
“Wanita itu aneh, sudah tahu prianya tidak baik pada mereka. Tetap saja mereka menangisinya.” Itu prinsip yang bisa dimengerti oleh orang yang tak pernah menganggap cinta serius dan menomorsatukan pekerjaan.
Mungkin aku harus belajar punya prinsip sepertinya, menganggap cinta adalah kegilaan sementara.
"Aku tak menangisi prianya. Aku hanya menangisi diri kami sendiri yang terluka. Makanya kubilang kau tak mengerti. Itu bagian dari healing, menerima kenyataan. Pria melakukannya dengan minum dan tidur dengan wanita lain, wanita melakukan dengan menangis, jelas Tuan Bova. Jadi aku menangis bukan karena aku mengharapkannya tapi untuk menyembuhkan perasaanku sendiri. Mengerti." Dia hanya melipat tangannya di depan dada ketika aku merepet.
"Apa dia menolak membayarmu?" Ternyata dia ingat aku pernah bercerita mantan suamiku menolak membayar kesepakatan perceraian kami. "Kau sudah bilang kau tidak akan menuntutnya sekarang kenapa kau malah menangis?"
"Aku sudah bilang bukan masalah uangnya. Sudahlah. Bisa kau sudahi membicarakanku. Kau mau makan ayo keluar ke depan." Aku berdiri dan melangkah ke luar. Tak ingin dikasihani.
Dia mengikutiku akhirnya.
"Kita masih punya panna cotta Luca?"
"Masih ada Nona, akan keambilkan untukmu. Strawberry atau caramel Nona?" Aku duduk di salah satu meja. Melihat ke restoran yang sudah agak lenggang. Kami membuka restoran lebih malam musim liburan ini. Banyak tamu yang ingin ngobrol lebih lama, kami menambah jumlah jenis dessert kami.
"Carbonaranya jika sudah kesini juga."
"Baik Nona." Sekarang dia duduk didepanku. Besok adalah tahun baru.
Ingatanku melayang ke tahun baru tahun lalu aku masih merayakan dengan ex-suamiku. Walaupun saat itu aku sudah curiga dia' punya hubungan dengan wanita lain.
"Kau tidak pergi liburan tahun baru."
"Tidak ada yang bisa kuajak, aku sudah mengatakan padanya aku memutuskan kontrak lewat telepon." Aku meringis, Don Juan kejam ini tahu kapan harus pergi dengan segera sebelum masalah bertambah besar.
"Memutuskan kontrak, kau sangat efisien ternyata. Astaga dia baru membeli cincinnya. Kasihan sekali..." Kenapa ini terdengar lucu sekali.
"Aku tak menerima drama." Dia menjawab pendek.
Tak lama panna cotta dan pasta kami datang. Baru saja aku akan menyuap dessert manis itu, tak disangka sebuah gangguan datang.
"Sayang... kau disini rupanya. Aku melihat mobilmu di depan. Kau ternyata kencan dengan temanmu ini sekarang?" Aku langsung melihat Bova, yang mukanya langsung berubah tidak suka.
"Aku pinjam kantormu." Dia langsung menarik tangan gadis itu ke dalam kantorku. Tidak mau mempermalukan dirimya di depan beberapa tamu yang masih ada di sini.
Akan terjadi drama tangis menangis di dalam sana nampaknya. Dan benar saja, tak lama gadis itu keluar dengan air mata. Aku jadi kasihan melihatnya jatuh cinta ke Bova.
Dia kembali ke depanku, wajahnya masih kelihatan terganggu. Aku tak ingin menyinggungnya sekarang.
"Pastamu diganti baru. Makanlah."
"Terima kasih."Dia duduk dan makan tanpa bicara. Tampak masih kesal. Aku tak tahu bagaimana menghiburnya
"Kau mau Cynar." Akhirnya aku menawarinya Cynar, Cynar adalah minuman beralkohol pahit khusus Italia. Itu terbuat dari 13 tumbuhan dan tumbuhan, yang dominan di antaranya adalah artichoke, dari mana minuman itu mendapatkan namanya.
