
Aku terbangun dengan kepala masih pusing. Hisao tak ada disampingku, samar-samar aku ingat semalam, kekacauan yang kubuat, malam yang terlalu panas karena sake, dia rupanya membuatku memakai kaus-nya, aku terlalu mabuk semalam bahkan untuk mengurus diriku sendiri dan aku bahkan belum menghapus make-up yang kugunakan.
Malam yang membahagiakan, akhirnya aku diterima sebagi anggota keluarga, setengahnya aku terlalu gembira semalam tapi tegang karena pertama keli dikenalkan dengan banyak orang sebagai anggota keluarga. Aku tak begitu ingat apa yang terjadi, ingatanku hanya sampai aku membuka kemejanya karena dia terlalu ‘panas’ untuk diabaikan. Setelah itu mungkin aku mengatakan sesuatu yang tak sepantasnya padanya karena mabuk kemudian. Apa yang telah kulakukan semalam, atau ada hal yang tidak kuingat setelah itu.
Kemana dia, sudah jam sembilan mungkin dia pergi mengambil sarapan atau ke gym. Dia bilang hari ini dia tidak bekerja, aku juga tak bekerja untuk hari ini. Ternyata sarapan sudah diantarkan diruangan kami. Aku menemukan pergi membersihkan diri dan berganti pakaian. Menemukan diriku dengan pakaian bersih dan kelaparan untuk sarapan yang masih hangat.
“Pagi Hanii bee...kau sudah bangun.” Hisao rupanya sudah keluar dengan sepatu olahraganya. Keringatnya membuatku teringat semalam.
“Hmm... aku kelaparan.”
“Makanlah, aku mau mandi.”
Tak butuh lama kemudian dia duduk lagi disampingku, membuatku melihatnya saat dia mengambil sandwich pertamanya.
“Apa aku kacau semalam.” Pertanyaanku membuatnya menoleh padaku dan tersenyum kecil. “Aku tak ingat kejadian setelah aku membuka kemejamu... Aku benar-benar terlalu banyak menerima sake, sebenarnya bertahun tahun di Gion aku tak pernah terbiasa dengan sake. Aku mengakali dengan mengatakan gelasku sudah penuh ke tamu, padahal setiap minum aku masih menyisakan sake dibawah sana. Apa aku mengatakan hal yang tidak pantas padamu?”
“Kau bicara jujur semalam...” Dia tertawa kecil.
“Apa yang kukatakan?”
“Kau menyukai tato harimauku, dan berharap itu digambar lebih kebawah.” Aku meringis, dan mengulum senyumku.
“Kalau begitu nanti kita gambar anak harimau dibawahnya.” Dia langsung tertawa mendapatkan jawabanku.
“Ide yang baik. Aku akan melakukannya jika anak pertama kita lahir.” Kata-katanya membuatku melihat padanya. Sebuah keluarga, itu yang dia bicarakan. Membuatku bermimpi terlalu jauh di musim semi ini.
“Aku terlalu tegang kemarin, terlalu gembira, semuanya bergabung jadi satu. Maafkan aku jika aku melewati batasku semalam.”
“Kau memang sangat sopan jika sadar.” Hisao tertawa, dan aku merasa malu padanya. Entah apa yang kulakukan semalam.
“Maaf...” Dia tersenyum kecil dan merangkulku.
“Aku bertanya satu hal semalam...”
“Kau bertanya apa?”
“Saat malam sebelum kita berada di Hongkong, aku samar-samar mendengarmu bicara pada Franda, kekasih Philip....” Aku melihatnya sekarang, dia mendengarnya? Kupikir dia tertidur?, “Kau bilang kita mungkin tak punya masa depan, mungkin kau mencintai orang yang menolakmu, kau akan hanya jadi kekasihku, aku sadar setengah perkataanmu benar saat itu... Aku tak menyalahkanmu menjadi realistis saat itu, tapi sekarang aku ingin tahu apa kau masih berpikiran kau mungkin mengharapkan orang dari masa lalumu.”
“Tidak,...itu...” Saat itu aku hanya berpikir aku tak mungkin diterima. Aku membentengi diriku sendiri.
“Aku tahu maksudmu. Tapi aku membuktikannya sekarang bukan.”
“Dulu aku tidak bisa punya kekasih, Ibu dan Ayahku meninggal saat aku muda. Saat itu Derrick-san memberiku pijakan, dia mengatakan hal baik tentang Ayahku, memberiku contoh bahwa aku bisa melangkah lebih baik, aku saat itu berpegang pada ketulusannya pada sesama manusia, saat dia muncul kemudian, aku terpaku padanya. Mungkin aku saat itu mengaguminya, tapi saat aku mengatakan itu aku juga masih membentengi diriku untuk tak terlalu berpikir indah pada posisiku, mungkin kau menyukaiku, tapi keluargamu adalah hal yang berbeda. Jika aku menyinggungmu...”
