The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR DADDY WANNA BE Part 70. End 2



Pagi yang cerah di awal musim gugur di Milan.  Kami tiba di gereja dengan rombongan keluarga inti. Dua keluarga bertemu setengah jam sebelum misa dimulai, saling bercengkrama dan menyapa.


Aku tidak memakai veil, karena ini pernikahanku yang kedua, gaun pernikahan yang simple dan elegant, lega karena perutku sudah terlihat, make up yang tidak terlalu  bold, gaun tidak terlalu panjang sehingga aku bisa berjalan tanpa takut tersandung. Aku ingin menikmati hari ini.


“Kau terlihat cantik, ...” Dia menggengam tanganku ketika melihatku lagi. Aku kemarin pulang ke rumah kami yang lama, itupun Bova sebenarnya tak setuju. Tapi  Mama (Zia) bilang harusnya begitu, jadi dia terpaksa menurut dengan  catatan Marriane harus mengikutiku agar ada yang membantuku. Aku menghabiskan waktu dengan Ayah, adik dan keluargaku yang telah datang dan menginap di rumah.


“Kau juga terlihat tampan.” Aku tersenyum menerima pujiannya.


“Mengobrol sampai jam berapa semalam. Kau tahu kau tak boleh terlalu lelah.” Dia mengecek semuanya.


“Hanya tengah malam lewat sedikit. Aku tak  mengantuk. Jangan terlalu khawatir, aku bisa menjaga diri.”


“Hmm baiklah, aku hanya takut kau kelelahan hari ini, setelah acara makan siang kau harus segera pulang ke rumah dan istirahat, oke.”


“Iya, aku akan istirahat jika aku lelah. Sudah kubilang kau jangan terlalu khawatir.” Aku bersuara sedikit  sebal, aku tahu dia terlalu menyayangi putrinya yang belum lahir ini, kadang-kadang kekhawatirannya itu tak beralasan. Demi apapun aku hanya hamil, bukan sakit. Dia sekarang merusak hari yang indah ini.


“Baiklah-baiklah, maafkan aku.” Akhirnya dia minta maaf. ‘Jangan cemberut cantik. Aku salah.” Dia sangat mudah mengalah sekarang jika aku marah, mungkin sedikit lucu, tapi kadang-kadang aku sengaja memanfaatkannya.


“Kau memang hanya menyayangi anakmu.”


“Vanilla, aku salah oke.” Aku tetap cemberut. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat yang kau inginkan, kau sudah bisa naik pesawat. Mungkin ke Paris” Saking takutnya dia malah takut melakukan perjalanan ke luar kota. Padahal dokter bilang di usia 4-6 bulan ini aku bisa bernapas lega, karena aku bisa makan dengan baik dan sebenarnya bisa melakukan perjalanan kemanapun. Sekarang demi mendapat maafku sebelum menikah dia  setuju. Dia sangat lucu...


“Deal...” Aku tersenyum lebar karena diajak ke Paris. “Apa aku boleh memorotimu daddy...” Aku menggodanya.


“Boleh, terserah asal  kau senang.” Senyumku tambah lebar,


“Kau manis sekali daddy.”


“Gadis licik, cuaca sekarang gampang berubah nampaknya.” Dia sedang menyindirku dari cemberut menjadi tersenyum lebar hanya memerlukan penerbangan ke  Paris.


“Jadi kau tak ingin mengajakku, katakan saja tak usah repot.”


“Astaga,Vanilla. Siapa yang  tak ingin mengajakmu.” Dia merangkulku dengan gemas sekarang.


“Kenapa kau membuat menantuku cemberut? Eliza kenapa kau cemberut  begitu...” Aku akan mengerjainya sekarang. Supaya  dia tahu rasa.


“Ibu dia memarahiku mengobrol terlalu malam dengan keluargaku, padahal hanya jam 12, seakan aku sakit, dan membahayakan putrinya.” Ibu akan membelaku karena mereka sudah satu geng, Oven ini tak pernah menang menghadapi kami.


“Kau ini, jika istrimu bahagia, bayinya juga bahagia. Jangan terlalu cerewet. ”


“Iya Mama, aku sudah minta maaf.”


“Kau ini merusak hari bahagia dengan banyak pengaturan tak perlu. Eliza juga tahu menjaga dirinya.” Sekarang Mama sudah memarahinya, aku   tersenyum lagi.


“Vanilla, kau mengerjaiku bukan.”


“Benar.” Aku meringis lebar.


“Sudah senang kau menang.”


“Sudah... Kita damai saja Oven.” Dia meringis melihatku, sekarang nampaknya tidak berniat mencari masalah lagi di hari bahagia kami.


“Kalian acaranya sudah mau dimulai. Dalam lima belas menit, kalian bersiap oke...” Orang yang mengatur acara mempersihlakan tamu-tamu  masuk sementara kami segera akan memulai acara.


Aku berdebar.  Walaupun ini pernikahan keduaku, tetap saja rasanya campur aduk, hari ini bagai berada dalam mimpi indah, semua hal seperti berasa lebih cerah, kepalaku seperti dipenuhi kabut.


Dia mengandeng tanganku untuk duduk di tempat kami menunggu,  aku memandang matanya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi yang aku pikirkan hanya menjalani ini sebaik-baiknya, ini adalah  bagian dari satu hari dalam hidup kami yang akan  kami ingat selamanya. Dan kami berdua   sudah siap untuk menjalani ini.


