
Ariel datang lagi ke kantor Aditya padahal tidak ada yang ingin di bahas dengan sahabatnya itu. Ariel keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Aditya. Maysa langsung berdiri dan membungkukkan badannya dengan sopan kepada Ariel yang berdiri di depannya.
"Selamat pagi pak Ariel? Ada yang bisa saya bantu??" Sapa Maysa.
Ariel tersenyum lalu menunjuk ke pintu ruangan Aditya. "Apakah Adit ada di dalam???"
"Ada pak" Jawab Maysa, kemudian memundurkan kursinya dan melangkah lalu mengetuk pintu ruangan Aditya untuk memberitahunya jika Ariel datang untuk menemuinya.
Setelah mendapat ijin Aditya, Maysa mempersilahkan Ariel masuk. Melihat Ariel, dahi Aditya berkerut, dia merasa tidak ada janji untuk bertemu dengan sahabatnya ini karena memang tidak ada urusan pekerjaan yang harus dibahas hari ini, lalu kenapa Ariel mendatangi kantornya.
Aditya mempersilahkan Ariel duduk dan menawari sahabatnya itu minuman.
"Kau tiba-tiba datang kesini??? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bahas denganku??"
"Ehhh itu Dit..... Ehhh aku ingin......????" Ariel terlihat bingung dan memikirkan sesuatu agar Aditya tidak curiga kepadanya, karena sebenarnya dia datang kesini hanya untuk melihat Maysa. "Aku ingin membahas Villa mu, ya Villa mu"
"Villa??? Ada perkembangan apa dengan Villa itu??"
"Ehhh.... Villamu sudah selesai dan tinggal finishing serta pemasangan furniture saja, bulan depan sudah bisa kau pakai" Ujar Ariel.
Aditya mengernyit dan melihat gelagat aneh Ariel, karena masalah Villa yang dalam tahap finishing dan pengaturan furniture sudah pernah dibahas beberapa waktu yang lalu, kenapa Ariel mengatakannya lagi. Aditya benar-benar curiga dengan Ariel, tidak seperti biasanya sahabatnya itu bersikap seperti ini.
"Kau sudah mengatakannya kepadaku beberapa hari yang lalu, kenapa kau mengatakannya lagi???"
Ariel mendongak menatap Aditya lalu tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Oh iya ya, aku sudah mengatakannya kepadamu, hehe aku lupa Dit..."
"Kau ini kenapa Iel???"
"Ah tidak Dit...!! Aku hanya lupa, berikan air itu padaku"
Aditya duduk di sofa dan memberikan sebotol air mineral ke Ariel. Ariel meminum air itu hingga hanya menyisahkan setengah botol. Aditya semakin curiga saja, semua gelagat aneh Ariel membuatnya semakin tergelitik untuk mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu.
"Kurasa kau datang kesini bukan untuk membahas tentang Villa atau pekerjaan, karena urusan pekerjaan kita sudah kita bahas kemarin lusa, well kenapa kau datang kesini?? Jangan berbohong padaku, karena kau tidak bisa membohongiku"
Ariel hanya diam, tidak mungkin dia menjelaskan dengan detail bahwa dia datang kesini hanya untuk melihat Maysa. Ariel mencoba memikirkan sesuatu untuk dibahas dengan Aditya, agar Aditya tidak semakin curiga padanya karena dia tahu bahwa tidak mudah membohongi Aditya. Ariel tersenyum kepada Aditya, karena dia sudah menemukan bahasan lain untuk mengalihkan Aditya.
"Manager restoranku bilang bahwa kemarin kau datang bersama Cahya? Apa benar??"
Aditya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Ariel masih saja tidak mau mengatakan tujuannya datang kesini. "Ya kemarin aku dan Cahya makam siang di restoranmu, tetapi sialnya keluar dari sana ada yang mengikutiku"
"Mengikutimu??? Siapa???"
