The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 85. Daniel Heatherton 2



Aku langsung membalas Nathan dan mengatakan dia boleh datang.


"Kau akan terus di NY sekarang?"


"Iya, mungkin akan ada tugas ke tempat lain juga. Tapi jelas tidak ada tugas lapangan lagi."


"Apa Callaway masih mengancammu?" Tiba-tiba dia menanyakan kasusku lagi.


"Hmm...kuanggap itu ancaman kosong. Dia mengatakan aku akan menyesal jika menolak tawaran bekerjasamanya."


"Benarkah begitu." Aku mengangkat bahu, kurasa dia tak akan berani bertindak macam-macam lagi. Jika dia berani akan kukatakan itu untuk membuat anaknya dihukum tambah berat.


Nathan tiba tak lama kemudian. Dia masih memakai baju kerja saat dia datang. Pembawaannya yang tenang membuatku tersenyum padanya. Apalagi dia bersedia datang kesini. Aku melambai padanya, dia datang dari arah belakang Ayah.


Ayah menoleh ke belakang.


"Ini Nathan Garcia Ayah. Ini ayahku Daniel Heatherton..." Kedua pria itu memandang satu sama lain untuk pertama kalinya.


"Nathan Garcia?" Kenapa Ayah sepertinya bertanya tentang namanya.


"Sir Heatherton..." Dia terpaku sesaat sebelum menguasai dirinya. "Sir, senang bertemu dengan Anda." Nathan mengangsurkan tangan menjabat tangan Ayah. Ayah menjabat tangannya. Aku memandang ekspresinya, dia tampak seperti tak senang dengan Nathan. Ada apa ini? Apa yang salah...


Kediaman canggung berlangsung sesaat.


"Saya merasa terhormat bertemu dengan Anda Sir." Nathan mengambil inisiatif bicara.


"Hmm." Aku melihat ekspresi Ayah. Tampaknya dia tidak begitu suka dengan Nathan. Mukanya tidak menampakkan senyum. Kenapa? Sekarang aku bertanya-tanya...


"Dia tahu kejadian kau diculik?" Dia berbisik kepadaku.


"Iya dia tahu. Sebenarnya yang mengusahakan bisa menemukanku adalah dia, dia yang mengusahakan menyebarkan sayembara 2 juta dollar untuk menemukanku di perbatasan melalui Pamannya." Aku tidak bicara berbisik.


"Jadi dia mafia gangster,..."


"Hmm... tidak juga, pekerjaan utamanya pengusaha." Aku sulit mengatakannya. Bagaimana menjelaskannya.


"Kau pacar Putriku? Bagaimana kau melindunginya sampai dia bisa diculik? Dia terlibat ini karenamu bukan?" Pertanyaan yang langsung disertai dengan nada kemarahan.


"Dad..." Aku heran kenapa Ayahku langsung membebaninya tanggung jawab begitu.


"Saya salah waktu itu Sir, sekarang saya menugaskan pengawal berpengalaman untuk mengawalnya."


"Green Berets."


"Bagaimana Rusia itu bisa menculikmu tadi? Kau tak mengatakannya..." Sekarang giliran Ayah menanyaiku. Aku jadi segan dengan aura seperti itu.


"Ehmm... aku dipukul dari belakang." Dia menghela napas sekarang.


"Kau dan aku perlu bicara berdua saja." Dia menunjuk Nathan.


"Saya mengerti. Kartu nama saya Sir." Ayah menerima kartu nama yang diberikannya. Aku tak tahu Ayah punya kemampuan mengintimidasi seperti itu.


"Hmm..."


"Ayah kau kenal Nathan sebelumnya?" Aku penasaran dengan drama aneh didepanku ini. Kenapa Nathan begitu segan pada Ayah.


"Tidak." Jawabannya hanya pendek saja. Aku kembali ke Nathan yang tidak bicara.


"Kau kenal Ayahku sebelumnya?" Ayah mengamati Nathan.


"Tidak, kami baru pertama kali bertemu tentu saja." Dia tersenyum padaku. Tapi aku tak percaya dengan kata-katanya.


"Kenapa kalian bertingkah seperti orang yang sudah kenal sebelumnya."


"Kate, Ayah tidak mengenalnya. Ayo pesanlah makanan. Kita semua ingin makan disini." Dia membuka buku menu. Kemudian terhenti sekarang. "Satu pertanyaan lagi..." Kurasa ini pertanyaan serius, ekspresi Ayah sekarang agak menakutkan.


"Pertanyaan apa Ayah?"


"Kalian tinggal bersama?" Dengan kenyataan Ayah tidak begitu menyukainya nampaknya. Jawaban jujur nampaknya akan bermasalah bagi Nathan untuk sementara ini.


"Tidak...aku tinggal di apartment sendiri." Ayah melihatku menjawabnya dia beralih memandang Nathan.


"Sebenarnya saya takut membahayakan keamanannya, jadi saya memintanya tinggal bersama saya di West Village, Manhattan, di sana ada pegamanan lengkap dan lebih terjamin. Baru kemarin dia pindah ke tempat saya, dia tetap memiliki kamarnya sendiri." Nathan bahkan tak keberatan menjawabnya dengan jujur tanpa harus disuruh. Ayah memandangnya kurasa memelototinya lebih tepat.


"Hmm, ayo kita pesan." Ayah tampaknya puas dengan jawaban itu. Aku benar-benar penasaran kenapa mereka punya interaksi seperti orang yang sudah pernah mengenal sebelumnya.


"Garcia, pesanlah..." Dan kali ini Ayah mempersihlakannya memesan. Tapi pembicaraan antara mereka masih kaku. Nathan kelihatan agak tegang. Dia tidak memulai pembicaraan jika Ayah tak bertanya.


Aku harus bertanya benarkah mereka tidak mengenal sebelumnya ke Nathan nanti.


Bersambung....