"Boleh..." Untuk memperbaiki moodnya. Dia memandang minuman pahut itu tanpa bicara. Moodku juga buruk malam ini. Aku hanya ingin minum sekarang, melupakan sakit hatiku untuk sesaat.
"Kau tahu kau benar. Semua pilihan ada resiko dan masalahnya sendiri."
"Kau bisa meneken kontrak lagi." Aku membuat komentar sembarangan atas kata-katanya.
"Tentu saja tidak mudah, tapi kau sendiri tidak mau terikat bukan. Tapi sekarang kau sendiri sadar kebiasaan dengan seseorang itu sebenarnya nyaman. Itu pilihanmu sendiri bukan...." Aku mengangkat bahuku memberinya kenyataan. Don Juan ini nampaknya goyah dari prinsipnya , mungkin terlalu lama mengembara membuatnya lelah juga.
Dia melihatku yang duduk didepannya.
"Aku memberinya banyak hadiah. Itu nampaknya tidak cukup untuk membuatnya tak melanggar kesepakatan..."
"Dia menyukaimu, itu saja. Bukan masalah uang." Don Juan mana yang bisa memahami perasaan wanita, mereka hanya pintar merayu.
"Aku hanya... " Dia tidak melanjutkan.
"Nanti kau akan menemukan yang baru. Jika kau ingin. Aku juga akan melupakan mantanku dan menjauhi pria. Aku yakin bisa... lagipula tak ada yang bisa menerima kekuranganku...." Aku merenung sambil menghabiskan minumanku. Apakah aku sendiri sebenarnya sekarang tak yakin soal kata-kataku sendiri.
"Aku tak pernah bercita-cita hidup sendiri ... sebenarnya. Tapi itulah yang terjadi..." Sekarang aku menangis lagi didepannya dengan bodoh. Tidak bisa menerima kekuranganku. Aku ingin punya anak dan keluarga. Tak pernah terbayangkan harus hidup sendiri.
"Hei kau tak seburuk itu. Kata siapa kau harus hidup sendiri..." Dia pindah ke sampingku dan merangkul bahuku.
"Kau jangan menghiburku. Siapa yang mau berkeluarga dengan wanita yang punya masalah untuk punya keturunan." Aku tertawa diantara usahaku untuk mengeringnya air mataku. Ini memalukan...
"Aku tak punya masalah..." Tiba-tiba dia bicara tentang dirinya. Aku tertawa.
"Aku tak akan terlibat dengan anti komitmen sepertimu, nanti aku akan berakhir seperti blondemu itu." Dia meringis.
"Mungkin kau akan bertemu seseorang nanti..."
"Hmm...mungkin, seorang kakek tua kesepian." Aku tertawa sedih. "Astaga kurasa Cynar ini membuat kita agak sedikit gila bukan. Aku tak bisa menyetir sekarang nampaknya."
"Kalau begitu jangan minum lagi..." Dia mengambil gelasku.
"Hei berikan itu."
"Kau tak boleh minum lagi." Dia tetap tak memberiku gelasku.
"Aku hanya ingin menghibur diri, ini akhir tahun paling menyedihkan. Aku hanya ingin merayakannya sedikit..." Dia memberiku gelasku akhirnya.
"Kuantar kau pulang nanti."
"Kau tak sedang berniat tidur dirumahku bukan. Kenapa kau mau mengantarku." Aku bertopang dagu dan melihat padanya.
"Pikiranmu jelek sekali padaku. Kau sedang kesepian Vanilla. Tak apa aku menemanimu tidur." Don Juan ini sekarang memanggilku Vanilla, lain kali aku akan mencari parfum aroma jeruk.
"Jika kau berani mencoba aku akan membunuhmu jika aku sadar keesokan harinya." Dia tertawa didepanku. Entah kenapa aku tak khawatir diantar pulang olehnya.
"Alamatku, ..." Aku memberi tahu alamatku padanya.
"Iya, nanti aku akan mengantarmu. Minumlah, tak apa sesekali untuk sedikit mabuk...."
Mungkin dia juga kesepian seperti aku. Karena selanjutnya itu kata-kata terakhir yang bisa kuingat malam itu.