
POV Eliza.
“Kau sudah bisa rawat jalan mulai besok Nona Eliza, tapi tetap diingat, kau belum boleh melakukan kegiatan berat, jangan coba-coba melakukan pekerjaan rumah yang memerlukan tenaga, menyapu atau mengepel dilarang, olahraga berat dalam sebulan kedepan. Mungkin pergi bekerja dikantor dalam beberapa hari kedepan, tidak bergerak terlalu banyak, bisa kau lakukan tapi tetap jaga dirimu tidak terlalu lelah, jaga makananmu, vitaminmu, jangan mengangkat yang berat dengan tangan kananmu seminggu ini. Akhir minggu datang padaku untuk kontrol oke.” Akhirnya aku bisa pulang, aku sudah sangat bosan dirumah sakit.
“Iya dok, aku akan mematuhi laranganmu.” Akan kuiyakan apapun syaratnya tentu saja yang penting aku bisa pulang kerumah.
Sore itu aku tersenyum lebar bisa terbebas dari rumah sakit.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu.” Bova yang datang heran mendapatkan aku tersenyum lebar. Sudah lima hari ini aku tak mengizinkankan dia tidur disini lagi.
“Dia bisa pulang besok, sudah bosan dirumah sakit.” Ayah yang sudah datang duluan, sudah mengetahui aku boleh pulang.
“Ohh baguslah, dia sudah menekuk mukanya ingin pulang terus dari kemarin.”
Valentina meneleponku dengan video call.
“Kakak, kau sudah boleh pulang?”
“Sudah, akhirnya aku bisa pulang. Aku sudah ingin bekerja, melihat restoran lagi.”
“Restoran sudah berjalan sangat baik, tapi coba tebak, dia seperti Ibumu ingin memastikan semuanya sempurna, ingin mengecek sendiri memastikan semua seperti yang dia mau.” Papa bergabung dengan video call-ku dan melihat Valentina yang ada di flatnya di NY. Dia sekarang sudah mulai terbiasa disana, sudah punya teman, walaupun dia merindukan rumah. Aku akan membiarkannya kembali setelah kasusku selesai nanti.
“Itu kunci keberhasilan bisnis restoran Papa, kau harus membiarkan kakak menangani seperti yang dia mau, kau harus membantu melarangnya sedikit Papa, kakak kau belum boleh bekerja terlalu lelah.”
“Aku tahu, tak usah mengkhawatirkan aku.”
“Mana kakak iparku, biasanya dia sudah muncul?” Valentina membicarakan tentang Bova.
“Hai, aku disini. Makan dulu, disini banyak makanan menganggur.” Bova sudah terbiasa dengan kami, Valentina bahkan memanggilnya kakak ipar, kami sudah seperti keluarga sekarang.
“Kakak ipar, jangan makan terlalu banyak. Nanti absmu jadi gendut. Tak bagus boss mafia berperut gendut...” Aku tertawa mendengarnya. Bicara soal abs, apa dia punya? Aku tak pernah melihatnya, di Palermo dia memakai baju panjang menyembunyikan dirinya. Sepertinya punya. Tubuh atletisnya itu terlihat bagus. Dia berlatih boxing, kurasa dia punya tubuh yang keren. Bova meringis lebar saat Valentina membicarakannya.
“Biar aku gendut kakakmu tetap mencintaiku.”
“Dia akan membiarkanmu makan salad terus-terusan jika gendut, tunggu saja kau.” Semua orang senang hari ini. Walaupun masalah masih jauh dari selesai tapi semua berjalan-baik-baik saja.
“Besok siang akan kuselesaikan administrasi sekalian menjemputmu.”
“Jika kau tak sempat Papa bisa mengurusnya.”
“Tak apa, Marriane sementara akan membantumu. Dia akan ikut kerumah, membantumu, sementara Juan masih tetap bersamamu dan Ayahmu.”
“Tapi...”
“Harus begitu, kalian dirumah tak bisa tak bertahan untuk membereskan rumah. Biarkan dia membantumu dirumah, apa yang kau mau lakukan minta tolong Marriane melakukannya. Dia akan membersihkan kamarmu besok bersama dengan cleaning service paginya. Jadi kau merasa nyaman. Zio, besok Marriane akan kerumah sedikit membereskan rumah.” Papa mengangguk dan berterima kasih.
