The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR DADDY WANNA BE Part 5. First Meet 2



"Tidak, baru saja." Suaraku hampir berbisik.


"Anggap saja ini kencan buta. Jangan terlalu tegang." Dia berkata pelan sementara aku tak bisa menghilangkan rasa panas di wajahku dan masih tak bisa bicara.


"Kau tak pernah melakukan ini bukan?" Pertanyaan berikutnya membuatku berpikir ini bukan pertama kali untuknya.


"Tidak pernah." Dia melihat padaku, aku mencoba tersenyum. Mungkin banyak sugar baby profesional diluar sana. Dengan kecantikan dan kemudaan mereka, mereka bisa hidup enak atau mungkin mendapatkan uang kuliah hanya dengan membuat perjanjian sementara seperti ini.


"Kita pesan makanan dulu oke?"


"Iya." Aku terlalu canggung sekarang. Aku menjawab satu pertanyaan dengan satu jawaban dan tak berani memulai lebih. Rasanya aku ingin menganti wajahku saja dan berpura-pura tak mengenalnya.


"Kau ingin makan apa? Kau pasti familiar dengan semua menu ini, ohh ya kau pemilik restoran, apa kau juga tahu bagaimana memasak?" Dia mencoba mencari bahan pembicaraan untuk kami.


"Aku profesional chef lulusan dari Coquis." Mungkin aku hanya berusaha untuk jujur, sudah disini, walaupun kami baru bertemu sekali, aku tak bisa mundur lagi. Dia berani mengambil 10.000 euro itu.


"Begitu rupanya. Baru belakangan ini kau terlihat, apa kau mengelola restoran lainnya?"


"Iya di Spanyol."


"Ternyata kau punya banyak cabang ..." Jika aku punya begitu banyak cabang restoran kenapa aku berakhir didepannya. Sungguh tak masuk akal mungkin di pikirannya.


"Itu punya mantan suamiku, aku yang menjalankannya. Dua bulan ini aku baru kembali ke Milan." Aku mengakuinya agar dia tidak penasaran.


"Jadi kau sudah bercerai?"


"Masih dalam proses."


"Ternyata begitu." Aku tak tahu bagaimana hubungan daddy dan baby ini harus dijalani. Kurasa untuk menjalin hubungan yang baik kau perlu jujur tidak berusaha menyembunyikan apapun, jika aku berhasil memperoleh pinjaman itu akan sangat baik. Mungkin aku bisa membebaskan Valentina dari laki-laki itu lebih cepat.


Pria tampan yang datang dengan kemeja kerja gelap ini. Aku tak melihat dia perlu memakai jasa sugar baby, apakah orang semacam dia perlu disanjung-sanjung, kelihatannya dia orang yang tidak perlu sanjungan sama sekali, Dia terlihat nyaman dengan dirinya, atau dia hanya don juan anti komitmen... di lain sisi aku tidak bisa berpura-pura menyanjung orang sepert itu.


"Kenapa orang sepertimu perlu membayar. Kau bisa mengedip dan wanita jatuh ke depanmu." Dia tertawa mendengar pertanyaanku.


"Itu tidak sepenuhnya benar, tak ada yang namanya makan siang gratis Nona. Kecuali dari Ibumu. Semua orang yang memberikan sesuatu mengharapkan imbalan. Wanitapun sama, aku agak segan dengan kata komitmen, anak, keluarga, itu tanggung jawab besar, kompleks. Itu alasanku berada disini...."


"Hmm...ya itu benar." Aku tahu dia benar. Tapi alasan dia takut jika dia mampu agak membinggungkan. Mungkin dia memprioritaskan kariernya dan menganggap wanita hanya pengisi waktu luang yang bisa dipanggil sekehendak hati. Entahlah. Aku tak mau berandai-andai.


"Bagaimana bisnis restoran? Ada kesulitan? Kelihatannya restoranmu ramai, kau melakukan ini just for fun atau kau sedang dalam kesulitan." Dia tiba-tiba menjadi serius dengan pembicaraan setelah kami selesai melakukan order. Membuatku merasa seperti diinterogasi.


"Aku punya kesulitan tapi mungkin aku tak seharusnya mengatakan padamu? Sebenarnya aku tak tahu sebenarnya bagaimana ini harus berjalan. Kau berharap aku menceritakannya? Itu mungkin akan menganggu."


"Iya. Aku lebih suka kau menceritakannya." Dia melipat tangannya depan dada, siap mendengar ceritaku sementara pesanan kami belum datang.


