
Nathan melihatku saat aku sampai dirumah jam enam kurang, memperhatikan langkahku sehingga aku menjadi canggung diperhatikan begitu rupa.
"Nona, selamat sore." Howard menyapaku. Kurasa dia yang mengikutiku tadi. Bagaimana jika Nyonya Oguri bersedia memberi keterangan bahwa aku membocorkan rahasia perusahaannya di pengadilan.
"Malam Howard..." Aku membawa dua loyang besar Giordano pizza untuk sharing. "Aku membawa pizza untuk kalian. Ayo makan." Dalam perjalanan pulang aku berpikir, lebih baik aku menyingkir dulu ke LA daripada menjadi objek pengawasan disini.
"Kita mau makan malam..." Nathan menjawabku.
"Tak apa. Buat Deborah dan yang lain tak apa. Dipanaskan buat sarapanpun masih bisa, lagipula aku juga kelaparan. Makan sedikit tak apa..." Berusaha bersikap normal, itu yang terpaksa aku lakukan sekarang demi memyelamatkan nyawaku sendiri. Tak ada yang lain lagi.
"Makan malam dimana?" Aku ketakutan sebenarnya, tapi aku harus menyembunyikannya sebaik-baiknya. Aku merasa dia hanya cuma perlu bukti saja untuk menyudutkanku, satu bukti kecil bisa menggiringku ke kematianku.
"Tak begitu jauh dari sini."
"Ohh baiklah, casual saja bukan."
"Iya, casual saja."
"Oke, aku naik ke atas dulu." Aku akan berusaha meminta kembali ke LA saat makan malam. "Aku turun jam 7." Aku menghilang dari ruangan tengah. Rasanya seperti lolos dari lubang jarum.
Aku memakai blouse warna peach lengan panjang dengan detail ruffles yang cantik dan celana panjang hitam, balerina pump nyaman dan siap untuk makan malam.
"Ayo?" Dia hanya memakai kemeja casual dengan lengan digulung dan t-shirts putih didalamnya. Terlihat santai tapi aku yang berdebar-debar setiap kali berhadapan dengannya.
Mengambil kunci mobil dan berjalan keluar sementara para pengawalnya tidak terlihat.
"Kau tak membawa pengawal..." Dia memperhatikan ponselnya sambil kami berjalan.
"Nanti John ikut dengan mobil lain, ehm...hanya restoran tak jauh dari daerah sini."
"Ohh baiklah." Aku duduk di sampingnya di SUV Audi Q8 itu. Merasa mulai berdebar-debar tak menentu lagi. Apa kumanfaatkan saja rasa takutku ini untuk pergi. Aku diam saja menimbang opsi yang kupilih.
"Kenapa kau diam sekali?" Perkataannya mengagetkanku. Dia melirikku yang terlihat terkejut. "Apa aku mengagetkanmu..." Dia tersenyum kecil.
"Aku berpikir kembali ke LA besok, ada permintaan perubahan sistem yang kulakukan di beberapa anak usaha, aku dan kepala keuangan mereka harus mendiskusikan ini. Aku tak bisa menyerahkan ini ke staff." Aku bicara sekarang untuk meminta kembali ke LA. "Lagipula orang itu pasti sudah kau bereskan bukan? Tak enak rasanya berlibur di hari kerja begini... Kamis harusnya pertemuanku dengan mereka. Jadi aku ingin minta izin kembali duluan."
"Batalkan saja, aku mendapatkan alamat pembunuh bayaran Elizabeth Ailes, dia akan dibawa kesini besok. Kau tak akan kemana-mana. Di LA belum aman batalkan saja pertemuannya."
"Kau mendapatkan pembunuh bayaran Elizabeth Ailes, polisi pun belum menemukannya. Bagaimana kau bisa menemukannya." Nathan ini benar-benar mengerikan, bagaimana dia bisa punya orang yang begitu cekatan.
"Aku bisa." Dia tidak akan menceritakan detailnya sedikitpun.
"Serahkan ke polisi saja, aku tak ingin membunuh seseorang dengan tanganku lagi. Jangan membunuh mereka."
"Hmm... nanti, mereka perlu dihajar sedikit dulu."
"Nathan kau tak perlu melakukan ini. Serahkan saja mereka ke polisi."
"Aku bisa melakukan banyak hal lebih efektif dari polisi Nathalie. Kau tak usah takut, bahkan Sean bisa mengatur transportasi mereka oleh polisi, aku mempermudah pekerjaan mereka. Menyembunyikanmu dari polisi bodoh itu pun bisa kulakukan jika aku ingin."
Apa dia menganggap aku ada hubungannya dengan polisi atau setidaknya dekat dengan mereka.
