
"Aku tak merendah, nama Benetti terlalu besar untuk kusaingi sekarang. Bova masih perlu banyak berusaha."
"Nampaknya kau punya visi bersaing dengannya."
"Kita fokus dengan langkah kita sendiri Nona, berlari di lintasan kita sendiri. Mungkin aku akan lebih memilih berpartner dengannya, banyak hal yang bisa dipelajari. Dan ternyata mungkin aku bisa melakukan sekarang, nampaknya berpartner denganmu bisa memperoleh dua keuntungan...." Tampaknya dia adalah orang dengan visi bisnis yang kuat, dia sangat serius ketika bicara bisnis.
Dia diam sebentar sebelum bertanya lebih jauh. "Kau dan Guilio itu, kalian apa... maksudku apa kalian punya hubungan khusus? Keluarga, cinta?"
"Ohhh tidak, kami hanya berteman dari high school, sudah lama aku mengenalnya, dulu dia menjadikanku sebagai bahan contekan, sekarang kami masih berteman, orang tua kami juga berteman, mungkin dia membalas budi sebagai investor disini." Aku menertawakan perkataanku sendiri.
"Nampaknya kalian punya hubungan saling menguntungkan, pertemanan yang abadi."
"Benar... teman lebih abadi." Aku tersenyum soal hubungan pertemanan abadi kami.
"Guilio ini, aku sedikit banyak pernah mendengar tentangnya. Benetti memang terkenal. Kau nampaknya memang satu-satunya wanita yang tak jatuh hati padanya dan menganggapnya teman, walau aku tahu juga wanitanya nampaknya tak pernah lama. Menarik..."
"Hmm...aku mungkin sudah terbiasa dengan siapa dia dan berbahayanya dia. Dia playboy sejak umurnya 12 tahun, itu pengakuannya sendiri. Lagipula aku bukan tipenya. Sederhana..." Dia melihatku menilai. Tentu saja dia tahu aku bukan tipe gadis-gadis manja perayu yang mengemaskan. Aku tak pernah bisa berlaku seperti itu, karena aku sadar aku tidak se-cute mereka. Akan menggelikan jadinya...
"Jadi seperti apa tipemu sendiri?"
"Tipeku sendiri?" Aku tersenyum kecil. "Entahlah, mungkin seperti Ayahku, selalu berdiri bersama Ibu dan menjadi kekuatannya sekaligus kebahagiaannya." Itu kalimat yang dalam, aku sadar aku selalu melihat ayahku. Kupikir Raoul adalah orang itu, dia humoris, romantis, ketampanannya adalah bonus. Kupikir itu sempurna ...
"Cinta pertama seorang putri pasti adalah ayahnya."
"Benar."
"Hmm..." Entah apa yang ada dipikirannya. Kami berdiam, aku memainkan ponselku. Guilio dimana sekarang katanya bulan ini dia akan ke Jepang dan Hongkong aku tak tahu tanggal tepatnya. Aku harus bicara padanya sebelum dia pergi.
"Dan kau, nampaknya kau lebih berbahaya dari Guilio. Kau punya istri?"
"Belum."
"Hmm... sekarang tidak."
"Baiklah." Aku mengangguk dan tersenyim. Semua pria bold seperti Don Juan ini punya keuntungan. Jika mereka ingin membuat status pacar itu mudah dilakukan.
"Nampaknya kau sudah membuat kesimpulanmu sendiri sekarang."
"Apa yang bisa kau simpulkan tentang Don Juan, mereka begitu,..."
"Don Juan, baiklah tampaknya tak ada yang bagus soal itu kecuali di cap bisa mendapatkan gadis manapun." Dia tersenyum menatapku.
"Itu privileges..." Dia tertawa dengan jawabanku.
"Ya, benar itu privileges. Tapi kau tak bisa cocok dengan semua orang. Tapi disisiku privileges itu juga berarti aku dikejar karena aku dinilai berdasarkan uangku, mobilku, aku memang memanfaatkan privileges, aku tak berkata munafik, tapi hanya sampai disitu, jika seseorang menilai berdasarkan apa yang dia liat didepan, maka tak ada yang didapatnya..." Selain Don Juan dia cukup tak berperasaaan ternyata, terlalu logis.
"Kenapa kau sendiri sekarang, sakit hati dengan seseorang?" Dia menembakku dengan tepat.
"Sendiri itu lebih sederhana dan bahagia bukan hanya dari cinta bukan..." Aku tak mau menjawabnya.
"Hmm... aku setuju." Dia menyetujui, mungkin bahagianya adalah membuat uangnya berlipat ganda dalam semalam, bisa menyaingi Guilio. Aku membayangkan itu sekarang.
"Kau pernah mencoba sesuatu yang lain sebelum mengelola perkebunan ini sebelumnya?"
"Aku broker investasi di Milan, bekerja di perusahaan sekelas JP Morgan. Tapi aku meninggalkan karierku saat ayahku meninggal demi mengelola ini." Aku menjelaskan padanya sedikit perjalanan pertanianku sampai sekarang.
"Ternyata perjalananmu cukup panjang. Tapi nampaknya pertanian ini di tangan yang benar."
"Iya. Cukup panjang. Disinilah aku sekarang, hidup disini tak gemerlap seperti Milan dan Palermo, membosankan, steady, tapi aku mencintainya,..." Aku tersenyum padanya.