The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 27. Palermo 3



Kami sampai di rumah Ibuku jam 8.30. Tapi nampaknya Eliza setelah kami turun pesawat dia menikmati perjalanan kami ke rumah. Dia lebih sering tertawa dan tidak mencoba menjadi sarkas lagi dalam menghadapi kata-kataku.


Itu bagus, mungkin karena dia menghargaiku memberi waktu untuk bersama keluarganya. Dia menerima pujian langsung dengan banyak kecurigaan padaku, tapi saat aku melakukan sesuatu untuk keluarganya dia bersikap jauh lebih baik. Nampaknya merayunya tidak bisa terang-terangan sama sekali, harus jalan yang memutar.


Mereka sudah memulai makan malam di jam begini. Ramai sekali sekitar dua puluh orang biasanya yang berkumpul. Kadang ada keponakan, sepupu Ibu, adik dan kakaknya tentu saja.


Rumah Ibu selalu jadi tempat berkumpul keluarga besar. Tempat liburan keluarga kami.


"Kalian sampai." Ibu langsung memelukku di muka pintu.


"Eliza sayang, terima kasih kau sudah disini. Bibi sangat gembira kau bisa datang." Ibuku memeluk Eliza dengan hangat. Nampaknya dia sangat menyukai Eliza. Dimatanya Eliza adalah seseorang yang dia harapkan.


"Rudolf, Marian, tolong bawa koper mereka ke kamar. Kita semua bergabung ke makan malam dulu." Staff dirumah Ibu membantu kami sekarang.


"Ramai kali ini, beberapa sepupuku yang kadang tak muncul kali ini ikut muncul.


"Ini yang namanya Elizabetta Canalis, dia teman istimewa Fabri." Ibu tetap memakai kata teman tapi menambahkan kata istimewa. Eliza melihatku, aku tersenyum padanya mengatakan bahwa aku tak keberatan.


"Akhirnya Fabri membawa teman istimewa. Ibumu terlihat bahagia sekarang." Salah seorang bibiku menimpali.


"Yang ini nampaknya benar-benar istimewa, bukan begitu Fabri?"


"Iya tentu saja, jika tidak kenapa aku mengenalkannya ke kalian. Dia memang teman istimewa."


"Kami teman. Teman baik..." Dia tetap pada pendiriannya tak mudah diubah. Tetap sopan, tak mengharapkan apapun.


"Kenalkan ini adalah kakak keduaku...." Ibu mengenalkannya pada keluarga kami.


Ibu berusaha agar dia merasa diterima pada kunjungan pertama ini. Dan bukan Eliza namanya jika dia tidak bisa beramah-tamah, pembicaraan mengalir dengan lancar, semua orang tampak bisa tertawa bersama di meja makan itu dan menerimanya. Dan Ibu membanggakan Eliza yang adalah seorang koki profesional.


Kupikir Ibu begitu berusaha kali ini. Aku jadi tak tega mengecewakan harapan besarnya. Mungkin aku memang harus mencoba. Mungkin dengan orang yang memang tepat aku akan merasa lebih baik.


"Ahh, kalau begitu besok nampaknya Eliza akan membuatkan sesuatu yang istimewa."


"Ahh tentu saja, Bibi apa yang kau inginkan..." Eliza bersedia tapi Ibu langsung memotongnya.


"Tunggu dulu dia tamu anakku, bagaimana aku menyuruhnya mamasak untuk kalian. Tidak ...tidak! Mariam yang memasak untuk kita dan aku mengundang chef dari restoran lokal besok. Dan Eliza sayang, lain kali oke berjanji kalau kau akan berkunjung lagi dan memasak bersama kami." Ibu menyuruhnya berjanji, sekarang semua orang menunggu jawabannya.


"Bibi, aku ..." Eliza tak tahu bagaimana menjawabnya.


"Sayang berjanjilah..." Eliza melihatku meminta cara menjawab pertanyaan Ibuku.


"Kau harus mengabulkan permintaan yang berulang tahun Vanilla." Semua orang tersenyum mendengar jawabanku, sementara Eliza melihatku setengah tak percaya. Dia melihat ke Ibu yang memasang mata puppy eyesnya sekarang.