“Sudah kubilang aku mengerti. Kau tak perlu menjelaskannya....” Dia tertawa. “Aku tahu kau masih meneleponnya saat aku mengancammu dengan Ryohei, kau menganggapnya seperti tempat mengadu.”
“Bagaimana kau tahu? Apa dia cerita padamu?”
“Hmm...dia tidak cerita. Tapi tiba-tiba dia meneleponku dan menguliahiku hal-hal tertentu. Aku jadi berpikir kau entah bagaimana menjadikannya tempat bercerita, saat itu kau punya banyak pikiran jelek padaku.”
“Iya, kau menjadikannya Paman dan kekasih ideal dalam pikiranmu sekaligus. Kau benar-benar menyebutnya Paman semalam saat aku bertanya.”
“Hmm... tidak ada hal yang memalukan lagi semalam.”
“Selain kau menyuruhku bekerja lebih cepat dengan kata-kata yang baru kudengar bisa kau ucapkan tidak ada lagi.” Dia tertawa, mukaku panas. Aku tak bisa bicara soal semalam,lain kali aku tak akan membiarkan diriku terlalu mabuk lagi.
“Kita ke okiyamu sore ini sayang, aku ingin meminta izin pada Bibimu.”
“Menikahimu musim gugur ini.”
“Musim gugur ini, ...” Dia langsung mengatakan waktunya.
“Iya musim gugur ini, kau mau menjadi istriku bukan. Aku tak akan menunggu lebih lama lagi setelah hari ini. Sebenarnya aku telah membicarakan semua pada Ibu dan Ayah, semalam hanya perkenalan pertamamu. Tapi dibelakang itu semua sudah diputuskan. Ibu dan Ayah juga tak ingin kita menunggu lama lagi. Mereka menginginkan cucu pertama mereka segera...”
“Benarkah?” Tiba-tiba semuanya berjalan di jalur cepat.
“Kau keberatan? Apa kau tidak ingin pernikahan?” Tiba-tiba wajahnya menjadi khawatir.
“Bukan-bukan. Hanya terasa begitu cepat.”
“Hmm, aku tidak ingin menunggu lama membawamu kerumahku. Punya seorang istri disampingku, anak-anak akhirnya. Kurasa aku tetaplah pria biasa. Seperti kata Nathan, akhirnya kami hanya ingin berada dirumah. Sebuah tempat yang kami kenal, setelah mengembara kebanyak tempat.”
“Jadilah istriku, Setsuko Takahashi.” Aku tersenyum mendengar permintaannya. “Will you marry me, Hanii bee...”
“I will marry you, teddy bear. Mana cincinnya?” Dia meringis lebar mendengar pertanyaanku.
“Belum beli, nanti kita beli apapun yang kau mau, dengan cincin pernikahannya.” Aku tertawa dan memukul dadanya.
“Kau tidak sopan, melamar tanpa cincin....”
“Kita akan beli siang ini.” Aku memonyongkan bibirku padanya.
“Lamaran tidak sah.”
“Kau sudah bilang iya.”
“Ulangi lagi nanti.”
“Kuulangi sebanyak yang kau mau.” Lamaran sederhana di meja makan. Teddy bear ini, benar-benar tidak tahu tempat.
“Kau melamarku di tengah sarapan pagi, kau tak bisa mencari tempat lebih bagus untuk diingat!” Dia tertawa.
“Kita akan punya banyak tempat bagus didatangi nanti, entah berdua entah bersama anak-anak kita. Aku membayangkan perjalanan kita bersama anak-anak kita mungkin seperti kakek, bersama cucunya. Asal kita tetap bersama.”
“Kau memang pintar bicara.”
“Aku mencintaimu Hanii Bee...” Aku menatapnya, masih kesal dan tidak rela karena dia membuat lamaran didepan sandwich dan kopi.
“Makanlah. Ini sarapan pagi”
“Kita akan membeli cincinnya siang ini, sekalian kalung dan gelangnya pun boleh.” Dia merangkul pinggangku sekarang meminta maaf, karena tahu aku kesal.
“Aku akan menghabiskan uangmu membeli kalung yang kuinginkan.”
“Terserah padamu, jika aku jatuh miskin aku bisa menjualnya lagi.”
“Kau perhitungan sekali.” Aku mencubit hidungnya.
“Itu harta bersama.” Dia tertawa lebar seakan itu sangat lucu.
“Kau menyebalkan...” Dan mengetuk keningnya kesal sekaligus ingin tertawa.
“Kau mencintaiku Hanii Bee.” Dia memelukku begitu rupa dan mencium pipiku seperti bayi, membuatku tertawa geli akhirnya. “Katakan kau mencintaiku.”
“Aku mencintaimu Teddy Bear.”