I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 243



"Tidak perlu Dit...." Theo masih mencoba menolak ajakan Aditya untuk sarapan bersama.


"Tidak apa, kau bisa sarapan disini dan nanti bisa menemui Celia... " Aditya mencab tetap memaksa, dan sampailah mereka di ruang makan.


Tampak Kyra dan Axel sedang duduk sambil mengobrol dengan Mama Aditya. Melihat Aditya masuk, mereka bertiga berdiri karena cukup terkejut ketika Theo juga ikut masuk ke ruang makan. "Theo akan sarapan bersama kita... Dia dari stasiun dan langsung kesini, berangkat dari dini hari, untuk ke Jakarta menemui Celia, karena semalam Cyntia membawa Celia kesini, dan Theo belum makan, jadi aku mengajaknya sarapan bersama kita..." Ucap Aditya. "Tidak apa-apa kan????"


Kyra tersenyum. "Tentu saja tidak apa-apa... Silakan om... "


"Ya, silakan... Tidak baik pergi tanpa sarapan.. " Sahut Mama Aditya.


"Kau duduk lah...!!" Pinta Aditya pada Theo.


Theo tampak meragu tetapi kemudian dia duduk di sebelah Axel dan di sebelah Axel ada Kyra. Sementara Aditya duduk disebelah Cahya yang ada juga Mama nya. Semua pun sibuk membalik piring dan mengambil sarapannya, kecuali Kyra yang sudah ada semangkuk oatmeal dengan berries dan almond di atasnya.


"Maaf, sarapannya nasi kuning, kebetulan aku sedang ingin nasi kuning untuk sarapan, jadi Cahya membuatnya, atau kau ingin roti???" Tanya Aditya.


Theo menggelengkan kepala nya. "Tidak usah, aku makan apa yang ada saja... Dan Terima kasih... "


"Tidak perlu berterima kasihhh.. Hanya sepiring sarapan saja.. Ambil dan makanlah..." Ucap Aditya.


Theo mengambil nasi dan beberapa lauk pelengkap, lalu sarapan bersama keluarga Aditya. "Dimana pak Harry???" Tanya Theo ketika dia tidak mendapati ada Papa Aditya.


"Papa ada urusan dan sudah berangkat sejak tadi... " Jawab Aditya.


"Oh pantas tidak terlihat sejak tadi... "


"Papa masih membantuku mengurus perusahaan, meskipun aku sudah melarangnya akan tetapi Papa tetap ingin membantuku karena merasa sehat dan tidak bisa jika harus berdiam diri di rumah... Aku tidak bisa menghalangi nya... Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu??? Bekerja dimana kau sekarang???" Tanya Aditya.


"Aku jadi pengawas IT di salah satu perusahaan..."


"Wah hebat juga... Kau kembali bekerja di bidang yang kau geluti..."


Theo tersenyum. "Ya, alhamdulillah.... Aku ingin menabung untuk masa depan Celia... Aku ingin dia bisa kuliah dengan baik, dan menyelesaikan S2 nya juga dan aku yang ingin membiayai nya, selama ini Cyntia sudah membesarkannya dan menolak pemberianku, karena di nilai kurang banyak, tetapi aku tidak kehabisan akal, aku selalu menyisihkan uang untuk Celia, berharap suatu saat berguna untuknya.. "


Aditya tersenyum dan menelan makanannya lalu meminum air. "Itu hal yang sangat bagus, kau sangat memikirkan dengan baik masa depan putrimu.. Seorang ayah memang wajib memikirkan kebaikan dan masa depan anak-anaknya agar kelak mereka menjadi kebanggaannya.. Dan sebagai seorang ayah, kau harus bisa bersikap tegas kepada Cyntia, karena kau juga punya hak sebagai seorang ayah, bukan keinginanmu untuk tidak membiayai hidup Celia selama ini, tetapi kau sengaja di tolak padahal kau sudah berniat baik untuk melakukan tugasmu..." Ujar Aditya.


"Aku sedang mencoba merubah diriku menjadi tegas, sejak dulu aku tidak bisa mengambil sikap dalam setiap masalah, sehingga aku selalu terlihat bodoh dan tidak punya pendirian... Tetapi setelah aku pikir-pikir, aku memang harus bisa mengambil sikap, apalagi ini mengenai Celia, aku harus bisa menjaga nya dan menyelamatlannya dari pengaruh buruk Cyntia dan Mama nya... " Ujar Theo.


"Yupz... Kau harus melakukan itu... Kau harus membawa putrimu pada kebaikan.. Jangan salah tempat.. Semua orang menginginkan anaknya menjadi baik.. " Timpal Aditya lagi.