"Maksudmu adikmu dipenjara karena Ayahmu tak bisa membayar hutang. Bagaimana bisa begitu, pinjaman jika kau tak mampu membayarnya mereka akan menjual asset yang kau jaminkan?"


"Ayahku menandatangani pinjaman dengan Adriano Gianni. Jika kau tahu siapa dia..."


"Gianni, wow, kau terlibat dengan stronzo( assh*ole) itu...." Tampaknya dia tahu siapa yang kubicarakan. "Tunggu dulu maksudmu ditahan adalah dia menahan adikmu sebagai... ehm wanita jaminan?!"


"Iya."


"Tak kusangka dia se-bang*sat itu." Aku tak berkata apapun. "Tak ada jalan lain yang bisa kau lakukan?"


"Nilai asset kami tak cukup, walau aku menjual bisnisku. Ayah membuat keputusan bisnis yang salah setelah Ibu tidak ada, dan aku jauh di Spanyol, tadinya tak ada yang salah, kami baik-baik saja sebelum dia tergoda membuka dua cabang lagi yang menjadi sumber kerugian selama bertahun-tahun dan kekurangan pengawasan membuat restoran mundur. Tak cukup waktu untuk memperbaiki kesalahan yang menahun."


"Kau bilang Ayahmu sedang sakit? Dia tahu soal ini?"


"Tidak."


"Tidak?! Ini hasil kesalahannya, dia tak tahu konsekuensinya." Pria itu menaikkan alis mendengar perkataanku.


"Dia sedang sakit keras, dia tidak pernah meniatkan ini. Mungkin dia terpukul, mungkin jika aku lebih sering memintanya bercerita dan melarangnya melakukan keputusan bisnis yang buruk tak akan begini. Jika aku tak terlalu sibuk di Spanyol. Jika dia tahu mungkin dia akan tambah sakit, dia sudah berusaha sepanjang hidupnya. Aku dan adikku berusaha mengambil alih tanggung jawab yang terlambat. Aku tahu ini bodoh dimatamu."


"Memang bodoh...memperluas bisnis dengan meminjam ke lintah darat. Bertahun-tahun jumlah bunganya mungkin sudah melewati pinjaman pokoknya. Itu tindakan terbodoh yang pernah kudengar."


"Ayahku biasanya bergantung pada Ibu mengambil keputusan bisnis, ketika itu dia melakukannya karena di iming-imingi oleh Gianni dan tidak mengerti ada bagian yang tidak sesuai yang dikatakannya. Dia tidak menelitinya..."


Aku menghela napas, iya, yang dia katakan benar, itu bodoh. Jika aku tahu aku tak akan memberikannya izin. Tapi aku baru tahu setelah adikku yang saat itu masih di semester akhir memberitahuku. Aku merasa tak memperhatikan Ayah, terlalu sibuk dengan diriku di Spanyol dan akhirnya sekarang aku tak mendapatkan apapun dari suamiku.


"Berapa?"


"Maksudmu?"


"Jumlah hutang kalian sekarang."


"Sekitar 4,600,000 Euro."


"Awalnya?"


"7,500,000 pinjaman pokoknya, sudah terbayar sekitar 4,500,000 dengan bunganya. Aku mencoba menawar membayar 3,000,000 cash dengan menjual rumah kami dan asset kami dan mencicil selama dua tahun 1.600.000-nya dengan bunganya tapi dia berkeras dan tidak memberikan kami pilihan. Jika Valentina tidak mengikutinya dia mengancam akan memenjarakan Ayah dan menjual semua asset yang kami jaminkan dengan bunga terus berjalan, dia sengaja mempermainkan kami, karena kami tidak punya pilihan karena kesehatan Ayah. Ayah tak akan bertahan menghadapi pengadilan atau intimidasi yang dia jalankan. Kau harusnya tak perlu mendengar ini. Ini masalahku..."


"Putri yang berbakti." Mungkin itu sindiran pria ini atas kebodohan kami. "Aku jadi lapar mendengar masalah kalian dengan Gianni, ayo makanlah, semua sudah terjadi. Lintah penghisap darah itu memang tak tak pernah puas. Tapi aku tak tahu dia memang sebangsat itu untuk mempermainkan orang." Dan bertepatan dengan makanan pembuka kami datang.


(red : kalo sana nyebutnya loan shark \=hiu pinjaman\= rentenir \=lintah darat)