
Itu membuatku lega, tak perlu ada masalah tambahan. Dan aku masih menunggu apa tim-ku mereka mendapatkan sesuatu. Terutama dari Diego, dimana sebenarnya dia berkantor.
"Baiklah, aku menunggu dari kalian saja."
Kupikir aku tak akan menemui kesulitan apapun, hari ini aku tak kembali ke Cameo Shore sedikit menyenangkan. Aku tak usah menghadapi kecanggungan seperti yang sebelumnya.
Sore aku sampai ke Westfield Century, sebuah shopping mall besar tak jauh dari kantor ku di Bunker Hills, wajah Tyson yang cerah sudah menantiku, sudah lama aku tak melihatnya. Mungkin hampir setahun, awal aku bertugas di NY dia juga masih berkantor di NY.

"Hi, senang melihatmu lagi cantik." Dia memberiku rangkulan hangat. "Bagaimana kabarmu, aku mengkhawatirkanmu mendengar kau mendapat ancaman pembunuhan."
"Tenang saja aku baik-baik saja seperti yang kau lihat, tak ada masalah berarti. Lebih senang aku melihatmu disini. Aku senang punya seseorang untuk bercerita lagi..."
Aku ingin terlibat dalam kasus biasa saja, dimana aku tak perlu menyembunyikan indentitasku tapi beberapa tahun ini unit pusat selalu memasangku di kandidat paling depan untuk operasi penyusupan seperti ini. Aku merasa aku kadang benar-benar sendiri. Tapi sekarang ada Tyson.
"Kurasa tak akan lama, orang pertama sudah diketahui, apalagi ponselnya tertinggal. Pasti tak akan lama menemukan otak yang mengirim pembunuh ke rumahmu itu."
"Harusnya..."
"Pekerjaanmu gampang? Aku ingin segera keluar dari kasus ini. Aku tak sanggup lagi..."
"Kenapa..."
"Mereka sangat baik, memperlakukanku sebagai keluarga, entah apa tanggapan mereka jika tahu kalau aku adalah orang yang memata-matai mereka, bahkan aku tinggal dirumah boss ku di Cameo Shore. Aku berharap mereka tidak salah sekarang..." Tyson tertawa, dia tak pernah dikirimkan ke operasi penyusupan seperti ini. Dia tak tahu perasaanku.
Kami mengobrol banyak hal, makan, sampai aku tiba-tiba melihat seseorang berjalan di dekat area restoran kami. Itu Nathan berjalan dengan seorang dengan beberapa pengawalnya. Bukan dengan pengawalnya sendiri tapi dengan satu orang lain lagi yang juga membawa pengawalnya walaupun tidak mencolok.
Aku segera memanfaatkan kamera khususku yang punya kemampuan zoom cukup baik, memperoleh gambar orang-orang yang tengah berjalan itu dan mengirimkannya ke timku. Orang-orang ini dengan typical wajah seperti ini sepertinya mereka adalah orang-orang Rusia. Mungkin setelah dia berhubungan dengan Mafia Asia dan Eropa sekarang dia juga berhubungan dengan Mafia Russian.
"Itu bossmu, seperti model, kau yakin tak jatuh dalam pelukannya." Dia tak tahu itu hal yang paling kuhindari.
"Hei aku sedang menyelidikinya...bagaimana mungkin aku sengaja jatuh cinta padanya." Sementara aku mengirim gambar yang cukup jelas itu ke tim.
"Tugasmu kali ini memang berat, boss semacam itu sungguh godaan ..." Dia tertawa sementara aku sebal mendengarnya.
Akhirnya pusat perbelanjaan akan ditutup, kami harus pergi. Aku berharap dia mengajakku ke tempatnya sekarang.
"Baiklah, sudah malam. Jaga dirimu oke." Aku kecewa dia menyuruhku pulang begitu saja. Walaupun kami hanya teman...
"Aku tak boleh menginap di tempatmu, aku bisa menghindar dari bossku ke tempatmu sebentar." Dia melihatku dan berbalik padaku.
"Ohh..." Ternyata dia menemukan seseorang yang bisa merubah hatinya. Hanya aku yang sendirian sekarang. "Aku yang minta maaf, kenapa harus kau yang minta maaf... okay aku pulang naik taxi saja. See you..." Memalukan, menyedihkan rasanya harus merasakan ini. Kupikir tadinya kami masih seperti yang dulu.
"Natalie..." Dia memanggilku.
"Ya?" Aku menatapnya kembali.
"Kita selalu berteman. Jangan ragu untuk bicara apapun."
"Iya tentu saja. Kita selalu berteman."
Aku melambai dengan riang pergi dengan cepat. Mataku berkaca, tentu status teman menggelikan ini tak bisa bertahan selamanya. Ada saatnya kami masing-masing akan menemukan seseorang. Kenapa rasanya menyedihkan sekali, rasanya seperti di tinggalkan sendiri.
Tapi dia tak pernah bicara dia menemukan seseorang, kami memang sudah lama tak bertemu, saat tahu rasanya seperti didorong. Memalukan...harusnya dia bilang saja. Kenapa dia tidak bilang.
Aku mengambil taxi, aku harus kembali ke Cameo Shore tempat aku mengungsi sementara. Pengungsian mewahku di pinggir pantai.
Sampai di pintu rumah ke kamarku. Sebagian lampu setengahnya dimatikan, hanya Nathan dirumah ini. Mungkin akhir pekan ini dia punya acaranya sendiri, tapi ruang duduk belakang masih ada lampu, aku harus melewati tempat itu kekamarku.
"Kau pulang sendiri?"
"Ehhh." Aku kaget ketika Nathan menyapaku. Ternyata dia sudah dirumah.
"Kenapa tak bersama pengawalmu?"
"Aku pergi bersama teman tadi."
"Kenapa tak membiarkan pengawalmu menunggu mereka bisa melakukannya." Aku menghela napas memandangnya. Yang penting aku kembali baik-baik saja, tidak bisakah dia membiarkanku saja.
"Ya baiklah, aku akan membawanya besok. Aku lelah, bisakah aku ke kamarku saja. Jika kau mau memarahiku lakukan saja besok, it's that okay?" Aku bicara pelan. Dia boss, tapi aku benar-benar perlu waktuku sendiri saja.
"Aku bukan memarahimu."
"Ya aku tahu. Aku hanya ingin tidur. Malam Nathan, terima kasih sudah mengkhawatirkanku..."
Aku membalikkan badan.
Aku hanya ingin tidur, berusaha tidur, melupakan hari ini. Tyson hanya teman harusnya, aku harusnya tahu itu, tapi kenapa rasanya seperti kehilangan kekasih.
Aku memang menyedihkan ternyata ...
Kenapa aku kecewa pada kenyataan dia punya seseorang yang lain.