Theo mengangguk dan mereka masih menyelesaikan sarapannya. Ada perasaan menyesal di hati Theo, betapa buruknya dia dulu kepada orang-orang yang ada di depannya saat ini. Dulu, menghancurkan kebahagiaan mereka adalah tujuannya, hingga tragedi penusukan itu yang membuat Cahya harus kehilangan calon bayi nya. Dan andai saja dulu Cahya tidak keguguran, mungkin janin itu sekarang sudah tumbuh menjadi sosok yang dewasa, dan cerdas seperti hal nya orang tua nya. Cahya serta Aditya juga pasti akan di buat bangga oleh anak pertama mereka, mengingat saat ini kedua adiknya juga tumbuh menjadi orang-orang luar biasa.


Sayangnya, keegoisannya justru membuat Cahya dan Aditya kehilangan hal yang sudah mereka nanti kan. Penyesalan itu masih begitu membekas di hati Theo. Hingga membuatnya tidak pernah mengeluh ketika sedang di landa kesulitan karena selalu ingat akan masalalu nya yang kelam dan menganggap kesulitannya pasti adalah karma yang Tuhan kirimkan kepada nya. Sehingga Theo tidak pernah sekalipun mengeluh, tetapi justru semakin sadar bahwa dia tidak boleh berbuat kesalahan lagi yang sampai harus menghancurkan kebahagiaan orang lain, dan harus belajar dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya.


"Bagaimana kabar Kyros???" Tanya Theo.


"Dia baik..." Jawab Aditya. "Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya..."


"Dari foto di depan, dia sudah menikah ya???"


Aditya mengangguk. "Ya, dia baru saja menikah, sekitar satu bulan yang lalu, hampir dua bulan lah... Karena sangat sibuk, dia memboyong istrinya kesana. .. "


"Kau menikahkan Kyros dengan putrinya Ariel???" Tanya Theo lagi.


Aditya menganggukkan kepala nya. "Begitulah... Mereka bersahabat sejak masih bayi, dan ternyata mereka saling menyukai, untuk apa menunggu lama-lama, jika sudah saling menyukai ya di nikahkan saja... Sehingga mereka bisa melakukan apapun dengan bebas tanpa takut berzina... " Jawab Aditya.


dangkan mereka sampai saat ini masih menjadi orang yang sangat baik dan luar biasa.


"Kau dan Cahya pasti bangga punya anak seperti Kyros.. "


"Ya, Alhamdulillah... Apa yang di raih oleh Kyros adalah hasil perjuangannya selama ini, dan aku juga Cahya hanya selalu mendoakan yang terbaik untuknya... Saat kecil dia selalu ingin pergi ke bulan, dan selalu menunjuk langit, dia bilang ingin kesana, jadi aku selalu mengatakan agar dia harus terus belajar, karena pergi kesana bukan perkara mudah, dan butuh kerja keras serta perjuangan.... Jika berbicara mengenai Kyros, aku selalu mengingatmu.. Karena kau, Kyros bisa kembali ke oelukanku dan Cahya... Aku tidak tahu bagaimana jika kau tidak datang di waktu yang tepat dulu... Cyntia pasti sudah melemparnya... "


"Bukan karena ku, tetapi karena Elea dan Suaminya, jika bukan karena mereka, aku juga tidak tahu apa yang terjadi.. Cyntia memang tidak jadi melemparkan Kyros, tetapi beberapa waktu yang lalu, Kyros yang melemparkan dirinya sendiri ke langit dan tinggal disana selama beberapa bulan..." Ujar Theo sambil tersenyum.


Aditya terkekeh. "Kau benar... Aku juga terkadang bersyukur, karena apa yang di lakukan Cyntia justru bisa membuat Kyros mulai belajar berada di ketinggian dan tidak phobia... Hehehe"


Tampak semua orang tersenyum mendengar obrolan Theo dan Aditya. Selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Masih menikmati sarapan masing-masing, Aditya juga mengajak Kyra dan Axel mengobrol membahas pekerjaan mereka.


Dan Theo kembali belajar dari keluarga Aditya yang begitu harmonis, dan keharmonisan itu tercipta adalah karena mereka saling menyayangi satu sama lain dan saling menghormati. Aditya memang terlihat menakutkan tetapi sebenarnya dia pribadi yang sangat baik. Theo masih tidak menyangka jika Aditya mau memberinya maaf serta menerima nya, bahkan mengajaknya untuk makan bersama. Karena jika mengingat masalalu, Theo selalu di hantui oleh rasa bersalah yang begitu dalam.