"Aku tidak tahu, yang jelas mobil itu keluar juga dari sana, aku memperhatikannya dari spion, kupikir itu han kebetulan satu arah denganku karena terus mengikutiku, aku mencoba mempercepat dan memperlambat laju motorku, mobil itu juga melakukan hal yang sama, karena aku takut terjadi sesuatu aku mengajak Cahya menepi ke sebuah spbu dan menghubungi supir agar menjemput kami disana" Gumam Aditya.
"Kau mengendarai motor???"
"Ya, aku mengajak Cahya pergi dengan motor Adri, aku ingin mencoba hal baru, aku rasa mobil itu mungkin ingin menjambretku atau Cahya"
"Adit Adit, kau bodoh atau bagaimana, kalau dia ingin menjambretmu yang mengendarai motor sedangkan mereka menaiki mobil bagaimana bisa mereka melakukannya? Jika sesama motor mungkin saja, kurasa mereka pasti ingin mencelakaimu dan Cahya"
"Mencelakaiku?? Memangnya apa salahku???" Tanya Aditya.
"Aissshhh.... Pake nanya apa salahku?? Semua kemungkinan bisa terjadi Dit!"
"Mungkin itu hanya orang iseng, lupakan saja"
"Tetapi kau harus berhati-hati dan waspada Dit, oke aku harus pergi ke kantor, kalau kau butuh bantuan kabari aku" Ariel berdiri dan meninggalkan ruangan Aditya.
**
2 hari kemudian.....
Ariel datang lagi ke kantor Aditya, dimana kali ini dia sudah menemukan alasan untuk datang, tidak seperti kemarin. Selain membawa beberapa berkas untuk diserahkan kepada Aditya, tentu tujuan lainya dia datang adalah bertemu dengan Maysa. Ariel sepertinya memiliki ketertarikan dengan sekretaris Aditya itu, dia beberapa kali mencoba mulai mendekati Maysa, akan tetapi perempuan itu tampaknya masih menjaga jarak dan hanya sesekali membalas pesan dari Ariel.
Ariel mulai menyadari bahwa dia harus bisa memulai sebuah hubungan baru dan tidak terus terkungkung dengan masalalunya mengingat Elea sudah berbahagia dengan suaminya. Dan dia juga harus bisa mendapatkan kebahagiaan sendiri, menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dia lakukan pada Elea dulu. Kesetiaan sangatlah berharga dan Ariel harus membayar mahal akibat penghianatannya kepada Elea hingga membuat perempuan itu tidak lagi mau menerimanya.
Seperti biasa Maysa menyapa Ariel dengan ramah dan sopan lalu memberitahu Aditya tentang kedatangannya kemudian menyuruhnya masuk. Setelah masuk Ariel langsung menghampiri Aditya dan menyodorkan berkas kepada sahabatnya itu.
Aditya menatap Ariel lalu terkekeh. "Wow akhirnya kau memiliki alasan untuk datang ke kantorku lagi ternyata" Gumam Aditya yang membuat Ariel memandangnya dengan pandangan sinis.
"Berhentilah mencelaku dan pelajari berkas itu!"
"Kau sudah tiga kali datang kesini selama seminggu ini, sebenarnya selain aku siapa yang ingin kau temui?? Atau kau hanya menjadikan diriku sebuah alasan untuk menemui orang lain disini?" Aditya bangun dari kursinya membawa berkas dari Ariel dan menyuruhnya untuk duduk.
"Apa Maysa sudah memiliki kekasih???" Ariel bertanya dan langsung mendapatkan tawa Aditya yang keras.
"Kau bertanya padaku tentang hal itu??? Hahaha tanya sendirilah pada orangnya, mana aku tahu, sudah ku duga kau datang hanya ingin menemuinya, cihhhh alasanmu sangat klasik, memalukan sekali, dasar baj*ngan haha" Ejek Aditya lalu mengambilkan sebuah minuman kaleng dan melemparnya ke Ariel.
"Kau hanya memberiku air mineral atau soda saja setiap aku kesini, sekali-kali beri aku brendi atau sampanye"
"Elleeehhh di restoranmu banyak, bawalah satu kesini"
Aditya membaca berkas-berkas yang di bawa oleh Ariel. Sementara Ariel sibuk dengan minumannya dan membiarkan Aditya menyelesaikan mengecek berkas-berkas itu. Hingga akhirnya mereka berdua membahas lagi tentang isi berkas itu.
