
"Aku broker investasi di Milan, bekerja di perusahaan sekelas JP Morgan. Tapi aku meninggalkan karierku saat ayahku meninggal demi mengelola ini." Aku menjelaskan padanya sedikit perjalanan pertanianku sampai sekarang.
"Ternyata perjalananmu cukup panjang. Tapi nampaknya pertanian ini di tangan yang benar."
"Iya. Cukup panjang. Disinilah aku sekarang, hidup disini tak gemerlap seperti Milan dan Palermo, membosankan, steady, tapi aku mencintainya,..." Aku tersenyum padanya.
"Aku mengerti. Disatu sisi ini warisan yang kau merasa harus kau jaga, di sisi lain kau akhirnya menemukan passionmu. Berapa umurmu... jika aku boleh tahu?" Pertanyaannya karena mendengar karier yang kujalani.
"33, dan kau?"
"36." Tepat seperti perkiraanku. "Hmm... masih banyak yang bisa kita lakukan, perjalanan masih jauh."
"Kau benar." Aku menyetujuinya.
"Pembicaraan kita malam ini semoga berujung dengan sesuatu. Jika ingin diskusi apapun, jangan sungkan meneleponku... Jangan terlalu lama memutuskan oke. Aku tinggalkan kau, kau perlu istirahat."
"Aku akan mengabarimu... Terima kasih."
"Nomor teleponmu?" Dia memberikan ponselnya dengan senyum. Aku menerimanya dan menekan tuts angkanya dan dial sekaligus. Ponselku menyala sekarang.
"Done Tuan Bova."
"Panggil aku Fabian." Senyum kecilnya itu membuatmu ingin mencium pipinya. Aku tak bisa bertahan tak membayangkan sesuatu tentang Bova ini. Baju lengan panjang warna hitam itu terlalu membuatnya terlihat berbahaya dan menarik sekaligus.
"Fabian, nanti aku akan meneleponmu ..."
"Aku menunggunya."
Aku melihat punggungnya kokohnya yang menjauh. Menghela napas setelah godaan berat ini berlalu.
Aku menelepon Guilio keesokan harinya untuk nertanya bagaimana pendapatnya. Guilio diam berpikir di ujung telepon sana mendengar semua perkataanku.
"Guilio, aku sangat ingin punya winery, punya merk sendiri, dan lahan ini. Bova bisa mendapatkannya untukku. Jika aku melewatkan ini, mungkin lahan depan itu akan diambil orang lain yang tentu saja akan berlaku sebagai saingan kita, tamu kita...Dan aku sangat ingin menampar Lucas sialan itu karena bermuka dua didepanku..."
"Dia memang bilang dia bersedia memasukkan modal selain tanah."
"Baiklah,... aku setuju."
"Yes, aku akan punya winery! Guilio, I really love you..." Aku meloncat kegirangan disini. Guilio tertawa diseberang sana.
"Aku mengirim Marco membantumu dengan deal legalnya. Segera setelah lahan masuk, aku minta adikku menghubungkan ke kontraktor untuk pengerjaan winerynya."
"Thanks Guilio, aku tak akan mengecewakanmu."
"Monica, sudahlah ini impianmu. Lakukan yang terbaik yang kau bisa, tapi aku ingin kau tetap fokus ke rencana awalmu di perluasan cottage dan restaurant, konstruksi winery memakan waktu tak sedikit, kau belum tentu bisa memulai produksi di musim panen tahun depan... Suruh dia mendapatkan lahannya segera."
"Aku mengerti, aku akan menghubunginya segera."
"Fabricio Bova, aku ingin bertemu dia sendiri nanti, minggu depan, akhir pekan, aku kembali ke Sicily sebentar, bisakah kau atur kita makan malam bersama."
"Aku akan coba menghubunginya di Palermo."
"Baiklah, ..."
"Kapan kau ke Hongkong?"
"Ohh itu masih akhir bulan, masih lama."
"Baiklah, kita bertemu akhir pekan depan oke. Aku akan mengabarimu perkembangannya."
Akhirnya. Guilio menyetujui permintaanku. Aku tak sabar ingin bicara ke Bova sekarang. Bertemu dengannya adalah sebuah godaan yang menyenangkan kukira.
Kenapa partner bisnisku adalah Casanova dan Don Juan.
Lalu siapa aku?
Gadis petani yang beruntung pastinya.