"Uhhh Vanilla,... aku macaron Fabri, kau bahkan sudah menamai dia Vanilla. Bibi kau tak usah mengusahakan apa-apa lagi." Seorang sepupuku dengan cepat membalas perkataanku.


"Aku Mawar,... paling cantik dan harum." Dan yang lainnya menambah kehebohan. Satu meja besar itu membuat wajahnya memerah.


"Kau dengar jawaban Fabri. Berjanjilah pada Bibi kau akan berusaha kembali. Bibi tahu kau tak bisa memutuskan iya bulan depan mungkin, tapi berjanjilah kau akan mencoba..."


Makan malam itu menjadi tambah meriah kemudian. Udara dingin bulan Januari bukan halangan kami mengobrol sampai larut.


"Kesinilah sebentar,..." tiba-tiba Mama menarikku.


"Ada apa Mom?" Sepertinya dia serius sekali.


"Kau dan Eliza sekamar saja, kamar sudah penuh." Aku membelalak mendengar perkataannya.


"Mom? Kau serius tentang perkataanmu?" Aku sudah bilang kamar kami terpisah bagaimana mungkin dia menaruhku dalam masalah ini.


"Aku tak perduli, jika kau tak bisa menenangkannya kau memang anak tak berguna. Kau tak boleh menginap di hotel. Lagipula kamarmu itu ranjangnya king size, jangan seperti anak kecil!" Dia mengetuk kepalaku.


"Mamaaaa!?" Aku memelas. Apa dia tak percaya aku bisa mengatur ini dengan jalanku sendiri. "Kenapa kau memaksanya begitu, kau tak adil memaksa kami begini, bagaimana jika dia malah menuduhku macam-macam."


"Ya sudah, jangan macam-macam. Sudah kubilang kamar penuh, jangan protes. Nanti aku sendiri yang bilang ke Eliza."


Mama melenggang meninggalkanku tanpa rasa bersalah. Ternyata dia kesini ingin menjebakku dan Eliza. Semua ini sudah direncanakannya dari awal.


Aku menghela napas.


Sudah lewat tengah malam semua orang bubar dan masuk kamar beristirahat. Eliza terlihat agak binggung dia belum ditunjukkan kamarnya.


"Eliza, kamarmu disini." Ibu dengan sangat percaya diri menunjukkan kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang. Setelah ini dia akan membunuhku pastinya.


"Bibi, rumahmu sangat indah."


"Ini rumah peristirahatan keluarga sayang, kebunnya juga sangat luas. Aku sangat suka rumah ini, Kakakku bilang aku boleh tinggal disini jika aku suka. Jadilah ini sekarang rumah dan kebunku. Besok Bova akan mengajakmu berkeliling."


"Ohh begitu rupanya. Keluarga kalian sangat kompak..."


"Tentu saja, kau sudah bagian dari kami. Kuharap kau suka berada disini..."


"Ini kamarmu." Dia menunjukkan sebuah pintu, kamarku yang selalu kutempati jika kesini. "Sekaligus kamar Bova karena kali ini hanya ini yang tersisa untuk kalian."


"Apa?" Eliza melongo mendengar bagian belakang kata-kata Ibu.


"Dia akan bersikap baik, jika dia bersikap tidak baik padamu, laporkan pada Bibi, Bibi sendiri yang akan menghajarnya. Kau dengar itu Fabri,...." Bagus sekali sekarang aku harus tidur di sofa semalaman. Sofa kecil itu?! Aku tidur di ruang tengah saja dengan selimut tebal.


"Ya sudah, selamat beristirahat. Kalian pasti lelah." Aku menghela napas panjang. Mama memdelik padaku. "Jaga sikapmu!" Dia malah mengancamku, dia sendiri yang membuat aku berada di situasi ini.


Aku melihat ke Eliza, sekarang wanita ini yang akan membunuhku.


"Masuk, kita bicara! " Eliza menarik tanganku ke kamar dengan marah. Hari ini kali pertama dia mau memegang tanganku tapi bukan untuk bermesraan tapi untuk membunuhku!


Mama, kau sangat tega!