Sebuah ketukan pintu, mengalihkan Ariel dan Aditya dari bahasan pekerjaan mereka. Maysa masuk dan mengatakan jika para GM sudah tiba dan mereka sudah berada di lobi kemudian setelah jam makan siang nanti Aditya harus menemui mereka.
"Oke baiklah, oh iya May aku lupa, nanti malam bisakah kau mewakiliku untuk menghadiri makan malam di Infinity Resto, aku sudah ada janji dengan sepupu istriku untuk makan malam dengannya nanti sedangkan sekarang Ariel lupa membawa berkas tentang proyek pembangunan pusat perbelanjaan yang akan kita kerjakan jadi lebih baik kau dan Ariel nanti malam bisa membahasnya bersama, kau senggang kan May???" Tanya Aditya.
Sementara Ariel dibuat terkejut oleh ucapan Aditya tentang makan malam di restorannya, berkas yang di maksud saat ini sudah berada di tangan Aditya tetapi kenapa Aditya mengatakan pada Maysa bahwa dia tidak membawa berkas itu dan malah menyuruhnya datang ke restorannya.
"Baik pak, saya akan datang mewakili anda" Jawab Maysa.
"Oke bagus, datanglah jam 8, Ariel akan menunggumu disana, sekarang kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu"
Maysa mengangguk dan membungkukkan tubuhnya. "Permisi pak!" Ucapnya lalu keluar.
"Apa yang kau katakan tadi??? Berkas itu ada di tanganmu" Tanya Ariel yang masih bingung dengan apa yang baru saja di katakan Aditya pada Maysa.
"Payah!!!! Astaga.... C'mon Iel? Kenapa kau payah sekali, aku membuka kesempatan untukmu supaya bisa lebih dekat dengan Maysa, hahaha sudahlah nikmati makan malam kalian di restoranmu yang romantis itu, kau payah sekali"
Ariel mulai mengerti apa yang di maksud Aditya, ternyata itu hanyalah alasan Aditya agar Maysa bersedia makan malam dengan dirinya. Ariel terkekeh dan memuji apa yang dilakukan Aditya untuknya. Dia sama sekali tidak pernah terpikirkan hal semacam itu.
"Brengs*k darimana kau bisa memikirkan ide itu???" Gumam Ariel.
"Kau memang payah, sudahlah bawa berkas ini lagi, dan nanti malam bersiaplah, bahas ini sekenanya saja dan korek dia lebih dalam, mungkin kau bisa menemukan sesuatu dari Maysa sehingga kau mungkin bisa memulai hubungan dengannya"
"Thanks Dit, kau memang sahabat terbaikku, oke aku harus segera kembali ke kantor, kau juga ada pertemuan penting sepertinya"
Aditya dan Ariel berdiri, kemudian Aditya mengembalikan berkas yang dipegangnya ke Ariel. Dan Ariel pun keluar dengan perasaan bahagia karena ide cemerlang dari sahabatnya itu.
##
Maysa memasuki restoran dan menanyakan dimana letak meja yang sudah diberitahu Ariel kepadanya. Maysa pun diantar ke meja yang di maksud dan meja itu masih kosong karena Ariel sepertinya belum datang.
Dengan napas terengah Ariel memghampiri Maysa. "Sorry May, aku terjebak macet tadi, apa kau sudah menungguku lama??"
"Tidak pak, aku baru sampai beberapa menit"
"Kau sudah memesan makanan???" Tanya Ariel.
"Belum, rasanya tidak sopan jika saya memesan makanan duluan sebelum bapak datang"
Ariel kemudian memanggil seorang pelayan, lalu duduk di depan Maysa. Pelayan itu memberikan buku menu kepada keduanya, dan Ariel tersenyum melihat Maysa yang sibuk membaca buku menu.