“Terima kasih sudah memikirkan semuanya.” Dia hanya tersenyum kecil membalas ucapan terima kasihku.
Ponselku berkedip untuk sebuah pesan masuk.
‘Kakak.’ Tadi kami baru menelepon. Kenapa dia mengirim pesan lagi?
‘Apa?’ Tak ada balasan, aku membiarkannya sementara aku dan Ayah mengobrol dengan Bova , tapi dua puluh menit kemudian aku sadar pesanku tak masuk. Sekarang jam sembilan malam, disana harusnya baru jam tiga sore. Tadi dia di flatnya kenapa pesanku tak masuk? Tak mungkin baterainya habis. Aku mencoba menelepon, tak tersambung. Kenapa bisa tak tersambung. Ponselnya mati, dia tak pernah membiarkan ponselnya mati. Sekarang aku mulai khawatir.
“Vanilla ada apa?”
“Telepon Valentina tiba-tiba mati, tadi dia menelepon dari apartmentnya, ponselnya harusnya tak pernah mati. Dia tadi mengirim pesan satu kali setelah itu aku membalasnya dan kemudian teleponnya mati.” Bova ikut melihat catatan percakapanku.
“Kau tak punya telepon teman yang bisa mengeceknya.” Tidak ada security di apartment dimana Valentina memilih tinggal. Sebenarnya ini membuatku takut, tapi komplek residential disana memang tidak memiliki keamanan kecuali high-end residential.
“Aku akan coba menghubungi temannya.” Akhirnya aku menelepon satu orang temannya yang kutahu tinggal tak jauh darinya. Dia baru bisa mengecek jam delapan malam karena dia sedang bekerja saat ini. Aku harus menunggu lagi dalam kekhawatiran berjam-jam.
“Tenanglah, mungkin dia memang kehabisan baterai, mungkin saat dia menghubungimu dia sedang berada di luar...” Bova mencoba menenangkanku. Kami menyelundupkan Valentina dengan nama lain ke US, tapi mungkin karena dia mengajukan berkas untuk pendidikannya di kedutaan Italy ini yang terjadi.
Tapi berjam-jam kemudian aku masih tak bisa menghubunginya, aku tambah khawatir, aku sama sekali tak bisa tidur. Dan enam jam kemudian, jam 3 pagi temannya mengatakan hal yang sama- dia tak bisa menemukannya, seperti tak ada orang di apartmentnya. Intercom dari bawah tidak dijawab. Tapi dia juga tak bisa masuk. Temannya langsung melaporkan ke polisi tentang kehilangan untuk bisa membuat polisi masuk ke kediamannya.
Sekarang apa lagi yang terjadi. Apa ini ulah Gianni lagi.
“Aku tak bisa menemukan Valentina, temannya melapor ke polisi...” Jam 4 pagi aku menelepon Bova di pagi buta sambil menangis. Aku harus mengusahakan sesuatu untuk menemukannya.
“Apa.” Nampaknya dia masih setengah sadar dan dibangunkan oleh teleponku. Sekarang Gianni mencoba membalik kondisi, dia yang menekan kami. Dan kali ini keselamatan Valentina dijadikan taruhan lagi.
\=======*****========
POV Author
“Guilio, temanmu yang mengatur menyelundupkan saudara kekasihku ke NY, apakah dia kompeten diminta menemukan seseorang di NY. Aku akan membayar biaya jasanya.” Bova menelepon Guilio lagi secepatnya, satu-satunya yang dia tahu punya teman dengan bisnis swasta yang bisa membantunya. Jam delapan pagi dia sudah menelepon untuk memastikan apa Guilo bisa membantunya.
“Kali ini siapa yang hilang di NY? Kau punya banyak bisnis berbahaya di NY brother?”
“Gianni nampaknya menculik adik kekasihku lagi. Dia menghilang tak bisa ditemukan dari pesannya yang terakhir nampaknya meminta tolong jam 9 malam kemarin.”
“Madonna! Benarkah?”
