
SudahΒ lewat tengah malam, meja dibereskan. Aku memeriksa sebentar penjualan malam ini, jumlah yang impresif di shift malam ini. Ibu sudah beristirahat, aku bisa menikmati waktuku sendiri disini sebelum masuk ke kamarku.
Aku duduk mengambil wine dan di antara lampu taman yang masih menyala duduk menikmati malam yang cerah ini sendiri.
Belakangan Raoul mengirimkan pesan-pesannya lagi yang kuabaikan begitu saja. Melihat pesan-pesan ini membuatku merasa kesepian, entah kenapa... padahal sebelumnya aku merasa baik-baik saja.
"Boleh kutemani..." Sebuah suara mengejutkanku. Aku sama sekali tak menyadari langkahnya mendekatiku.
"Tuan Fabricio, ... Ohh, anda rupanya belum beristirahat."
"Aku tak terbiasa tidur jam seperti ini..."
"Ini daerah pertanian, pagi-pagi kami sudah bekerja, kami tak tidur terlalu larut." Aku tersenyum, jadi rupanya dia tak menghabiskan waktu dengan gadis yang bicara dengannya.
"Ahh iya Anda benar, itu memang bagus, pagi-pagi aku bisa melihat kabut disini. Kau sedang panen bukan."
"Iya, musim gugur, panen penghabisan(late harvest), sebelum ranting tua dibersihkan untuk musim semi tahun depan." Dia tersenyum dan duduk disampingku di sofa panjang yang menghadap ke arah luar itu. "Kau kebanyakan di Palermo? Disana pesta baru dimulai nampaknya..." Dia tertawa, Palermo kota dengan kehidupan malam yang ramai. Berjarak kurang lebih 3.5 jam barat pulau Sicily ini.
"Aku akan banyak di Palermo belakangan ini." Dia diam sebentar sebelum bertanya lagi. "Kau sendiri..." Aku melihat padanya.
"Hmm... seperti yang kau lihat."
"Kau tahu maksud pertanyaanku lebih dari itu." Aku tersenyum kecil, jadi dia menganggap aku ini lebih menarik dari gadis muda tadi. Kenapa karena aku terlalu percaya diri dengan siapa diriku.
Belakangan menyadari semangkin aku nyaman dengan diriku aku lebih mudah menarik perhatian laki-laki. Entah kenapa beberapa dengan senang hati bicara denganku seperti aku teman lama mereka.
"Tuan Fabricio..."
"Kau bisa menanggilku Fabian, itu nama kecilku..." Dia memamerkan senyum kecilnya.
"Baiklah Fabian, aku sendiri, seperti yang kau lihat. Tapi aku tak berniat membuatnya menjadi tak sendiri sekarang. Semoga kau tak tersinggung dengan perkataanku... Kenapa tak dengan gadis yang menghampiri mejamu tadi. Tampaknya kau bisa mendapatkan siapa saja." Aku tersenyum.
"Aku hanya bertanya, apa aku boleh mengajakmu bicara. Aku takut seorang kembali dan melihatku disini, dan itu menjadi masalah." Dia mencoba memancing di air keruh, cukup pintar untuk mengelak kemudian.
Bayangkan kalo diginiin, ....π€£π€£π€£ Novel woy...to good to be truee πππππ€£π
ππππ
"Tidak, aku memang sendiri..." Aku sedikit sedih mengatakan itu kukira, bersandar sedikit itu menyenangkan, aku tahu aku hanyalah wanita, kadang aku perlu seseorang.
Raoul awalnya membuatku bisa mengatakan itu, bersandar di pundaknya membuatku terlena, sebelum akhirnya ilusinya runtuh. Pria ini lebih berbahaya dari Raoul. Dia selevel dengan Guilio.
"Aku akan menemanimu disini, boleh bukan..."
"Hmm. Boleh." Aku menjawab kecil.
"Apa kau sering ke Palermo?"
"Tidak, jarang sekali sebenarnya..." Palermo cukup jauh, dulu saat ada Raoul mungkin aku kadang kesana, berganti suasana dari pegunungan ini. Tapi sekarang aku lebih suka yang lebih dekat. "Kau punya pekerjaan di sekitar sini."
"Sebenarnya seseorang ingin aku ikut berinvestasi membeli ladang anggurnya, meminta juga bantuanku untuk membelinya, investasi bagi hasil. Aku tidak begitu familiar dengan bisnis ini, aku tak tahu akan mengambilnya atau tidak. Tapi itu hanya perkebunan tidak ada seperti yang kau buat ini. Butuh banyak investasi dan kerja keras untuk menjadikannya seperti ini.
"Ohh ya siapa? Aku tahu kebanyakan pemilik perkebunan di Linguaglossa ini. Aku penasaran siapa yang mau menjual ladang anggurnya.
"Di samping area perkebunanmu ini... tidak seluas kebunmu, kau punya perkebunan olive. Dia hanya mengandalkan anggur, well aku melihat sedikit strawberry. Perlu investasi besar mengembangkannya sepertimu." Disamping kebunmu ini. Astaga Lucas kupikir dia sudah setuju dengan harga yang kutawarkan ternyata dia masih mencari pembeli yang lebih tinggi.
