The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILL ME Part 21. One Step Forward 2



“Louis bisa aku minta bicara dengan Nathan sebentar, kejadian yang dia lihat itu hanya teman. Dia tak bisa memutuskan pertunangan kami begitu  saja.” Dia mengiba ke Louis yang menjenggukkan kepalanya dibalik dinding.


“Aku tidak ikut campur urusan kalian, sorry Amanda. Tapi kukira apa yang sudah kau pecahkan tak akan bisa kau perbaiki kukira. Nathan menganggapmu satu-satunya, jika kau tidak sepaham, kukira kalian  tak bisa bersama lagi.”


“Itu hanya teman, bukan siapa-siapa...”


“Iya aku tahu kau menganggapnya teman. Tapi dia tidak menerima term temanmu, kalian tak sepaham soal casual term itu.” Louis hanya berputar-putar dengan istilah casual, aku hanya meringis mendengar gadis itu mengiba, nampaknya gadis itu menyesal kehilangan Nathan.


"Siapa gadis ini? Kenapa dia kesini, Nathan tak pernah membawa gadis lain ke sini." Karena senyuman kasihanku sekarang dia menyerangku. Bukankah aku yang hanya memakai jeans dan hoodie inì harusnya tak termasuk ancaman baginya.


"Bukan urusanmu lagi kukira. Kenapa kau perlu meributkannya."


"Ohh kau...kau orang yang sama yang kemarin bertemu denganku dikantor. Nathan tak pernah memasukkan wanita dalam timnya. Kenapa sekarang ada gadis ini disini."


"Mantan Nyonya rumah, jika gadis ini tinggal disinipun kau tak punya hak lagi untuk mengaturnya." Louis menjawabnya. Mantan nyonya rumah, panggilan yang mengesankan.


“Ohh selamat siang Amanda.” Tuan Alan yang datang kemudian menangkap keributan ketika Amanda berusaha masuk, karena dia akan masuk juga.


“Tuan Alan boleh  tolong saya, saya ingin bertemu dengan Nathan.” Sekarang dia mengiba ke Tuan Alan.


“Amanda, aku bukan reception.” Aku meringis mendengar sarkasme Tuan Alan yang dibalut dengan senyum kecilnya.


Bossku berumur hampir 50 tahun itu terlalu praktis kadang-kadang. Selama setengah tahun ini aku mengenal dia memang boss sangat praktis dan efektif, dia tidak terlibat personal, dia melihat pekerjaanmu dengan objektif, memberikan pujian jika dia puas dengan pekerjaanmu dan tak perduli dengan dengan urusan yang lainnya. Dia sangat menghargai waktunya.


"Louis, John, Tuan Alan kalian mengenalku tak bisakah memberi aku kesempatan bicara."


"Nona perintah Tuan jelas. Dia tak akan bicara lagi dengan Nona. Kami semua hanya menjalankan perintah Tuan." John menahannya didepan tidak bisa masuk lebih dalam lagi.


Alan melangkah ke dalam mengabaikan Amanda. Kami juga mengikuti langkahnya kedalam.


“Kasihan gadis cantik itu. Tampaknya dia sangat berharap dimaafkan.” Louis tertawa mendengar perkataanku. Aku hanya ingin memancing pembicaraan soal gadis berstiletto yang memandangku hanya sebelah mata itu.


“Dia bunuh diri pun Nathan tak akan perduli lagi padanya.” Hmm... mungkin teman casualnya itu kurang berharga dibanding Nathan. Orang kaya mereka selalu punya cara bersenang-senang.  Sementara nampaknya Nathan adalah orang yang cukup kaku pada prinsipnya.


“Kenapa bisa Nathan meminta pertemuan akhir pekan begini?” Atasanku langsung bertanya padaku. Dia datang hanya memakai polo  t-shirt akhir pekan ini.


“Kami bertemu dengan  Enrique di gym  bela diri dan aku sparring dengannya, Louis membuat taruhan, akhirnya Tuan Nathan  tahu kami punya masalah dengannya. Aku bilang datanya sudah diserahkan padamu. Tapi Tuan Nathan mau dibahas hari ini."


“Hmm... ya sudahlah, ayo selesaikan, lebih cepat aku punya keputusan lebih baik. Ayo ke ruang  kerjanya,...”


Aku  mengikuti mereka, yang disebut ruang kerja Nathan dirumah ini adalah sebuah perpustakaan yang didesain klasik dengan banyak warna kayu gelap dengan meja kerja dan sofa untuk tamu. Ruangan ini adalah bagian berbeda dari desain elegant minimalis diluar sana. Aura serius yang melingkupinya dibangun dari warna gelap dan coklat tua seperti perpustakan jaman victorian.