The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 36. Hitman 4



"Kau menyimpan senjata dirumahmu?"


"Iya, aku tahu pekerjaanku berbahaya. Aku disarankan punya senjata dari dulu."


"Tidurlah, aku akan menghubungi Diego di LA, Nathan juga akan berada di LA hari ini... Jika perlu ambilah cuti..."


Aku menutup teleponku. Semoga dia tidak curiga aku punya senjata. Auditor mempunyai senjata itu mungkin agak jarang tapi ini America kebanyakan negara bagian memperbolehkan kepemilikan senjata aku jadi punya alasan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Siang aku bisa ke kantor akhirnya. Ada beberapa meeting setelah makan siang tidak bisa aku batalkan.


Aku bisa beristirahat dengan baik di hotel setidaknya. Tak kusangka Tuan Diego di ruanganku saat aku datang.


"Tuan Diego? Kenapa Anda disini..."


"Natalie, senang melihatmu baik-baik saja. Alan mengkhawatirkanmu, pagi-pagi dia sudsh meneleponku dari NY."


"Tuan Alan, aku memang melapor padanya. Tapi aku sudah bilang aku baik-baik saja."


"Bagaimana kau bisa lolos? Siapa yang menyerangmu? Ceritakan padaku?" Pertanyaan pertamanya membuatku sadar bahwa aku berakting terlalu tenang tadi. Jika aku meneruskan menjadi wonder woman dia akan langsung mencurigaiku.


"Tuan Diego, bagaimana aku bisa lolos?! Kau bercanda, aku ketakutan setengah mati dan kau bertanya bagaiamana aku bisa lolos..." Aku sekarang marah-marah. "Aku mungkin diincar karena pekerjaanku dan kau menanyakan bagaimana aku bisa lolos, apa kau berharap aku terluka?" Aku berakting terpukul sekarang.


"Tunggu...tunggu, Natalie, bukan-bukan, aku tak bermaksud begitu... Aku hanya ingin bertanya padamu bagaimana kau lolos, ...kau jangan salah menduga pertanyaanku. Aku ingin tahu apa yang kau hadapi, jika kami tak mengkhawatirkanmu tak mungkin Alan mengirimkanku kesini...." Akhirnya aku bisa menetralkan kecurigaan awalnya.


Aku duduk dikursi sofaku, menghela napas panjang dan mulai bercerita


"Kau benar, kau berpikir cepat,..." Dia menanggapiku.


"Aku tak tak punya kesempatan jika aku tak punya kesempatan jika pintuku sudah dibobol, jadi aku menembak orang yang sedang mengakali pintuku, aku punya senjata di kamar, aku menembak membabi buta, untung aku mengenainya. Aku melihatnya satunya di kamera, panik aku menyalakan suara alarm dan untunglah setelah itu polisi datang dan yang satunya pergi, jika tidak aku tak akan hidup lagi..." Dia mengangguk mendengar ceritaku.


"Kau gadis pintar... harus kuakui kau pintar dan logis. Kau punya senjata?" Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Tuan Alan.


"Aku sebelum ini bekerja di auditor yang sering berhubungan dengan tuntutan hukum, kasus-kasus yang kuhadapi tidak sederhana, makanya kami disarankan punya perlindungan diri dengan punya senjata api." Dia hanya mengangguk.


"Sir, yang satunya belum tertangkap. Aku mungkin masih harus tinggal di hotel. Mungkin hitman yang satunya masih memburuku."


"Hmm...kurasa tidak, dia tidak akan memburumu lagi, yang dia lakukan sekarang adalah bersembunyi. Jangan takut, kau akan mendapat pengawalan pulang dan pergi dari hotel sampai Aku akan mencari keterangan ke polisi dulu. Kau melihat ras penyerangmu?" Aku lega nampaknya dia benar-benar tidak curiga lagi.


"Mungkin orang Hispanic yang mati itu, aku tak yakin kulitnya eksotis, laki-laki berambut gelap, ..."


"Aku akan mencari tahu dan menyelesaikan masalah ini dengan Sean. Sean akan membawakanmu pengawal oke, jangan takut. Kau aman, kami tak pernah membiarkan orang kami hidup dibawah ketakutan terhadap siapapun."


"Terima kasih Sir. Aku benar-benar berterima kasih."


"Jangan kuatir, kita akan menemukan siapa yang bertanggung jawab. Semua biaya akomodasi hotelmu juga pasti dibayar perusahaan."


Dia pergi. Aku lega sekarang. Untung Tuan Alan perduli padaku. Apa Nathan akan perduli juga, aku jadi ingin melihat apa tanggapannya.


Dan yang lebih penting lagi siapa yang berani mengirim pembunuh bayaran padaku!