"Ahh iya kurasa itu namanya."
"Aku kira dia sudah setuju dengan kesepakatan lisan kami secara tersirat, aku tak tahu dia masih mencari penawaran. Ini menyebalkan..."
"Ohh jadi kau juga berencana membelinya."
"Iya..."
"Kau jelas lebih tahu mengelola ini." Hmm dia saingan.
"Berapa kau menawarnya." Aku tahu mengorek informasi ini tak akan berhasil. Tapi aku tetap mencoba.
"Nona Monica, kau tahu aku tak bisa membocorkannya. Kau perlu usaha lebih untuk mengetahui informasi seperti itu..." Aku meringis.
"Usaha lebih yang bagaimana maksudmu..." Pria ini tricky.
"Membiarkanku untuk menjadi investor baru misalnya..." Ini agak berlawanan dengan pikiranku.
"Aku sudah punya uangnya." Aku memang berusaha menyisihkan keuntungan ini dan membuatku bisa membelinya segera di akhir musim dingin ini.
"Aku tahu tapi kau juga ingin mendapatkannya, selain itu Lucas itu saat aku kesana dia juga menawarkan ke dua orang lainnya." Lucas kurang ajar. Dia manis sekali saat bicara didepanku. Sekarang Bova ini menghadap ke arah ku dengan muka serius. Dia akan bicara bisnis.
"Aku bisa mengatakan ini, dia hanya memperlakukanmu sebagai kartu jaminan dan melelang namamu yang sudah sukses duluan. Padahal jalur tanah dia didepan, kau bahkan harus membayar sewa di tanahnya untuk penunjuk kebunmu. Dia menjual namamu dan memberikan contoh kesuksesan pertanianmu, percayalah dia tidak akan menjualnya padamu. Banyak orang yang bersedia membelinya. Dia akan mencari harga tertinggi. Tapi jika aku masuk aku bisa memastikan tanah itu jatuh padamu, tenang saja aku punya cara menjaga harga tanahnya tetap masuk akal."
"Tapi bukankah kau menjadi investor temanmu?"
"Aku pemilik uang Monica, aku memutuskan dimana aku menginvestasikannya. Kau memang sebenarnya tak perlu uangku, tapi coba kau pikir dengan luasan lahan yang kau punya kau sekarang bisa membuka winery-mu sendiri, itu lebih menguntungkan daripada kau hanya menjual mentah, pasar..., kau punya hubungan dengan Benetti, kau bisa meminta mereka ikut membuka jalan untukmu." Dia berhenti untuk membuatku memikirkan perkataannya.
"Aku lebih percaya padamu karena kau lebih berpengalaman dibanding temanku itu, uang tidak memgenal teman, keluargaku hanya tahu uang yang kuinvestasikan harus menghasilkan keuntungan, bukan melihat teman. Itu bebanku, aku harus mengambil resiko terendah, margin tertinggi, terutama karena kau punya hati di bisnis ini, dan harus kuakui restoranmu luar biasa dan penginapanmu full book bukan. Uangmu bisa kau investasikan ke winery dan akomodasi, aku akan mengurus mendapatkan lahannya, tentu jika kau ingin aku masuk ke pembiayaan modal juga kita bisa bicarakan didepan."
Dia berbicara panjang lebar, aku berpikir yang dia katakan juga benar. Kejutan bahwa dia bisa berbicara bisnis serius dari pembicaraan singkat malam ini.
"Aku punya investor lain, aku harus bicarakan ke dia apa dia bisa menerima ini. Walaupun memang usulmu memang bisa diterima..."
"Tentu, kau bisa membicarakannya, tapi jangan terlalu lama memutuskan karena mungkin ada orang yang sudah tidak sabar dan Lucas tak sabar membuat keputusan. Semua yang kukatakan secara teori dan perhitungan bisnis logis dan bisa kau terima harusnya, jika kau setuju, aku akan mencari cara menekan harga agar tak melambung, percayakan itu padaku... Tapi kau tak akan terlibat disini, karena Lucas 100% tak akan menjual padamu."
"Hmm...aku mengerti, aku akan mengabarkan dalam waktu 3-4 hari oke, itu cukup? Aku perlu perhitungan jika membangun winery, partnerku lebih mengerti soal ini..."
"Oke, aku akan menunggu dalam 4 hari sebelum bertindak. Kurasa masih sempat." Dia berpikir sebentar. "Boleh aku tahu siapa partnermu?"
"Guilio Benetti, apa kau pernah bertemu dengannya."
"Ahh ternyata Guilio Benetti, dia pengusaha besar, aku tak bisa dibandingkan dengannya." Kurasa dia mencoba merendahkan dirinya sekarang.
"Tuan Bova, kau jelas sekarang merendah." Aku tertawa.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
bersambung besok .......ππππ
Jangan lupa vote like hadiahnya yaaa
Makasihhh banyak