The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 29. I'm Sorry 4



"Baiklah, ayo kita pergi." Sekarang malah pengawal yang mengikutinya juga memakai baju biasa seperti tidak ingin dianggap pengawal.


Dia menjelaskan beberapa orang yang akan kami temui kemudian, dan menegaskan bahwa ini adalah pertemuan teman-teman sejawat, dia tidak ingin terlihat berlebihan.


"Hisao-san, apa di hari Minggu dan Senin ada pertemuan? Dengan siapa? Informal meeting?"


"Ohh tidak, anggap saja cuti yang dibayar. Kau bisa kemanapun, aku akan bertemu Pamanku besok aku tidak akan dirumah dari siang dan Senin hari kerja, kau boleh kemana saja..."


"Cuti yang dibayar?"


"Hmm..." Dia tidak melihatku. Memainkan ponsel di tangannya.


"Kau tahu okiyaku akan menagihmu untuk itu?!"


"Aku tahu, tak masalah." Lagi-lagi dia menjawabku tanpa melihat. Kenapa tiba-tiba dia menjadi baik padaku. Apa dia mencoba mengambil cara mendapatkan perhatianku? Aku langsung berpikir tujuannya.


"Aku tak bisa menerima ini... Kau tak usah melakukannya. Akan kubayar kembali uangmu." Sekarang dia menghela napas panjang dan menatapku.


"Setsuko-san, anggap saja aku yang membayar bonusmu dari kantongku sendiri, okiyamu dibayar oleh kakekku kemarin, apa yang kubayar sekarang adalah bagianku. Aku tak punya maksud apapun, itu sebagai penghargaan untukmu, kemana kau pergi terserah, kau tak punya jadwal denganku. Jika kau menerima kebaikanku aturannya cukup ucapkan terima kasih. Kita tak berdebat lagi soal ini..."


Sesudah dia mengatakan itu dia menghela napas lagi. "Kenapa, harga dirimu itu tinggi sekali." Dia kesal sekarang. Aku mungkin salah?


"Maafkan saya..." Dia tidak menjawab dengan mudah.


"Maafkan kelancangan saya Hisao-san." Aku membungkuk sekarang padanya sekarang. Aku merasa menyinggungnya.


"Sudahlah, lain kali jangan menolak pemberian orang lain sekasar itu. Aku bersikap buruk padamu Minggu lalu? Aku juga minta maaf. Kita selesai sekarang? Damai?" Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman denganku.


"Baiklah, damai..." Aku sedikit tersenyum.


"Akhirnya aku bisa melihat senyum aslimu."


"Senyum asli?" Aku melihat padanya sekarang dengan alis terangkat.


"Iya, biasanya kau hanya memasang senyum palsumu padaku." Aku tertawa. Well, siapa suruh dia menjadi orang yang menyebalkan.


"Biasanya juga kau minta maaf, tapi kau tetap menyumpahiku dalam hatimu." Aku mengulum senyumku sekarang.


"Saya tidak begitu, itu hanya perasaan Hisao-san." Dia cuma melirikku dengan pandangan tidak percaya.


Aku duduk diam di sampingnya kemudian. Baiklah anggap saja dia sedang baik hati. Supaya pekerjaan kami lancar saja. Nampaknya memang melelahkan jika harus merasa menyembunyikan kekesalan satu sama lain saat bertemu bukan.


"Aku beruntung punya bantuanmu, setelah pertemuan pertama aku mengakui membawamu sebagai pendamping sangat membantu. Seperti kata kakek mendapat bantuanmu adalah kehormatan. Terima kasih Setsuko-san."


Aku melihatnya. Tidak menyangka orang yang kupikir angkuh seperti dia mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Saya akan berusaha tidak mengecewakan Hisao-san. Terima kasih untuk cutinya."


Sekarang dia bisa tersenyum lagi padaku.


"Itu lebih baik. Sekarang kita berteman bukan."


"Hmm teman, baiklah."


"Sebagai teman kau tak perlu memasang sikap sopanmu itu lagi, jika kau marah dan tak setuju katakan saja."


"Aku boleh begitu."


"Tentu saja, aku lebih menghargai kau yang marah-marah daripada kau yang tersenyum padaku tapi punya niat membunuh dibelakangku."


Aku tertawa lepas sekarang atas perkataan yang sangat tajam itu.


"Fine, jangan menyesal memintaku begitu."


Kurasa mungkin kami bisa berteman sekarang.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa vote, like, gift dan komen nya 😁