneknya, sehingga Chika meminta bantuan Pamela untuk mendatangi rumah sakit tempat Niall di rawat sehingga Pamela bisa mewakili keluarga untuk mengurus Niall sebelum dia sampai di Surabaya.
“Pamela!!!”
Itu suara Chika, Mama Niall, wanita itu berjalan tergesa menghampiri Pamela, Pamela segera berdiri dan memeluknya.
“Bagaimana Niall???” air mata Mama Niall berderai. “Kau sudah lama di sini sayang???”. Tadi Pamela berusaha menghubungi Mama Niall setelah menerima kabar dari dokter, tetapi teleponnya tidak tersambung. Jadi pantas saja kalau Mama Niall benar-benar panik sekarang.
“Niall tidak apa-apa Mama, tidak ada gegar otak, memar-memar memang ada di seluruh tubuhnya, dan kakinya patah.”
“Astaga.” Chika terisak lagi, dan Adri Papa Niall menggenggam jemarinya dengan lembut memberi kekuatan, “Bisakah kita menengoknya???” Mama Niall melangkah ke jendela kaca besar tempat Niall terbaring di atas ranjang di dalamnya. “Bisakah kita menengoknya???”
“Tadi masih belum boleh Mama” gumam Pamela pelan, “Kata dokter, Niall masih dalam penanganan dan persiapan untuk operasi pemasangan pen untuk tulangnya yang patah setelah kondisinya stabil. Dan juga Niall belum sadar, mungkin lebih baik kita menemui dokter sekarang, dokter bilang ingin bicara dengan Mama dan Papa untuk membahas kondisi Niall.”
“Oke kalau begitu kita ke sana.” Chika merangkul Pamela, dan kemudian berjalan ke lorong dan melewati Sheryl yang duduk di sana.
Tidak sekalipun Mama Niall menoleh ke arah Sheryl, hanya Pamela yang sedikit melemparkan pandangan tak tertebak ke arah Sheryl. Ketika mama dan Papa Niall beserta Pamela dan melangkah pergi, Sheryl menatap mereka semua sampai di ujung lorong dan benar-benar merasa seperti orang luar yang tak berhak berada di sana. Sheryl adalah perempuan yang saat ini dekat dengan Niall. Perempuan yang menjadi alasan Niall membatalkan pertunangannya dengan Pamela.
"Ah Ya Tuhan, apakah memang ini bukan tempatnya???" Gumam Sheryl dalam hati.
"Kami sebenarnya ingin membawa Niall kembali ke Jakarta.” Mama Niall bergumam setelah mendengar penjelasan dari dokter. Mama dan Papa Niall duduk di meja di depan meja dokter, sementara Pamela dan Elvin duduk di kursi yang tersedia di belakang, menempel di tembok.
Dokter itu menggelengkan kepalanya,
“Saya rasa pasien harus tetap di sini sampai kondisinya pulih benar. Anda bisa membawanya pulang setelahnya.”
Chika menghela napas panjang, dia amat sangat ingin membawa Niall pulang. Berada di kota ini sepertinya telah sangat membuat Niall jauh dari keluarganya, sejak kejadian dia memaksa Niall agar menerima Pamela, hubungannya dengan Niall menjadi renggang, putra itu menjauh, hampir tidak pernah menghubunginya kalau tidak benar-benar perlu.
Mama Niall tahu dia terlalu memaksakan hati Niall. Matanya melirik ke arah Pamela yang sedang duduk, tampak sama-sama cemas dengannya dengan saudara sepupunya yang menemaninya. Ya ampun, tidakkah semua Mama di dunia ingin mempunyai menantu seperti Pamela??? Menantu yang begitu cantik dan berhati baik. Mama Niall jelas-jelas menginginkan Pamela menjadi menantunya. Dia telah amat sangat mengenal Pamela karena perempuan itu adalah anak dari sahabatnya. Mama Niall bahkan sudah menggendong Pamela sejak anak itu masih kecil.
Perjodohan Pamela dengan Niall adalah impiannya, pada akhirnya dia akan menjadikan Pamela sebagai putri kesayangannya. Mama Niall yakin Pamela adalah perempuan yang paling baik untuk Niall, karena dia sangat mengenal Pamela.... Jauh sekali dari perempuan tidak jelas itu, perempuan yang katanya didebarkan oleh jantung Niall dan dikejarnya setengah mati.... perempuan seperti apakah yang bernama Sheryl itu??? Akankah dia menjadi yang baik??? Dan lagipula, apakah dia perempuan baik-baik???