Ariel mengernyit karena Maysa hanya memesan minuman dan mengatakan bahwa dia memesan minuman lebih dulu karena akan membahas pekerjaan baru setelahnya memesan makanan. Tetapi tentu saja Ariel tidak bisa membiarkan itu, dan mengharuskan Maysa memesan makanan juga karena membahas pekerjaan bisa dilakukan sambil menikmati makanan.
Sambil menunggu makanan tiba, dengan profesional Ariel mulai membahas tentang pekerjaan karena dia tidak ingin Maysa merasa curiga, walaupun dia sendiri sebenarnya malas karena ini sudah dibahasnya bersama Aditya tadi siang. Maysa sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya lalu menghela napasnya.
"Maaf pak, buku catatanku tertinggal di mobil, aku akan mengambilnya" Maysa berdiri tetapi dengan cepat Ariel menarik pergelangan tangannya.
"Tidak perlu, duduklah, kau bisa merekam pembicaraan kita lewat ponselmu, dan besok kau bisa mencatatnya"
Maysa akhirnya kembali duduk dan melanjutkan lagi obrolannya tentang pekerjaan dengan Ariel. Disudut lain, sesekali Elea mengarahkan pandangannya ke Maysa dan Ariel. Elea tentu saja melihat saat Ariel menahan kepergian Maysa, dan saat ini terlihat keduanya serius mengobrol. Elea tersenyum, berharap semoga Ariel juga bisa mendapatkan kebahagiaannya sekarang, sebesar apapun kesalahan lelaki itu tetapi dia sudah mencoba mengikhlaskan semuanya dan memaafkan, karena Ariel sendiri sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Saat makanan datang, Ariel sudah selesai membahas tentang pekerjaan, tentu dia tidak ingin pembahasan itu berlanjut terlalu lama. Ariel dan Maysa menikmati makanannya sambil mengobrol ringan. Ariel menahan dirinya untuk bertanya lebih jauh tentang Maysa, dia tidak ingin perempuan itu merasa tidak nyaman terlebih lagi makan malam ini tujuannya adalah hanya pembicaraan bisnis dan pekerjaan. Tetapi tentu saja bagi Ariel ini adalah awal yang bagus, kedepannya dia tetap akan berusaha untuk mendekati Maysa.
Saat sedang berjalan menuju pintu keluar, Ariel melihat Elea dan Danist sedang berjalan di depannya. Ariel pun mencoba memanggil mereka. Mendengar panggilan dari Ariel, Elea memejamkan matanya, sejak tadi dia berharap agar tidak bertemu atau berpapasan dengan Ariel tetapi malah ketahuan. Elea dan Danist menoleh secara bersamaan ke belakang. Ariel mempercepat langkahnya dan tersenyum lalu menyalami Elea dan Danist.
"Kalian ada disini??? Kenapa tidak bilang jika mau kesini? Mungkin aku bisa menyuruh pegawaiku untuk menyiapkan meja vvip" Ujar Ariel.
Saat itulah Danist baru menyadari jika restoran ini sepertinya adalah milik Ariel. Tetapi kemudian pandangannya tertuju pada Maysa yang berdiri di belakang Ariel.
"Oh iya, ini Maysa tentu kalian sudah mengetahuinya, bahwa dia adalah sekretaris Aditya" Ucap Ariel.
Sambil tersenyum Maysa menyalami Elea dan Danist dan menyapa keduanya. Terlihat dari wajah Maysa bahwa dia merasa tidak nyaman mengingat Elea adalah mantan istri dari Ariel, dan merasa moment ini sangat tidak tepat.
"Oh jadi ini restoran anda??" Tanya Danist.
"Ya ini milikku, apa Elea tidak mengatakannya? Dia dulu sering datang kesini bersamaku, ah tapi mungkin Elea takut kepada anda, dan aku ucapkan terima kasih atas kunjungan kalian, kuharap kalian menyukai sajian yang ada disini"
"Ya, kami cukup menikmatinya" Jawab Danist.
"Terima kasih, ku harap kalian berkenan datang lagi kesini, kalian tidak membawa Gienka ya??? Ah ya aku tahu pasti kalian ingin menikmati dinner romantis berdua saja" Ariel terkekeh.
