
Theo menutup lagi pintu rumahnya masih sambil memeluk Celia. Putrinya menangis histeris dan sesenggukkan. Theo masih bingung dan mengajak Celia agar duduk di sofa. "Kenapa sayang???? Kau kenapa datang sepagi ini dan menangis???? Kau bertengkar dengan Mamamu???" Tanya Theo.
Celia masih terus menangis, mempererat pelukannya pada Theo. Dia tidak menjawab.
"Celia??? Kenapa tidak menjawab pertanyaan Papa??? Apa yang terjadi Nak??? Kau kesini naik apa??? Dan kenapa pergi malam-malam, itu sangat berbahaya... Harusnya kau menghubungi Papa jika ingin kesini... Kenapa??? Ada apa??? Jangan membuat Papa bingung...!"
Celia coba menghentikan tangisnya Dan masih sesenggukkan. Dia masih memeluk Theo. "Axel.... Dia mau menikah... Dia tidak mau kembali lagi denganku... Aku tidak bisa kehilangannya Pa....!!" Ujar Celia dengan isakan yang begitu memilukan.
"Tetapi bukankah kau sudah lama putus dengannya, lalu kenapa kau sedih seperti ini??? Dia pas[I sudah menentukan jalannya sendiri..."
"Tapi Celia masih sangat mencintai nya Pa...!! Celia di paksa oleh Mama Dan Oma agar putus dengan Axel, padahal Celia tidak mau Dan sangat mencintai Axel..."
Theo mengusap punggung putrinya untuk menenangkannya. "Mungkin Axel bukan jodohmu..." Ucap Theo.
"Tidak Pa.... Axel sangatlah mencintaiku... Dan ini semua gara-gara Mama dan Oma... Aku sangat membenci mereka karena selama ini aku selalu di bohongi, aku terus di kekang, mereka egois dan tidak pernah memikirkan ku... Axel sudah ingin melamar, tetapi mereka berdua menolaknya, dan Axel mengakhiri hubungan kami, dia menjauh dan tidak pernah lagi mau bertemu denganku.... Aku hampir frustasi karena hubungan kita di paksa berakhir... Mama dan Oma sangat jahat padaku.... "
"Ssshhhhh..... Kau tidak boleh mengatakan hal buruk tentang Mama mu ataupun Oma mu, mereka orang tua yang harus kau hormati... "
"Tidak.... Aku sudah cukup sabar mendengarkan ucapan Papa untuk selalu menghormati mereka, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki hati.... "
"Sudah-sudah.... Sekarang kau tenang, dan beristirahatlah di kamar, kau pasti lelah dan belum tidur... Nanti kita bicara lagi... Sekarang tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan... Papa antar kau ke kamar, tidur dan tenangkan diri dulu...." Theo terlihat sabar menenangkan Celia. Dia memeluk dan mengusap punggung putrinya agar merasa tenang dan tidak emosional. Saat ini Celia masih terguncang. Theo mengantarnya Celia ke kamar agar putri nya bisa beristirahat dengan nyaman.
Theo sangat tahu bagaimana perasaan Celia terhadap Axel. Cinta yang di miliki Celia begitu besar, akan tetapi keegoisan Cyntia selama ini membuat keadaan menjadi keruh. Keras kepala dan sikap kolot Cyntia yang tidak pernah berubah selalu saja menjadikan Celia sebagai korban. Cyntia selalu menuntut banyak dari Celia tanpa mau mengerti apa yang di inginkan oleh Celia.
Celia sangat hancur hatinya ketika di paksa berpisah dengan Axel yang sangat dia cintai. Dan Celia juga tidak mau membuka diri untuk siapapun. Theo tidak tahu harus bagaimana untuk menolong putri nya. Dan jika saat ini Axel bersama perempuan lain juga bukanlah salah Axel, karena dia sudah tidak menjalin hubungan apapun dengan Celia, jadi tentu dia bebas untuk menentukan jalan hidupnya saat ini. Dan Theo juga yakin bahwa di awal perpisahan Axel dengan Celia, Axel juga pasti menahan luka yang begitu dalam, apalagi ketika orang tua nya di hina habis-habisan oleh keluarga Celia. Sebagai seseorang yang punya harga diri tentu Axel tidak akan pernah membiarkan siapapun menghina keluarga nya. Dan Axel juga harus memikirkan masa depannya serta tidak harus terus terkungkung pada masalalu nya bersama Celia.