“Begitulah yang terjadi, sekarang giliran kami yang ditekan untuk bekerja sama di pengadilan?”
“Apa dia mengatakan begitu pada kalian?”
“Tentu saja tidak, dia berhasil memundurkan jadwal sidang beberapa saat, sekarang dia tak akan ragu mempercepatnya. Karena dia memegang kartu as untuk menekan kami.”
“Bagaimana dia menemukannya? Bukankah orang Nathan memasukkannya lewat jalur tidak resmi.” Guilio heran, padahal mereka sudah berupaya memberikan indentitas palsu untuk menyamarkan kemana adiknya pergi.
“Dia mendaftar kuliah, mau tak mau dia membutuhkan dokumen resmi di kedutaaan. Kemungkinan besar dari sana dia dilacak.” Harusnya memang mereka menunggu dulu, tapi Eliza ingin membantu adikknya melupakan trauma, tak disangka mereka bisa melacaknya dari sana.
“Kau tak punya jalur resmi untuk mencarinya, Pamanmu berhubungan baik dengan orang pemerintah?”
“Aku takut terlalu lama, banyak yang harus dilewati. Walau aku juga sudah meminta bantuan Paman dan temannya sudah melapor ke polisi.”
“Aku akan menelepon Nathan, melihat apa opsi yang bisa ditawarkannya. Tapi sekarang NY mungkin di tengah malam, aku akan mengirimkan pesan, aku takut dia sudah beristirahat. Aku akan meneleponmu kembali. Selama sidang belum selesai harusnya adik kekasihmu itu masih aman.”
“Iya memang, tapi aku berusaha secepatnya jika kami bisa.”
“Baiklah kukirim pesannya sekarang. Kirim datamu yang terakhir, no telepon, alamatnya, dokumennya.”
Nathan yang kebetulan belum tidur membaca pesan Guilio sambil mengerutkan kening. Dia menelepon temannya itu.
“Guilio, astaga gadis itu diculik balik?!”
“Begitulah yang terjadi. Kau bisa menolong mereka?” Guilio menceritakan apa yang terjadi di Italy soal gadis itu. Dan terakhir mungkin temannya itu bersedia memberikan insentif tambahan untuk yang bisa menemukannya.
“Aku mungkin bisa mempercepat prosesnya di FBI, aku punya cara. Tapi pemintaan resmi harus diajukan secepatnya dari atase. Aku tak bisa membantu secara langsung kali ini. Ini masalah kompleks aku harus memakai surveilance pemerintah, aku tak punya cara melangkahi wewenang FBI. Tanya temanmu itu berapa insentifnya aku akan memberitahu ke temanku yang bisa membantu. Jika ada insentif semua orang akan berusaha sungguh-sungguh mengerjakannya dan masalah kalian akan cepat selesai.”
“Mengerti. Akan kusampaikan pesanmu dan jumlah yang dia bisa berikan akan kuberitahu segera.”
Saat Guilio menyampaikan apa yang bisa dibantu Nathan, dia memberikan jumlah insentif yang akan digunakan untuk membayar tim yang bertugas kali ini dan Pamannya sekarang yang menggunakan koneksinya untuk mempercepat masalah ini bisa masuk ke atase Italia di NY. Dalam 24 jam kemudian FBI menerima dokumen permintaan resmi dari atase Italia di NY. Dan perburuanpun dimulai, mereka harus mendapatkannya sebelum sidang dimulai. Dan sebenarnya mereka punya waktu cukup panjang karena bahkan belum memulai sidang minimal dalam dua minggu lagi.
“Kita sudah mengusahakan yang terbaik oke. Kau harus tenang, mereka belum bisa mengancammu sekarang. Dan adikmu pasti masih hidup karena jika mereka berani membunuhnya mereka tak punya senjata lagi untuk menekanmu.”
“Bagaimana aku bisa tenang. Mungkin setelah ini sudahlah kita pakai jalan tengah saja, aku tak ingin menaruh keluargaku dalam bahaya lagi.”
“Tidak! Kita akan selesaikan ini setelah kita mendapatkan adikmu. Mereka tidak akan kubiarkan menang”
Karena saat ini jika mereka meminta jalan tengah itu artinya mereka sudah kalah.