"Gienka tidur saat kami akan membawanya karena tidak tega dan tidak mau mengganggunya jadi kami memutuakan tidak membawanya, oke sudah malam kami harus segera pergi" Ujar Danist lalu mengajak Elea meninggalkan Ariel dan Maysa.
★★★
Beberapa hari kemudian....
Maysa turun dari mobilnya membawa berkas untuk Aditya juga buket bunga yang terlihat sangat cantik. Diadatang ke rumah sakit untuk memberikan berkas itu kepada Aditya sekaligus menjenguk Kyros. Ya, Kyros sedang sakit karena disiksa oleh penculiknya. Kyros baru saja mengalami penculikan yang sangat kejam dan di lakukan oleh seorang perempuan. Maysa tidak menyangka hal semacam itu dilakukan oleh seorang perempuan, dan mendengar bahwa Kyros juga telah mengalami perlakuan yang begitu kejam membuat Maysa sangat sedih. Keluarga atasannya itu sangatlah baik selama ini, lalu kenapa ada orang yang setega itu kepada mereka.
Maysa masuk ke lobi rumah sakit dan bertanya dimanakah ruangan perawatan Kyros kepada petugas yang berjaga disana. Seseorang menepuk pundak Maysa dari belakang saat Maysa sedang menunggu pintu lift terbuka. Maysa menoleh dan menemukan Ariel berdiri dibelakangnya samhil tersenyum kepadanya.
"Pak Ariel?? Selamat sore pak!" Sapa Maysa.
"Sore May?? Ku pikir tadi bukan dirimu tetapi setelah kuperhatikan lebih detail ternyata memang kau, apa kau mau menjenguk seseorang??" Tanya Ariel.
"Ya, saya mau menjenguk Kyros sekaligus mengantar berkas pak Aditya"
Pintu lift terbuka dan Ariel mengajak Maysa masuk. "Berkas apa??? Sepenting itukah Adit memerlukannya?"
"Sepertinya begitu, pak Aditya meminta saya buru-buru untuk menyerahkannya jika sudah siap, apakah bapak juga mau menjenguk Kyros?"
"Ya tentu saja, aku juga ada keperluan dengan Adit tentang kelanjutan proses hukum Cyntia"
"Oh....!!"
Ariel dan Maysa masuk bersamaan ke ruangan Kyros. Kedatangan keduanya membuat yang ada diruangan itu terkejut. Aditya tersenyum kemudian berdehem, Ariel ternyata benar-benar tidak ingin melepaskan Maysa begitu saja sepertinya.
"Ehem.... Kalian datang berdua lagi ternyata, apakah mobil Maysa mogok lagi di jalan lalu kau memberinya tumpangan???" Goda Aditya.
"Tidak pak, tadi saya bertemu dengan pak Ariel di lobi" Jawab Maysa dengan cepat.
"Berhentilah mengeluarkan lelucon, yang dia katakan benar adanya" Sahut Ariel kemudian.
Maysa menghampiri Aditya lalu memberikan berkas yang di pegangnya. "Ini data dan berkasbyang bapak minta, saya juga sudah mengatur meeting dengan mereka besok siang seperti yang pak Aditya inginkan"
"Oke thanks May, apa mereka semua bisa?"
"Hanya dari TMH Corporate yang tidak bisa hadir karena beliau sedang berada di luar kota tetapi beliau akan mengirim sekretarisnya dan beliau akan mengikuti by virtual, semua agak terkejut dengan undangan bapak yang mendadak ini tetapi mereka tetap bersedia melakukannya"
"Syukurlah!!" Aditya kemudian membawa berkas itu dan duduk di sofa bersebelahan dengan Ariel.
Maysa memberikan buket bunga yang dibawa kepada Cahya, dan mendekati Kyros yang terbaring dengan sebelah tangannya memegang boneka. Maysa dengan lembut menyentuh kening Kyros seraya bertanya pada Cahya tentang keadaan bayi itu saat ini. Dengan suara sisa suara yang dimilikinya, Cahya mencoba menjawab pertanyaan Maysa. Seolah mengerti keadaan Cahya, Maysa pun tidak lagi bertanya dan memilih mengajak Kyros berkomunikasi. Sedangkan Aditya tampak serius mengobrol dengan Ariel membahas kedatangan orang tua penculik Kyros.
