
"Kalau begitu, bisa saya minta izin Anda untuk menggunakan ruangan ini sebentar untuk bicara dengan dua teman saya ini."
"Ahh tentu, sihlakan gunakan ruangan ini Hisao-san."
"Mari saya bantu Anda, Owada-sama." Dia dan Osamu membantu orang tua itu beranjak dari bangku tataminya dan mengantarnya keluar ruangan.
Sebelum akhirnya dia duduk didepan Jun dan Kimiko Yamasaki. Sekarang mereka seperti melihat hantu didepan mereka.
"Maaf, kalian harus melihat pertunjukan tidak menyenangkan tadi. Ayo kita minum sedikit..." Hisao Yamada mengatakan itu dengan senyum kecil sambil duduk dan menuang sake ke gelas kecil mereka yang diterima dengan tangan gemetar. "Ayo minumlah..." Mereka harus meminumnya setelah Hisao menengak gelas sakenya sendiri.
"Itu tadi hanya pelajaran kecil bagaimana keluarga dijalankan, kalian baru masuk ke Inagawa, ketua akan memperlakukan kalian dengan baik dan mencoba melindungi kepentingan kalian. Kalian sekarang tahu siapa aku, siapa Yamada, ... kuanggap kalian masih saudara Ibu, dari awal aku tak pernah bersikap keras."
"Maafkan aku Hisao-san." Sekarang Kimiko tidak berani menaikkan suaranya lagi ke Hisao. Dia merasa sangat malu sekarang, berkali-kali Hisao memgajaknya berdamai tapi dia mementahkan ajakannya begitu saja.
"Aku juga Hisao-san, kami telah bersikap tisak pantas padamu." Jun meminta maaf mengikuti adiknya.
"Tak apa, Masamaru Kenzo yang punya dendam padaku dimasa lalu, dulu aku belum cukup kuat untuk menunjukkan diri, sekarang aku sudah banyak belajar. Kalian juga akan belajar nanti..." Dia menuangkan lagi sake. "Ayo minumlah, jangan terlalu tegang. Sedikit darah itu perlu untuk menyelamatkan nyawa disini. Kakak kalian Kenzo itu yang bertanggung jawab. Kalian hanya dimanfaatkan olehnya, aku anggap masalah ini selesai sekarang..."
"Tentu Kimiko, ingat kau sudah bagus menjalankan bisnismu. Pertahankan itu... Ayahmu pasti bangga padamu nanti."
"Terima kasih Hisao-san."
"Dan kau Jun, kita cuma berkenalan sebentar. Tapi saranku perhatikan bisnis utamamu, warisan keluargamu itu terlalu berharga untuk hancur di tanganmu. Kami didunia ini sudah sejak Kekekku, aku belajar berkelahi sudah sejak umur belasan tahun, hampir mati, kemudian sadar dan bangkit kembali sudah pernah kualami, dunia ini tidak cukup dimasuki dengan kekuatan uang. Uang tak akan membuatmu dihormati disini... Jangan masuk terlalu dalam, terlalu banyak muslihat disini. Kalian keluarga Yamasaki ... entah kenapa kalian bisa terdampar disini." Hisao mengelengkan kepalanya dan tertawa, sama seperti Ibunya yang menganggap mereka terlalu gila untuk berada diantara gangster Shinjuku.
Kedua kakak beradik itu menatap satu sama lain. Mungkin mengakui bahwa selama ini mereka dimanfaatkan oleh Masaharu. Jika Hisao-san tidak memandang hubungan sepupu antar Ibu mereka, mungkin jari mereka juga sudah hilang.
"Sudahlah. Sudah malam, aku harus bicara sebentar dengan Tuan Owada, kalian pulanglah." Hisao berdiri mereka juga berdiri. Lalu meminta diri dengan pantas kepada Tuan Owada dan Hisao.
Kimiko Yamasaki menoleh kebelakang menatap sekilas punggung kokoh Hisao Yamada dikejauhan. Pria yang hanya tertawa ketika Kimiko mengatakan padanya bualannya menembus langit karena dia bicara seperti dia bisa menguasai Tokyo.
Ternyata malam ini Kimiko sadar bahwa Hisao Yamada mungkin menganggap Tokyo terlalu kecil untuknya sehingga hanya menertawakan ketidaktahuannya yang memalukan. Dia sangat malu telah bersikap sombong... lebih baik pulang untuk memperbaiki dirinya sekarang.