"Kenapa kau mau pergi? Merasa tak nyaman padaku karena kejadian semalam..." Aku diam, tak tahu bagaimana cara menjawabnya sebenarnya. Tapi aku tetap pada roleku untuk bertahan di status teman.
"Tidak, aku hanya merasa harus bertanggung jawab terhadap pekerjaanku. Bukan tak nyaman... Aku tahu kau baik padaku." Aku mencoba tersenyum padanya. Dia melihatku sebentar, jantungku berdebar tak tertahankan sekarang. Apa yang terjadi semalam terbayang lagi di kepalaku. Mukaku memanas, jantungku berdebar, bagaimana aku bisa bertahan disini.
"Kenapa? Kau hanya ingin berteman? Aku tak ideal menjadi kekasihmu?" Aku tercekat ketika dia berhenti begitu saja di sebuah jalanan. Dia hanya ingin mempermainkanku sekarang, kenapa dia bertanya hal semacam itu. Apa belum cukup kami berteman. Apa belum cukup casual se*x semalam. Kenapa aku benci bagaimana dia memojokkanku dan mempermainkanku.
"Nathan bukan begitu, aku hanya staffmu, bagaimana aku berpikir punya hubungan lebih dari teman denganmu, kita harusnya hanya punya hubungan profesional..."
"Amanda kekasihku yang sebelumnya tak punya masalah dengan latar belakangku. Kau jelas punya standar lebih tinggi nampaknya."
"Aku hanya staff, bukan orang yang tepat untuk menjadi kekasihmu, seharusnya kekasihmu adalah orang yang punya kelas seperti Amanda. Bukan seperti aku... Kita berteman saja."
"Yang menentukan orang yang tepat itu sudut pandangku, bukan sudut pandangmu." Aku cuma tersenyum saja.
"Aku tak suka high risk sudah kubilang padamu..." Aku tertawa sendiri mengatakan kalimat itu. Tapi dia nampaknya tidak menyukai jawaban itu.
Aku diam, ... mempertimbangkan lagi posisiku yang kubilang sedang putus cinta pada temanku.
"Aku bukan bilang tak mau, cuma mungkin aku belum siap atau mungkin tak yakin kita akan berjalan dengan baik. Kau sosok sempurna, yang mengejarmu banyak, kurasa kita dalam status teman saja, itu lebih aman, sudah ku bilang aku tak menganggap kejadian semalam kau harus menjadi kekasihku, itu hanya caraku menjelaskan bahwa aku bukan seperti yang kau pikirkan ..." Aku tersenyum tapi sebenarnya berbagai pikiran menyiksa bermain dikepalaku.
"Hmm begitu... berarti aku masih punya kesempatan." Dia tersenyum menanggapiku, aku tersenyum kembali padanya. Setengahnya aku merasa dia pasti menertawaiku dalam hati. Demi Tuhan aku ingin keluar dari misi ini.
"Sudahlah sekarang kita berteman dulu, aku berterima kasih padamu, aku tahu kau baik, kau bahkan mencari pelaku penyeranganku kau melakukan semuanya yang kau bisa, hanya beri waktu saja... kupikir kita perlu waktu lagi untuk saling mengenal..." Aku hanya bisa mengantung kalimatku sekarang.
"Aku benar-benar tak suka istilah temanmu itu. Tapi baiklah...kurasa aku juga tak bisa memaksamu." Entah apa yang direncanakannya sekarang.
Kami sampai ke restoran tempat kami akan makan malam, ternyata memang tak begitu jauh dari Belden Ave.
Sebuah restoran Italian dengan suasana yang cozy, dekat dengan pemandangan danau diatasnya, jika ini siang hari akan sangat bagus.
"Jika ini siang hari ini restaurant ini akan sangat bagus."
"Iya, kurasa begitu."
"Kau pernah kesini?" Aku bertanya sambil masuk keruangan diantar pelayannya yang menunjukkan meja kepada kami. Dia memesan tempat diatas, katanya pemandangannya lebih bagus.
"Beberapa kali..."
Kami menuju tempat duduk kami, dan beberapa saat kemudian sampai ke tempat kami. Pelayan memberikan buku menu kepada kami.
"Kau! Sekarang kau tak bisa lari lagi!" Seorang tiba-tiba bersuara, aku mengangkat wajahku dari buku menu seketika.
"Nyonya Oguri..." Nathan melihatku, aku melihatnya. Nyonya itu melihatku seperti melihat musuh besarnya.
Bangsat ini membawaku kesini untuk menjebakku! Sial!
😘😘😘😘😘😘
bersambung besok yaaaa.... besok banyakan janji