
"Ehmm... Aku hanya ..." Gumaman tak jelasnya kubungkam dengan ciuman menuntut. Membuatnya menaikkan tangannya ke tengkukku.
Tak menunggu lama untuk melampiaskan rindu kami yang lain, mendengar dia mendes*ah tertahan saat aku menguasainya. Entah kenapa matanya suka sekali melihat kebawah perutku saat kami bersentuhan, tato harimau itu sangat menarik nampaknya baginya. Dia mengera*ng panjang dan meng*ejang saat aku membuatnya sampai ke batasnya. Dia hanya milikku, Geiko nomor satu dan tercantik di Gion ini milikku dan dia menyerah hanya padaku.
"Hisao-san." Menahan melepaskan diriku padanya adalah sebuah godaan yang sulit kutanggung saat dia memanggil namaku dengan punggung melengkung indah dan tangannya mencengkram kencang pinggangku dengan napas tersenggal.
"Kenapa kau bisa belajar menjadi penggoda sekarang." Dia tersenyum disampingku. Nampak bahagia dengan pipi bersemu kemerahan. Bagaimana aku tak mencintainya.
"Kau kemana tadi..." Dia bertanya sambil bertopang lengan.
"Aku ke tempat Kimiko tadi."
"Kenapa kau kesana pagi-pagi? Apa dia membuat kue lagi untukmu." Dia bisa cemburu juga ternyata.
"Kau cemburu Hanii bee?" Aku sangat suka memanggilnya Hanii bee karena dia memang madu tersayangku. Lagipula entah kenapa terdengar sangat pas untuknya.
"Kenapa kau kesana?!" Dia merengek ingin tahu alasannya, sementara aku masih suka membiarkannya penasaran dan cemburu. "Hisao-san, kenapa kau tak menjawabku..."
"Cium dulu... Nanti kuberitahu."
"Beritahu aku... Kenapa kau kesana." Dia mengelus tato itu, matanya menatapku. Dia tahu aku memperhatikannya.
"Kau suka sekali tato harimau itu Hanii bee?"
"Bagus... Terlihat bagus disana." Dia tak berani menatap mataku yang memperhatikannya.
"Kau... suka melihatnya menempel dikulitmu bukan." Aku menebak pikiran nakalnya. Membaliknya dibawahku.
"Hisao san...." Dia malu dan mencoba mendorongku.
"Cium aku..." Tapi ciuman itu kemudian jadi pelukan lagi dan selanjutnya aku tak tahan untuk tak membuatnya mengeja*ng bahagia lagi, dia terlalu mengemaskan dibawahku.
"Hisao-san, kau mempermainkanku..." Dia melemas dalam pelukanku. Aku senang melihatnya kelelahan dan bahagia, aku ingin membuatnya beristirahat saja sekarang. "Sebenarnya kenapa kau kesana." Tapi dia masih mengejarku dengan masalah Kimiko.
"Aku kesana cuma mengancamnya agar tak membuat masalah dengan bisnisku. Tak ada yang perlu kau cemburui...." Aku menceritakan semuanya pada Setsuko. Masalah Kenzo yang mencari masalah sampai hubungannya dengan Iwamura dan perkelahian yang masih menyisakan dendam sampai sekarang.
"Jadi begitu, yang memanfaatkannya adalah Kenzo."
"Tampaknya baik dia dan Kakaknya sudah dimanfaatkan. Aku akan menghentikan Kenzo mengacau. Dia akan tahu siapa kakak yang dihormati Oyabun klan Iwamura."
"Kimiko hanya dimanfaatkan, jangan terlalu keras padanya. Bagaimanapun dia anak sepupu Ibumu. Masih ada keluarga..." Dan gadis ini selalu bisa melihat sudut pandang berbeda. Dia kadang terlalu baik hati.
"Aku tahu, aku hanya menunjukkan padanya Kenzo bukan siapa-siapa dibawahku. Supaya dia keluar dari lingkaran orang-orang itu dan kembali ke bisnisnya sebelumnya."
"Hmm... aku suka tindakanmu setidaknya kau tidak menunjukkan kekuasaanmu secara berlebihan. Kupikir sebelumnya ini kau orang yang mudah terpancing."
"Sekarang kau memujiku?"
"Iya. Aku memujimu." Aku tersenyum dan merapikan rambutnya.
"Sayang bagaimana jika kau tidur sebentar oke. Aku akan meninggalkanmu beristirahat sebentar. Nanti siang kita baru bicara lagi."
"Kau pengertian sekali."
"Aku membuatmu kelelahan? Atau kau mau lagi sekarang..." Dia langsung mendorongku dan merapikan dirinya.
"Aku akan istirahat di kamarku saja." Aku tersenyum membiarkan gadis manis itu pergi, dia memang perlu istirahat.