Setelah obrolan itu, Aditya mendekatkan badannya ke Ariel dan berbisik kepada sahabatnya itu. "Karena kekacauan ini aku sampai lupa menanyakan tentang dinnermu dengan Maysa kemarin?? Bagaimana??"
"Berjalan lancar, tetapi dia masih menjaga jarak, menjawab pesanku hanya sesekali, kau harus membantuku lagi"
"Aku????? Kau meminta bantuanku???" Seru Aditya yang langsung membuat Cahya dan Maysa yang ada di dekat ranjang Kyros pun menengok ke arah dia dan Ariel.
Ariel mencubit pinggang Aditya membuat sahabatnya itu setengah berteriak kesakitan. "Pelankan suaramu bodoh!!" Gerutu Ariel.
"Sorry sorry hahaha" Ucap Aditya lalu mendekatkan kepalanya dan mendengarkan dengan seksama ucapan Ariel.
Dan itulah masa dimana Ariel mulai memberanikan diri untuk.mendekati Maysa dan.memulai hubungan baru dengan perempuan itu.
★‡★‡
"Wah... Hahaha Papa adalah pejuang yang hebat ya sepertinya, sampai segitunya mendekati Mamay..! Hahaha" Gienka tertawa setelah menyimak cerita dari Ariel dan Maysa. "Kalian Berpacaran lama pasti kan?? Gie ingat jika Papa Iel dan Mamay baru menikah saat Gie sudah berumur 4 tahun..!" Ucap Gienka lagi.
Ariel menggeleng. "Hubungan kami berakhir karena ada satu hal yang terjadi dulu, ada permasalahan yang terjadi di antara Papa dengan Oma mu, ya itu masalah masa lalu yang sebenarnya saat itu Papa belum bisa menerimanya... Papa marah besar dan meninggalkan Mamay mu begitu saja lalu hubungan kami berakhir padahal saat itu Papa sudah bersiap untuk melamar Mamay mu Gie...!"
Gienka mengangguk. Ya, sedikit sedikit sebenarnya Gienka tahu mengenai masalalu dari oma, opanya, dan betapa peliknya masalah itu hingga membuat orang tuanya menjadi salah paham sati dengan yang lainnya. Hal yang membuat Gienka banyak belajar dari kisah itu sehingga jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi di keluarganya yang saat ini sudah harmonis.
"Kisah itu berakhir, tetapi jika Mamay masih menjadi sekretaris uncle Adit, itu artinya Papa Iel masih sering bertemu dong dengan Mamay???" Tanya Gienka penasaran.
"Ya, kami tetap sering bertemu tetapi todak pernah lagi saling bicara, Papa datang ke kantor Aditya dan laangsung masuk saja tanpa bertanya atau menyuruh Mamaymu untuk meminta ijin Aditya seperti sebelumnya, Aditya pun mengerti juga saat itu apa yang terjadi dengan kami... Papa juga tahu jika Mamay mu juga menikah dengan pria lain beberapa bulan setelah hubungan kami berakhir...!" Ujar Ariel.
"Dan pernikahan Mamay dengan mantan suami Mamay sebelumnya berakhir? Kenapa???" Tanya Gienka pada Maysa.
"satu tahun lebih kami tidak di beri kepercayaan Tuhan untuk memiliki anak, dan keluarga mantan suami Mamay terus menuntut Mamay agar segera hamil, puncaknya mereka juga yang menyuruh mantan suami Mamay untuk menceraikan Mamay yang tidak bisa hamil...!" Jawab Maysa.
"Ya Tuhan...!!" Gienka terkejut dan ini pertama kalinya dia tahu bahwa Maysa pernah menikah dan dengan alasan yang sama dia di ceraikan oleh mantan suaminya seprti halnya yang pernah di lakukan oleh Ariel.