Dari yang diceritakan Niall, laki-laki bernama Alex yang sekarang jantungnya ada di dada Niall itu adalah kekasih Sheryl, yang hampir membawanya ke jenjang pernikahan sebelum meninggal. Mama Niall tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya sejauh apa hubungan Alex dengan Sheryl itu, dia dipenuhi ketidakyakinan, karena sebelum bertemu Niall, Sheryl sudah meletakkan hatinya kepada Alex. Berbeda dengan Pamela, Pamela yang polos dan suci, yang sejak awal meletakkan hatinya hanya untuk Niall.
Seorang suster mengetuk pintu dan kemudian membawa kabar yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh semuanya,
“Dokter pasiennya sudah sadarkan diri.”
***
Tiba-tiba rombongan itu datang lagi dari ujung lorong, Sheryl dan Thisa yang sejak tadi terdiam langsung menegang.
Apa yang terjadi?
“Kalian hanya boleh menemui pasien satu-satu. Dan jangan terlalu banyak, kalau bisa hanya dua orang saja ya, kondisi pasien masih lemah dan kami tidak ingin dia terlalu lelah.”
Mama Niall mengangguk, Sheryl melihat wanita itu menyusut air matanya. Kelegaan memenuhi benak Sheryl, itu berarti Niall sudah sadarkan diri....
Mama Niall yang masuk pertama kali ke dalam sana, dan Sheryl menatap mereka semua, dorongan batinnya membuatnya ingin ke sana, memaksa ikut melihat Niall, tetapi dia tidak berani. Dia benar-benar seperti orang luar di sana, tidak bisa masuk ke dalam lingkaran keluarga itu.
Setelah agak lama, mama Niall keluar, tatapan matanya tampak tenang dan bahagia, tidak secemas tadi, dia kemudian meremas bahu Pamela dengan lembut,
“Masuklah Pamela.” Gumam mama Niall lembut. Pamela tampak terkejut, menatap ke arah Adri, Papa Niall,
“Tapi... Papa...????”
“Papa tidak apa-apa, kesempatan Papa akan datang nanti setelah kondisi Niall lebih baik, lagipula Papa sudah cukup senang melihat Mamamu yang sekarang tampak tenang. Ayo masuklah Pamela, kami tahu kau pasti sangat ingin melihat Niall langsung.”
Pamela sangat ingin tentu saja, meskipun dia tidak tahu bagaimana reaksi Niall nanti. Dan juga, dia menerima tatapan mata tajam dan menusuk dari Axel di punggungnya.
“Baiklah, aku akan masuk.” Pamela memeluk Mama Niall penuh rasa terimakasih, lalu membuka handel pintu dan melangkah masuk.
Sementara itu Sheryl memandang, berusaha menyingkirkan perasaan iri di benaknya. Ah ya ampun... betapa inginnya Sheryl menjadi seseorang yang berada di sana, bisa menengok Niall secara langsung, tetapi dia tidak berhak... dia sungguh tidak berhak....
Thisa memeluk pundaknya dan meremasnya, ketika Sheryl mendongak menatap Thisa dengan tatapan mata berkaca-kaca, Thisa memberinya tatapan penuh semangat. Sheryl akhirnya tersenyum dan menghela napas panjang.
Yah.. dia tidak boleh bersedih karena ini. Bukankah yang terpenting adalah Niall baik-baik saja dan sudah sadar di dalam sana?
***
Kyros berdiri bersama Adri dan Chika. Sesekali Kyros melihat ke aah dua perempuan yang berdiri jauh di lorong. Kyros meyakini itu adalah Sheryl, perempuan yang saat ini dekat dengan Niall. Sheryl yang menjadi alasan Niall meninggalkan Pamela. Kyros sendiri bingung dengan jalan pikiran sepupunya itu, bagaimana bisa hanya karena sebuah mimpi, Niall bertekat kuat untuk mencari Sheryl sampai kesini. Meninggalkan Pamela padahal Pamela sangat mencintai nya.