
"Mio berkata kau manis, kau tak ada manis-manisnya, selain suka memaksa dan menyebalkan." Aku masih menyembunyikannya wajahku dalam pelukannya.
"Lalu kenapa kau memelukku sekarang..."
"Baiklah, aku akan pergi." Dia tertawa ketika aku berusaha melepaskan pelukannya dengan seketika.
"Jangan marah gadis perawan, kenapa kau menggemaskan sekali." Tebak, tak semudah itu Hisao melepaskan pelukannya.
"Lepas, katanya aku tak boleh memelukmu." Aku mendorong dadanya sekarang. Ini kedua kalinya tanganku berada di dadanya. Kali ini lebih baik, wangi parfumnya enak, dan dia tidak sedang berkeringat. Saat pertama kemarin sangat tak menyenangkan.
"Aku tak berkata begitu. Kau salah menangkap konteks kalimatnya." Dia tersenyum lebar sekarang dan aku menahan napas kami berada sangat dekat.
"Kau memang menyebalkan..."
"Aku hanya merindukanmu. Kau yang membuat semuanya sulit, semua kebaikanku kau abaikan seakan itu sangat biasa."
"Berhentilah bicara dan lepaskan aku."
"Tidak, tak kulepaskan." Dengan satu lengannya dia membawaku mendekat dan tangan yang lain menyentuh daguku. Dalam sekejab untuk kedua kalinya ciuman memaksanya menyentuh bibirku. Membuatku membelalak dan tak bisa bernapas seketika. Ketika dia melepasku aku rasa lututku lemas karena kaget.
"Bagaimana jika kau katakan padaku kau akan ikut ke Hongkong." Dia bicara sangat dekat padaku kemudian.
"Lepaskan aku dulu." Aku tak mau dicium lagi.
"Tidak, boleh kucium kau lagi."
"Aku tak biasa minta izin untuk sebuah ciuman."
"Apa semua ciuman harus memaksa begitu." Sekarang dia diam mendengar protesku. Sebuah senyum kecil terlihat ketika dia melihatku. Debaran dadaku tak juga berkurang sekarang, malam ini aku meragukan aku bisa tidur.
"Kau benar, aku terlalu memaksa." Dia mengangkat daguku lagi. "Boleh aku menciummu Setsuko-chan,..." Panggilan cute itu aku merasa melambung saat dia mengatakan aku adalah kesayangan. Dan wajahnya mendekat, kali ini perlahan. "Aku minta izinmu..."
"Ya..." Itu hampir tak terdengar, tapi kami sangat dekat. Kurasa dia bisa mendengarnya.
Dan dia mendekat, sebuah ciuman lembut yang manis menyentuhku. Ringan, sebelum sentuhan kedua lebih dekat karena dia memiringkan kepalanya perlahan. Membuatku memejamkan mata dan membalas ciumannya dengan segera, tanganku naik ke tengkuknya. Sementara pelukannya bertambah erat. Ciuman itu adalah semuanya, kali ini untuk pertama kalinya aku bernapas dalam ciumannya.
Kenapa ini terasa begitu membahagiakan. Apa cinta itu memang membahagiakan seperti ini. Mukaku panas saat dia meneliti wajahku dibawah cahaya lampu lembut kamar itu.
"Kenapa kau begitu cantik." Aku tak bisa menjawabnya. Hanya memandanginya, waktu terasa memudar di sekelilingku dan kurasa kelopak sakura bertebaran di sekelilingku dan mengelitik seluruh tubuhku. Aku pasti juga sudah gila.
"Ikutlah denganku ke Hongkong. Kumohon..."
"Iya." Jawaban kecilku membuat dia tersenyum kemudian. "Tak bisakah kita duduk saja." Dan dia menarikku ke sofa di kamarnya kemudian. Membuatku jatuh ke dalam lengan kokohnya dan membuatku bisa bersandar ke dadanya. Aku sangat malu sekarang aku hampir tak bisa mengangkat kepalaku.
"Ternyata aku malam-malam pergi ke Kyoto ada gunanya juga. Aku tak menyesalinya..." Aku tertawa sekarang.
"Dasar bodoh."
"Dimana sopan santunmu itu. Berani mengatakan aku bodoh." Dia tertawa lepas, tapi lengannya memelukku erat, tak mau melepasku, membuatku merasa melayang bahagia untuk pertama kalinya. Aku mabuk mencium wanginya dan hatiku sekarang mengembang bagai musim semi yang penuh warna pink muda.