
Beberapa perkelahian pecah di antero Milan, Gianni yang marah mengirimkan dan membayar orang untuk menggangu beberapa usaha Bova. Sementara Bova tidak takut menghadapinya. Fabricio Bova sekarang membawa beberapa wanita disampingnya, mengesankan dia menjadi Don Juan lagi, tapi itu dilakukannya untuk melindungi Eliza sebelum serangan sebenarnya terjadi, kali ini bukan perang fisik tapi serangan tentang pengelapan pajak yang dilakukan oleh Antonio Segni.
“Kau terlibat banyak kesulitan sekarang?” Eliza meneleponnya karena khawatir mendengat berita yang melibatkankan kekasihnya itu.
“Ini harus diselesaikan, jika mereka tidak dihancurkan maka dimasa depan kita tidak akan tenang.”
“Nampaknya berbahaya sekali.”
“Tidak apa Vanilla, sidangmu sudah akan dimulai, ikuti arahan pengacaramu oke. Jangan kuatirkan aku, fokus saja ke pekerjaanmu. Mungkin kau akan melihatku mengandeng beberapa wanita diluar, tapi itu hanya untuk pamer, jangan cemburu sekali lagi oke. Tapi jika seseorang bertanya kau boleh sedikit berpura-pura patah hati.”
“Don Juan sialan, kau harus membayar ini.” Bova tertawa.
“Vanilla, setelah ini selesai aku akan membayarnya. Apapun yang kau mau...”
“Kau boleh memakai Marianne sebagai mata-mata, aku hanya membawa orang Nathan, Stella ke rumah. Dia jadi pengalih perhatian sekarang dan kau tahu dia bisa berkelahi.”
“Bisa berkelahi?”
“Iya. Dia membantuku menghajar beberapa orang kemarin.”
“Mengesankan. Berapa lama kau akan menyelesaikan ini?”
“Menurut perhitunganku sekitar 3-4 bulan, paling cepat tiga bulan. Ini untuk keselamatanmu dan Paman, aku tak mau melibatkanmu.”
“Iya. Tak apa, yang penting kau selamat.”
“Aku akan baik-baik saja. Telepon saja oke.”
Bova senang Vanillanya mengerti kesulitan mereka dan memberikannya waktu. Dia ingin menyelesaikan ini secepatnya jika bisa.
Keesokan harinya sebuah telepon masuk. Dari Guilio.
“Bro, kau sedang perang di Milan sana?” Ternyata berita perseteruan Bova dan Gianni sampai ke Catania sana.
“Iya, dia mengirimi aku dan pacarku pembunuh terlebih dahulu, kita selesaikan saja sekarang dengan baik. Sampai ke akhir.”
“Mau kubantu, aku juga muak dengan Gianni. Aku mau menargetkan putra pertama Giovani, dia cukup terkenal belakangan.”
“Ohh ya, dia terkenal untuk apa?”
“Sebuah pesta dengan gadis-gadis muda dibawah umur, kudengar beberapa menteri dari koalisinya juga hadir dalam pestanya.”
“Menarik\, membayar se*x gadis dibawah umur itu bisa menjadi masalah besar disini\, kau bisa mendapatkan kapan dan dimana\, serta bukti-buktinya. “**
** Ini pernah terjadi Perdana Menteri Italia Bernito Muscolini pernah didakwa penjara 4 tahun karena terlibat dengan seorang gadis berusia 17 tahun di pesta kalangan terbatas. Walaupun kemudian diberikan peninjauan ulang di pengadilan lebih tinggi setahun kemudian dan menjadi penjara 1 tahun\, itupun akhirnya diganti dengan community service.
“Tentu saja. Itu pesta sangat terbatas tapi aku punya seseorang yang memberikanku informasi akurat.” Guilio memberi kepastian kepada Bova. Sekarang Bova merasa keputusannya di masa lalu mempertahankan pertemanan dengan Guilio terbayar sekarang.
“Lingkaranku bisa menangani ini, lebih banyak kita melibas orang Gianni mangkin bagus hasilnya,...”
Bukan para pria saja yang berperang, wanita Gianni juga merasa terpancing karena ulah Bova, dan tebak siapa yang diserangnya sekarang. Tidak lain adalah Eliza. Lorina Gianni, dia sengaja datang ke restoran wanita itu bersama teman-temannya. Kali ini untuk mengejeknya karena sekarang Fabricio Bova menjadi mengandeng banyak wanita di kiri dan kanannya. Pesona Don Juan kembali padanya dengan segera dan itu segera mengundang komentar Lorina Gianni.
“Nona Eliza, bagaiama kabarmu hari ini.” Eliza yang sudah tahu kenapa Lorina Gianni ini datang kesini tahu bersikap bijak supaya tidak mempersulit kekasihnya.
“Ohh Nona Lorina. Baik, ada apa Anda kesini?”
