
Pesta pernikahan usai. Setidaknya aku telah melihat ada satu orang yang mungkin akan menjadi salah satu jodoh dari keluarga Hisao, baru di hari pertama aku menjadi kekasihnya.
Aku menjadi pesimis di hari pertama.
"Kenapa kau kelihatan tak bersemangat dari tadi." Saat kami sampai dia meneliti ekspresiku.
"Tidak. Itu hanya perasaanmu saja."
"Senin kau akan di Kyoto, aku akan kehilangan kau lagi." Aku tersenyum, apa dia benar merasa kehilangan.
"Bukankah, Sabtu dan Minggu depan aku akan ada disini lagi untuk acaramu."
"Harus menunggu seminggu untuk melihatmu itu menyiksa." Jika musim semi tahun depan kontrak kami berakhir bagaimana kami akan melihat lagi. Tapi mungkin saat itu dia sudah menemukan pendamping. "Kau melamun lagi, ada apa sebenarnya."
"Hisao, ... aku terus berpikir jika kau dijodohkan kita tak akan bertemu lagi. Kau tahu aku selama ini tahu kau baik padaku, tapi aku hanya ingin menganggapmu teman, karena menyukaimu berarti juga pasti patah hati." Akhirnya aku mengatakan semua yang kupikirkan selama ini. "Maafkan aku mengatakan ini." Hisao melihatku dan merangkulku seketika.
"Jadi itu pikiranmu Setsuko... Kau tahu aku lelah dijodohkan, dengan siapa aku nanti akan bersama itu adalah pilihanku. Kenapa kau berpikir terlalu jauh seperti itu."
"Kau tak bisa menentang keluargamu."
"Aku hanya kuatir." Menyusup dalam pelukannya adalah sebuah kebahagian saat ini. Aku tak perduli biarkan saja perjodohan itu. Jika dia berkata dia akan mengurusnya kita percayakan saja padanya. "Kau tahu jika aku tetap tak mendapatkan izin, aku akan mundur."
"Sudah kubilang percaya saja padaku. Jangan berpikir terlalu jauh."
"Kau bisa menjadi danna, jika keluargamu tak setuju. Mungkin... itu jalannya." Aku punya kepercayaan diri yang rendah untuk bisa masuk ke keluarganya. Aku lebih suka tak menentang siapapun.
Hisao menghela napas mendengarku bicara.
"Kemarilah, dengarkan aku..." Dia menarik tubuhku dengan mudah ke pangkuannya.
"Dengarkan aku baik-baik, aku tak punya rencana seperti itu. Kau akan menjadi Ibu anak-anakku bukan kekasih sementaraku. Seperti Yuki dan Satomi kita akan punya pernikahan kita sendiri. Jika aku ingin menjadikanmu kekasihku sementara, kau tak akan pernah menginjakkan kakimu dirumahku, kau tak akan muncul di pesta sahabatku dan aku tak akan menjadi gila tengah malam muncul didepanmu naik bullet train terakhir. Apa kau tak mengerti itu, aku mencintaimu Setsuko, bukan lagi hanya menyukaimu. Jika aku hanya menyukaimu kau tidak akan tinggal disini dan menjadi bagian rumahku, semua orang dirumah ini bisa kau tanya apa aku pernah membawa gadis sembarangan..." Dia menatap lurus kemataku, membuatku ingin mempercayai semua yang dikatakannya padaku.
"Hisao-san, kau terlalu cepat bicara. Masih banyak yang akan terjadi didepan. Jangan terlalu cepat memutuskan. Kita baru menjadi kekasih satu hari... Mungkin besok kau tak menyukaiku, kita bertengkar, lalu putus, dan kau menerima...." Dia membungkam kata-kataku dengan sebuah ciuman. Aku memeluk tengkuknya dan memejamkan mataku.
"Jangan bicarakan hal-hal menyedihkan." Dia memegang wajahku. "Aku akan membuatmu bahagia." Aku terharu mendengar kata-katanya sekarang.
"Kenapa Hisao? Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak punya keluarga untuk kubanggakan."