Celia duduk di atas ranjang dan Theo meminta nya agar beristirahat. Tetapi sebelum itu, Theo pun bertanya pada Celia bagaimana bisa Celia di hari yang masih gelap ini bisa sampai disini. Celia pun menjelaskan jika dia kabur dari rumah, lalu pergi ke stasiun dan menunggu kereta menuju kesini sampai dini hari. Selama berjam-jam doa menunggu kereta datang. Sampai akhirnya datang dan sampailah di terminal daerah ini lalu memesan taksi online untuk membawa nya ke rumah ini.
"Astaga... Celia sayang... Kenapa kau nekat sekali???? Bagaimana jika besok Mama mu mencarimu??? Dan juga bagaimana jika sampai tadi terjadi sesuatu yang buruk padamu??? Kenapa tidak menghubungi Papa jika kesini, Papa pasti bisa menjemputmu di stasiun??? Jangan lakukan lagi hal seperti ini.... Papa tidak mau kau kenapa-kenapa... "
"Celia sampai disini dengan keadaan baik kan??? Jadi Papa tidak perlu khawatir... Aku boleh kan tinggal disini bersama Papa??? Aku tidak mau pulang... "
Celia memegang jemari Papa nya dan menatap Papa nya penuh harap. "Papa... Bisakah Papa membantu Celia???" Tanya Celia.
"Tentu saja bisa??? Kau ingin di bantu apa??? Katakan???" Tanya Theo.
"Temani Celia bertemu dengan Axel..." Jawab Celia.
"Untuk apa??? Biarkan saja... Dia sudah bahagia dengan hidupnya jadi janganlah lagi kita mengganggu nya..."
"Tidak Pa.... Celia harus bicara dengannya, karena dia tidak boleh menikah dengan siapapun selain denganku... Aku tidak peduli, Aku ingin sekali bertemu dengannya... Jika Papa tidak mau mengantarku, Aku juga akan pergi dari rumah Papa dan tidak lagi akan kembali... " Celia mulai mengancam.
"Dimana kau ingin menemui Axel???" Tanya Theo lagi.
"Di tempat latihannya... Dia tidak ada di rumahnya dan pasti ada di tempat latihannya jadi kita nanti kesana ya... Please Aku ingin sekali bicara dengannya..."
"Jika hanya berbicara untukenyelesaikan kesalahpahaman di antara kalian, Papa akan setuju, tetapi jika tidak... Papa akan marah sekali denganmu..."
Celia mengangguk lalu berbalik dan lekas tidur karena dia sangat mengantuk sskali.
***
Di tempat lain....
Aditya dan Cahya baru saja selesai sholat subuh. Mereka melihat sajadah masing-nasing dan Cahya melihat mukenah nya juga. Aditya duduk bersila dan menengok ke belakang, tersenyum pada istrinya. Aditya merasa bahagia sekali karena Tuhan sudah mengabulkan segala keinginannya selama ini. Memiliki seorang istri yang begitu luar biasa untuk menemani dan melengkapi hidupnya. Dan dia juga memiliki Anak-anak yang tidak kalah luar biasa nya. Kyra Dan Kyros memiliki segusanh prestasi Dan selalu jadi kebanggaannya Dan keluarga nya. Kini kedua anaknya juga sudah memulai kehidupan baru Dan menemukan pasangan pilihannya masing-masing. Sebagai orang tua Aditya ingin anak-anak yang bahagia Dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik dan penuh cinta seperti halnya rumah tangga nya dengan Cahya yang bisa saling melengkapi satu sama lain.
"Aku dan Kyra akan pergi ke tempat latihan sepak bola, kau mau ikut????" Tanya Aditya pada istrinya.
"Boleh... Aku juga ingin sekali melihatnya, lagipula hari ini sedang tidak ada pekerjaan penting di kantor... Aku ikut..."
"Oke baiklah, kita berangkat bertiga nanti... Kyra juga senang sekali karena Dia sangat merindukan Axel, padahal baru beberapa hari di tinggal... Oke nanti bersiaplah.. Kita kesana jam 9." Ucap Aditya.