“Bagaimana rasanya menjadi pion Bova, setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, dia mengandeng banyak wanita lagi disisinya.”
“Aku tidak perduli, asal dia menyelamatkan bisnisku dan membayarku dengan pantas.”
“Ohh ternyata kau wanita bayaran murahan juga.” Lorina sang Miss Italy itu menertawakannya. Eliza menghela napas, berusaha terlihat seperti terpukul.
“Kau sudah selesai Nona Lorina?”
“Kasihan sekali, kau pikir kau bisa mendapatkan playboy kaya seperti Fabricio Bova. Kau hanya bermimpi, orang seperti dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Mungkin sedikit membawamu ke ranjangnya adalah sebuah bonus untuk menghiburmu.” Dia masih belum puas menghina Eliza rupanya. Eliza sekarang memutuskan untuk menolak menyerah menghadapi ular ini.
“Aku memang tak seperti kau yang menyerahkan diri cuma, itupun ditolak karena dia tak berminat denganmu sama sekali. Sepertinya aku jauh lebih berharga, dia menyukaiku, aku menyukainya plus dia membayarku dengan sangat pantas. Tapi kau diberi cuma-cuma pun dia enggan.” Sebuah tikaman membuat Miss Italy itu diam, mukanya memerah tanda Eliza menikamnya di tempat yang tepat. Eliza tersenyum sinis tanda kemenangan sudah ditangannya.
“Wanita sialan, mulutmu memang berbisa!” Dia maju menampar Eliza, tapi jika mau diadu tenaga putri gemulai dan kepala chef, semua orang tahu siapa yang menang. Eliza sekarang dengan cepat menangkap tangannya dan satu tamparan kuat melayang ke Miss Italia itu. Tamparan pembalasan karena berani menggoda kekasihnya, berani duduk di pangkuannya. Lorina memegang wajahnya yang panas dan perih karena tamparan telak sekuat tenaga itu.
“Astaga Lorina,...” Teman-temannya menjadi takut melihat wajah wanita itu seperti ingin menerkam orang.
“Pel8acur!” Dia merangsek ke Eliza tidak puas karena Eliza menamparnya dengan telak, mukanya pedih dengan tamparan sekuat tenaga Eliza itu. Tapi Juan dan Jose yang dari tadi melihat gerombolan gadis Gianni itu dengan cepat menahan wanita yang sudah mengeluarkan cakarnya itu. Mereka ingin tertawa dari tadi melihat Nonanya menghajar Miss Italia ini, memang pantas jadi kekasih Tuan Fabricio Bova. Sementara Eliza yang menjauh dari cakaran kuku-kuku miss Italia itu, merasa dia perlu menggunting kuku-kuku lancip itu dengan gunting daging di dapurnya.
“Sudah Nona...sudah ... jangan membuat keributan disini.” Juan menahan wanita itu yang sedang merangsek maju ke depan dengan cakarnya. Eliza meringis lebar sambil melipat tangannya di depan dada, karena Lorina tidak bisa mencapainya sekarang. Dua pengawalnya itu dengan sigap menghalangi amukan kucing berkuku panjang itu.
“Lepaskan aku\, ban*gsat. Kau pelac*ur! Berani sekali kau menamparku.”
“Uhh, aku menampar miss Italy. Berapa harga foundationmu heh? Nampaknya tidak cukup untuk membuat Fabricio Bova menyentuhmu. Kasihan sekali, murahan tetaplah murahan. Barang murahan, ditempel dengan foundation mahalpun tidak terlihat bagus, memang biasa kelasnya bukan level atas...” Miss Italy itu berteriak marah dan menjadi tontonan satu restoran. Niatnya mau mempermalukan Eliza malah dia yang dipermalukan oleh musuhnya, sedangkan Eliza malah tertawa bahagia.
“Kubunuh kau!” Dia berteriak kepada Eliza sekarang karena kalah dan malu.
“Keluarkan dia Juan.” Dia tinggal menyuruh Juan dan Jose mengeluarkan gadis itu. “Sedangkan gadis-gadis yang lain tampaknya masih normal dan tak mau menjadi tontonan restoran ramai itu.”
“Ayo keluar Nona, kau mempermalukan dirimu sendiri,...” Juan membawa gadis yang mengamuk itu keluar. Eliza melambai sambil tertawa melihat gadis itu menyumpahinya.
“Nona, itu anak Gianni?” Salah seorang pelanggannya sampai bertanya.
“Iya, begitulah...” Eliza meringis lebar. “Itu Miss Italy 3 tahun yang lalu.”
“Benarkah, barbar sekali? Miss Italy itu pasti suka sekali mencakar,...” Eliza tertawa ngakak menanggapi pelanggannya yang lain.
“Semua anggota keluarga Gianni nampaknya suka mencakar, tapi yang ini beda, mencakar secara harfiah.”
Entah apa yang akan dilakukan setelah dipermalukan sedemikian rupa oleh Eliza.