“Aku juga mencintaimu ...” Aku membalas perkataannya. Melingkarkan tanganku ke lengannya, sementara bucket kecil bunga mawar  di tanganku yang lain.


“Kau siap...” Aku mengganguk padanya,  dia memandang ke depan.


“Kau  tahu, ada rasa  takut, takut aku tak cukup baik melakukannya di depan. Tapi kurasa rasa takut itu dikalahkan  oleh rasa ingin melindungi putri kita. Semoga apapun yang terjadi, masalah apapun, kita berdua bisa selalu berjalan bersama untuk seterusnya. Tidak menimbulkan  luka pada anak kita.” Dia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


“Aku akan berjalan bersamamu... Mendampingimu, menjadi keluargamu, sampai akhir, kita akan berusaha berdua membuat semuanya berjalan baik.”


“Aku tak bisa meminta banyak padamu. Bersabarlah jika aku jadi menyebalkan.” Aku tersenyum dengan perkataannya.


“Kita akan menemukan cara berkelahi yang baik nanti...” Perkataanku membuat dia tertawa, mungkin kata berkelahi akan sedikit kurang menakutkan dikemudian hari. “Sayang aku tahu maksudmu, kau takut punya banyak beban pikiran. Kita ingin rumah yang tenang dengan anak kita berkembang dengan baik, tidak mendengar kita berkelahi. Aku juga ingin hidup yang tenang, aku tahu cinta tak cukup, yang kita perlu adalah mengerti , menghormati satu  sama lain, membuat rumah kita damai. Dan kita berdua akan bisa duduk bicara dengan tenang di ujung hari.”


“Iya memang itu maksudku. Tapi tetap saja keluarga berkelahi kadang, tapi harusnya tak pernah berkata berpisah.” Aku mengangguk dengan perkataannya.


“Kau tahu kita pasti punya masalah di depan. Keluarga itu sedikit masalah tidak akan mengambil hati, jika kita berkelahi itu untuk menemukan jalan keluar atas masalah. Benar bukan? Kita akan membicarakan masalah kita ke  keluarga, selama kita tak menemukannya penyelesaiannya dengan orang lain, wanita lain, pria lain. Apa kau setuju aturan itu... “


“Aku setuju.” Dia  menggengam tanganku.


“Kurasa kita akan baik-baik saja sayang.” Dia tertawa kecil dengan perkataanku.


“Kita akan baik-baik saja.” Menghela napas panjang untuk meyakinkan dirinya. “Maaf, aku membicarakan ini padamu seperti tak yakin saat kita akan berjalan ke depan altar. Belakangan kita di penuhi mimpi indah, saat duduk begini baru dihadapkan pada perasaan aneh seperti ini. ”


“Tak apa, kita semua punya kekhawatiran, dengan menyadari apa yang kita masing-masing kuatirkan kita lebih mengenal satu sama lain. Lebih baik membicarakannya bukan, aku juga  bukannya tak takut karena aku tahu cinta dimana aku tersenyum berbinar padamu seperti ini tak kekal, perasaan kita akan perlahan menjadi lebih tawar,...” Benar cinta tak kekal, itu akan menawar, tapi bisa tetap dijaga.  Ada kebahagiaan yang lebih tenang dan perlahan kau akan mulai menyukai ketenangannya. “Tapi kita masing-masing punya pengalaman pahit soal kegagalan keluarga, kita akan punya anak yang kita sayangi, kita punya tujuan sekarang, akan  banyak yang kita kompromikan, tapi kurasa kita dua orang dewasa menghadapi semua masalah dengan kepala dingin...”


“Ya, aku ingin putriku punya Ayah yang bisa dia banggakan. Satu saat dimasa depan dia akan melihatku dan melihatmu sebagai pahlawan dalam hidupnya, dan dia akan mendapatkan orang yang menyayanginya dan mau menjadi pahlawannya juga.” Fabri sekarang sedang menetapkan tujuannya sendiri.


“Jika tiba saat itu. Kita akan mengingat pertama kali kita bicara disini dan mengatakan itu... Saat itu aku dan kau sudah tua bersama, melewati banyak hal dan puas dengan kehidupan kita. Kedengarannya tidak begitu buruk bukan.”


“Ya itu terdengar seperti sebuah tujuan yang jelas.” Kami tertawa bersama.


“Kalian sudah siap?” Wedding Organizer kami sudah bersiap membuka pintu.


“Siap.” Kami menjawab bersamaan. Dia membantuku berdiri, aku mengandeng lengannya. Bersiap berjalan bersama di sepanjang perjalanan hidup kami ke depan.


Ketika janji itu diucapkan kemudian dengan memandang mata satu sama yang lain.


Saya berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku.


Tak ada keraguan bahwa kami akan menjalaninya seperti itu. Dalam suka dan duka,  berusaha saling mencintai dan berusaha saling menghormati, karena cinta haruslah diusahakan berdua, berusaha menua berdua dengan damai dan bahagia.


Semoga kau juga mendapat kebahagianmu dan tak putus mengusahakannya.


THE END


\=============***================


Finally,  The Crown Prince  berakhir, besok mulai Om Derrick update jam 7 malam. Yang belum migrasi  di Kang Derrick sihlakan absen yaaa


TCP Squad mengucapkan terimakasih buat dukungan pembaca sekalian


Mak mengucapkan terima kasih buat komen-komen, dukungan, gift, koin yang sangat murah hati dari kalian.


Terima kasih banyak . See you di cerita baru